
Kelima orang yang baru datang itu tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan yang diucapkan oleh Sayogyo. Tidak ada sedikitpun rasa takut pada diri mereka, dan beberapa orang di antaranya terlihat mengobat-abitkan pedang di tangannya. Sayogyo memberi isyarat pada dua temannya, dan dengan cepat kedua anak muda itu lebih mendekat ke tempat Sayogyo, kemudian mereka bertiga beradu punggung.
"Kandar..., ternyata ketiga krucil ini sepertinya masih punya nyali untuk bertarung dengan kita. Bagaimana menurutmu..., kita jadikan kondangan atau kita bertarung satu lawan satu..." salah satu dari kelima orang itu bertanya pada laki-laki yang dipanggil dengan sebutan Kandar. Dengan nyalang, mata laki-laki bernama Kandar itu menatap pada Sayogyo, Prastowo, dan Tarjono satu persatu.
"Tepat sekali Badar..., hari ini kita belum sedikitpun melemaskan otot-otot kita. Kita harus bekerja cepat, kita langsung maju bersama-sama menghadapi tiga cecunguk ini. Ha..., ha.., ha..." setelah tertawa terbahak, Kandar mengayun-ayunkan pedang di tangannya sambil berjalan maju ke depan.
Sayogyo dan kedua anak muda lainnya, membuat gerakan yang mereka bisa. Kali ini mereka hanya mengandalkan kekerasan otot mereka, dan tidak menggunakan tenaga dalam mereka.
"Ha...ha..., ha... terimalah ini... rantai roda api...." tiba-tiba Badar mengeluarkan senjata berupa roda bergerigi yang mengeluarkan api memabra. Dengan sombong, laki-laki itu mengayun-ayunkan roda dengan membuat lingkaran di depan mereka berdiri. Ketiga teman lainnya juga tidak mau kalah, yang satu mengeluarkan cemeti, dan yang lainnya mengeluarkan pedang di tangannya seperti Kandar.
Sayogyo, Tarjono dan Prastowo terlihat pucat, tetapi pantang bagi mereka untuk menyerah, dan menjadi budak dari manusia-manusia itu. Dengan mengambil dahan kayu yang ada di dekatnya berdiri, Prastowo maju menghadapi laki-laki yang melihatnya dengan membawa pedang. Tarjono berlari ke dalam goa, dan keluar sudah membawa sebuah cemeti di tangannya.
"Cetarr...., blarr..." suara cemeti yang dibawa salah satu dari kelima orang itu membelah kesunyian. Binatang yang ada di sekitar goa berlari menghindar dari tempat itu. Binatang-binatang itu merasa khawatir jika menjadi dampak dari pertarungan tersebut. Tanpa takut, Tarjono melangkah dan melakukan gerakan yang sama dengan laki-laki tersebut.
__ADS_1
"Cetarr..., blammm..." begitu Tarjono mengayunkan cemeti, kekuatan berwarna gelap tampak berlari keluar, dan menghantam cemeti yang dipegang oleh gerombolan itu.
"Cemeti Amarasuli..., bagaimana orang itu bisa memilikinya..? Ingat teman-teman..., fokus kita kali ini adalah merebut cemeti Amarasuli dari tangan anak muda itu. Pusatkan perhatian kalian..." mata Kandar bersinar melihat cemeti yang dipegang oleh Tarjono. Sayogyo dan Prastowo, bahkan Tarjono sendiri merasa terkejut dengan kekuatan yang ada pada cemeti yang ada di tangannya. Tarjono hanya merasa asal, mengambil cemeti itu dari dalam gua, karena sejak pagi barang itu tergeletak di sudut ruangan goa.
Tetapi mengetahui reaksi dari orang-orang yang menyerang mereka seperti terhipnotis dengan cemeti yang disebut dengan Amarasuli itu, menjadikan semangat bertarung Tarjono menjadi meningkal. Laki-laki itu terus menngayun-ayunkan cemeti di tangannya, dengan melakukan gerakan untuk menyerang pada kelima orang tersebut.
Tidak diduga, laki-laki yang bernama Kandar itu tiba-tiba duduk bersila, dan keempat temannya berkeliling menjaganya. Dari tangan Kandar keluar gumpalan api berwarna merah, dan diusapkannya pada pedang yang ada di salah satu tangannya. Tidak lama berselang pedang itu berubah warna menjadi semerah bara api, dan laki-laki itu kemudian berdiri dan melompat ke depan untuk menangkap cemeti Amarasuli.
"Jeglarr...." dentuman keras terjadi di tempat itu ketika pedang Kandar beradu dengan cemeti yang dibawa Tarjono. Cekungan tanah yang dalam terjadi di area yang terkena bara api yang muncul karena ledakan itu. Pohon-pohon yang ada di sekitar goa bertumbangan, dan kedelapan orang itu terpental dan terjatuh ke tanah.
Keadaan Kandar dan keempat temannya juga sama-sama mengenaskan. Mereka tidak menyangka jika benturan kekuatan dari pedang yang ada di tangan Kandar, dan cemeti Amarasuli bisa berdampak sebesar itu. Untungnya hanya Tarjono yang mengendalikan cemeti itu, tetapi jika pengendali cemeti adalah orang yang memiliki dasar kekuatan kanuragan, maka dapat dipastikan kelima orang itu akan menjadi hancur.
"Kandar..., bagaimana keadaanmu.., apakah kamu masih bisa bangun. Kita sepertinya harus merebut cemeti yang ada di tangan anak laki-laki itu. Kali ini kesempatan kita cukup bagus, lihatlah anak muda itu masih lemas, dan terlihat sudah seperti kehabisan tenaga," Badar mengajak bicara Kandar. Tetapi kondisi Kandar jauh lebih parah dari keempat temannya yang lain.
__ADS_1
"Aku sudah tidak kuat lagi Badar... Tenagaku seperti terserap habis oleh cemeti itu.." dengan terbata-bata, Kandar dengan lemas berbicara dengan Badar. Tiba-tiba laki-laki itu kembali jatuh tersungkur ke bawah, dan pedang sampai terlepas dari tangannya.
"Kandar..." keempat rekan Kandar berteriak memanggil nama Kandar. Tetapi laki-laki itu sudah semakin lemas, dan tiba-tiba Kandar mengalami pingsan. Melihat apa yang terjadi di depannya, Sayogyo dan ketiga anak muda itu juga terdiam. Saat ini mereka masih berusaha memulihkan tenaga mereka yang tersedot keluar, dan mereka masih terhenyak dengan dashyatnya benturan kekuatan dari cemeti dan pedang dari pihak lawan. Tidak terlintas sedikitpun pikiran untuk mengirim serangan pada kelima orang itu.
"Srettttt.... uftt.." tiba-tiba terlihat bayangan hitam melesat dari atas langit, dan dengan cepat menyusup ke tubuh Kandar. Cepatnya kekuatan bayangan hitam yang masuk itu sampai membuat ke empat orang temannya terpental ke belakang.
"Apa yang terjadi Prastowo.., apakah hanya aku yang melihat kejadian barusan?" Sayogyo mengguncang pundak Prastowo, mencoba mencari tahu apa yang baru saja di lihat di depannya,
"Akupun juga melihat hal yang sama Sayogyo.. Lihatlah.., sepertinya tubuh Kandar bergerak-gerak lagi. Apakah laki-laki itu memanggil roh untuk masuk ke tubuhnya.., dan akan menuntut balas dan menyerang kita..?" dengan gemetar Prastowo menunjuk ke tubuh Kandar yang terlihat mulai bergerak-gerak. Ke empat teman Kandar juga terkejut, mereka sampai membelalakkan matanya melihat penampakan teman mereka.
Tiba-tiba mata Kandar terbuka, dengan tatapan kosong Kandar dengan sinis menatap teman-temannya yang masih menjaganya di sekelilingnya.
"Ha..., ha..., ha..., akhirnya aku terlahir kembali... Aku akan menuntut balas.., ha.., ha..., ha..." Kandar tiba-tiba berdiri, dan tertawa terbahak-bahak. Matanya dengan nanar melihat ke sekelilingnya. Keempat teman Kandar mendekat ke arah laki-laki itu, tetapi sepertinya Kandar sudah tidak mengenali mereka.
__ADS_1
**********