Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 318 Upaya


__ADS_3

Seperti yang tadi dikatakan oleh Anggoro, kereta kencana yang membawa Maharani dan laki-laki itu, tidak melalui gerbang pemeriksaan terlebih dahulu. Melihat putra patih kerajaan lewat, pengawal langsung membuka gerbang kayu tersebut, dan kereta kencana dengan cepat melewati tempat tersebut. Maharani bernafas lega, ternyata keputusannya untuk menggunakan Anggoro agar dapat memasuki kerajaan, membawa sebuah hasil. Beberapa penjaga yang sedang bertugas di pintu gerbang, memberikan hormat kepada Anggoro, dan dengan sombongnya laki-laki itu tidak membalas penghormatan tersebut.


"Kita sebentar lagi sudah akan sampai di kediamanku Nimas.., kediaman Patih Wirosobo. Tetapi jangan khawatir, aku memiliki pesanggrahan sendiri untuk aktivitasku setiap hari. Jadi kita tidak akan bergabung dengan romo dan biyung.." Anggoro menjelaskan pada Maharani,


"Bagiku tidak masalah Anggoro, jika kita bertemu atau berpapasan dengan romo dan biyungmu. Aku disini memiliki sebuah tujuan, untuk mencari keluargaku, tidak ada maksud lain. Jadi tidak sepatutnya, aku memiliki rasa takut jika bertemu dengan kedua beliau.." Maharani menanggapi perkataan Anggoro, dia ingin menegaskan jika tidak ada main-main dalam hidupnya.


"Jangan salah paham Nimas.., bukan begitu maksudku. Baiklah.., jika kamu bersedia, aku akan mengenalkanmu secara khusus kepada romo dan biyungku.." Anggoro menyahuti perkataan Maharani.


Maharani tersenyum, kemudian kembali mengarahkan perhatiannya pada suasana keramaian di sepanjang jalan. Banyak pasukan kerajaan keluar masuk, dan lalu lalang di luar kereta. Maharani menatapnya dengan penuh ketertarikan.


"Karena kerajaan sedang rusuh, banyak pasukan untuk menjaga dan mengamankan kerajaan. Orang-orang yang setia pada keluarga raja terdahulu, memang masih sering mencari masalah, sehingga tidak ada pilihan lain, selain menyerang dan memberi pelajaran kepada mereka." tanpa ditanya, Anggoro menceritakan situasi kacau yang ada di kerajaan Logandheng,


"Tetapi bukannya Patih Wirosobo.. merupakan patih yang juga mendapat kedudukan sebagai patih pada raja sebelumnya. Jika saat ini Patih mendampingi kepemimpinan raja sekarang, apakah tidak termasuk tindakan pengkhianatan pada mendiang raja.." tanpa bermaksud untuk mengulik dan menyudutkan Patih Wirosobo, Maharani berbicara pada Anggoro.


"Sepertinya kamu salah paham Nimas Maharani.. Keberadaan romo patih bersedia mendampingi raja sekarang, sebagai bentuk pengabdian dan ungkapan kesetiaan pada kerajaan Logandheng, tanpa memandang siapa yang sedang memimpin kerajaan. Dengan begitu, keberadaan Romo Patih bisa merangkul semua pasukan dari raja yang sudah mangkat, dengan raja yang sekarang." seperti menceritakan tentang kesetiaan Patih Wirosobo, Anggoro menceritakan tentang romonya.

__ADS_1


"Hmmm .. begitu ya Anggoro. Jangan salah paham dengan penilaianku. Hanya saja seperti ada yang aneh dengan kejadian ini, padahal menurut berita dan desas desus yang beredar, sepertinya raja Logandheng yang sudah mangkat juga memiliki putra keturunan laki-laki." kembali Maharani pelan-pelan mengulik keterangan dari laki-laki itu. Tanpa perlu melakukan penyelidikan sendiri, perempuan itu dapat menerima informasi dari Anggoro.


Anggoro terdiam, mata laki-laki itu seperti menatap ke luar kereta, tetapi Maharani dapat melihat, jika ada sesuatu yang disembunyikan dalam tatapan itu. Tidak lama kemudian...


"Memang benar.., masih ada Bhadra Arsyanendra putra dari raja terdahulu. Tetapi aku juga tidak mengetahui persis kejadian yang menimpa anak laki-laki itu. Dalam usianya yang masih kecil, dalam artian masih bocah, anak itu melarikan diri dari istana kerajaan. Terungkap dalam desas desus, paman dan bibi pengasuh yang membawa bocah kecil itu melarikan diri dari kerajaan.." Anggoro bercerita pelan.


Maharani tidak menanggapi Anggoro yang menceritakan tentang kehidupan raja sebelumnya. Perempuan itu tidak sepenuhnya mempercayai apa yang diceritakan tersebut.., hanya mencoba menarik garis benang merahnya,


*************


Rengganis hanya tersenyum kecut, ketika perempuan itu terbangun, tetapi tidak melihat keberadaan Maharani di samping tempat tidurnya. Dalam hati, perempuan itu sudah meyakini, jika Maharani sudah memutuskan untuk pergi meninggalkan perguruan, demi berangkat ke kerajaan Logandheng sendiri. Perlahan perempuan itu, masuk ke jeding untuk membersihkan dirinya. Beberapa saat kemudian.., perempuan itu berjalan keluar untuk melakukan pemeriksaan pada  murid-murid yang terluka karena bentrokan dengan pasukan kerajaan semalam,


"Selamat pagi Den Ayu..., apakah Den Ayu tidak menghendaki untuk minum wedang anget dulu, sebelum memeriksa teman-teman kami." melihat Rengganis yang berjalan keluar dari dalam senthong tempatnya beristirahat, seorang murid mencoba melayani perempuan istri dari pemilik dan Guru mereka Wisanggeni.


"Nanti aku bisa mencarinya sendiri di dapur.., jangan terlalu mengistimewakan aku. Ada dimana teman-temanmu yang semalam terluka karena pertempuran..?" Rengganis bertanya pada murid tersebut, keberadaan teman-temannya yang sedang dirawat.

__ADS_1


"Mereka untuk sementara ditampung di pendhopo Den Ayu.. Karena Ketua memutuskan untuk mengumpulkan yang terluka menjadi satu, dengan alasan untuk memudahkan pengawasan dan memberikan perawatan pada yang sedang sakit. Apakah saya perlu mengantarkan Den Ayu..?" murid laki-laki itu menceritakan tempat untuk istirahat para murid yang terluka.


"Apa yang dilakukan oleh Ketuamu itu benar. Hal itu akan menghemat tenaga dan waktu orang-orang yang merawat dan membantunya. Jika terjadi sesuatu dengan mereka, akan mudah terdeteksi dan dicarikan solusi untuk pengobatan mereka. Kembalilah ke tempat seharusnya kamu berada, aku akan pergi sendiri ke pendhopo." Rengganis menolak tawaran yang diberikan oleh murid tersebut. Perempuan itu segera berjalan meninggalkan murid laki-laki tersebut, untuk langsung menuju ke arah pendhopo.


Anak laki-laki itu membungkukkan badan memberi penghormatan pada Rengganis, kemudian berjalan menuju ke arah dapur. Rupanya laki-laki itu sedang mendapatkan giliran untuk bertugas di dapur, guna menyediakan makanan dan minuman untuk para murid dan guru yang sedang berada di tapal batas.


Mata Rengganis beredar menatap ke arah gardu penjagaan masuk ke dalam wilayah perguruan Gunung Jambu. Tampak kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan dari pertempuran tadi malam. Beberapa murid sedang bahu membahu untuk memperbaiki kerusakan tersebut.


"Aku harus menengok murid-murid yang terluka terlebih dulu, baru nanti aku akan melihat bagaimana para murid itu melakukan perbaikan fasilitas. Firasatku mengatakan, jika kejadian tadi malam akan terulang lagi. Jadi aku akan mempersiapkan murid-murid yang lain untuk bersiap, dan aku tidak bisa mendiamkan hal ini." gumam Rengganis.


Perempuan itu segera melangkahkan kaki lurus ke depan untuk langsung menuju pendhopo. Terlihat sebuah pintu yang terbuka, dan perempuan itu langsung masuk ke dalamnya. Beberapa murid yang berjaga dan sedang bertugas, segera mendatangi perempuan itu untuk memberikan sapaan.


"Selamat pagi Den Ayu..., syukurlah. Berkat pil herbal ramuan dari Guru Den Bagus Wisanggeni, para murid segera cepat dipulihkan kondisinya Den Ayu.." murid yang berjaga segera memberikan laporan pada Rengganis.


"Iya aku tahu.., tetaplah berjaga disini dan awasi mereka. Aku yakin.., orang-orang dari pihak kerajaan, tidak akan mendiamkan kita. Tidak lama lagi, mereka pasti akan menuntut balas.." ucap Rengganis.

__ADS_1


***********


__ADS_2