
Wisanggeni menatap bangunan rumah penduduk yang sudah lama dia tidak melihatnya. Dia berjalan lurus ke depan, dan saat melihat warung makan di pinggir jalan, dia berhenti. Banyak orang keluar masuk dari warung makan tersebut, kemudian Wisanggeni ikut masuk ke dalam.
Dia melihat di pojok belakang masih ada tempat duduk yang tersisa. Tanpa menunggu lagi, dia langsung mendatangi dan duduk di kursi tersebut. Seorang pelayan menghampiri tempat duduknya..
"Maaf Den.., Aden mau pesan apa?" tanya pelayan laki-laki muda tersebut dengan ramah.
Wisanggeni melihat tulisan yang menampilkan menu makanan yang dijual di warung tersebut.
"Satu teh manis panas, dan satu piring nasi rames. Tambah ayam bakar satu ya mas." Wisanggeni menyebutkan menu makanan yang dia pesan.
"Baik.., mohon tunggu sebentar ya Den...!! Biar segera dipersiapkan oleh pelayan yang ada di belakang." kata pelayan itu.
Wisanggeni menganggukkan kepala, dan pelayan itu kemudian pergi meninggalkannya. Sepeninggalan pelayan itu, Wisanggeni mengamati sekelilingnya. Warung itu penuh dengan berbagai macam orang dengan penampilan yang bermacam-macam juga. Wisanggeni mengamati dirinya sendiri, saat ini dia hanya mengenakan pakaian biasa. Dia masih terbiasa hidup di hutan, jadi dia tidak sempat mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih bagus. Yang penting bajunya bersih, itu yang menjadi prinsipnya.
"Joko.. kamu jadi mau ikut kompetisi kekuatan tidak?? Tadi aku sudah melihat sepintas para peserta yang berlatih, ternyata mereka memang sudah mempersiapkan diri mereka." terdengar orang yang duduk di depan Wisanggeni berbicara tentang kompetisi kekuatan.
"Ya jadilah..., satu minggu kita habiskan waktu untuk menempuh perjalanan kesini, masak dengan mudah kita akan menyerah. Bukan menang atau kalah yang akan aku cari, tetapi kesempatan untuk bergabung dengan Akademi itu yang aku mau. Dengar-dengar Akademi itu punya pilar untuk tempat berlatih para murid-muridnya, dimana semakin tinggi pilar yang berhasil dinaiki oleh para muridnya, maka kekuatan juga akan mencapai tingkat tinggi dari levelnya." sahut orang yang disebut dengan panggilan Joko.
"Benar juga katamu Jok.., Kemarin aku sempat pesimis waktu mengintip ke stadion tempat para peserta kompetisi mempersiapkan dirinya dengan berlatih. Aku merasa seperti menjadi seekor semut diantara ribuan gajah. Mereka memiliki kekuatan yang sangat hebat-hebat."
Wisanggeni memasang pendengarannya, dia ikut memperhatikan hal yang dibicarakan oleh dua orang yang duduk di depannya.
"Den.. ini makanan dan minuman yang Aden pesan." pelayan meletakkan pesanan Wisanggeni di atas meja.
"Terima kasih, selamat menikmati Den." pelayan meninggalkan meja Wisanggeni.
Wisanggeni mulai menikmati menu pesanannya dengan lahap, sambil mendengarkan obrolan di antara para pengunjung. Tiba-tiba matanya melihat ada seorang pengunjung yang menangkap kecoak yang melintas di tembok yang berada di samping tempatnya duduk. Dia hanya melihatnya saja sambil menghabiskan makananya. Tidak berapa lama..
__ADS_1
"Hei... kesini kamu!! Bisa-bisanya kamu menyajikan makanan yang tidak bersih padaku." pelayan dengan tergesa-gesa mendatangi orang yang berteriak.
"Ada apa Tuan.., semua makanan yang kami sajikan kepada para pengunjung semuanya bersih. Tidak ada kotoran, jika Tuan tidak percaya, silakan ikut kami ke dapur. Tuan bisa melihatnya sendiri, bagaimana kami menyiapkan makanan."
"Lihat ini di mangkokku!! Kalau kalian tidak bertindak ceroboh dan jorok, mana ada kecoak dalam mie yang aku pesan." teriak laki-laki yang berbadan besar itu.
"Iya.., lihat di mangkokku juga. Ada bulu kecoak dan lalat juga. Aku tidak mau membayarnya, karena kalian sudah mencoba meracuni kami sebagai pembeli." laki-laki yang duduk disamping orang yang berbadan besar, ikut meyakinkan temannya.
"Tapi.. tadi kami menyajikan makanan dalam keadaan bersih. Coba tanyakan pada pembeli yang lain, apakah ada kotoran atau binatang dalam makanan yang mereka pesan." pelayan tetap bersikukuh bahawa dia menyajikan makanan dalam keadaan bersih.
"Brakkk." tiba-tiba meja tempat mereka duduk remuk terbelah menjadi dua. Pelayan tampak menggigil ketakutan melihat apa yang terjadi di depannya.
Wisanggeni memicingkan matanya, melihat kearoganan di depannya. Tetapi dia berusaha untuk menahan diri. Dua orang laki-laki yang ribut dengan pelayan itu kemudian berdiri..., Wisanggeni ikut berdiri kemudian memanggil pelayan yang sedang terlibat keributan dengan orang tersebut.
"Mas sini..., aku akan membayar makanan dan minuman yang aku pesan tadi. Terima kasih makanannya enak dan bersih." Wisanggeni memberikan uang lebih pada pelayan tadi, selain dia juga memuji masakan yang dia konsumsi.
"Terima kasih Den..., tunggu saya ambilkan kembaliannya dulu." ujar pelayan tadi.
***********
Wisanggeni berjalan santai mencari pilar kekuatan yang diceritakan dua orang yang duduk di depannya tadi. Baru saja dia sampai di pinggir ladang yang sangat luas, dan terlihat jauh di depannya benteng besar. Tiba-tiba dia merasa ada hembusan angin kencang di belakangnya, dengan cepat dia menggeser tubuhnya ke samping, dan dengan cepat tangannya menangkap sebilah golok yang dilemparkan kepadanya. Laki-laki muda itu membalikkan badannya, dan melihat ke arah lemparan itu berasal.
"Ternyata pintar juga kamu menghindar. Ha..ha..ha.., rasakan itu hadiah yang kamu dapatkan, setelah tadi mengacaukan urusan kami." terlihat dua orang yang menimbulkan kekacauan di warung tadi dengan pongahnya berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Apa maksud Kisanak??? Aku mengacaukan urusan kalian." dengan tersenyum Wisanggeni bertanya pada dua orang tersebut.
"Jangan berlagak pilon kamu anak muda!! Kamu mau menjadi pahlawan kesiangan di wilayah ini. Hadapi aku dulu, dan ingat nama kami Badar dan Kodir. Jadi sebelum kamu mati, kamu akan mengingat siapa yang sudah mengambil nyawamu." teriak orang tersebut.
"Apakah kalian berdua sudah menggunakan pikiran saat memasukkan kecoak yang kalian tangkap dari tembok, kemudian memasukkan ke mangkok?" tanya Wisanggeni sambil tersenyum, dan tidak tampak sedikitpun rasa takut akan keduanya.
Kedua orang itu terkejut, kemudian saling berpandangan. Tanpa banyak bicara, satu orang itu langsung maju menerjang ke arah Wisanggeni. Tanpa menggeser badannya, tangan kanan Wisanggeni menangkap kaki kanan orang yang menerjangnya kemudian menghempaskan ke belakang.
"Bug.." tubuh orang tersebut langsung jatuh ke tanah. Melihat temannya terjatuh, satu temannya ikut maju menerjang Wisanggeni dengan menghunus golok yang ada di tangannya. Dengan cepat Wisanggeni berkelit, dan menangkap pergelangan tangannya, kemudian memutarnya sedikit.
"Krek.." terdengar bunyi pergelangan tangan yang dipelintir oleh Wisanggeni.
"Auwww...," teriak orang tersebut yang langsung memegang tangannya. Sambil merasa kesakitan, dua orang itu duduk dan bersimpuh di tanah.
"Ampuni kami Kisanak..., maafkan kesalahan kami!! Kami tidak akan mengulangi kembali cara-cara bodoh kami untuk mencari keributan."
Wisanggeni terdiam, kemudian dia berjalan menghampiri kedua orang tersebut. Tangannya menyentuh pergelangan tangan orang yang dilukainya tadi, kemudian...
"Krek." terdengar bunyi gemeretak tulang yang kembali dipelintir untuk mengembalikan pada posisi semula.
"Sudah.., setelah ini balur tulangmu dengan parutan jahe untuk menghilangkan memarnya, Aku hanya berpesan, gunakan keahlian yang kalian miliki untuk menolong yang lemah, bukan untuk menekannya."
"Terima kasih Kisanak." tetapi saat mereka mengangkat wajahnya, Wisanggeni sudah berlalu dari situ.
*******************
__ADS_1