Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 34 Kinara


__ADS_3

Melihat kualitas yang sangat bagus dari pil yang dibawa Wisanggeni, laki-laki muda itu ditempatkan pada bilik VIP yang ada di lantai atas. Kursi yang dilapisi dengan kain beludru, dan pemandangan langsung tepat ke tengah arena pelelangan. Banyak pelayan yang ditugaskan untuk melayani tamu-tamu VIP.


"Duduklah di sini Wisang.., jika kamu membutuhkan sesuatu tinggal panggil pelayan untuk melayanimu." secara khusus Kinar mengantarkan laki-laki muda itu ke tempat duduknya.


"Terima kasih Kinar.., kamu bisa meninggalkan aku sendiri. Lanjutkan tugasmu!" dengan sopan Wisanggeni meminta Kinara untuk melanjutkan pekerjaannya kembali.


"Tugasku menjadi pembawa acara pelelangan Wisang. Ada satu pertanyaan yang akan aku tanyakan kepadamu, tetapi jika kamu berkenan untuk menjawabnya. Tapi jika itu privacymu, tidak masalah jika kamu tidak menjawab." sambil tersenyum, Kinara meminta ijin untuk bertanya pada Wisanggeni.


"Tanyakan Kinar, untuk wanita secantik dirimu, aku tidak akan keberatan untuk menjawabnya." jawab Wisanggeni sambil mengerlingkan matanya.


"Aku penasaran dengan latar belakang keluargamu. Darimana asal Klan mu?" tanya Kinara hati-hati.


Wisanggeni terdiam sebentar, dia mendadak ingat dengan Klan Bhirawa yang sudah hancur. Saudara-saudara yang dia punya juga tercerai berai.


"Maafkan pertanyaanku Wisang, anggap saja tidak pernah ada. Aku akan kembali ke area pelelangan sekarang." melihat raut kecewa laki-laki itu, Kinara langsung berpamitan padanya. Tetapi baru saja dia melangkahkan satu kakinya,...


"Tunggu Kinara! Aku dari Klan Bhirawa." jawab Wisanggeni lirih. Tertangkap kilat kesedihan di matanya.


"Bhirawa??? Aku ikut prihatin dengan keadaan Klanmu sekarang. Aku yakin Lindhuaji dan Widjanarko akan mengembalikan kembali kejayaan Klanmu." ucap Kinara, yang mengejutkan laki-laki itu karena perempuan di depannya itu menyebut nama kedua kakaknya.


"Kamu kenal dengan kedua saudaraku Kinar?" tanya Wisanggeni yang tanpa sadar sudah memegang kedua lengan Kinara.


Kinara melihat ke arah dua tangan laki-laki itu yang tanpa sadar sudah menyenggol kedua bukit kembarnya. Jika itu laki-laki lain, Kinara akan mematahkan kedua tangannya. Tapi kali ini, untuk Wisanggeni dia hanya melihatnya.

__ADS_1


"Maaf!" ucap Wisanggeni lirih sambil memerah mukanya. Dia betul-betul tidak sengaja melakukan itu semua. Laki-laki itu kemudian memundurkan langkahnya.


"Aku kenal baik dengan mereka berdua. Bulan kemarin, Widjanarko juga ikut datang kesini. Dia ikut melelang sebuah Kitab untuk kekuatan level menengah. Tapi kali ini, tidak ada mereka." kata Kinara sambil tatapannya melamun keatas. Saat menyebut nama kakaknya, perempuan itu seperti menahan nafas.


"Sudah lebih lima tahun aku sudah tidak pernah lagi berjumpa dengan kedua kakakku. Aku akan datang mencarinya tidak lama lagi."


"Klan yang dia dirikan tidak jauh dari sini. Butuh tiga hari tiga malam untuk menuju kesana. Jangan khawatir, aku akan mengirimkan merpatiku pada mereka, aku akan memberi tahu jika aku bertemu denganmu disini." Kinara menawarkan burung merpati miliknya untuk menyampaikan kabar pada kedua kakaknya.


"Terimakasih Kinara.., kamu kembali membantuku malam ini. Ingatlah selalu namaku, jika kamu membutuhkan bantuan. Aku akan dengan suka rela akan membantumu kembali." Wisanggeni mengangkat kedua tangannya dengan menggenggam di depan dadanya.


Perempuan itu tersenyum, kemudian melanjutkan langkah kakinya meninggalkan laki-laki itu.


"Aku akan selalu mengingatmu Wisanggeni, juga kedua kakakmu Widjanarko dan Lindhuaji."


"Aku akan mengunjungi mereka, jika aku sudah mengumpulkan Klan Bhirawa di kota ini."


*************


Suasana di dalam aula pelelangan sangat meriah. Hampir semua tempat duduk penuh terisi. Kinara sebagai host yang mengawal kegiatan lelang, terlihat sangat piawai memainkan barang-barang yang akan dia jual. Kecantikan dan suaranya yang merdu, ditambah dengan pakaian yang dia kenakan, menambah antusiasme para laki-laki yang ikut hadir di acara itu. Banyak laki-laki yang ada di tempat itu, tidak memiliki niat khusus untuk terlibat dalam pelelangan. Mereka sengaja datang karena ingin melihat bagaimana perempuan seksi ini beraksi.


"Baiklah untuk malam ini, kita akan awali kegiatan lelang ini dengan sebuah senjata berupa Pedang Naga Biru. Saya tidak akan menceritakan apa yang terkandung di dalamnya, karena saya yakin kalian sudah mendengar kejayaan yang dihasilkan olehnya." tangan cantik Kinara dilambaikan, dan datang seorang pelayan cantik membawa nampan, dimana atasnya berisi pedang yang sudah disebutkan tadi.


"Baiklah akan saya buka dengan harga penawaran 2.500 keping emas." suara merdu Kinara kembali terdengar.

__ADS_1


Sejenak semua yang hadir disitu terlibat dalam pembicaraan kecil dengan kelompoknya, hanya Wisanggeni yang diam. Dia memang tidak berniat untuk ikut membeli barang dalam pelelangan. Tujuan dia hadir adalah untuk menawarkan obat herbal hasil produksinya, dan akan membeli beberapa bahan untuk membuat kembali obat-obatan herbal. Saat ini dia membutuhkan banyak uang untuk membangun kembai Klannya yang hancur.


"3.000 keping emas." terdengar suara dari sudut ruangan.


"Baik.. Tuan Margonda sudah menawar 3.000, apakah ada yang diatasnya?" dengan kerlingan mata, Kinara memainkan perasaan para peserta lelang.


"4.500 keping emas."


"5.000 keping emas."


"7.000 keping emas."


"Wow .. penawaran dari para peserta terus merangkak naik. Apakah masih ada yang berani dengan harga diatasnya?" Kinara mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, tidak ada lagi yang berani mengusulkan harga penawaran.


"Baiklah.., pedang naga biru kali ini jatuh di tangan Tuan Jatmiko dengan harga 7.000 keping emas. Silakan di akhir acara, Tuan Jatmiko berurusan dengan petugas di bagian uji barang." akhirnya Kinara menyatakan Jatmiko sebagai pemenang lelang.


"Barang selanjutnya yang akan kita tawarkan adalah Bahan Obat Ginseng Putih, hasil dari perjalanan Klan Abhiseka ke negeri lain. Harga penawaran adalah 1.500 keping emas." kembali mulut cantik Kinara menawarkan bahan obat herbal.


"Sebenarnya barang itu bisa untuk aku proses menjadi obat level 2, tapi saat ini aku lagi butuh uang banyak. Aku tidak boleh tergoda dengan bahan itu." Wisanggeni berbicara dengan dirinya sendiri.


Berbagai barang sudah ditawarkan dengan cantik oleh Kinara, dan barang-barang sudah berpindah dan berganti dengan kepemilikan baru. Tidak ada satupun barang yang dibeli Wisanggeni, tetapi dia sudah menulis beberapa bahan obat yang langsung akan dia berikan pada Kinara seusai lelang. Karena bahan obat yang dia butuhkan untuk obat kelas dasar, sehingga bahan-bahannya juga masih dibeli dengan harga murah.


"Okay..., sekarang tibalah saya akan menawarkan obat untuk mendorong level kekuatan dasar. Tetapi obat yang saya tawarkan kali ini, berbeda dengan yang sudah banyak dijual di pasaran. Kualitas obat herbal ini, saya akui sangat bagus." Wisanggeni sontak fokus saat Kinara menawarkan obat herbal hasil produksinya pada peserta lelang.

__ADS_1


**********


__ADS_2