Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 221 Perlakuan Tidak Adil


__ADS_3

Semua prajurit dari kedua belah pihak, menghentikan serangan mereka ketika terdengar ledakan dahsyat dari serangan Wisanggeni yang diarahkan pada Panjalu. Bahkan dampak dari serangan tersebut, terjadi gempa kecil di wilayah kerajaan. prajurit-prajurit kerajaan dari perguruan Tapak Geni terlihat pucat, melihat Guru mereka Panjalu tampak kewalahan dan kesakitan menghadapi Wisanggeni. Sebaliknya prajurit yang dipimpin Pangeran Abhiseka tampak kegirangan, dan memacu semangat mereka untuk segera mengakhiri peperangan.


Dengan senyum mencibir, Wisanggeni melompat dan berdiri di depan Panjalu yang terluka parah. Tetapi rupanya laki-laki tua itu memiliki kekuatan cadangan, dengan sekali lompat tubuh tua yang berlumuran darah itu kembali berdidi dan berhadapan dengan Wisanggeni. Bau anyir darah kembali menyeruak masuk ke indera penciuman Wisanggeni.


"Rupanya tenagamu boleh juga anak muda.. Tapi jangan kamu menjadi lebih sombong dan jumawa, kamu tidak akan mudah dapat mengalahkanku. Ingat namaku adalah Panjalu.., pemimpin perguruan Tapak Geni, dan juga kakang dari Tumbak Seto." sambil mengusap mulutnya yang terlihat merah karena darah segar, Panjalu mengejek dan berbicara dengan Wisanggeni. Laki-laki tua itu terlihat seperti memiliki dendam tersendiri melihat Wisanggeni, ketika mengetahui laki-laki muda itu yang menjadi penyebab meninggal adiknya.


"Terserah apa perkataanmu laki-laki tua.. Tempatmu sudah tidak diterima di dunia ini.., tubuhmu sudah bau tanah.., kembalilah segera ke dalam tanah. " dengan senyum mencibir, kembali Wisanggeni menatap laki-laki tu itu dengan tatapan sinis.


"Karara Rekso... Sapta Jati..., bergabunglah.." terdengar kembali teriakan dari mulut laki-laki tua itu. Tidak diduga, gulungan asap hitam tampak menyelubungi pedang gaib yang ada di tangan laki-laki tua itu. Dalam kegelapan asap hitam tersebut, muncul sinar bara api dari dalam gulungan tersebut. Dengan senyum sinis.., sambil sesekali menyeka darah yang masih mengalir di wajahnya, Panjalu kembali melompat dan menyerang Wisanggeni.


Dengan tangan kosong, Wisanggeni menghadang serangan laki-laki tua tersebut. Rasa panas mengalir cepat dari tangan Wisanggeni menuju ke seluruh anggota tubuh laki-laki tersebut. Tetapi keprihatinan sudah banyak dilakukan oleh Wisanggeni, sehingga bara panas yang terasa membakar tubuhnya kali ini, tidak begitu dirasakan oleh laki-laki muda itu.


"Kekuatanku.., datanglah....." tiba-tiba pusaran angin muncul tiba-tiba dari atas langit. Awan hitam bergulung dengan cepat, dan suasana di tempat itu menjadi gelap gulita karena pekatnya awan hitam yang bergulung dan tersedhot masuk ke dalam pusaran angin tersebut.

__ADS_1


"Ha.., ha..., ha... semua roh yang ada di bumi ini, datanglah. Menyatulah dengan kekuatanku..., datanglah.. ha.., ha..., ha..." tiba-tiba Panjalu tertawa terbahak-bahak, kedua tangannya berputar-putar berusaha mengendalikan pusaran angin tersebut. Laki-laki itu sama sekali tidak mempedulikan dengan aliran darah segar yang keluar dari dalam tubuhnya, dan sepertinya laki-laki itu sudah terserap dan menyatu dengan kekuatan yang ditimbulkannya itu.


Wisanggeni menyipitkan matanya, auranya membanjir keluar, dan laki-laki itu sama sekali tidak memiliki niat untuk menutup jalan keluarnya, sehingga aura deras mengalir keluar melewati pori-pori tubuh laki-laki itu. Udara dingin seperti ikut mengalir dan berhembus seiring dengan keluarnya aura batin dari laki-laki muda tersebut. Setelah beberapa saat, tiba-tiba kedua mata Wisanggeni terpejam sejenak, kemudian bibirnya tersenyum, dan laki-laki itu membuka matanya kemudian...


"Clap..., jleb... jeglarr...." pisau mustika nabau bersinar keunguan melayang cepat dari tangan laki-laki itu, dan tiba-tiba masuk ke pusaran angin berwarna hitam tersebut.


Pusaran hitam tersebut tiba-tiba bergelegak seperti sebuah bara. Warna jingga api, perlahan-lahan seperti berperang dengan warna ungu, dan tiba-tiba warna ungu mendominasi pusaran, dan..


Wisanggeni juga berada dalam kondisi yang tidak jauh lebih baik. Tulang-tulangnya terasa seperti diloloskan keluar, seketika rasa lemas terasa mengurungnya. Laki-laki itu merasa semua tenaganya terserap habis, dan hanya tersenyum kecut terduduk lemas di dekat lokasi pertarungan. Tetapi, tidak disangka tiba-tiba dua orang laki-laki muda dengan cepat menghampiri, dan membawanya pergi dari lokasi pertempuran.


*************


Di lokasi lain

__ADS_1


Melihat jika guru mereka sudah berakhir secara mengenaskan, prajurit yang merupakan murid dari Perguruan Tapak Geni menjadi kocar-kacir. Mereka banyak berlarian untuk melarikan diri, tidak mau lagi bertarung dengan para prajurit yang dibentuk oleh Pangeran Abhiseka. Di istana kerajaan, Pangeran Prakosa terlihat pucat mendengar laporan dari telik sandi tentang situasi peperangan terkini. Bersama dengan dua perempuan muda.., Prakosa berniat untuk melarikan diri melalui jalan rahasia yang dibangun oleh raja Achala. Melalui jalan tersebut, Prakosa dapat menggunakannya untuk melarikan diri, karena jalan tersebut akan menghubungkan dengan pinggiran kota Laksa.


Tetapi baru beberapa langkah Pangeran Prakosa berjalan, di depannya berdiri seorang laki-laki muda. Dan betapa terkejutnya Pangeran Prakosa, setelah menatap dengan jelas laki-laki yang berdiri menghadang dan menghalangi langkahnya. Pangeran Abhiseka dengan tatapan sinis, menatap Pangeran Prakosa dengan pandangan jijik.


"Darah memang merupakan cairan, yang akan mengalir ke bawah. Hal itu berlaku juga untukmu Prakosa.., darah kotor ibundamu ternyata mengalir deras dan membanjiri ragamu. Tidak sedikitpun tersisa untuk aliran darah dari romo prabu Achala..." dengan sinis, Pangeran Abhiseka berbicara sarkasme pada laki-laki itu. Matanya seperti tidak berkedip, menatap tajam putra dari sleir kerajaan itu.


"Tutup mulutmu Abhiseka..., hanya karena perhatian dan kasih sayang dari romo prabu mengalir padamu, janganlah bersikap jumawa di hadapanku.." dengan tatapan nanar, Pangeran Prakosa menatap balik mata Pangeran Abhiseka.


"Ha.., ha..., ha..., kamu berpikir romo prabu bertindak tidak adil padamu..?? Tidakkah kamu menyadarinya Prakosa.., setiap masa.., siapa yang berada lebih dekat dengan romo prabu? Siapa yang lebih banyak menghabiskan harta romo prabu untuk bermain perempuan.., siapakah itu Prakosa? Waktuku lebih banyak malang melintang di dunia persilatan, tidakkah terlalu berlebihan jika kamu menuduhku diperlakukan istimewa oleh romo prabu. Jikapun demikian.., hal itu tidak menyalahi Paugeran Prakosa..., karena akulah putra dari ibunda ratu, bukan putra dari seorang selir yang mengkhianati romo prabu." sambil tertawa terbahak-bahak.., Pangeran Abhiseka membuka dan mengingatkan tindakan tidak adil yang dimaksudkan oleh Pangeran Prakosa.


"Kamu terlalu banyak bicara Abhiseka.., terimalah ini..., Ajian Punjul Antakusuma.... bluarrr..." sebuah tombak ghaib dengan lima ujung mata tombak mengarah ke depan. Dari setiap ujung tombak tersebut, mengeluarkan cahaya panas yang bermacam-macam warnanya. Dengan pongahnya, Pangeran Prakosa memutar-mutarkan tombak ghaib tersebut dengan menggunakan tangan kanannya.


************

__ADS_1


__ADS_2