
Seekor merpati berbulu abu-abu datang dan hinggap di bahu sebelah kanan Pangeran Abhiseka. Wisanggeni dan kedua pengawal hanya diam, mereka mengamati bagaimana cara Pangeran Abhiseka menyampaikan pesan pada burung merpati tersebut. Tidak beberapa lama, setelah mengikatkan gulungan daun lontar kecil di kaki merpati tersebut, Pangeran Abhiseka mengangkat merpati itu ke atas. Perlahan, dengan tangannya Pangeran Abhiseka menerbangkan burung merpati tersebut.
"Semoga dalam waktu tiga hari merpati itu sudah menyampaikan pesanku pada paman Senopati kerajaan. Jika gagasan itu disetujui, dalam waktu yang tidak lama, orang-orang dari kerajaan akan berkunjung ke desa ini." gumam Pangeran Abhiseka. Kemudian laki-laki itu mengarahkan tatapannya pada paman-paman yang membuat ketapel di desa tersebut.
"Tetapi pangeran.., hendaknya dari kerajaan juga tidak membebankan kepada kami untuk membuat ketapel seperti yang Pangeran inginkan." karena bukan sebagai desa yang menjadi wilayah kerajaan, salah satu dari paman tersebut berani menyampaikan pernyataannya pada Pangeran Abhiseka.
"Jangan khawatir paman.., selain orang-orang dari kerajaan itu akan membawa kembali ketapel yang dibuat oleh desa ini, ajari mereka paman. Setelah mereka bisa membuatnya dengan sangat rapi, mereka akan bisa membuatnya sendiri di kerajaan kami. Kalian tidak perlu terlalu memikirkannya." ucap Pangeran Abhiseka pelan, berusaha untuk menenangkan mereka. Wisanggeni hanya tersenyum tidak ikut berkomentar atas percakapan itu.
"Baiklah jika begitu Pangeran.., kami akan sangat bersenang hati untuk melatih orang-orang dari pihak kerajaan. Tidak pernah sekalipun desa kami mendapatkan kehormatan untuk dikunjungi orang-orang besar dari kerajaan. Meskipun kerajaan Laksa bukan merupakan kerajaan yang menaungi keberadaan desa kami, tetapi kami sangat senang dengan kehormatan ini." seorang paman menanggapi dan melakukan penghormatan pada mereka.
Pangeran Abhiseka tersenyum, dan muncul gagasan dalam pikirannya untuk merebut desa ini menjadi salah satu wilayah kekuasaan dari kerajaan Laksa. Tetapi mengingat perkataan yang baru saja dia bicarakan dengan Wisanggeni, akhirnya Pangeran melupakan gagasannya itu.
"Oh ya paman.., tolong layani orang-orang kami dengan baik. Kami tidak bisa bersama-sama dengan paman untuk menemui orang-orang dari pihak kerajaan, karena malam ini juga kami harus meninggalkan desa ini untuk menuju ke wilayah timur." merasa tidak dapat menunggu orang-orang dari kerajaan, Wisanggeni menyampaikan sebuah pernyataan, dan diiyakan oleh Pangeran Abhiseka.
__ADS_1
"Pasti Ki Sanak.., kami selalu memperlakukan setiap tamu yang berkunjung ke desa kami dengan sangat baik. Apalagi tamu kita kali ini, orang-orang dari pihak kerajaan, kami akan menerima dan menyambut mereka." salah satu paman mewakili teman-temannya menanggapi perkataan Wisanggeni.
"Baiklah jika begitu.. Terima kasih tidak terhingga, atas keramah tamahan warga desa ini menyambut kedatangan kami. Meskipun sebelumnya kita tidak pernah bertemu, tetapi perlakuan dan tanggapan warga desa, khususnya paman-paman ini, sangat baik terhadap kami. Ijin kami untuk berpamitan paman..." sekalian Wisanggeni menyampaikan kata pamit untuk meninggalkan desa. Rasa kangen terhadap Rengganis dan putranya Chakra Ashanka sudah terasa di ubun-ubun laki-laki itu..
"Selamat jalan Pangeran, Ki Sanak. Terima kasih atas kunjungannya ke desa kami." setelah, mereka memberikan ijin, Wisanggeni segera mengajak Pangeran Abhiseka untuk meninggalkan desa itu.
Tanpa ditunda lagi, keempat orang itu dengan salah satu dari mereka menggendong seekor kucing berwarna putih, segera melesat meninggalkan desa tersebut. Dalam sekejap, mereka sudah menghilang.
***********
Dua merpati itu segera terbang menuju ke arah Maharani, dan ketika melihat ada ikatan bungkusan di kaki burung tersebut, pikiran Maharani menjadi tanggap. Perlahan-lahan, Maharani melepaskan ikatan di kaki kedua burung itu satu persatu, kemudian mengambil bungkusan dan menyimpannya.
"Untuk istriku Maharani.." tulisan pada daun lontar yang menyertai bungkusan itu, memunculkan jawaban asal dari kiriman bungkusan itu. Tanpa bicara, Maharani memanggil anak buahnya yang sedang mengawasi latihan.
__ADS_1
"Ada apa Ratu Maharani.., ada yang bisa saya bantu?" dengan sikap hormat, anak buahnya langsung bertanya pada Maharani.
"Rawat dengan baik kedua merpati ini, beri makanan terbaik untuk keduanya. Setelah mereka mengembalikan tenaganya, segera lepas kembali mereka ke alam bebas." dengan cepat Maharani memerintah anak buahnya itu, tangannya memberikan kedua merpati pada laki-laki itu. Tanpa banyak bertanya, laki-laki itu langsung menerima kedua burung merpati tersebut.
"Baik Ratu..," tanpa banyak bicara, laki-laki itu langsung membawa pergi kedua burung merpati itu dari hadapan Maharani.
Maharani langsung masuk ke pendhopo meninggalkan halaman itu. Berbagai pikiran buruk berkelebat dalam pikiran perempuan itu. Hari ini memang sudah enam puluh hari, Wisanggeni meninggalkan kerajaan ular. Dan laki-laki itu pergi waktu itu, dengan membawa persyaratan yang diminta oleh para sesepuh dari kerajaan ular, dengan dalih untuk menyiapkan keturunannya. Dengan rasa sedih, karena rasa rindu pada laki-laki yang sudah menikahinya karena terpaksa itu, hanya tertinggal rasa itu di hati Maharani.
"Kenapa Kang Wisang tidak mengantarkan sendiri barang ini kesini. Apakah Kang Wisang gagal mendapatkan esensi naga ular dari puncak gunung?" Maharani terbenam dalam lamunannya sendiri. Tiba-tiba perempuan itu meragukan kemampuan yang dimiliki Wisanggeni.
"Tetapi dengan kemampuan Kang Wisang, jika dia sanggup melaksanakan pekerjaan itu, aku yakin dia akan berhasil. Apakah Kang Wisang belum bisa menerimaku sebagai seorang istri sepenuhnya?" kembali Maharani berpikir sendiri. Perlahan tangan Maharani membuka satu bungkusan yang dilipat dengan sangat rapi itu. Mata perempuan muda itu tiba-tiba bersinar, melihat botol porselin kecil di depan matanya. Dengan tidak sabar. Maharani membuka segel penutup botol porselin, dan bau harum aroma pil bernilai tinggi menguar keluar dari botol tersebut. Aroma harum pil yang keluar dari botol porselin tersebut, tidak disadari Maharani sudah menyebar ke seluruh kerajaan, dan menimbulkan keingin tahuan dari orang-orang yang berada di kerajaan itu. Seketika keraguan yang dia miliki terhadap Wisanggeni, ikut menguar keluar.
"Maafkan aku kang Wisang.., yang sudah meragukan semua upayamu." dengan sangat menyesal, Maharani berbicara pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Beberapa orang termasuk para sesepuh berjalan keluar dari pondhok mereka maisng-masing, mereka berusaha untuk mencari tahu dari mana asal aroma obat itu berasal. Tanpa sadar, orang-orang itu berhenti di luar pondhok yang ditempati oleh Maharani, tetapi semua terjadi tanpa sepengetahuan perempuan yang berada di dalam pondhok.
***********