Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 25 Tenaga Pasopati


__ADS_3

Di dalam kamar, Wisanggeni mengeluarkan kitab dari dalam tas yang dia temukan di dalam perut ular Nabau. Dia ingin mencoba memahami kembali isi dari kalimat-kalimat yang tertulis pada kitab tersebut. Perlahan-lahan kitab kuno itu dia baca, dan sesekali dahinya berkerut mencoba memahami kalimat demi kalimat yang tertulis di dalamnya. Pada Bab pertama kitab tersebut berisi tentang kanuragan cara mengolah pikir dan kekuatan dari dalam tubuh, untuk menggunakannya menyerang lawan. Selanjutnya dalam kitab-kitab juga tertulis cara membuat penyulingan ramuan-ramuan herbal untuk menghasilkan sebuah pil. Berulang-ulang laki-laki muda itu mencoba memahaminya, dan semua tulisan dalam kitab yang sudah dia baca tiba-tiba menghilang. Akhirnya dia tutup kembali kitab tersebut sambil tersenyum.


"Aku akan mencoba untuk berlatih kembali ilmu kanuragan ini. Beberapa kali aku mencobanya sendiri, tetapi mengalami kegagalan. Malam ini aku akan mencobanya lagi. Tenaga Pasupati ini berisi kekuatan dari senjata untuk mengalahkan segala satwa, dan sangat menarik untuk aku pelajari. Selain itu aku akan mencoba membuat pil pemulih kekuatan, aku akan membutuhkan otak dari banteng tingkat 4, akar ginseng, jahe, rumput ilusi." gumam Wisanggeni.


Saat orang-orang sudah mulai berangkat ke peraduan, Wisanggeni berjalan keluar dari kamarnya. Setelah menengok ke kanan kiri, dan melihat sudah tidak ada aktivitas dari warga akademi, Wisanggeni dengan cepat melompat dan melesat keluar.


"Uuukk.. aakk...uuuk..aakkk..." terdengar suara monyet ribut saat dia memasuki hutan. Dia berusaha mengacuhkan suara tersebut, dan setelah menemukan tempat yang sedikit lapang dia mulai berhenti. Wisanggeni mulai mengambil sikap berdiri dengan penuh kewaspadaan.., dan aliran baris kitab yang tadi dia baca di dalam kamar seolah melayang-layang di depan matanya.


Setelah itu tubuhnya seperti menjadi bayangan, dia melompat luwes kesana kemari, dan meskipun hutan itu penuh dengan onak dan duri, tetapi tidak menghalanginya untuk tetap berlatih. Pada menit-menit berikutnya, Wisanggeni berhenti dan berdiri di sebuah pohon besar, dan sambil memiringkan tubuhnya dia memukul pohon tersebut.


"Bang.." gerakan pertama yang dia lakukan gagal. Wisanggeni mengulanginya lagi, dan gagal, ulang gagal, ulang gagal....


"Bang...." dan saat gerakan kesepuluh diulang, pohon itu memiliki lobang besar yang menganga dan di sekitar lobang terlihat batang kayu mulai retak, dan tiba-tiba..


"Krekkk..., bugh..." pohon besar itu terjatuh ke bawah, dan secepat kilat bayangan tubuh Wisanggeni seperti monyet dengan ringan meloncat ke arah tempat yang aman.


Melihat hasil karyanya barusan, wajah kecil Wisanggeni dihiasi dengan senyuman, karena setelah berkali-kali latihan sendiri dia bisa menggunakan kekuatan tenaga Pasupati. Laki-laki muda itu kemudian duduk kelelahan dan menyandarkan tubuhnya pada batang pohon, dia berusaha mengatur kembali nafasnya untuk memulihkan kekuatan yang sangat terserap.


Setelah menggunakan tenaga Pasopati, ternyata berdampak pada seluruh tubuh Wisanggeni menjadi lemas dan tidak bertenaga. Pembuluh darahnya terasa berdenyut hebat dengan rasa sakit yang muncul terus menerus. Dia mulai merasakan kelelahan yang teramat ekstrim.


"Aku akan melatih kembali pernafasanku, karena pada latihan ini ternyata banyak menyerap kekuatan, dan pernafasanku kurang dapat mengimbanginya." Wisanggeni berbicara pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Sambil duduk bersandar, dengan cepat, Wisanggeni mengeluarkan pisau belati dari sarungnya. Dia berpikir bagaimana agar pisau belati ini lebih memiliki kekuatan.Sambil mengatur pernafasannya dengan tangan kanan tetap memegang pisau, tangan kirinya dia putar-putarkan tiga kali dan dia hantamkan ke pisau. Tetapi lama kelamaan, Wisanggeni malah jatuh tertidur dengan bersandar pada batang pohon tersebut. Rasa sakit yang dia rasakan, membuatnya tidak mampu beranjak lagi dari situ.


 


********************


Sinar matahari menerobos lewat dedaunan yang ada di hutan itu, dan akhirnya mengenai mata seorang laki-laki muda yang masih tertidur dengan bersandar di batang pohon. Silau yang dia rasakan, membuat laki-laki itu perlahan terbangun.


"Aduh..., badanku masih terasa remuk semua." Wisanggeni menggumam sendiri saat dia mulai perlahan membuka matanya.


"Aku harus segera kembali ke kamarku, dan akan segera berendam dengan obat pemulihan untuk memulihkan semua tenaga dan kekuatanku."


Saat mencapai depan pintu gerbang Akademi, Wisanggeni kembali berjalan pelan dan pura-pura sedang menikmati udara pagi.


"Kang Wisang..., akang darimana kok sudah dari arah hutan?" terdengar suara perempuan memanggilnya.


Wisanggeni menoleh ke arah sumber suara, dan terlihat Niluh sedang bersama dengan murid perempuan berjalan menghampirinya. Di tangannya tampak beberapa belanjaan berupa sayuran dan lauk.


"Niluh..., akang dari olah raga pagi. Tadi saat ayam berkokok, akang sudah mencari udara segar di pinggir hutan. Niluh sendiri dari mana, dari belanja?" Wisanggeni membuat alasan untuk menjawab pertanyaan Niluh.


"Wah pagi sekali Kang.., Niluh mau besok-besok diajak Akang jalan-jalan ke pinggir hutan. Sepertinya udara sangat segar." jawab Niluh.

__ADS_1


"Oh iya.. ini Niluh sama Sekar dari belanja Kang. Dapat giliran piket untuk masak pagi ini." lanjut Niluh lagi.


"Baguslah kalau begitu. Ternyata belajar di tempat ini, tidak hanya untuk konsentrasi di ilmu kanuragan saja. Kamu juga bisa belajar memasak, jadi besok kalau kamu menikah bisa memasakkan makanan untuk suami dan anak-anakmu."


"Ah Akang..., masak sudah ngomongkan pernikahan." pipi Niluh tiba-tiba memerah.


"Lah begitu kan?? Sesakti apapun ilmu yang kita miliki, tetapi kebutuhan untuk memiliki keturunan yang akan menjadi pewaris kekuatan juga tujuan utama kan?" sahut Wisanggeni menanggapi Niluh.


"Ya sudah Niluh. Nanti kamu malah tidak jadi belajar untuk memasak. Akang mau mandi dulu, dan segera akan berjalan-jalan dan lihat-lihat ke pilar kekuatan." akhirnya laki-laki itu berpamitan pada gadis yang berada di depannya.


Sepeninggalan Wisanggeni, Niluh mengajak Sekar segera kembali ke kamarnya. Sepertinya Sekar memiliki ketertarikan dengan saudara sepadhepokan Niluh.


"Tadi saudaramu ya Niluh.., badannya tegap dan berisi?" tanya Sekar pelan. Niluh memandang Sekar yang saat ini berjalan di sampingnya.


"Saudara karena berasal dari padhepokan yang sama Sekar. Tetapi untuk hubungan darah kami tidak terkait. Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan kang Wisang?? Kamu tertarik untuk lebih mengenalnya ya?" tanya Niluh langsung ke intinya.


"Bukan seperti itu Niluh, he..he..he.. Tetapi tidak apa juga kan, kalau kita belajar disini sekalian kita mencari seorang kekasih." ucap Sekar lirih.


"He..he..he.., boleh Sekar. Asal tidak keliru orang saja.."


****************

__ADS_1


__ADS_2