
Para pengawal gadis muda yang sombong itu tampak kelelahan. Rupanya para pemilik penginapan tidak mau membocorkan data dari para tamu yang datang dan menginap di penginapan mereka. Beberapa saat sudah dihabiskan oleh mereka, tetapi sedikitpun belum ada informasi mengenai keberadaan Chakra Ashanka beserta Rengganis dan Sekar Ratih.
"Apakah sudah mendapatkan informasi mengenai keberadaan anak muda tadi?" salah seorang pengawal bertanya pada pengawal yang lain.Laki-laki itu berjalan lebih mendekati temannya itu,.
"Belum, kakiku sudah sangat pegal, kesana kemari tetapi belum ada yang memberi tahu keberadaan anak muda itu. Atau kita berbohong saja sama Den Ayu, kita katakan jika anak muda itu sudah pergi dari kota ini." pengawal itu mengusulkan idenya pada temannya.
"Aku tidak mau dihajar oleh Den Ayu, tahu sendiri biar seperti itu sikapnya, ilmu kanuragan yang dikuasai Den Ayu lebih tinggi dari kita. Apakah kamu mau, tubuhmu babak belur dihajarnya," pengawal yang satu mengingatkan, agar mereka tidak bertindak sembarangan.
"Benar juga ya.. Ayo coba kita tanyakan pada tenaga keamanan di penginapan yang paling ramai itu. Nanti kita bujuk dia dengan beberapa keping koin, aku yakin dia akan tegiur dengan penawaran kita." kedua pengawal itu bergegas mendatangi petugas keamanan yang sedang berdiri di depan penginapan. Dengan berhati-hati, kedua pengawal itu mendekatinya.
"Hmm.., Ki Sanak.. sejak berapa lama Ki Sanak berdiri di tempat ini?" dengan suara perlahan salah satu pengawal bertanya pada laki-laki itu.
"Sejak tadi pagi, karena aku memang bertugas disini sejak dini hari. Bergantian dengan temanku, tepat tengah malam." sambil menatap pengawal yang bertanya kepadanya, petugas keamanan itu menjawab pertanyaan pengawal tersebut.
"Jika begitu, pasti Ki Sanak tahu tamu yang menginap di penginapan ini sejak kemarin. Apakah Ki Sanak tahu, ada rombongan kecil terdiri dari tiga orang, satu anak muda, dan dua perempuan berbeda umur menginap di penginapan ini." sambil menyerahkan tiga keping uang, pengawal mencoba menyuap petugas keamanan itu. Laki-laki di depannya itu menatap dengan mencibir melihat pengawal memberikannya keping uang,
__ADS_1
"Jika aku menerima uangmu ini, aku akan dipecat dengan tidak hormat oleh pemilik penginapan ini. Ketika kamu bertanya tanpa menawarkan keping uang ini, mungkin aku tidak akan menaruh kecurigaan terhadapmu. Tetapi begitu kalian menawarkan padaku keping ini, maka dengan terpaksa aku harus mengusir kalian dari tempat ini. Pergilah.., sebelum aku memaksamu keluar dari sini." dengan kasar tenaga keamanan itu mengusir dua pengawal yang mencoba menyuap kepadanya.
"Iya.., iya..., kami akan pergi." tidak mau menjadi tontonan orang-orang disitu, kedua pengawal itu segera menyingkir dari tempat itu. Melihat keduanya pergi, petugas keamanan itu geleng-geleng kepala. Sebenarnya tenaga keamanan itu tahu, siapa yang dicari oleh dua pengawal itu. Karena kejadian tadi pagi terkait dengan pengunjung yang ada di penginapan itu, beritanya sudah sampai di telinganya.
"Apakah mereka pikir, harga diriku semurah itu. Berwarsa-warsa aku sudah bekerja di penginapan ini. Aku tidak mau, hanya karena mereka, aku harus mengorbankan pekerjaanku." sambil bergumam, laki-laki itu kembali melanjutkan pekerjaannya.
******
Gadis muda itu merasa lelah berdiri sejak tadi, melihat ada lincak kosong di depan sebuah kios, gadis muda itu mendatangi kemudian duduk di atasnya. Sesaat gadis muda itu menunggu dengan perasaan kesal, terlihat dari kedua kakinya yang sejak tadi bergerak-gerak. Tiba-tiba ada laki-laki yang sejak tadi mengintip dan mengikutinya, mendekat ke tempat gadis muda itu duduk.
"Jahat kamu.., lepaskan pisaumu dari pinggangku. Atau aku patahkan kakimu.." menyadari jika berada dalam ancaman orang jahat, gadis muda itu berteriak.
"Diam kataku.. Ingat pisau ini sudah aku lumuri dengan racun. Jika sedikit saja pisau ini menggores kulitmu, maka dengan cepat racun akan meresap ke sepanjang kulitmu. Kulitmu akan berubah menjadi hitam, dan kamu akan mati secara perlahan." dengan suara lirih tapi penuh ancaman, laki-laki itu berbisik di telinga gadis muda itu.
"Kamu jahat... baiklah. Aku akan mengikutimu bedebah.." akhirnya tidak mau tubuhnya teracuni, gadis muda itu mengikuti laki-laki itu. Dengan sudut matanya, gadis muda itu memberi isyarat pada para pengawal yang berada di dekatnya untuk tidak membuat masalah.
__ADS_1
Laki-laki itu dengan kasar membawa gadis muda itu beranjak dari tempat duduknya. Dengan menempatkan di depan tubuhnya, laki-laki berperawakan besar itu berjalan meninggalkan tempat tersebut. Gadis muda itu hanya terdiam, tetapi tatapan kebencian keluar dari matanya.
"Trang.., clang..." baru saja mereka berjalan beberapa saat, tiba-tiba ada batu kerikil yang terlempar dan mengenai pisau yang dipegang oleh laki-laki itu. Secara reflek, laki-laki bertubuh besar itu mengangkat tangannya, tapi belum sempat menyadari apa yang terjadi, ternyata tubuh gadis muda itu sudah bergeser menjauh darinya. Seorang anak muda yang berwajah tampan, tampak sedang memeluk gadis muda itu sambil menyeringai kepadanya.
Melihat anak muda yang menyelamatkannya, gadis muda itu tersipu malu. Gadis yang selalu bersikap sombong itu, hanya menundukkan wajahnya ke bawah. Sedangkan laki-laki bertubuh besar yang sempat menahannya, tadi menatap mereka berdua dengan tatapan penuh kemarahan.
"Siapa kamu anak muda.., berani-beraninya memancing urusan denganku. Gadis muda itu sudah menjadi mangsaku, mangsa untuk juraganku. Kenapa kamu merampasnya dariku." dengan kata-kata bernada kasar, laki-laki itu berteriak memarahi anak muda itu.
"Hmm... begitu ya. Jika kamu mampu, tidak perlu kita bersilat lidah. Keluarkan dan tunjukkan kemampuanmu, selain hanya berurusan dengan racun. Lawanlah dan rebut kembali gadis muda ini dari tanganku." sambil tertawa mengejek, anak muda itu menanggapi perkataan laki-laki bertubuh besar itu.
"Terlalu banyak bicara... Terimalah ini... blam.., blam..." tiba-tiba laki-laki itu langsung mengirimkan serangan pada anak muda itu.
Bukannya merasa takut kemudian melarikan diri, anak muda itu malah tersenyum sambil melihat gerakan yang dilakukan oleh laki-laki bertubuh besar itu. Dengan mudahnya, hanya menggunakan telapak tangan kirinya, anak muda itu mengibaskan serangan yang dikirimkan oleh laki-laki itu. Melihat dengan mudahnya, anak muda itu menghalau serangan yang dikirimkan kepadanya, mata laki-laki itu menjadi terbelalak.
"Ternyata kamu memiliki kepandaian juga ya. Itu tadi baru serangan pemanasan dariku.. Sekarang bersiaplah, kita akan melakukan pertarungan yang sesungguhnya." laki-laki tinggi besar itu, segera memundurkan satu kakinya ke belakang. Kedua tangannya diangkat ke atas, kemudian membentuk sebuah simbol di depan dadanya. Melihat gerakan itu, sekali lagi anak muda itu hanya tersenyum melihatnya.
__ADS_1
*******