
Gelombang uap panas berwarna hitam jingga tampak keluar dari sisi-sisi formasi batu identitas yang sudah disusun oleh orang-orang Gerombolan Alap-alap. Batu identitas yang semula hanya seukuran genggaman tangan seorang anak kecil, saat ini berubah menjadi sebuah batu yang besar. Rongga-rongga batu saling terkait dan membentuk sebuah kunci, sehingga menjadi satu bentuk yang kokoh. Sekelebat bayangan laki-laki tua berjubah terbang dan berhenti di atas susunan formasi batu-batu identitas tersebut.
"Sebentar lagi aku akan menguasai dunia persilatan. Jika kunci roh-roh manusia sakti bisa terbuka, mereka akan berlarian keluar dan akan terserap masuk ke dalam tubuhku. Tinggal sebentar lagi, waktu itu akan datang.. dunia akan berada dalam genggamanku." sudut bibir laki-laki berjubah itu melengkung ke atas.
Satu tangannya masuk ke dalam uap panas di samping bebatuan. Tidak berapa lama, laki-laki itu menarik kembali tangannya keluar. Setelah melihat-lihat sebentar, telapak tangannya itu dia masukkan ke dalam tudung wajahnya kemudian dia menjilati tangan tersebut. Tapi tiba-tiba mata laki-laki itu menyipit.., dan tidak ada yang menduga, tangannya di arahkan ke belakang tubuhnya.
"Duarr...., aaaawww.." suara lolong jeritan panjang yang menyayat hati muncul dari belakang tubuhnya.
Sekali lompat, laki-laki berjubah itu sudah berada di depan orang yang kesakitan itu. Lidah orang tersebut terjulur keluar, dengan sebuah rantai bara api mengelilingi lehernya.
"Berani-beraninya tanpa ijinku.., kamu berada di sekitarku. Terimalah akibat dari perbuatanmu... ha..., ha.., ha.." teriak laki-laki berjubah itu sambil tertawa.
"Paduka.., ampuni teman saya Paduka. Dia anak baru..., baru kemarin pagi dibawa Guru saya bergabung kesini." seorang anak buah berlari untuk meminta ampunan untuk temannya.
"Siapa Gurumu..., panggil dia kemari!" laki-laki berjubah itu meminta orang tersebut untuk mendatangkan gurunya.
"Mohon ampun Paduka..! Setelah mengantarkan teman saya ini, Guru tadi pagi sudah berangkat lagi untuk mencari tambahan orang. Saya mohon Paduka.., ampuni teman saya. Bebaskan dia, dan beri kesempatan untuk mempelajari apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di hutan ini." orang tersebut terus menghiba, dia meminta pengampunan untuk temannya.
"Swooshh...., blarr..." begitu jari telunjuk laki-laki berjubah itu diarahkan, rantai bara api mengikat erat leher orang yang kesakitan itu dan akhirnya meledak.
Dengan mata terbelalak tidak percaya, laki-laki yang meminta pengampunan untuk temannya tadi hanya menutup mulutnya. Tubuhnya menggigil ketakutan melihat kejamnya orang yang dia ikuti sekarang.
__ADS_1
"Ingat namaku Jalak Geni..! Jangan panggil aku dengan sebutan itu, jika aku memberikan ampun untuk orang-orang yang berani mencampuri urusanku." ucap laki-laki berjubah itu, yang langsung terbang meninggalkan tempat itu.
Beberapa orang segera berlari keluar menghampiri teman mereka yang masih terlihat ketakutan, melihat kebengisan perilaku orang yang terakhir ini mereka puja dan ikuti.
"Kembalilah ke tempat awalmu.., tidak usah kamu pedulikan temanmu. Dia sudah mati, dan rohnya sudah bergabung dengan roh-roh lainnya di kubah tersebut." orang-orang itu segera mengajak laki-laki yang masih ketakutan itu menyingkir.
*********
Baru saja Rengganis meneguk jahe serai dari cangkirnya, tiba-tiba dia mendengar ada orang yang membicarakan kejadian yang kacau.
"Bagaimana kamu bisa secepat ini sampai disini?" tanya seseorang di seberang meja tempat Rengganis minum.
"Aku dan beberapa warga desa yang lain untungnya ditolong dan diselamatkan oleh laki-laki muda yang sangat tampan. Bahkan laki-laki itu sendirian, berani mengejar pemimpin dari orang-orang yang menghancurkan desa-desa dan juga perguruan-perguruan silat di wilayah ini." orang yang ditanya memberikan jawaban.
"Yang bertarung dan membantu kami jika tidak salah dipimpin Sudiro. Kemudian laki-laki tampan yang mengejar Tumbak Seto namanya Wisanggeni." mendengar kalimat terakhir yang diucapkan orang tersebut, hati Rengganis seperti tercabut dari rongga dadanya. Perempuan itu masih teringat dengan jelas, bagaimana dia harus terpisah lama dengan kekasihnya saat itu, yang disebabkan karena adu pertarungan antara Wisanggeni dengan Tumbak Seto.
Rengganis sudah tidak dapat mengendalikan hati dan pikirannya. Perempuan muda itu langsung meneguk habis, minuman yang sudah dia pesan. Saat Rengganis berdiri.., orang-orang yang duduk di seberang mejanya kembali berbicara. Setelah mengambil nafas panjang kemudian menghembuskan keluar, Rengganis kembali mencoba untuk duduk.
"Di arah mana kamu kemarin berasal Ki Sanak..? Aku akan berangkat ke wilayah barat, karena aku mendengar kabar jika di beberapa wilayah mengalami kekacauan. Aku akan berusaha untuk menghindarinya." tiba-tiba ada orang lain yang bertanya pada laki-laki itu.
"Dari wilayah barat daya Ki Sanak. Tapi kelompok orang yang memberikan pertolongan pada kami.. mereka berbalik arah ke tenggara." laki-laki itu menjawab pertanyaan orang tersebut.
__ADS_1
"Aku harus segera menyusul kang Wisang.. Seperti kata orang tadi, aku akan mencari di wilayah tenggara." Rengganis berpikir sendiri. Perempuan muda itu kemudian berdiri dan meninggalkan uang di depan penjualnya tanpa bicara.
"Nimas.., tolong tunggulah sebentar! Aku akan mencari uang kembalian untukmu." penjual meminta Rengganis untuk menunggu.
"Tidak perlu.., ambil saja kembalian itu untuk putramu." Rengganis bergegas berjalan keluar dari warung itu. Kecantikannya sangat memukau dan menarik perhatian orang-orang yang berkunjung di warung tersebut.
"Terima kasih Nimas yang murah hati. Semoga tercapai semua keinginanmu, dan juga selalu mendapat perlindungan dimanapun Nimas berada." penjual itu mengucapkan kalimat doa untuk Rengganis, tetapi perempuan muda itu sudah berada di luar warung.
Sesampainya di luar, Rengganis tidak mau menunggu lebih lama lagi. Perempuan muda itu mengibaskan selendang ungu di tangannya, dan dalam sekejap perempuan itu sudah jauh menghilang dari tempat itu.
**********
"Wisang..., kemana tujuan kita selanjutnya..?" Sudiro yang sudah bergabung lagi dengan Wisanggeni, bertanya pada putra bungsu Mahesa itu. Dia mengikuti Wisanggeni duduk di bonggol kayu kering yang ada di situ.
"Kita akan masuk ke hutan sana. Firasatku mengatakan, sepertinya yang kita cari ada di dalam hutan itu. Meskipun aku juga belum tahu, apa yang sebenarnya kita cari." Wisanggeni menunjuk hutan yang ada di depannya.
Sudiro melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Wisanggeni, kemudian laki-laki itu menganggukkan kepala.
"Tapi kita harus istirahat dulu Diro .., kasihan pada orang-orang yang kamu bawa. Besok dini hari kita akan lanjutkan lagi perjalanan kita." melihat orang-orang yang mengikuti mereka seperti kelelahan, Wisanggeni mengusulkan agar mereka. beristirahat dulu untuk beberapa saat.
"Baiklah Wisang.., aku akan segera memberi tahu mereka." Sudiro kemudian berjalan meninggalkan Wisanggeni. Laki-laki saudara sepupu dari Niken Kinanthi itu segera memberi tahu orang-orang agar segera beristirahat.
__ADS_1
********