
Keesokan Harinya
Di halaman belakang pendhopo, Pangeran Abhiseka bersama Wisanggeni mengadakan pertemuan mendadak dengan para orang tua dan anak-anak muda yang ada di pondhok tersebut. Mereka akan menyusun strategi penyerangan, dengan target utama membebaskan raja dan permaisuri. Bahkan beberapa gadis muda, siap untuk mengorbankan dirinya. Mereka akan menyamar sebagai wanita penghibur, dan akan mencari cara agar mereka bisa masuk ke istana kerajaan. Pangeran Prakosa yang suka menghabiskan waktu dengan perempuan-perempuan penghibur, akan menjadi sasaran empuk untuk mereka dekati.
"Kemungkinan besar, nanti malam orang-orang dari padhepokan Gunung Jambu sudah akan berada di kota ini, dan mereka dipimpin oleh petarung dari Trah Jagadklana yaitu Asoka. Wisanggeni juga sudah mengirim pemberitahuan pada Klan Bhirawa, untuk mengirimkan orang-orangnya untuk merebut kembali kerajaan dari Pangeran Prakosa. Sekarang persiapkan diri kalian..!" Pangeran Abhiseka mengawali pertemuan dengan membangun semangat juang orang-orang yang ada disitu.
"Baik Pangeran, beberapa laki-laki muda yang saat ini berada di lokasi lain, juga sudah merencanakan untuk mengirim serangan balasan kepada Pangeran Achala. Kita akan memberi informasi pada mereka, agar penyerangan kita bisa tertata dengan baik." salah satu laki-laki tua menanggapi perkataan Pangeran Abhiseka.
"Yang paling penting menurutku, kita harus membebaskan raja dan permaisuri terlebih dahulu. Jika mereka berdua sudah kita bebaskan, orang-orang Pangeran Prakosa tidak akan memiliki sandera untuk menghentikan serangan kita. Nanti sore aku akan menyelusup ke istana, beberapa pengawal yang berjaga bukan penduduk dari kota ini. Mereka adalah murid-murid dari perguruan Tapak Geni. Aku bisa memanfaatkan hal ini, untuk mengaku sebagai pengawal dari kerajaan Laksa." Wisanggeni menambahkan.
Pangeran Abhiseka menggambar dengan menggunakan batu di atas tanah. Laki-laki itu menggambarkan pola kerajaan, dan tempat-tempat yang aman untuk mereka masuki. Ada beberapa bagian di kerajaan, yang selama ini jarang dijamah oleh orang-orang yang ada di istana. melalui tempat itu, bisa digunakan sebagai tempat pendaratan awal jika akan melakukan penyerangan. Orang-orang menganggukkan kepala, tanda jika mereka memahami perkataan yang disampaikan oleh Pangeran Abhiseka dan Wisanggeni.
Tiba-tiba terdengar keributan dari arah depan pondhok, semua yang berada disitu saling berpandangan dan berjaga-jaga. Tidak lama kemudian, dua orang tampak terengah-engah berlari ke arah mereka.
"Ada apa Rahmanta.., seperti dikejar hantu saja pagi-pagi begini." salah satu orang tua mencegat laki-laki itu. Ternyata orang mereka yang bertugas melakukan pengamatan di pintu masuk arah kota Laksa.
__ADS_1
"Ampun Wak..., kami baru saja melihat kedatangan beberapa puluh pasukan berkuda. Kami tidak mampu mengenali mereka, karena tidak ada lambang maupun identitas yang menunjukkan jati diri mereka. Jika tidak salah, siang hari mereka pasti sudah akan sampai di pusat kota kerajaan." laki-laki bernama Rahmanta itu melaporkan hasil pengamatannya,
Mendengar perkataan laki-laki itu, Pangeran Abhiseka dan Wisanggeni saling berpandangan, kemudian tersenyum dan menganggukkan kepala. Tetapi mereka tidak memotong pembicaraan tersebut, karena ingin mengetahui lebih lanjut. Tiba-tiba laki-laki bernama Rahmanta itu melihat ke arah Pangeran Abhiseka, dan mengetahui siapa laki-laki muda yang tersenyum padanya itu, laki-laki itu langsung berlutut di depan Pangeran Abhiseka.
"Ampuni saya Pangeran.., yang telah buta tidak dapat mengenali Pangeran.." laki-laki itu langsung mengadu pada Pangeran Abhiseka.
"Sudah bangunlah.., saat ini posisi kita di tempat ini adalah sama, Kalian juga tidak perlu khawatir, pasukan berkuda itu adalah bantuan untuk kita, tidak lama lagi mereka akan sampai di tempat ini." sambil tersenyum dan mengangkat bahu laki-laki itu, Pangeran Abhiseka menjelaskan keberadaan pasukan berkuda.
*****
"Terima kasih atas penyambutan yang ramah untuk kami. Saya Asoka, yang memimpin mereka untuk datang ke tempat ini, seperti arahan Wisanggeni dan Pangeran Abhiseka." Asoka langsung mengenalkan dirinya pada orang-orang yang menyambut kedatangan mereka.
"Kami yang seharusnya berterima kasih Asoka. Mari aku antarkan kamu ke tempat Pangeran Abhiseka dan Den Bagus Wisanggeni berada. Yang lainnya, silakan beristirahat dulu di tempat yang sudah kami siapkan untuk kalian." Rahmanta langsung mengajak Asoka untuk masuk ke dalam.
Tanpa banyak pertanyaan, Asoka segera mengikuti langkah laki-laki muda itu. Di pendhopo bagian tengah, tampak Wisanggeni sudah tersenyum menyambut kedatangannya,
__ADS_1
"Istirahatlah dulu Asoka, besok kita baru akan memulai pergerakan. Pulihkan kondisi dan stamina kalian setelah menempuh perjalanan jauh." Wisanggeni meminta Asoka dan murid-murid dari padhepokan Gunung Jambu untuk beristirahat.
"Baik Den Bagus.., tidak perlu begitu mempedulikan kami." Asoka kemudian duduk dan membaringkan tubuhnya di gelaran tikar. Beberapa perempuan muda menyajikan minuman panas, dan kudapan kepada Asoka. Tanpa dipersilakan, Asoka mengambil cangkir kemudian mulai menenggak minuman tersebut.
Melihat Asoka akan beristirahat, Wisanggeni berdiri dan meninggalkan Asoka sendiri. Tanpa berpamitan, Wisanggeni berjalan keluar dari pondhok tersebut. Setelah memastikan tidak ada orang yang melihatnya, Wisanggeni melompat dan berlari menembus kerimbunan hutan.
Setelah beberapa saat Wisanggeni sampai di tempat yang tidak jauh dari benteng perbatasan istana kerajaan. Laki-laki mencoba mencari celah untuk dapat memasuki penjara bawah tanah. Melihat seseorang berpakaian penjaga, yang terlihat akan melakukan hajat buang air kecil, Wisanggeni mengikuti orang tersebut. Ketika laki-laki itu sudah masuk ke dalam tanah kosong, Wisanggeni mengirim serangan langsung ke tengkuk laki-laki tersebut.
"Clap.., dukk.." tanpa bersuara, begitu serangan Wisanggeni menghentikan sementara aliran darah laki-laki itu, tubuh orang tersebut jatuh terkulai ke tanah. Tidak menunggu lama, Wisanggeni segera mendatangi orang tersebut, dan tanpa banyak bicara kedua tangan Wisanggeni melepas pakaian yang dikenakan penjaga tersebut,
Tidak lama kemudian, Wisanggeni sudah mengenakan pakaian penjaga itu sebagai rangkapan pakaian yang dia kenakan.
"Hmm, untungnya tidak begitu sempit baju orang itu di tubuhku.." gumam Wisanggeni sambil tersenyum. Tidak mau membuang banyak waktu, Wisanggeni segera keluar dari dalam tanah kosong tersebut, kemudian berjalan seperti seorang penjaga. Laki-laki itu menuju ke arah penjaga bawah tanah, dan baru saja beberapa saat Wisanggeni berjalan...
"He kamu... kesini!! Tugas sebagai penjaga itu jangan malah keluyuran jalan-jalan kesana kemari. Antar makanan ini ke bilik-bilik di bawah sana!" tidak diduga, seorang laki-laki bertubuh gempal memanggil dan meminta Wisanggeni mengantarkan ransum makanan ke bilik penjara. Tanpa menunggu pengulangan perintah, Wisanggeni segera menghampiri laki-laki tersebut, dan tanpa bicara langsung mengangkat ransum yang minta untuk diantarkan.
__ADS_1
*********