
Setelah sehari mereka beristirahat di pondhok Jagadklana, Wisanggeni mengajak putra dan istrinya untuk mengunjungi makam leluhur Trah Bhirawa yang ada di kawasan tersebut. Mengetahui jika putri dan menantunya pernah melakukan perjalanan ke makam leluhur, dan bisa kembali ke alam sebenarnya tanpa ada gangguan, Ki Sasmita mengijinkan mereka pergi. Tetapi agar mereka tidak kecapaian di jalan, laki-laki tua itu menyediakan kereta kuda untuk mengantarkan mereka menuju ke areal pemakaman kuno.
"Ayah.., ternyata tempat ini lebih maju dari tempat kita tinggal ya? Bahkan dibandingkan dengan kota Laksa, sepertinya masih lebih ramai Jagdklana." di atas kereta kuda, Chakra Ashanka bertanya pada Wisanggeni.
"Iya putraku.., Jagadklana dikelilingi oleh sebuah danau, dan wilayah ini tergabung menjadi satu kesatuan, Keberuntungan lainnya adalah tanah yang ada disini sangatlah subur, juga memiliki dukungan perairan yang sangta bagus, Mereka juga bisa menggantungkan diri dengan mata pencaharian dari ikan. Jauh sebelum Trah Bhirawa tinggal di kota Laksa, dan kerajaan itu berdiri sesepuh dari Trah Bhirawa dan Trah Jagadklana sudah berada di wilayah sini. Akhirnya sesepuh Trah Bhirawa meninggal dan makamnya ada disini." Wisanggeni dengan runtut menjelaskan pada putranya. Sesekali Rengganis ikut menambahkan untuk memperjelas perkataan yang disampaikan suaminya,
"Siapa nama sesepuh Trah Bhirawa yang dikebumikan disini ayahnda?? Agar nanti, Ashan bisa menyapanya ketika sudah berada di depan makamnya." Chakra Ashanka terus mencari tahu keberadaan dari leluhur mereka.
"Nama sesepuh kita yang mengalirkan garis keturunan dari trah Bhirawa adalah KI Wijanarko. Kakek Mahesa sengaja memberi nama paman atau putra sulung dari kakek Mahesa, dengan nama yang sama dengan sesepuh dari Trah Bhirawa." sambil tersenyum, tanpa bosan Wisanggeni menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh Chakra Ashanka.
Tidak lama kemudian, kereta kuda yang membawa mereka sudah memasuki daerah dataran yang lebih tinggi, Hal itu menandakan jika areal pemakaman kuno sudah hampir sampai di depan mereka. Pemakaman kuno tersebut memang berada di puncak bukit yang ada di Jagadklana, dan biasanya tertutup untuk umum. Hal tersebut bukan untuk membatasi interaksi warga masyarakat dengan pemakaman tersebut, tetapi untuk melindungi mereka. Banyak kekuatan magis yang menyelimuti pemakamana kuno tersebut, dan bisa menyerang orang yang tidak memiliki landasan kanuragan tertentu.
Semakin tinggi mereka mendaki puncak bukit tersebut, hembusan angin berbaur dengan aura pekat sudha mulai menerpa mereka. Terlihat Chakra Ashanka mengeluarkan tenaga dalamnya untuk melindungi dirinya dari terpaan aura tersebut. Wisanggeni dan Rengganis tersenyum dan saling berpandangan, ketika melihat bagaimana dengan cepat putranya merespon apa yang dia rasakan di tempat itu.
__ADS_1
"Sreeettt... clap.." seperti biasa sebuah pisau berkarat meluncur ke arah mereka. Dengan cepat, Rengganis mengibaskan selendang di tangannya untuk menghalau pisau berkarat tersebut.
"Serangan dari siapa itu tadi ibunda..?" dengan penuh tanda tanya, Chakra Ashanka bertanya pada Rengganis.
"Itu belum seberapa putraku.. Semakin kita memasuki area pemakaman, serangan kekuatan tenaga dalam akan semakin kuat menyerang kita. Kamu tidak boleh lengah, karena ayahnda yakin, serangan akan lebih banyak terfokus padamu. Karena ayahnda dan ibunda sudah pernah masuk ke dalam sini, sehingga para penjaga sudah mengenali kami. Tetapi hal itu akan berbeda denganmu putraku.." dengan suara lirih, Wisanggeni kembali menjelaskan pada putranya.
"Baik ayahnda...., saat inipun Ashan sudah melapisi diri Ashan dengan kekuatan tenaga dalam." jawab Chakra Ashanka menanggapi perkataan Wisanggeni,
"Murnikan dulu aura tenaga dalammu, maka kamu akan lebih merasakan hasilnya. Jika kamu hanya serampangan mengeluarkan aura batin dan tenaga dalammu, maka kamu akan merasa cepat lelah. Tenagamu akan lebih cepat terkuras habis. Murnikanlah..." sambil memberi pengalaman pada putranya, Wisanggeni juga mengajari Chakra Ashanka bagaimana menggunakan kekuatannya untuk menghadapi kemungkinan bahaya.
*********
Di sebuah makam yang terlihat megah meskipun banyak lumut yang menghiasi kuburannya, Wisanggeni dan Rengganis berhenti. Makam itu merupakan makam kuno dari pemilik garis keturunan utama dari trah Jagdklana. Rengganis dan Wisanggeni memberi isyarat pada Chakra Ashanka, dan untuk beberapa saat mereka terpekur duduk di depan kuburan tersebut.
__ADS_1
"Ini makam kakek buyut dari Trah Jagadklana putraku. Ucapkan salam, dan panjatkan doa untuknya." dengan suara lirih, Rengganis berbicara pada putranya. Perlahan Chakra Ashanka berjalan mendekati kuburan tersebut, laki-laki kecil itu terpekur memanjatkan doa dalam hati, Tampak kekhusyukan terlihat dari perilakunya, dan tiba-tiba..
"Clap... cetar.." sebuah kilat tiba-tiba muncul dari dalam kuburan tersabut, dan sebuah cahaya terlihat memasuki punggung Chakra Ashanka yang sedang menundukkan kepala. Chakra Ashanka yang sedang berada dalam posisi yang tidak siap, memundurkan badannya dengan cepat. Tetapi Wisanggeni dengan sigap, memegangi tubuh putranya, dan membiarkan kilat tersebut memasuki punggung putranya untuk beberapa saat.
Begitu kilat itu masuk menembus punggungnya, nafas Chakra Ashanka tiba-tiba merasa sesak. Dengan cepat, laki-laki itu mengolah aliran udara yang seakan masuk dan mendesak di rongga dadanya. Laki-laki itu merasakan bagaimana kekuatannya terasa seperti berperang dengan kilat yang baru memasuki punggungnya tadi, dengan cepat Chakra Ashanka menghembuskan nafas kemudian menghirupnya lagi. Beberapa waktu digunakan Chakra Ashanka untuk memurnikan energi yang masuk dengan deras mengalur ke rongga dadanya, dan setelah beberapa saat laki-laki itu mulai bisa bernafas dengan posisi normal. Melihat perubahan itu, Wisanggeni tersenyum dan perlahan melepaskan pegangannya pada putranya tersebut.
Waktu banyak dihabiskan mereka bertiga berada di depan makam garis utama keturunan dan Trah Jagadklana. Karena Chakra Ashanka juga memiliki garis keturunan tersebut, tidak heran jika eyang sepuh mewariskan dan menghidupkan garis keturunan anak tersebut.
"Istirahatlah dulu putraku..., masih banyak pengalaman lain yang akan kita dapatkan di tempat ini!" melihat putranya terlihat kelelahan, Rengganis meminta Chakra Ashanka untuk beristirahat. Dengan cepat, Wisanggeni mengeluarkan minuman dari kepisnya kemudian memberikan pada putranya itu. Perlahan Rengganis mengusap keringat yang mengalir di kening putranya itu, dan dengan cepat Chakra Ashanka meneguk habis minuman yang diberikan oleh ayahndanya.
"Setelah ini.., siapa lagi yang akan kita datangi ayahnda.." setelah mengembalikan tenaganya, Chakra Ashanka bertanya pada ayahndanya.
"Kita akan mendatangi leluhur dari Trah Bhirawa putraku. bersiaplah.." ucap Wisanggeni pelan.
__ADS_1
**********