
Wisanggeni menatap Rengganis, laki-laki itu meminta penjelasan dari Rengganis tentang kemampuan Chakra Ashanka. Tetapi Rengganis mengacuhkan suaminya itu, karena bagaimanapun perempuan muda itu jengkel kenapa putranya sampai bisa berada dalam gendongan orang asing. Dia merasa, suaminya telah menggunakan putranya sebagai umpan coba-coba.
"Nimas.., tunggu Akan ya.. kenapa jalan kakimu begitu cepat?" Wisanggeni memanggil Rengganis, tetapi perempuan muda itu menolehpun tidak. Wisanggeni garuk-garuk kepala yang tidak merasa gatal.
"Yah..., yah..," dengan suara cadel, Chakra Ashanka memanggil-manggil ayahndanya. Wisanggeni tersenyum, laki-laki itu mengulurkan kedua tangannya ke depan. Dia memberi isyarat agar putranya minta gendong padanya.
"Ashan..., gendong Bunda saja ya.." dengan cepat Rengganis memegang wajah putranya, kemudian menghadapkan ke wajahnya. Dari belakang Wisanggemi hanya tersenyum kecut. Merasa diabaikan oleh istri dan putranya, akhirnya Wisanggeni berjalan ke arah Maharani. Apalagi dia juga belum makan apapun dari tadi.
Dari kejauhan, Maharani tersenyum melihat bagaimana Rengganis mengabaikan Wisanggeni. Tetapi dia hanya diam saja, karena merasa bukan menjadi urusannya untuk masuk pada masalah mereka berdua.
"Makanlah dulu Akang.., sudah Maharani siapkan." Maharani menggeser cangkir minuman ke depan suaminya, kemudian menyiapkan makanan juga.
"Ya.., terima kasih Maharani." tanpa banyak bicara, Wisanggeni langsung mengambil cangkir kemudian langsung menyeruput minuman tersebut. Setelah beberapa kali tegukan, laki-laki itu melanjutkan dengan menikmati makanan yang disiapkan oleh Maharani.
Maharani merasa tidak nyaman, karena perempuan ini merasa tiba-tiba suaminya juga mengabaikan. Dia menatap suaminya yang tengah menikmati makan dalam diam.
"Memang Kang Wisang belum bisa menerimaku sepenuhnya. Suasana hatinya sangat tergantung dengan Nimas Rengganis." Maharani berpikir sendiri, perempuan itu mengingat bagaimana sikap laki-laki itu tadi malam. Pada saat mereka melakukan penyatuan, dan benih laki-laki itu tersembur ke rahimnya, Wisanggeni sudah berkali-kali menyebut namanya bukan nama Rengganis. Tiba-tiba pipi Maharani menjadi bersemburat merah, dia merasa malu mengingat apa yang terjadi tadi malam antara dia dan suaminya.
"Ada apa denganmu Maharani.., kenapa tiba-tiba pipimu bersemburat merah?" suara lirih Wisanggeni menyadarkan Maharani dari lamunannya, dan seketika membuat perempuan itu menjadi gugup.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa Kang..., hanya teringat dengan sesuatu saja. Akang melanjutkan makan siang sendiri saja ya.., Maharani akan ke tempat Nimas Rengganis dan putra kita Chakra Ashanka?" malu untuk mengakui perasaannya pada Wisanggeni, Maharani mencari alasan untuk bergabung dengan istri dan putranya.
"Baiklah.., tunggu Akang sekalian. Setelah melakukan pembayaran, kita akan segera pergi dari tempat ini." Wisanggeni tidak melarang sikap dan perilaku Maharani. Laki-laki itu membiarkan istri pertama dan keduanya bergabung menjadi satu. Dia tetap melanjutkan makan siangnya.
*************
Karena sudah berada di dekat wilayah kerajaan, Wisanggeni memutuskan untuk menuju gerbang istana dengan berjalan kaki. Dia tetap ingin menghormati Pangeran Abhiseka, jika mereka tanpa permisi langsung menyelonong masuk ke dalam istana. Di depan gerbang kerajaan, Wisanggeni menghentikan istri dan putranya sebentar.
"Tunggulah sebentar disini.., aku akan memberi tahu penjaga yang berjaga di gerbang itu!" Wisanggeni meminta istrinya untuk menunggu. Kemudian laki-laki itu berjalan menuju petugas yang sedang berjaga di dekat gapuro masuk.
"Mau kemana Ki sanak..?" belum sampai Wisanggeni bertanya, penjaga itu sudah bertanya terlebih dahulu pada Wisanggeni.
"Kepentingannya apa ya..?? Karena kami tidak bisa sembarangan untuk mengijinkan orang bertemu dengan keluarga istana. Apalagi baru beberapa hari yang lalu, ditemukan ada rencana tindakan makar yang dilakukan oleh orang terdekat dari raja sendiri." perkataan laki-laki itu mengingatkan Wisanggeni pada kejadian di tengah hutan bersamanya.
"Iya Ki Sanak.., saya juga memahaminya. Silakan Ki Sanak menyampaikan dulu pada pangeran, jika saya Wisanggeni temannya dalam perjalanan ingin datang untuk singgah ke istananya. Kebetulan.., beberapa waktu yang lalu, Pangeran sendiri yang mengundang kami untuk datang ke istana." kembali Wisanggeni menjelaskan keperluannya.
"Tunggu kami sebentar!" petugas penjaga itu meminta Wisanggeni untuk menunggu sebentar. Penjaga itu menemui teman-temannya yang sedang berjaga dan duduk-duduk di dalam pos. Tetapi tidak lama kemudian, dua orang mengikuti penjaga tersebut kemudian ikut menemui Wisanggeni.
"Ki Sanak.., dua orang temanku ini yang akan mengantarkanku ke padhepokan tempat pangeran Abhiseka berada. Kami tidak bisa membiarkan orang asing memasuki istana kerajaan tanpa pengawalan." dengan sopan, penjaga tadi mengatakan bahwa mereka akan mengikuti Wisanggeni masuk ke dalam. Dan untuk tidak mebuang-buang waktu, Wisanggeni menyetujui usulan mereka. Dengan cepat Wisanggeni segera memberi isyarat pada dua istri untuk segera mendekat padanya.
__ADS_1
"Nimas.., kita akan di antarkan ke dalam istana oleh para penjaga-penjaga ini. Berterima kasihlah pada mereka." Wisanggeni berbicara pada Rengganis dan Maharani.
"Terima kasih Ki Sanak.." kedua istri Wisanggeni langsung mengucapkan terima kasih pada penjaga itu.
Dua orang langsung berjalan di depan Wisanggeni, dan ketiga orang itu mengikuti di belakangnya. Suasana di dalam gerbang ternyata jauh lebih ramai dan penuh kesibukan daripada di luar gerbang penjagaan. Banyak kedai makan, kios-kios yang menjajakan berbagai barang banyak tersedia di dalam gerbang. Orang-orang yang berada di sana, juga terlihat lebih bersih dengan pakaian yang terlihat lebih mahal. Tetapi mereka tidak memiliki banyak waktu untuk melihat dan mengamati itu semua. Ki Sanak langsung membawa mereka ke komplek istana.
Salah satu dari penjaga itu meminta Wisanggeni berhenti, dan satu penjaga lainnya sedang melapor pada penjaga yang berjaga di dalam istana. Setelah sedikit banyak mereka berbicara.., penjaga dalam berjalan meninggalkan mereka.
"Petugas jaga akan memberi tahu pada Pangeran Abhiseka.., apakah beliau bersedia untuk menerima tamu kunjungan atau tidak? Jika ternyata belum bisa menerima, maka kami hanya bisa menyarankan agar Ki Sanak mencari tempat untuk beristirahat terlebih dahulu." penjaga yang mengantarkan tadi, memberi tahu pada Wisanggeni.
"Baik Paman.., kami akan menunggu dan mengikuti tata tertib yang ada di kerajaan ini." dengan sikap sopan, Wisanggeni menanggapi perkataan penjaga itu.
Tidak berapa lama mereka menunggu, penjaga yang meninggalkan mereka terlihat di kejauhan sudah kembali. Tetapi di belakangnya, terlihat seorang laki-laki muda dengan pakaian mewah mengikutinya di belakang.
"Sepertinya aku pernah melihat laki-laki itu.., siapakah dia?" Wisanggeni berpikir, dia merasa pernah mengenal laki-laki itu. Tetapi dia sendiri bingung dimana dia pernah mengenalnya.
Tiba-tiba...
"Wisanggeni.., kenapa kamu tidak menyapa dan menyambutku?" suara tegas dan berwibawa mengagetkan Wisanggeni. Serta merta Wisanggeni sadar dan teringat dengan siapa orang yang merasa pernah dia kenal itu.
__ADS_1
*************