
Akhirnya setelah melalui pembicaraan bersama, para sesepuh kerajaan ular mengijinkan Wisanggeni untuk membawa putrinya Parvati kembali ke perguruan Gunung Jambu. Limpahan materi yang diberikan kerajaan Ular, tidak dapat memikat hati kedua orang itu. Mereka masih menginginkan kebersamaan dengan semua anggota keluarganya di perguruan Gunung Jambu.
"Ayahnda.., Parvati sudah selesai bersiap. Apakah kita akan segera berangkat ayahnda..?" Parvati bertanya pada Wisanggeni. Saat ini mereka sudah akan bersiap untuk menempuh perjalanan kembali ke perguruan Gunung Jambu. Upaya para sesepuh untuk menahan mereka, tidak berhasil. Dengan dalih untuk membangun kembali dan membereskan kekacauan di perguruan, akhirnya para sesepuh dengan berat hati mengijinkan mereka untuk kembali.
"Baik putriku.., kita akan melihat untuk terakhir kali perwujudan ibunda Maharani di mbelik. KIta akan berpamitan kepadanya, meskipun ular itu tidak mengenali kita lagi. Tetapi kita tidak boleh secepat itu untuk melupakannya." Wisanggeni menanggapi perkataan putrinya.
"Terima kasih ayahnda,,, tidak jemu ayahnda selalu mengingatkan Parvati.." gadis kecil itu bergayut manja pada lengan ayahndanya. Wisanggeni tersenyum, kemudian mengusap gemas kepala putrinya itu.
"Mari kita berangkat ke mbelik.." ucap Wisanggeni.
Kedua orang itu kemudian bergegas keluar dari dalam ruangan. Mereka langsung menuju ke mbelik, yang masih ada di lingkup istana kerajaan. Pohon trembesi besar menaungi permukaan mbelik, sehingga tempat itu terasa dingin dan teduh. Sinar matahari tidak mampu menembus rimbunnya dedaunan yang memayungi di atasnya. Di pinggir mbelik, kedua manusia itu berjongkok. Kaki kecil Parvati dimasukkan ke dalam air..
"Ssshh... sshhh..." terengar suara desisan ular tidak jauh dari tempat Parvati merendam kakinya.
Mata Parvati mengerjap, gadis kecil itu tidak lupa dengan perwujudan ibundanya saat ini.
"Ibunda kemarilah..., Parvati akan mengucapkan kata pamit pada ibunda.." suara kecil Parvati memanggil ular itu untuk datang mendekat. Tetapi ular itu mengabaikan panggilan gadis kecil itu.
__ADS_1
"Putriku Parvati.., kamu harus ingat putriku. Ibunda Maharani sudah tidak ada, yang kita lihat saat ini adalah perwujudan ular yang selama ini berada di dalam tubuh jasad ibunda Maharani. Jadi.., ular itu tidak mengenalimu, kamu harus bersabar putriku. Tetapi bagaimanapun, ular itu pernah menyatu dengan ibundamu, sehingga kewajiban kita untuk tetap mengingat dan tidak melupakannya." Wisanggeni memegang bahu Parvati, kemudian mengingatkan tentang keberadaan ibundanya.
"Iya ayahnda.., Parvati terbawa emosi. Melihat ular hitam itu, Parvati tidak bisa melupakan keberadaan ibunda Maharani." dengan suara lirih, Parvati menanggapi perkataan ayahndanya. Mata gadis kecil itu terus memandang ke dalam air, dan menatap ular berwarna hitam yang juga terus menatapnya. Tiba-tiba rasa rindu pada ibundanya maharani tampak membuncah di dada gadis kecil itu. Tanpa sadar air mata mengalir dari sudut matanya, dan menetes ke dalam air di mbelik tersebut,
Tidak diduga, tetesan air mata yang terjatuh di dalam mbelik itu tiba-tiba menimbulkan pergolakan air yang lumayan besar. Ular hitam yang semula berada di tempat yang sedikit jauh, tiba-tiba sudah mendekat ke depan gadis kecil itu. Tanpa mengenal rasa takut, tangan kecil Parvati masuk ke dalam air, kemudian mengangkat tubuh ular berwarna hitam itu dengan kedua tangannya. Tubuh licin berkilat dan warna hitam dari kulit ular itu, diusap pelan oleh tangan Parvati.
Wisanggeni terdiam, laki-laki itu tersenyum dan membiarkan putrinya bermain sejenak dengan ular perwujudan kembali ibundanya itu. Setelah beberapa saat, terlihat Parvati sudah dapat menguasai hati dan perasaannya. Gadis kecil itu kembali melepaskan ular tersebut ke dalam mbelik.
"Selamat tinggal ibunda.., Parvati ijin pamit kembali pada ibunda Rengganis." dengan berbisik pelan, Parvati berpamitan dengan ular itu.
"Mari putriku.., kita sudah cukup lama berada di tempat ini.." suara Wisanggeni terdengar, laki-laki itu sudah mengajak putrinya untuk kembali. Tanpa menjawab, gadis kecil itu segera berdiri dan kemudian bersama dengan ayahndanya, perlahan meninggalkan mbelik tersebut.
Para sesepuh menghantarkan kepergian Wisanggeni dan Parvati dengan berdiri di tempat keberangkatan mereka. Tanpa bicara, setelah berpamitan, Wisanggeni segera membawa Parvati untuk naik di atas punggung Singa Ulung. Perlahan, Singa Ulung mengepakkan sayap, dan kemudian terbang membubung tinggi meninggalkan kerajaan ular. Wisanggeni memeluk tubuh Parvati dari belakang.
"Kemanakah tujuan kita selanjutnya ayahnda..?" beberapa saat terdiam, tiba-tiba Parvati menanyakan tentang tujuan perjalanan mereka.
"Untuk kali ini, karena sangat jarang ayahnda mengajakmu berjalan-jalan, tempat mana yang ingin kamu datangi putriku? Ayahnda yakin, ibunda Rengganis bisa menunggumu untuk beberapa saat. Lagian..., ayahnda yakin, kakangmu Chakra Ashanka juga akan segera kembali ke perguruan Gunung Jambu. Kita bisa berkeliling sebentar, untuk memberimu pengalaman." Wisanggeni menjawab pertanyaan putrinya.
__ADS_1
"Mmmm..., bisakah ayahnda mengantar Parvati untuk bertemu dengan kakek Mahesa. Parvati tiba-tiba saja merindukan kakek Mahesa,.., dan juga ingin bertemu dengan Bibi Kinara dan paman Widjanarko. Bisakah ayahnda membawa Parvati ke kota Laksa untuk bertemu dengan mereka..?" tidak diduga, ternyata Parvati ingin mengunjungi Trah Bhirawa di kota Laksa.
Wisanggeni tersenyum, tiba-tiba laki-laki ini juga teringat pada wajah ayahndanya Ki Mahesa. Tanpa berpikir panjang, laki-laki ini menyetujui keinginan Parvati.
"Baik putriku.., kita akan langsung meminta Singa Ulung untuk mengantarkan kita. Sepertinya kita memang harus berkunjung pada keluarga kita yang lebih tua. Sesampainya disana, ayahnda akan mengirimkan merpati untuk memberi kabar pada ibunda Rengganis. Semoga saja, ibunda Rengganis dan kakangmasmu Chakra Ashanka juga akan segera menyusul kita ke kota Laksa." dengan muka cerah. Wisanggeni menjawab keinginan putrinya.
"Terima kasih ayahnda.. alangkah senangnya kita sekeluarga bisa berkumpul di tempat kakek dan paman.." tampak kegembiraan melingkupi wajah cantik gadis kecil itu. Tangan Wisanggeni perlahan mengusap punggung Singa Ulung.
"Ulung.., kamu sudah mendengar pembicaraanku dengan putriku Parvati bukan. Antarkan kami berdua segera menuju Trah Bhirawa, kita akan segera bertemu dengan ayahnda Mahesa, dan kedua kakangmasku. Tidak lama lagi, aku yakin Nimas Rengganis dan Chakra Ashanka juga akan menyusul kesana." Wisanggeni dengan bersemangat mengajak binatang itu berbicara.
"Auuuummmm...." terdengar auman panjang Singa Ulung. Binatang itu segera merubah arah terbangnya, dan mengepakkan sayapnya menuju ke arah barat daya.
Dengan gembira, Wisanggeni dan Parvati memegang erat punggung SInga Ulung. Pemandangan indah yang terlihat di bawah, menambah kebahagiaan gadis kecil itu. Tinggal bersama dengan kedua ibundanya di perguruan Gunung Jambu, memang belum memberinya pengalaman untuk melihat bagaimana keindahan alam di sekitarnya. Kali ini, bersama dengan ayahndanya Wisanggeni, gadis kecil itu akhirnya bisa pula merasakannya,
"Kita akan beristirahat sebentar putriku parvati.. Di sebelah sana, ada kedai makan yang menjual makanan kesukaan ibunda Rengganis. Kamu harus mencicipinya juga.." Wisanggeni menunjuk ke tempat yang ada di bawah, sambil menepuk punggung SInga Ulung.
"Parvati akan sangat senang jika ayahnda mengantarkan Parvati untuk menuju kesana.." gadis kecil itu langsung menanggapi perkataan ayahndanya.
__ADS_1
********