Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 22 Pemimpin Ular


__ADS_3

Wisanggeni terkejut mendengar ucapan dari Ki Bahar.., dia juga heran melihat pemimpin kelompok ular disitu dan ratusan ular saat ini memberi hormat padanya. Dia menatap mata Ki Bahar untuk minta penjelasan, tetapi laki-laki paruh baya itu melihatnya dengan tatapan penuh ketakutan.


"Paduka pemimpin kami..., terimalah salam hormat dari pengikut paduka disini." Maharani memberikan salam penghormatan pada Wisanggeni.


Wisanggeni menatap Maharani seperti tidak percaya, dia malah mengacungkan jari telunjuknya dan menunjuk dadanya sendiri. Dia mengedarkan pandangannya ke bawah, ratusan ular yang tadi dengan tatapan penuh amarah akan menyerangnya dan semua orang yang ada disitu, saat ini mereka paruh padanya. Di kejauhan, Wisanggeni juga melihat beberapa orang termasuk kelompok Suko dan saudara sepadhepokan ikut melihat ke arahnya.


"Kisanak.., Maharani dan ular-ular itu memberi penghormatan pada Kisanak. Sapalah balik mereka." Ki Bahar akhirnya membuka suara dan menjelaskan pada laki-laki muda itu.


Wisanggeni mengambilkan nafas panjang, kemudian menghempaskan kembali keluar.


"Saudaraku semuanya..., terima kasih atas penyambutan dan penghormatan yang kalian berikan padaku. Bangunlah kalian semua.., dan kembali jalani rutinitas hari-hari kalian. Jika tidak terpaksa, jangan ganggu manusia yang hanya sekedar untuk bertahan hidup seperti mereka semua." Wisanggeni menunjuk pada orang-orang yang ikut datang kesitu


"Maafkan kekhilafan kami Paduka..., kami siap ikut dan mengabdi pada Paduka." Maharani menyampaikan maaf.


"Maharani..., sampaikan pada rakyatmu. Mengabdi bukan berarti kalian semua harus mengikuti aku. Aku punya tujuan dan arah sendiri yang akan aku capai.., begitupun dengan kalian. Aku akan memanggil kalian, jika pada saatnya aku membutuhkanmu." dengan tegas laki-laki dari Klan Bhirawa itu berpesan pada Maharani.


"Baiklah Paduka..., kami akan memastikan agar Paduka aman bisa memasuki danau di depan dan segera sampai ke Akademi. Tunjukkan tangan Paduka pada kami, maka kami akan mendatangi Paduka."


"Baiklah.. terima kasih Maharani. Kembalilah kalian sekarang ke tempat kalian masing-masing, aku dan orang-orang disini akan melanjutkan istirahat."


"Terima kasih Paduka. Ssssshh...sshh.." Maharani membalikan badannya, dan ketika dia berdesis, ular-ular yang berada di tempat itu pergi ke berbagai arah.

__ADS_1


Wisanggeni terhenyak, dia kemudian duduk dan mengambil nafas. Dia masih belum bisa mengendalikan rasa terkejutnya, dia tiba-tiba mendapat penghormatan dari ular sebanyak itu. Ki Bahar tersenyum, dan duduk menemaninya.


"Saya turut mengucapkan salam nak Wisang.., maafkan saya yang tidak bisa mengenali Kisanak sebagai pemimpin ular. Tanda mustika Nabau di telapak tangan merupakan bukti mustika yang menjadikan semua ular dimanapun akan menyembah Kisanak sebagai pemimpinnya." Ki Bahar memberikan informasi tentang mustika di tangannya.


Wisanggeni tidak menanggapi perkataan Ki Bahar.., dia hanya menatapnya. Laki-laki paruh baya itu menganggukkan kepala.


"Ayolah kita kembali ke tempat kita beristirahat dulu. Malam ini kita akan bisa tidur dengan tenang, karena Maharani tidak akan mengganggu keberadaan kita. Besok pagi kita harus segera menuju pos perbatasan untuk melaporkan diri." Ki Bahar mengajak Wisanggeni kembali ke tempat mereka semula.


Keduanya berjalan dengan santai sambil menyapa orang-orang yang tampak mengagumi kehadiran Wisanggeni disitu.


**************


Sudah tiga hari tiga malam, Rengganis menghabiskan waktu untuk berendam di mata air hangat yang ada di balik tebing dan Curug Banyunibo. Air yang tiba-tiba bergolak dan panas menyengat tidak dia rasakan. Dia memang butuh waktu untuk menyendiri, karena rasa kerinduan untuk menjumpai Wisanggeni. Ki Narendra sesekali akan menyambangi putri dari Ketua Klannya itu, dan memastikan keamanan serta keselamatannya.


"Akhirnya aku sudah menyelesaikan meditasi ku. Tulang-tulang ku menjadi lebih kuat sekarang," Rengganis tersenyum dan membuka matanya.


"Aku akan jalan-jalan dulu dan mencari makanan. Malam hari aku baru akan kembali ke perguruan." gumam Rengganis.


Gadis itu segera naik ke atas telaga, kemudian menggunakan jari tangannya dia mengeringkan pakaian dan semua yang ada di tubuhnya yang masih basah. Setelah semua kering, perlahan dia berjalan keluar dari wilayah itu.


"Siapa itu?? Kenapa ada orang yang bertapa.disitu?" Rengganis bertanya pada dirinya sendiri, saat matanya menangkap seseorang yang sedang duduk dengan posisi meditasi berada di dalam gua sendiri. Dahinya tampak berkerut, saat memikirkan orang itu.

__ADS_1


"Aah biarkan. Masing-masing orang punya urusan sendiri-sendiri. Demikian juga dengan aku." Rengganis berhenti memikirkan orang itu, dengan cepat dia melompat dan berlari. Setelah hampir memasuki wilayah pedesaan, Rengganis berjalan seperti orang-orang kebanyakan.


"Gorengan.., gorengan.., mari pada dibeli dagangan saya." teriak penjual mencoba menarik pembeli agar mampir ke lapaknya.


"Ronde .., ronde..., ayo wedang rondenya. Biar hangat di badan." teriak penjual yang lain.


"Pencuri..., pencuri.., tangkap pencuri kecil itu!" terlihat seorang ibu-ibu sedang mengejar seorang anak laki-laki yang berusia sekitar 6 tahun. Anak itu berlari sangat kencang, dan di tangannya membawa satu plastik kecil berisi kue.


Dengan cepat Rengganis menangkap anak kecil itu dengan satu tangannya. Anak itu terlihat berlinang air mata saat tangan Rengganis memeganginya.


"Tolong lepaskan saya kak..., adik saya lapar. Dari kemarin belum makan...!" anak kecil itu dengan tatapan memohon meminta agar Rengganis melepaskannya.


Rengganis meletakkan jari di mulutnya, memberi isyarat agar anak laki-laki itu merasa tenang. Kemudian dia menempatkan anak itu di belakangnya.


"Mau lari kemana lagi kamu, . kecil-kecil sudah menjadi pencuri. Mau jadi apa kau kalau sudah besar nanti?" teriak ibu-ibu itu. Dia berhenti di depan Rengganis, sambil marah-marah.


"Maafkan kelakuan adik saya Ibu. Senilai berapa kue yang diambil oleh adik saya, saya akan membayarnya." ucap Rengganis sambil tersenyum.


"Bocah nakal ini adikmu?" ibu-ibu itu menatap tak percaya. Meskipun Rengganis saat ini mengenakan pakaian sama seperti gadis-gadis di desa itu, tetapi wajahnya lebih bersih dan bersinar. Jadi, siapapun akan tidak mudah untuk mempercayainya, jika dia adalah wanita biasa.


"Iya Ibu..., dari tadi saya mencarinya, Syukurlah dia saya temukan disini, berapa ibu nilai kue yang diambil oleh adik saya?"

__ADS_1


Rengganis kemudian membayar harga kue yang diambil oleh anak itu. Kemudian dia mengajak anak laki-laki kecil itu menemaninya makan. Untuk mengucapkan terima kasih padanya, anak kecil itu menerima ajakan Rengganis.


**********


__ADS_2