
Beberapa waktu di Jagadklana, Wisanggeni bersama dengan Rengganis dan Chakra Ashanka menemui Ki Sasmita untuk meminta ijin kembali ke perbukitan Gunung Jambu dengan putri dan cucunya. Wajah kedua orang tua Rengganis, terutama ibundanya terlihat kurang begitu senang. Tetapi karena kewajiban seorang istri adalah mengikuti suami, maka dengan berat hati perempuan itu akhirnya berbesar hati merelakan kepergian mereka.
"Pergilah dan kembali ke Gunung Jambu dengan tenang putraku.., doa ayah selalu bersama dengan kalian. Wisanggeni.., jaga putri dan cucuku dengan baik." Ki Sasmita menyampaikan pesan yang menghantarkan kepergian mereka.
"Iya ayahnda... pesan dan Restu ayah akan selalu Wisanggeni ingat-ingat selalu." Wisanggeni menanggapi pertanyaan ayahnda mertuanya. Laki-laki muda itu bersimpuh dan melakukan sungkem di depan laki-laki tua itu, diikuti dengan Rengganis dan Chakra Ashanka di belakangnya.
Ki Sasmita mengusap pelan kepala Wisanggeni, Rengganis dan Chakra Ashanka. Setelah itu Wisanggeni bergeser melakukan sungkem di depan ibunda mertua. Perempuan itu menghapus air mata yang meleleh dari kelopak matanya, masih terasa berat untuk berpisah dengan mereka meskipun sudah mencoba untuk ikhlas melepaskannya.
Beberapa saat kemudian, Wisanggeni beserta istri dan putranya berjalan keluar dari pendopo. Di depan tatapan ayahnda dan ibunda mertuanya, laki-laki itu membantu istri dan putranya naik ke atas punggung Singa Ulung. Untuk menghemat waktu perjalanan, Wisanggeni memutuskan untuk menggunakan Singa Ulung menempuh perjalanan.
"Yap..." dengan gesit, setelah Rengganis dan Chakra Ashanka berada di atas punggung Singa Ulung, Wisanggeni segera melompat ke atas punggung binatang itu.
"Ulung..., bawa kami kembali ke perbukitan Gunung Jambu!" setelah menepuk pelan punggung Singa Ulung, perlahan binatang singa itu segera terbang membubung ke angkasa.
Tanpa bicara, Rengganis mengusap air mata yang meleleh di pipinya. Dari belakang, Wisanggeni menyandarkan kepala Rengganis di dadanya.
"Menangislah istriku.., jangan kamu tahan air mata untuk mengalir keluar. Jangan kamu pendam rasa itu.." dengan lembut, Wisanggeni membetulkan anak rambut Rengganis. Dari depan, Chakra Ashanka menoleh ke belakang. Wisanggeni memberi isyarat agar putranya tidak mengganggu ibundanya.
********
Sesampainya di kota tempat mereka menginap sebelum menuju Jagadklana, Chakra Ashanka meminta pada ayahndanya untuk menginap kembali di pengungsian tersebut. Laki-laki muda itu ternyata masih ingat dengan janjinya, untuk membawa beberapa anak laki-laki yang pernah ditolongnya berlatih di perguruan tempatnya beserta ayah dan ibundanya berada.
__ADS_1
"Ayah..., bunda..., Ashan memiliki janji dengan beberapa teman baru, yang pernah bertemu dengan Ashan beberapa purnama yang lalu. Mereka ingin mendalami ilmu Kanuragan di perguruan kita ayahnda. Jika ayahnda dan ibunda berkenan, bagaimana jika kita kembali menginap di penginapan itu." ucap Chakra Ashanka.
"Bagaimana Nimas..., akankah kita turuti permintaan putra kita?" Wisanggeni balik bertanya pada istrinya Rengganis.
"Nimas tidak masalah akang.., kita bisa berpisah setelah Chakra Ashanka bertemu dengan teman-temannya. Sekalian kita melatih putra kita untuk melindungi diri, menjaga teman-temannya sambil menempuh perjalanan menuju perbukitan Gunung Jambu." tidak diduga, Rengganis menyetujui usul yang diajukan putranya.
"Baiklah jika mau kalian begitu. Ulung.., turunkan kami di halaman depan penginapan. Aku harap kamu tidak lupa jalan untuk menuju kesana." Wisanggeni langsung meminta pada binatang yang dikendarai mereka untuk menurunkannya di depan penginapan.
"Auuuummmmm..." setelah mengaum panjang, Binatang itu menambah kecepatan terbangnya. Tidak lama kemudian, Singa Ulung mengurangi kecepatan terbangnya dan kemudian mulai menukik turun.
*****
Baru saja Wisanggeni berjalan memasuki bagian depan penginapan, pemilik penginapan tersebut langsung bergegas mendatangi dan menyambut kedatangannya. Rupanya laki-laki tua itu masih mengingat pada Wisanggeni, karena kedatangan mereka pertama kali terlalu mencolok perhatian.
"Terima kasih paman.., siapkan untuk kami dua kamar untuk tempat kami beristirahat." Wisanggeni langsung menanggapi laki-laki paruh baya itu.
"Baik..., Ki Sanak tidak perlu mengantri. Kalian adalah tamu prioritas kami, silakan duduk dan menunggu terlebih dahulu. Biar pelayan kami segera menyiapkan kamar untuk beristirahat." dengan ramah, pemilik meminta Wisanggeni dan keluarganya untuk segera menunggunya di dalam.
Wisanggeni segera mengikuti langkah pemilik penginapan, kemudian duduk di tempat yang disiapkan untuk mereka. Begitu mereka duduk, tampak pelayan membawa minuman dan kudapan untuk mereka. Rengganis menoleh ke sekitarnya, ternyata hanya mereka saja yang mendapat perlakuan khusus dari pemilik penginapan.
"Sambil menunggu, silakan dinikmati dulu kudapan ala.kadarnya. Dan mohon ijin, saya harus melayani tamu yang lain." pemilik penginapan kemudian berjalan meninggalkan mereka.
__ADS_1
"Mari kita nikmati Nimas, Ashan... rejeki yang sudah tersaji di depan kita. Tidak baik untuk menolak rejeki." Wisanggeni memulai terlebih dulu dengan mengangkat cangkir, kemudian perlahan menyesap minuman tersebut. Tidak lama satu potong getuk, sudah berada di tangan laki-laki itu.
"Ayah.., bunda... setelah kita mendapat kamar, Ashan minta ijin untuk keluar menemui teman-teman yang akan mengikuti kita ke Gunung Jambu." tiba-tiba putra laki-laki mereka meminta ijin untuk keluar.
Rengganis menatap mata suaminya, dan Wisanggeni meletakkan getuk kembali ke tempatnya.
"Pergilah.., tetapi ingat. Kamu harus cepat kembali ke penginapan, karena kamu harus cukup istirahat." ucap Wisanggeni memberi ijin pada putranya.
"Terima kasih ayah.., Ashan janji akan mentaati dan mengingat apa yang ayahnda sampaikan." Chakra Ashanka terlihat sangat senang dengan ijin yang sudah dia dapatkan.
Rengganis tersenyum, perempuan itu ingin mencoba melepas sedikit demi sedikit putranya, agar mendapatkan pengalaman tanpa mendapatkan bantuan dari kedua orang tuanya. Tidak lama kemudian, terlihat seorang pelayan menghampiri mereka dengan membawa dua anak kunci di tangannya.
"Ki Sanak..., saya diminta oleh pemilik penginapan untuk menyampaikan kunci kamar untuk keluarga Ki sanak." dengan sopan, pelayan memberikan anak kunci pada Wisanggeni. Laki-laki itu segera menerima kunci tersebut di tangannya.
"Terima kasih paman, kamu sangat ramah memberi bantuan kepada kami." Wisanggeni menanggapi keramahan yang disampaikan oleh pelayan itu.
"Dengan senang hati Ki Sanak, dan itu sudah menjadi tugas saya. Apalagi saya merasa mendapat kehormatan bisa melayani Ki sanak. Mari saya antarkan ke kamar Ki Sanak." pelayan menawarkan jasa baiknya untuk melayani Wisanggeni.
"Tidak perlu paman. Kembali bekerja, aku beserta keluargaku akan mencari sendiri kamar yang sudah disiapkan untuk kami." dengan cepat Wisanggeni mencegah laki-laki itu.
Dengan segera, Wisanggeni berdiri dan tangannya meraih tangan istrinya Rengganis. Di bawah tetap kekaguman dari pelayan itu, Wisanggeni bergegas menuju kamar -kamar untuk mencari kamarnya sendiri.
__ADS_1
******"**