Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 307 Peperangan Kecil


__ADS_3

Menghadapi pasukan kerajaan yang sudah mendapatkan bantuan kekuatan dari kepala pasukan, akhirnya murid-murid perguruan Gunung Jambu menjadi kocar-kacir. Formasi pertahanan yang semual terbentuk dengan rapat dan rapi, akhirnya menjadi bubar. Bahkan sejumlah murid terluka, dan tubuhnya terpental ke belakang. Murid yang lebih tua, yang mendapatkan tanggung jawab untuk pengatur wilayah tapal batas, mengerutkan dahinya. Laki-laki itu berpikir bagaimana dapat memenangkan pertarungan tanpa membawa banyak korabnm dari murid perguruan.


"Sruettt..., bukk..., bukk..." tiba-tiba tidak disangka, dari arah dalam wilayah perguruan, serangan angon kencang dengan kekuatan energi yang tinggi datang menyapu pasukan kerajaan. Pasukan yang semual sudah semakin berani merangsek ke depan, jadi bubar tunggang langgang. Kepala pasukan menjadi terkejut, laki-laki itu menambahkan kekuatannya untuk mentransfer energi pada pasukannya. Tetapi.., pasukan tetap bubar. dan sebagian pasukan mengalami luka-lika.


Sebaliknya muncul keterkejutan, tetapi juga kebahagiaan di wajah pasukan dari murid-murid perguruan. Mereka mendapatkan bantuan di saat mereka sedang berada dalam situasi yang kritis.


"Keluarlah..., jangan hanya beraninya main di belakang? Tunjukkan wajahmu kepada kami..." kepala pasukan kerajaan berteriak dengan suara lantang, mencoba bertanya siapa orang yang berada di balik kejadian ini.


Suasana menjadi sepi, merasa mendapatkan bantuan, murid-murid kembali menjadi tumbuh semangatnya. Selain itu, terdengar juga dari arah belakang bantuan kekuatan dari murid-murid yang ada di perguruan bagian dalam juga mulai berdatangan.


Melihat banyaknya murid yang saat ini berjaga di depannya, kepala pasukan menjadi terhenyak. Kaki itu merasa jika pasukan yang dibawanya kalah dalam sisi jumlah. Selain itu, kekuatan murid-murid lebih tinggi dari kekuatan pasukannya. Mereka tadi bisa mengalahkan murid-murid karena mendapatkan transfer energi darinya. Tetapi ketika ada kekuatan yang tidak terlihat yang membantu murid-murid itu, pasukan yang dibawanya pasti akan kalah telak.


"Ayo kita pukul balik mereka., tidak ada tempat bagi pengacau di wilayah perguruan Gunung Jambu. Mereka harus pergi meninggalkan tempat ini." terdengar teriakan dari bagian belakang.


"Ayo.., ayo.. bentuk formasi penyerangan dan juga pertahanan di belakangnya. Jangan patah semangat, kita harus menjunjung tinggi nama besar perguruan Gunung Jambu. Ayo... kobarkan semangat juang kalian!" teriakan semangat memacu daya juang murid-murid perguruan.


Dari arah belakang, tiba-tiba serangan muncul tanpa dapat diduga oleh pasukan lawan. Kepala pasukan dan anak buahnya masih dalam kondisi lengah, melihat banyaknya murid perguruan yang merangsek ke depan.


"Aaaaaww..., bruk..., bruk.." tidak diduga, orang-orang yang ada di pasukan, banyak yang tiba-tiba ambruk terkena serangan dari murid-murid perguruan.

__ADS_1


"Pertahankan barisan..., secara bertahap yang ada paling belakang, kita harus mundur dulu. Murid perguruan memiliki banyak tenaga bantuan.." melihat kondisi pasukannya yang kocar-kacir, kepala pasukan berteriak mengajak pasukannya untuk mundur ke belakang.


"Kejar.., kejar... yang membawa anak panah, kirim senjata itu untuk membidik pasukan yang ada di paling belakang. Kita kacaukan barisan mereka..." terdengar suara provokasi dari murid-murid perguruan. Mereka segera membidik ke depan dengan senjata di tangan mereka masing-masing.


"Aaaaaww.., aaawww.., pergilah jangan hiraukan saya..." teriakan demi teriakan terdengar menyayat telinga dari pasukan kerajaan.


Barisan pasukan yang semula rapi, tertata, saat ini mereka terlihat mulai kacau balau. Banyak pasukan yang berlari tidak tentu arah, meninggal teman-temannya.


"Blamm..., blam.." merasa marah melihat pasukannya bubar, kepala pasukan mengirimkan serangan pada murid-murid perguruan.


"Jeglarr...." sebuah serangan dari belakang murid -murid menggagalkan kiriman serangan dari kepala pasukan. Merasa tidak mampu menanggapi serangan itu, seketika kepala pasukan kabur meninggalkan tapal batas.


*******


"Segera beri perawatan pada teman-teman kalian yang terluka saat ini!" melihat beberapa murid yang terkena serangan dari pasukan kerajaan, Rengganis melemparkan beberapa pil herbal untuk menghilangkan rasa sakit murid-murid perguruan.


Tanpa menunggu perintah kedua kalinya, beberapa murid langsung menangkap pil obat, dan membagikannya pada teman-temannya.


"Setelah ini, segeralah istirahat. Jangan terlena dengan mundurnya pasukan itu. Aku yakin, orang-orang dari kerajaan akan segera kembali kesini dengan membawa pasukan yang lebih besar." Rengganis mengingatkan murid-murid.

__ADS_1


"Untuk murid yang datang dari dalam perguruan bagian dalam, bagaimana kondisi padhepokan saat ini?" tidak lupa, Rengganis juga menanyakan bagaimana kabar orang-orang yang masih tertinggal di padhepokan.


"Para perempuan dan anak-anak sudah menuju ke tempat yang Den Ayu Rengganis sampaikan pada Mbok Darmi. Sedangkan sebagian murid perempuan, tetap berjaga di dalam padhepokan untuk menjaga dari kemungkinan terburuk. Sedangkan yang lainnya, sudah bergabung dengan murid-murid di tapal batas sini Den Ayu." seorang murid melaporkannya dan menjawab pertanyaan Rengganis.


Perempuan itu menghela nafas, kemudian mengedarkan pandangannya ke arah murid-murid yang berada di tempat itu. Beberapa murid yang terluka sedang mendapatkan pertolongan dari temannya yang lain, mereka bahu membahu tanpa perhitungan saling membantu satu dengan yang lainnya.


"Apa yang harus aku lakukan untuk menyelamatkan orang-orang ini. Aku tidak boleh menganggap remeh masalah ini. Kepala pasukan pasti akan datang kembali untuk menuntut balas." Rengganis berpikir sendiri. Melihat bagaimana keadaan murid-murid perguruan, timbul rasa bersalah pada perempuan itu...


"Nimas Rengganis..., kenapa kamu meninggalkan aku sendiri..?" tiba-tiba terdengar suara Maharani di belakang perempuan itu.


Rengganis membalikkan badannya ke belakang. Melihat Maharani yang masih terlihat pucat datang menyusulnya, menjadikan rasa khawatir di hati Rengganis.


"Nimas Maharani..., seharusnya kamu itu beristirahat. Kenapa malah menyusullku kesini?? Terlalu berbahaya untukmu jika berada di tempat ini." Rengganis berbicara dengan sedikit lebih keras, memberi teguran pada Maharani.


"Aku tidak bisa hanya diam dan duduk-duduk saja Nimas. Sedangkan kalian bertarung untuk menjaga marwah perguruan dari para pengacau. Semua terjadi karena ulahku, tetapi kalian semua ikut menanggungnya." dengan muka sendu, Maharani menanggapi perkataan Rengganis.


Rengganis segera berjalan menghampiri Maharani. Perlahan tangannya diletakkan di pundak perempuan itu.


"Untuk kali ini para murid bisa bernafas lega. Aku yakin, untuk sementara waktu pasukan kerajaan tidak akan gegabah mengirimkan pasukannya kesini. Apakah situasi kerajaan baru kacau, bahkan kita juga tidak tahu kekuatan dari siapa saat ini yang sedang menguasai kerajaan." dengan suara pelan, Rengganis membuat Maharani mengerti. Menghargai upaya perempuan itu, akhirnya Maharani mengikuti saran Rengganis untuk beristirahat. Kedua petenis itu saling menolong berjalan meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


*******


__ADS_2