Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 310 Keputusan


__ADS_3

Sambil berjalan, Chakra Ashanka mengalami kebimbangan untuk mengarahkan tujuan mana yang akan dia datangi. Dalam hati kecilnya, anak muda itu ingin menyusul dan mencari ayahndanya Wisanggeni. Tetapi sudut hatinya yang lain, tiba-tiba hati anak muda itu merasa tidak nyaman. Bayangan wajah ibundanya tiba-tiba tercetak jelas di depan wajahnya, dan rasa rindu ingin bertemu dan bersimpuh di kakinya seperti ingin segera anak muda itu lakukan.


"Apakah ada yang terjadi dengan ibunda..., kenapa hatiku terasa nyeri ketika mengingat ibunda di perguruan Gunung Jambu?" Chakra Ashanka bertanya pada dirinya sendiri. Tiba-tiba ketika anak muda itu teringat ibunda Rengganis, dari sudut hati yang paling dalam ada rasa nyeri dan sesak terasa. Rasa rindunya pada perempuan yang melahirkannya itu, begitu memuncak.


Tampak jelas keraguan terlihat di wajah anak muda itu. Sambil menyusuri semak belukar yang ada di depan matanya, sepertinya Chakra Ashanka sengaja melakukan hal itu. Sebenarnya ada Singa Ulung dan naga terbang yang dia masukkan ke dalam kepis, tetapi anak muda itu memilih untuk berjalan kaki. Padahal hutan yang ada di depannya, merupakan sebuah hutan yang lebat dengan semak belukar yang masih banyak terdapat di dalamnya.


Bayangan Wisanggeni ayahnda anak muda itu, juga bayangan Rengganis ibunya selalu terlihat dan berkelebat dalam pikirannya. Anak muda itu menjadi bimbang dan ragu, mau ketemu dengan siapa dulu. Apakah dengan Wisanggeni ayahndanya, atau Rengganis ibundanya. Beberapa saat, anakĀ  muda itu berpikir sisi positif dan negatif dari bertemu dengan keduanya.


"Sepertinya bayangan ibunda lebih jelas muncul di depan wajahku. Aku akan kembali dulu ke perguruan Gunung Jambu, aku juga merasa hatiku tidak nyaman. Aku khawatir, ada sesuatu yang terjadi di perguruan, dan hanya ibunda Rengganis dan ibunda Maharani yang mengawal perguruan. Para senior yang sudah lama berguru dan mengabdi di perguruan itu, saat ini sudah menyebar ke seluruh penjuru." akhirnya Chakra Ashanka menetapkan untuk kembali lebih dulu ke perguruan Gunung Jambu.


"Ayahnda..., Ashan belum ada kesempatan untuk bertemu dengan ayahnda dalam waktu dekat ini. Ashan memutuskan untuk menjumpai ibunda lebih dulu di padhepokan, karena beberapa waktu Ashan merasa jika saat ini ibunda merindukan kita ayah.." anak muda itu mengambil nafas panjang, setelah merasa berbicara dengan ayahndanya dengan suara pelan.


Tidak lama kemudian wajah anak muda itu terkena sinar matahari, dan ternyata matahari sudah berada tepat di atas kepala Chakra Ashanka. Sinar matahari itu masuk, dan menembus daun-daunan yang ada di pohon yang ada di atasnya. Anak muda itu mengangkat wajah dan menengadahkan wajahnya ke atas. Beberapa saat, anak muda itu menikmati sinar matahari bersinar tepat di atas wajahnya.


"Ternyata hari sudah siang.., aku harus segera mencari desa terdekat. Setelah beristirahat sebentar, dan mengisi perut, aku akan segera mengarahkan langkahku untuk menuju ke perguruan Gunung Jambu." anak muda itu bergumam sebentar.

__ADS_1


Setelah merasa sudah menetapkan arah tujuannya, anak muda itu segera meyakinkan diri untuk mencari desa untuk beristirahat. Chakra Ashanka kemudian melompat, dan kemudian berlari meninggalkan tempat tersebut. Sebuah desa tidak lama setelah anak muda itu berlari, mulai terlihat di depan matanya. Senyuman muncul di bibir Chakra Ashanka, tanpa berpikir lagi, segera anak muda itu mengarahkan lompatannya menuju ke desa tersebut.


************


Beberapa saat berjalan, Chakra Ashanka melihat ada kedai makanan di dekat gapura masuk sebuah desa. Sebuah gapura terbuat dari anyaman bambu, dan bambu Penjor seperti menandakan jika desa tersebut baru saja ada sebuah perayaan. Merasa lapar, anak muda itu langsung menuju ke kedai makanan tersebut.


"Tempatnya terlihat penuh, aku akan langsung memesan menu makanan saja dulu. Jika tidak ada tempat duduk, aku bisa asal duduk dimanapun." merasa sendiri tidak membawa teman, Chakra Ashanka tidak begitu mempermasalahkan tempat untuk makan.


Anak muda itu langsung berjalan memasuki kedai makanan, dan menuju ke tempat penjual yang sedang duduk di belakang meja tempat memajang barang dagangannya.


"Mau pesan apa Ki sanak...?" suara penjual yang sudah tua bertanya pada anak muda itu.


"Baiklah.., tunggulah sebentar! Bibi akan segera menyiapkannya. Atau kamu bisa menunggu makanan ini di depan. Nanti anak saya yang akan mengantarkan ke tempat yang sudah kamu pilih." penjual memberikan pilihan lain.


"Baik Bibi.. terima kasih." anak muda itu kemudian berjalan keluar dari kedai kembali. Melihat ada sebuah lincak di bawah sebuah pohon trembesi, Chakra Ashanka segera datang ke tempat tersebut.

__ADS_1


Sesampainya di tempat tersebut, anak muda itu langsung duduk di atas lincak. Merasa lincak itu cukup panjang, dan melihat jika makanan juga belum diantarkan, anak muda itu membaringkan tubuhnya di atas lincak tersebut. Karena semilir angin dan di bawah pohon besar, tidak menunggu waktu lama Chakra Ashanka tiba-tiba tertidur. Anak muda itu tidak menyadari jika gerak-geriknya sejak tadi diamati oleh sekelompok orang. Dari penampilan mereka, terlihat jika mereka bukan merupakan orang baik.


"Lihatlah anak muda yang sedang tertidur di bawah pohon trembesi. Sebentar lagi, anak muda itu pasti akan terlelap. Kita bisa mengambil kesempatan untuk mendapatkan keuntungan dari anak itu." salah satu dari orang tersebut menuding ke arah Chakra Ashanka.


"Dari penampilannya, anak muda itu terlihat bukan orang sembarangan. Kita akan mendapatkan sesuatu yang banyak dari anak muda itu." teman yang lainnya menyahuti.


"Atau kita bisa pura-pura menjadi pelayan rumah makan ini. Kita akan membantu pemilik warung untuk mengantarkan makanan yang dipesan oleh anak muda itu. Jadi kita tidak akan kentara, jika kita akan mengambil keuntungan darinya." salah satu ikut memberi saran.


Tanpa ada yang menjawab, salah satu dari mereka segera berdiri dan melangkahkan kaki menuju tempat penjual itu menyiapkan makanan.


"Mbok..., ini pesanan siapa?? Kenapa belum diantarkan, sepertinya sejak tadi makanan ini sudah disiapkan." orang tadi bertanya pada penjual makanan.


"Iya nunggu bapaknya, baru ke sendang untuk mengambil air. Sebentar lagi, bapaknya pasti sudah akan datang dan akan segera mengantarkan pada yang pesan." sambil menyiapkan makanan, penjual menjawab pertanyaan pembeli.


"Hmm..., kasihan juga ya. Padahal yang beli itu, tampak jika sedang mampir istirahat karena perjalanan jauh. Bagaimana kalau saya bantu saja mbok ., jadi simbok tetap melakukan pekerjaan lain." tanpa kentara, laki-laki itu menawarkan bantuan pada penjual makanan.

__ADS_1


"Hmm.., ya baiklah."


*********


__ADS_2