
Setelah melewati serangkaian kejadian mengejutkan ketika dalam kondisi mata terpejam, Wisanggeni berendam di dalam air hangat yang dicampurkan beberapa ramuan. Gelembung-gelembung kecil muncul di pori-pori kulit Wisanggeni, dengan air yang menggelegak dan mengeluarkan asap. Kejadian itu berlangsung untuk beberapa saat, dan dengan sabar dan telaten Rengganis mendampingi kondisi suaminya dengan menyalurkan kekuatan batin untuk membantu pemulihan kondisinya. Keringat yang keluar, dengan sabar diseka dengan menggunakan secarik kain bersih.
"Ashan..., kembalilah ke kamarmu. Ibunda akan mendampingi ayahnda untuk melewati malam ini putraku." melihat putranya yang masih bertahan menemaninya, Rengganis meminta Chakra Ashanka untuk beristirahat.
"Tapi bunda.., sepertinya belum ada tanda-tanda jika ayahnda akan segera sadar. Ijinkan Ashan menemani ibunda sampai ayahnda kembali ke pembaringan bunda.. Ashan tidak akan membiarkan bunda untuk mengangkat dan memindahkan ayah sendirian." Rengganis tersenyum mendengar jawaban putranya. Chakra Ashanka belum menyadari, jika ibundanya merupakan putri dari sebuah Trah besar yaitu Trah Jagadklana. Untuk memindahkan posisi Wisanggeni, Rengganis tidak akan menggunakan kekuatan besarnya. Tetapi untuk menyenangkan hati putranya, dan memberi kesempatan pada Chakra Ashanka untuk berbakti kepada ayahndanya, Rengganis menganggukkan kepala.
"Terima kasih Ibunda.." Chakra Ashanka membersihkan dipan kayu untuk berbaring Wisanggeni. Beberapa kali, laki-laki muda itu melirik ibundanya, yang beberapa kali menyalurkan tenaga dalamnya melewati dada Wisanggeni. Beberapa kali juga nafas berwarna keruh dan gelap keluar dari pernapasan ayahndanya, dan Rengganis terus berusaha mengalirkan kembali aura kebatinan dan tenaga dalamnya.
"Sepertinya sebentar lagi, ayahndamu harus segera diangkan Ashan. Lihatlah..., air hangat yang digunakan untuk merendam tubuh ayahndamu sudah berhenti bergolak, dan sudah mulai dingin airnya. Warna coklat kehijauan pada air rendaman, lihatlah.. saat ini sudah berubah menjadi bening. Syukurlah.., ramuan terserap sempurna ke tubuh ayahndamu.." Rengganis memperlihatkan pada putranya, bagaimana perubahan yang terjadi pada air rendaman tersebut. Dengan penuh rasa penasaran, Chakra Ashanka lebih mendekat pada ibundanya. Laki-laki muda itu melihat bagaimana dengan cepatnya, ramuan itu terserap ke tubuh Wisanggeni. Tidak lama kemudian, warna air berubah menjadi putih jernih.
"Sudah saatnya Ashan.., bantu ibunda untuk memindahkan ayahndamu ke pembaringan. Setelah ini, kembalilah ke kamarmu, ibunda akan menyelesaikan sendiri pengobatan ini.." ucap Rengganis lirih. Dan tanpa bertanya lagi, Chakra Ashanka segera menyangga tubuh Wisanggeni dengan kedua tangannya, dan dengan kekuatannya Rengganis mengangkat perlahan tubuh suaminya dan tubuh itu segera berpindah dan dalam kondisi duduk dengan meluruskan kaki di atas dipan kayu.
"Ijin Ashan kembali ke kamar ibunda.." melihat ayahnda sudah di atas pembaringan, Chakra Ashanka kemudian perlahan berjalan keluar. Rengganis hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Perempuan itu kemudian mengambil gelas yang sudah disiapkan, perlahan tangannya masuk ke dalam kepis kemudian mengeluarkan botol porselin berisi pil dari esensi naga perak.
__ADS_1
"Akhirnya Kang Wisang.., kamu sendiri menjadi yang pertama untuk mencicipi pil yang kamu olah Akang.." dengan menotok leher bagian belakang Wisanggeni, Rengganis kemudian memasukkan pil esensi naga perak secara perlahan ke mulut suaminya. Dengan menekan dada laki-laki itu, perlahan pil mulai memasuki kerongkongannya. Dengan cepat, tangan Rengganis meraih gelas kayu berisi air, dan meminumkan perlahan pada Wisanggeni. Setelah memastikan beberapa saat jika pil sudah ditelah, perlahan Rengganis kembali membaringkan Wisanggeni. Selimut tipis digunakannya untuk menutup tubuh laki-laki tersebut, kemudian perlahan Rengganis turut memasuki selimut tersebut, dan memeluk erat Wisanggeni. Tidak lama kemudian, perempuan muda itupun tertidur dalam kondisi memeluk suaminya.
***********
Dalam kondisi tidur..
Rengganis terlelap memeluk Wisanggeni, dan perempuan itu tidak menyadari perubahan yang dialami oleh Wisanggeni. Dalam tidurnya, laki-laki itu bergerak-gerak.., dari dahinya keluar keringat sebesar jagung.. seperti saat ini Wisanggeni sedang mengeluarkan tenaganya dengan keras. Jari-jari tangan Wisanggeni mulai bergerak-gerak, tetapi Rengganis belum juga menyadarinya,
Beberapa saat,. Wisanggeni berusaha beradaptasi dengan dirinya sendiri. Pernafasannya diatur dengan jelas....
"Ada dimana aku saat ini.., bukannya terakhir kali aku sedang melangsungkan pertarungan dengan Ki Panjalu dari padhepokan Tapak Geni." Wisanggeni bertanya pada dirinya sendiri.
Dalam separuh kesadarannya, laki-laki itu merasakan tubuh yang lembut sedang memeluk dirinya. Ketika matanya menatap ke bawah, dan melihat Rengganis sedang memeluknya dalam kondisi tidur, tiba-tiba kondisi tubuhnya serasa lebih panas. Laki-laki itu kemudian mengangkat tubuh Rengganis ke atas, dan mensejajarkannya dengan posisi tidurnya.
__ADS_1
"Apakah aku sudah berada di padhepokan Gunung Jambu.., karena ada Nimas Rengganis disini?" perlahan Wisanggeni mulai berpikir kembali. Matanya kembali diedarkan ke sekeliling, tetapi sedikitpun Wisanggeni tidak dapat mengenali suasana yang ada di sekitarnya saat ini. Laki-laki itu hanya mengenali perempuan cantik yang ada di pelukannya itu, dan ha**srat laki-lakinya perlahan mulai menyeruak kembali.
"Aku merasakan ingin membuat penyatuan dengan perempuan cantik di pelukanku ini." dengan suara lirih, Wisanggeni berbisik sambil matanya bergolak dengan suatu keinginan. Tidak menunggu lagi, laki-laki itu mulai melakukan gerakan penuh kasih dan kelembutan di sepanjang tubuh Rengganis. Tidak dapat menahan lagi, kecupan dan ciuman menghujani setiap jengkal tubuh Rengganis.
"Mmmm...," tiba-tiba Rengganis terbangun, perempuan itu kaget karena Wisanggeni sudah menyerangnya, dan tidak memberikan kesempatan padanya untuk mencerna apa yang sedang dilakukan oleh suaminya saat ini. Tetapi karena diapun juga merindukan semua sentuhan dan semua perlakuan ini, akhirnya tanpa sadar Rengganis meresapi dan menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh suaminya itu.
"Nimas.., apakah kamu yang sudah membawaku kesini Nimas..?" melihat mata istrinya sudah terbuka, dengan perasaan bahagia Wisanggeni bertanya dengan suara lirih pada istrinya itu, tanpa berhenti melakukan gerakan menyusuri setiap jengkal bagian tubuh Rengganis.
"Aku dan Ashan hanya membantu menyadarkanmu Akang.., kedua kakangmas Lindhu Aji dan Widjanarko yang sudah membawa kang Wisang ke sini. Saat ini kita sedang berada di Trah Bhirawa Akang.., mmm.., aakh..." baru saja Rengganis membuat jawaban atas pertanyaan yang diajukan Wisanggeni, laki-laki itu sudah tidak memberi kesempatan pada dirinya.
Tanpa berbicara lagi, kedua tubuh sepasang manusia itu sudah saling membelit, saling mengisi kekosongan yang sudah lama mereka rasakan. Di malam yang sepi dan dingin itu, kedua orang itu saling bertukar keringat dalam kondisi kepanasan di ruang pengobatan. Keduanya saling bergerak, saling memberi, dan juga saling menerima. Tidak ada yang mengganggu mereka, sampai di pagi hari mereka sudah kembali terlelap d alam sebuah pelukan erat.
*************
__ADS_1