Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 137 Menyeberang


__ADS_3

Melihat urusan di pinggir danau sudah ditangani Sasmita dan Jagasetra serta orang-orang Sentono, Gayatri dan Niluh, Wisanggeni segera melompat ke punggung Singa Ulung. Binatang itu langsung melesat ke atas danau, dan terlihat di dalam danau Maharani sedang berusaha untuk menundukkan ketiga naga penjaga danau. Melihat kedatangan Wisanggeni, ketiga naga itu memberi hormat..


"Selamat datang Paduka.., ampuni kami yang terpaksa membuat kekacauan lagi di danau ini." ketiga naga menceritakan alasan mereka membuat kekacauan. Wisanggeni menghela nafas, kemudian melompat dan berdiri di atas danau dengan bertumpu pada badan Maharani yang sudah berubah bentuk menjadi seekor ratu naga.


"Percayalah padaku.., aku dan Ratu Maharani akan menyelesaikan permasalahan kalian. Trah Jagadklana saat ini dipimpin oleh Laksito.., orang yang sama yang sudah membuat kekacauan beberapa tahun yang lalu. Akal liciknya menghancurkan kemakmuran rakyat yang tidak mau tunduk padanya. Kembalilah kalian ke dalam, dan jika saat nanti terjadi pertempuran antara Ki Sasmita dan Laksito.., bantulah kami." Wisanggeni menyampaikan akar permasalahanan yang kembali dialami oleh naga-naga tersebut. Penyebab dan dilakukan oleh orang yang sama dan pernah terjadi beberapa tahun yang lalu.


"Untuk saat ini, kami akan mendengarkan arahan Paduka dan Ratu Maharani. Kami akan pastikan penyeberangan ke Jagadklana akan kembali aman, tetapi jangan salahkan kami jika kekacauan bisa terjadi jika masih ada orang-orang yang akan mengganggu ketenangan kami." ketiga naga menyepakati arahan yang diberikan Wisanggeni dan Maharani.


Setelah menunjukkan penghormatan, ketiga ekor naga kembali menyelam ke dalam air. Permukaan danau yang beberapa minggu bergolak, terlihat sudah tenang kembali.


"Terima kasih Nimas.., kamu sudah membantu menyelesaikan masalah ini." Wisanggeni mengusap tubuh licin Maharani. Rasa hangat usapan dari Wisanggeni, membuat hati ratu ular itu menjadi bahagia. Tetapi saat ini, bukan merupakan waktu bagi mereka untuk bersenang-senang. Maharani membelit tubuh Wisanggeni, kemudian membawanya menyelam ke dalam air. Merasa permasalahan orang-orang di pinggir danau sudah terselesaikan, Wisanggeni memeluk erat tubuh Maharani, laki-laki itu pasrah mengikuti arah Maharani membawanya.


************


Jagasetra menenangkan warga dari Trah Jagadklana yang memberi hormat dan meminta pengampunan pada Ki Sasmita. Dari atas, Singa Resti menurunkan Rengganis yang dengan menggendong Chakra Ashanka.., berjalan menghampiri Ki Sasmita. Dengan pandangan tidak mempercayai apa yang dilihatnya, Ki Sasmita menghampiri putrinya.

__ADS_1


"Nimas Rengganis..., apakah ini bayimu?" Ki Sasmita bertanya pada putrinya, tangannya dengan gemetar mengambil Chakra Ashankan dari tangan Rengganis. Jagasetra dengan pandangan penuh misteri, menatap perempuan yang pernah dilamarnya untuk menjadi pendamping hidup. Laki-laki itu tidak percaya, jika Rengganis sudah memiliki seorang putra.


"Aaaa..." tangan mungil Chakra Ashanka mengusap dagu Ki Sasmita.


"Iya ayahnda.., ini Chakra Ashanka cucu ayahnda.. Rengganis beberapa minggu yang lalu sudah melahirkannya di Pilar Kekuatan ayahnda. dari situlah Nimas dan Akan Wisanggeni mengetahui permasalahan yang dialami Trah kita. Nimas ingin segera bertemu Ibunda ayah.., Nimas sangat khawatir dengan keselamatan Ibunda." ucap Rengganis lirih. Sambil memeluk cucunya, Ki Sasmita memeluk Rengganis.


"Saat ini, bukan saatnya kita harus terpuruk seperti ini Nimas.. Ikutlah Jagasetra.., atur-atur agar orang-orang ini bisa menyeberang dan masuk ke Jagadklana dengan aman. Jangan lupa sisipkan orang-orang kita, karena bisa jadi Laksito menempatkan orang-orangnya untuk memeriksa kita, saat kita berhasil menyeberangi danau ini." Ki Sasmita segera bergerak cepat.


Mendengar nasehat Ki Sasmita, Rengganis mengangkat wajahnya. Melihat Chakra Ashanka merasa nyaman dalam gendongan kakeknya, Rengganis melirik Jagasetra. Kemudian keduanya segera menuju ke orang-orang yang saling berebut untuk naik ke atas kapal.


"Dahulukan perempuan dan anak-anak.., yang masih kuat silakan antri terlebih dahulu!" Jagasetra segera mengatur antrian. Sentono dan orang-orangnya segera mengatur diri, mereka membagi beberapa kelompok untuk dibarengkan dengan kapal yang terpisah. Mereka tidak mungkin akan menyeberang bersama-sama untuk menghindari kecurigaan orang-orang Laksito. Tidak menunggu lama, barisan antrian sudah teratur dengan rapi.


***********


Maharani memutuskan untuk menyeberang ke Trah Jagadklana bersama dengan naga-naga lainnya. Akhirnya Wisanggeni kembali ke tepian danau dengan Singa Ulung untuk menemui Ki Sasmita, dan membuat rencana penyerangan Laksito.

__ADS_1


"Bagaimana rencana ayahnda.., jika menurut Wisang, kita akan membagi dua fokus kita ayah. Satu kelompok akan kita sebar untuk mencari keberadaan Ibunda, dan satu lagi kita akan mencoba mengalihkan perhatian Laksito dan orang-orangnya."  Wisanggeni mengajak ayahnda dan beberapa orang untuk mendiskusikan rencana di Jagadklana.


"Ayahnda setuju dengan rencanamu Wisang. Tapi kita harus berhati-hati.., karena ayahnda yakin aksi kita sudah diketahui oleh orang-orang Laksito. Beberapa mata-mata orang itu, akan ada di antara orang-orang itu." Ki Sasmita menanggapi perkataan menantunya itu.


"Ayahnda pergilah dulu dengan Kang Jagasetra dengan Singa Ulung. Wisang dan Nimas Rengganis akan menyusul setelah beberapa orang kita sudah menaiki kapal. Nimas Maharani dan kawanan naga yang ada di danau ini akan membantu kita untuk menyerang orang-orang Laksito yang ada di bendungan." Wisanggeni membuat pengaturan.


"Baiklah.., ayo Jagasetra kita berangkat duluan. Kita akan membuat pengawasan di tempat berhentinya kapal. Kita pastikan bahwa orang-orang ini selamat sampai di Jagadklana." Ki Sasmita segera mengajak Jagasetra untuk segera bersiap. Wisanggeni memberi kode Singa Ulung agar mendekat, dan setelah mengusap leher binatang itu tiga kali, dan membisikkan sesuatu, segera Wisanggeni meminta Ki Sasmita dan Jagasetra untuk naik ke punggung binatang itu.


Singa Ulung segera mengepakkan sayapnya ketika dua orang laki-laki itu sudah berada di punggungnya, dan perlahan binatang itu terbang melintasi danau. Rengganis menghampiri Wisanggeni, dan keduanya segera berbaur dengan orang-orang Sentono untuk memberi arahan pada orang-orangnya.


"Gayatri.., Niluh.., hati-hatilah. Jangan khawatir.., naga yang ada di danau ini akan menjaga kalian." Wisanggeni berpesan pada saudara perempuannya dari Klan Mahesa itu. Kedua gadis itu melambaikan tangannya dan segera naik ke atas kapal bergabung dengan orang-orang yang lain. Wisanggeni segera menggendong Chakra Ashanka, kemudian meraih tangan Rengganis. Keduanya segera melompat ke atas punggung Singa Resti.


"Auuuummm..." setelah mengaum, Singa Resti segera menerbangkan sayapnya, dan segera menuju Jagadklana.


**************

__ADS_1


__ADS_2