
Saat dini hari, Wisanggeni terbangun. Dia merasa tiba-tiba tubuhnya menjadi berat seperti ada yang menindihnya. Saat dia membuka matanya dia kaget, melihat tubuh Niken Kinanthi sudah berada di atas badannya. Kepala gadis itu berada di atas dadanya, dengan kaki kanan ditindihkan di atas perut bagian bawah. Padahal dia mengingat tadi malam, dia memilih tidur lebih dulu karena telinganya bising mendengar keributan antara Rengganis dan Niken Kinanthi. Posisi tidur tadi malam dia berada di pinggir, Rengganis di tengah dan Niken Kinanthi juga berada di pinggir.
"Bisa terjadi perang besar ini, kalau Rengganis sampai tahu hal ini." Wisanggeni membatin sendiri. Sebagai laki-laki, dia sangat menyukai posisi ini. Tetapi dia tidak mau ada salah paham dan keributan jika Rengganis sampai melihatnya.
Perlahan laki-laki itu mengangkat tubuh Niken Kinanthi untuk menyingkirkannya dari atas tubuhnya, tetapi gadis itu malah memberinya pelukan erat. Laki-laki itu tersenyum kecut, dia tidak dapat berbuat banyak. Jika dia membangunkan Niken Kinanthi, dia khawatir kalau Rengganis malah akan terbangun. Tetapi saat dia membiarkannya, sesuatu di bawah perutnya yang jadi terbangun saat ini.
"Bruk.." tiba-tiba Rengganis membalikkan tubuhnya menghadap Wisanggeni. Perempuan itu dalam keadaan tidur, mendorong tubuh Niken Kinanthi dan memeluk erat tubuh Wisanggeni. Niken Kinanthi sepertinya menyadari, dia menyingkirkan tangan dari pinggang Wisanggeni.
Bingung dengan keadaan yang dia alami saat ini, Wisanggeni kembali tidur dan memeluk erat tubuh Rengganis. Dia berusaha menutup pikirannya untuk berbuat macam-macam dengan gadis itu, apalagi dengan adanya Niken Kinanthi di sampingnya.
********
Niken Kinanthi menatap kesal pada dua orang yang sedang berjalan di depannya. Rengganis seperti sengaja memancing kecemburuannya, dengan bertingkah laku intim di depannya.
"Clang..." tiba-tiba Wisanggeni mendorong tubuh Rengganis ke samping, dia berhasil menghindar dari lemparan bumerang.
"Keluarlah Ki sanak.., jangan hanya bisanya main belakang!" teriak Wisanggeni.
Tidak terdengar suara di sekitar mereka. Setelah menengok sekitar, dan memastikan bahwa tidak ada orang di sekitar situ, mereka kembali melanjutkan perjalanan ke depan dengan hati-hati. Rengganis berjalan di samping kiri Wisanggeni.
"Majulah ke depan Nimas, aku akan bisa mengawasi jika kita sejajar jalannya!" Wisanggeni meminta Niken Kinanthi untuk berjalan di sampingnya.
"Tidak kang, aku di belakang Akang dan Nimas Rengganis saja." Niken Kinanthi menyahuti ajakan Wisanggeni.
"Baiklah jika itu maumu, aku tidak akan memaksakan." Wisanggeni tidak memaksakan perempuan itu. Dia tetap meneruskan perjalanannya.
"Hati-hati Kang Wisang.., sepertinya antek-antek dari gerombolan Alap-alap sudah menyadari kedatangan kita." seru Niken Kinanthi dari belakangnya.
"Iya Nimas.., aku merasakan ada kekuatan aneh melingkupi anak bukit ini. Tapi aku belum bisa menebaknya, kekuatan milik siapa ini." sahut Wisanggeni.
__ADS_1
"Tidak perlu kita hiraukan kekuatan itu. Kita bertindak biasa saja,. yang penting tidak menimbulkan kecurigaan pihak lawan." kata Rengganis lirih.
Dengan perhatian penuh, mereka bertiga akhirnya sampai di kaki bukit. Setelah melewati bukit itu, mereka akan sampai di wilayah terdekat dari Gunung Baturetno. Mereka sebenarnya bisa saja menggunakan Singa Ulung, tetapi karena belum memahami medan, mereka memutuskan untuk jalan kaki. Singa Ulung yang sudah berubah bentuk menjadi kucing putih, sementara diungsikan Wisanggeni dan dia masukkan ke dalam kepis.
Sesampainya di pinggir areal persawahan, mereka melihatnya ada sejumlah lima orang yang tampak sedang menanti kedatangan mereka. Dengan sigap, Wisanggeni memundurkan tubuh Rengganis, kemudian dia berjalan di depannya.
******
Mereka bertiga dibawa ke sebuah rumah kayu yang tampak kosong oleh kelima orang yang mereka temui di pinggir persawahan. Untuk mengetahui apakah motivasi mereka, sengaja mereka tidak memberikan perlawanan.
"Apakah kalian mendengar suara-suara aneh di sekitar wilayah ini?" Rengganis tiba-tiba berbicara lirih dengan Wisanggeni dan Niken Kinanthi.
"Sstt.." bisik Wisanggeni yang baru mencoba untuk mendengarnya agar lebih jelas.
Rengganis kembali terdiam, ketiga orang itu segera memasang dengan jelas telinganya.
"Tolong bebaskan aku! Aku tidak mau melakukan pekerjaan seperti ini. Hiks.., hiks..." di sisi yang lain, mereka mendengar sebuah penolakan.
"Apakah kamu belum tahu siapa aku? Bisa-bisanya kamu menolak ku." ada suara laki-laki yang berbicara dengan keras.
"Plak.." terdengar suara tamparan.
"Auwww.., ampuni aku Ki Sanak! Akan dibawa kemana aku, jangan pisahkan aku dari keluargaku!"
Berbagai suara dengan berbagai permasalahan tersendiri, mereka dengarkan dari tempat itu.
"Rupanya tempat ini merupakan tempat penangkapan para perempuan. Mereka ditangkap untuk dijadikan sebagai pelampiasan para laki-laki hidung belang." suara pelan Wisanggeni mengejutkan Rengganis dan Niken. Mereka berpandangan, dan tiba-tiba merasa jijik berada di tempat itu.
"Kita harus membebaskan mereka." ucap Rengganis geram.
__ADS_1
"Pakai cara untuk mengelabuhi mereka. Akang yakin, kenapa mereka menangkap kita. Karena ada dua gadis cantik di samping Akang, sepertinya mereka semua tertarik pada kalian berdua. He..he..he.." Wisanggeni tertawa kecil.
"Kurang ajar.., belum tahu mereka siapa kita? Aku akan menghajar orang yang berani untuk menyentuhku tanpa seijinku." sahut Niken Kinanthi.
Wisanggeni tersenyum melihat reaksi Niken Kinanthi, padahal tanpa ijin perempuan itu sudah semena-mena memperlakukannya. Dia sudah seenaknya memeluk, bahkan mencium Wisanggeni tanpa mendapatkan ijin darinya. Tapi meskipun dia tidak memberi ijin, tetapi dia ikut menikmati semua perlakuan yang diberikan oleh Niken Kinanthi.
"Kenapa Akang malah senyum-senyum? Ayo bantu pikirkan cara untuk memberi pelajaran pada mereka." Rengganis menyadarkan Wisanggeni dari lamunannya.
"Akang tersenyum membayangkan kalian berdua mengobrak-abrik tempat ini, kemudian menghajar para laki-laki hidung belang itu." Wisanggeni membohongi Rengganis.
"Auwww."
Tanpa Wisanggeni duga, Rengganis dan Niken Kinanthi serempak memberi cubitan di pinggangnya.
"Brak.." tiba-tiba pintu yang digunakan untuk mengurung mereka didobrak dari luar
"Bisa diam tidak kalian? Jangan mengganggu di tempat ini!" terdengar teriakan keras dari orang-orang yang berwajah sangar pada mereka.
"Ampuni kami Kang.., kebetulan ada tikus lewat disini dari tadi. Kebetulan salah satu teman saya ini sangat takut pada binatang itu." Wisanggeni menjawab pria itu.
"Jangan bohong.., tidak ada selama ini yang meributkan masalah binatang kecil itu disini." kata orang itu kembali.
Dua orang itu tiba-tiba masuk ke dalam ruangan yang digunakan untuk menyekap mereka. Mata orang-orang itu memindai ke tubuh Rengganis dan Niken Kinanthi sambil tersenyum.
"Makanya masih diumpetkan disini sama pemimpin, ternyata memang sangat istimewa. Aku membayangkan ada di atasnya akan sangat nikmat." ucap salah satu orang itu dengan ekspresi menjijikkan.
" Hush ., jangan berani mengganggu yang ini. Mereka sudah disiapkan untuk persembahan."
**********
__ADS_1