Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 45 Perkelahian


__ADS_3

Kompetisi perebutan warisan kuno meloloskan lebih dari 50 kelompok pendekar, dimana mereka segera berlari dan melompat masuk ke dalam hutan. Semua peserta yang berpartisipasi harus bertahan hidup sampai hari terakhir turunnya warisan kuno tersebut. Anggoro memberi isyarat pada kelompoknya agar mereka segera bergegas, karena kelompok lain sudah lebih dahulu berlari ke depan.


"Nimas..., kita akan berlari mengikuti Anggoro atau mau berjalan berdua saja?" Wisanggeni bertanya pada Rengganis, sebelum mereka mengikuti Anggoro dan teman-teman.


Rengganis menoleh dan memberikan senyuman pada laki-laki muda yang sudah merampas hatinya itu.


"Untuk sementara kita bergabung saja dulu dengan mereka, meskipun aku yakin.., di antara mereka tidak akan bisa sampai ke tengah jika tidak bergabung dengan kita." Rengganis menjawab dan sedikit meremehkan kekuatan mereka.


"Benar menurutmu.., kita harus saling membantu. Dari awal mereka sedikitpun tidak meremehkan atau membuat masalah dengan kita. Kita akan membantunya dari belakang. Ayo kita kejar mereka!" Wisanggeni langsung menyambar tangan Rengganis dan membawanya melompat ke depan. Singa Ulung yang tidak diperbolehkan kembali ke bentuk tubuh yang sebenarnya, dengan tangkas ikut melompat mengikuti Tuan mereka.


"Ha..ha..ha.., ini kelompok laki-laki dan perempuan yang sombong tadi kan? Aku akan memberimu pelajaran, karena temanmu tadi sudah berani mengirimkan serangan pada pemimpin kami." terdengar suara orang tertawa terbahak-bahak di depan. Dari suaranya, terlihat jika orang tersebut berniat memancing kerusuhan.


"Diamlah.., kita sama-sama berkompetisi disini untuk memperebutkan warisan kuno. Kita harus menghemat energi, dan kami malas meladeni kegilaan kalian." terdengar suara Anggoro.


Wisanggeni menghentikan Rengganis, mereka berpandangan.


"Kelompok Tumbak Seto mengganggu kelompok Anggoro, Kita harus membantunya, karena mereka mengganggu karena tadi Anggoro sedang bersama kita, dan kita adalah kelompoknya." ucap Wisanggeni sambil matanya menatap pada keributan kecil yang terjadi di depannya.


"Iya Kang.., Anis paham. Tapi alangkah baiknya kita lihat dulu, bagaimana Anggoro dan teman-teman menyelesaikan masalah ini. Pada saatnya kita akan turun membantu mereka." Rengganis mencoba untuk mengukur kekuatan Anggoro dan teman-temannya.


Wisanggeni tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Pandangan mata mereka berdua terarah pada Anggoro, Sapto, dan Hastho yang sudah dikepung 10 anak buah Tumbak Seto.


"Apakah kalian pikir, meskipun kami baru bertiga kami takut berhadapan dengan kelompok kalian? Tanpa teman kami memulaipun, kami juga merasa muak melihat kearoganan dan kesombongan kalian di hutan ini." teriak Anggoro tidak mengenal rasa takut.


Anak buah Tumbak Seto mengeluarkan cambuk dari pinggangnya, dia tersenyum seram memandang kelompok Anggoro. Wajah Anggoro dan teman-temannya tidak berubah, mereka segera mengeluarkan pedang dari balik baju mereka. Tanpa ragu-ragu anak buah Tumbak Seto mengacungkan cambuk dan menggerakkannya ke badan Anggoro. Dengan lincah Anggoro melompat mundur dan mengacungkan pedangnya untuk menahan serangan.

__ADS_1


"Bang"


"Bang.., bang.., bang.."


Terdengar suara tabrakan antara cambuk bertemu dengan pedang. Senjata-senjata itu terus bertabrakan, dan tidak satupun yang mundur. Sorak sorai dari kelompok Tumbak Seto ikut menyoraki pertempuran itu. Saat Anggoro lengah, ujung cambuk anak buah Tumbak Seto sudah membelit pedang dan langsung menghentak kencang.


"Klang." pedang Anggoro terbanting ke tanah.


Anggoro langsung memasang kuda-kuda pertahanan, Hastho dan Sapto melompat untuk membantu Anggoro, tetapi anak buah Tumbak Seto yang lain sudah mengepung dan ikut meramaikan perkelahian.


"Ha..ha..ha.., menyerahlah. Dimana kedua rekanmu tadi, apakah kalian menyembunyikannya?' teriak Tumbak Seto sambil tertawa terbahak-bahak.


Mata Anggoro berkilat, dengan tatapan benci dia menatap Tumbak Seto dan anak buahnya.


"Lebih baik kamu bunuh aku, daripada aku harus merendahkan martabatku di depan manusia laknat seperti kalian. Ciih.." Anggoro menolak untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh Tumbak Seto.


"Bang..sat.., kamu telah menghinaku. Rasakan ini... !" Tumbak Seto mengangkat tangannya kemudian mengarahkan tangannya pada Anggoro dan kedua temannya.


"Bang.." terdengar benturan dua kekuatan yang saling beradu.


Semua orang yan ada di sekitar itu saling memandang, adegan yang ada di depan mereka jauh melampaui apa yang mereka perkirakan. Rengganis berdiri dengan cantiknya di tengah perkelahian. Selendang warna ungu tiba-tiba melambai, dan cambuk anak buah Tumbak Seto tiba-tiba melayang dibelit oleh sambaran selendang tersebut. Tidak lama kemudian, cambuk tersebut terpotong menjadi dua.


"Ketrampilan bela diri tingkat lanjut." seru orang-orang yang menonton pertandingan itu. Mata Rengganis berkilat dan dipenuhi dengan ejekan menatap langsung pada Tumbak Seto. Wajah Tumbak Seto langsung memucat, melihat senjata anak buahnya rusak, dia merasa berurusan dengan orang yang salah.


"Baiklah Tumbak Seto.., karena kamu menyayangkan senjata anak buahmu. Kita akan bertarung dengan tangan kosong. Terimalah tantanganku." dengan suaranya yang tegas, Rengganis menantang Tumbak Seto.

__ADS_1


Anggoro terkejut melihat keberanian Rengganis, dia menjadi malu. Pertama kali melihat gadis itu, dia mengira Rengganis seorang perempuan yang lemah. Tetapi ini kali kedua gadis itu mengejutkannya.


"Bayu Mengamuk." tangan Rengganis menari di udara seperti memanggil angin.


"Bang." kembali terdengar benturan keras saat Tumbak Seto mengarahkan genggaman tinjunya, dan bertabrakan dengan energi angin yang didatangkan Rengganis.


Tumbak Seto kaget, dia memegangi dadanya dan mundur lima langkah ke belakang. Sedangkan Rengganis masih tegak berdiri pada posisi awalnya. Saat Tumbak Seto lengah, secepat kilat Rengganis mendekat ke arahnya, dan tanpa ada peringatan tubuh besar itu jatuh terlempar ke belakang. Darah muncrat dari mulutnya.


"Ki Seto.., apakah kamu baik-baik saja?" anak buah Tumbak Seto berlari mengerubungi pemimpinnya.


Rengganis langsung meninggalkan laki-laki besar itu terbaring di tanah. Dia kembali menghampiri Wisanggeni yang hanya tersenyum melihatnya bertarung.


"Kekuatanmu meningkat tajam Nimas..," pujian meluncur dari mulut Wisanggeni untuk kekasihnya itu.


"Ah .. biasa saja Kang. Ayok kita segera bergeser dari sini. Tidak perlu mengurusi manusia yang sudah bosan untuk bertahan hidup." kata Rengganis sambil merangkul Wisanggeni dan mengajaknya segera meninggalkan tempat itu.


Wisanggeni melambaikan tangannya, mengajak Anggoro dan teman-temannya untuk segera pergi. Dengan muka menahan malu, Anggoro segera mengikuti langkah Wisanggeni dan Rengganis.


"Maafkan kami Nimas..., kami tidak tahu jika kalian berdua ternyata memiliki kekuatan!" Anggoro memimpin kedua rekannya, minta maaf pada Rengganis.


"Sudah lupakan saja.., kita disini saat ini adalah kelompok mitra. Kita harus saling membantu dan mendukung." Wisanggeni menanggapi permintaan maaf dari Anggoro.


"Iyaa.., ayo kita segera ke tengah, aku merasa jika warisan itu akan segera muncul."


*********

__ADS_1


__ADS_2