
Merasa sudah pulih dari kehilangan banyak energi dan kekuatannya, Wisanggeni mengajak istrinya Rengganis untuk kembali ke padhepokan Gunung Jambu. Apalagi sesepuh yang akan mereka kunjungi yaitu Ki Bawono, sudah menganggap pertemuan mereka di penginapan untuk menghapuskan janji yang pernah dibuat oleh laki-laki itu. Wisanggeni juga merasa sudah tidak memiliki urusan di kota kecil itu, sehingga mereka harus segera kembali ke padhepokan yang sudah lama mereka tinggalkan.
"Kakang.. apakah tidak sebaiknya kita segera menyelenggarakan acara secara bersamaan, setelah kita sampai di padhepokan kakang. Nimas tidak mau.. anak-anak kita menjadi bahan pergunjingan orang-orang yang tidak mengetahui bagaimana mereka sebenarnya." sambil berbenah semua perlengkapan mereka, Rengganis mengajak suaminya Wisanggeni berbicara.
Wisanggeni yang sedang membersihak pisau belatinya, menghentikan aktivitasnya itu. Laki-laki itu kemudian memasukkan pisau belati kembali ke dalam sarungnya, kemudian meletakkannya di atas meja. Tidak lama kemudian, laki-laki itu melihat ke arah istrinya.
"Jelaskan apa yang Nimas Rengganis maksudkan, acara apa yang akan segera kita lakukan. Kakang kurang begitu memahami apa yang Nimas maksud?" dengan perasaan bingung, laki-laki itu meminta istrinya untuk lebih memperjelas apa yang dimaksudnya. Dalam ingatannya, Wisanggeni merasa tidak memiliki kegiatan yang mendesak.
"Apakah kakang melupakan anak-anak kita kakang. Bukankan mereka sudah memiliki pilihan mereka masing-masing, untuk menghabiskan hidup mereka di masa depan. Kenapa kita tidak segera mengikat hubungan mereka, agar mereka tidak menjadi gunjingan orang-orang.." Rengganis memberikan tanggapan atas perkataan suaminya.
Mendengar hal itu, bibir Wisanggeni yang semula mengatup menjadi terbuka lebar. Laki-laki itu tertawa keras, sampai mengagetkan Rengganis.
"Ha.. ha.. ha.., ternyata istriku yang cantik dan awet muda ini, ingin segera menimang cucu rupanya. Hingga sudah jauh memikirkan tentang jalan yang akan ditempuh oleh putra putrinya. Ha.. ha.. ha.." Rengganis kaget, dengan reaksi yang ditunjukkan suaminya itu. Perempuan muda itu hanya geleng-geleng kepala melihat suaminya tertawa.
"Kenapa kakang malah mengolok-olok Nimas, apakah ada kekeliruan dari kata-kata yang sudah nimas ucapkan.." sambil cemberut, Rengganis memprotes sikap yang ditunjukkan Wisanggeni.
Melihat istrinya terdiam dengan mulut ceMberut, Wisanggeni yang masih tertawa mendekati istrinya, kemudian memeluk istrinya erat. Sebuah ciuman diberikan laki-laki itu di dahi istrinya. Rengganis mengangkat wajahnya ke atas, kemudian Wisanggeni melepaskan pelukan dan duduk di samping istrinya itu.
__ADS_1
"Jangan marah Nimas Rengganis, istriku yang selalu cantik di mata kakang.. Kakang yang terlalu lambat dalam berpikir, untungnya kakang didampingi oleh perempuan yang sudah berpikiran maju ke depan, sehingga hidup kakang terasa lengkap. Nimas Rengganis benar.. dan kita harus segera menyampaikan kabar ini pada putra putri kita, juga kepada calon pasangan mereka masing-masing. Jika nak mas Dananjaya dan Nimas Sekar Ratih, betul-betul mencintai putra dan putri kita, mereka pasti akan langsung menyetujui rencana ini." akhirnya kata-kata persetujuan keluar juga dari bibir Wisanggeni.
Rengganis tersenyum, dan perempuan itu menjatuhkan kepalanya di dada laki-laki itu. Kehangatan dan detak jantung suaminya dapat terdengar di telinga perempuan yang masih terlihat muda itu.
"Terima kasih kakang, sudah selalu mendukungku. Kita akan segera mengajak mereka bicara segera, dan kemudian mengajak mereka semua untuk kembali ke padhepokan Gunung Jambu bersama-sama." akhirnya pasangan suami istri itu kembali saling berpelukan.
********
Dananjaya dan kakangnya Arya sudah berada di pendhopo, tempat Wisanggeni dan Rengganis akan mengajak mereka untuk berbicara. Melihat belum ada seorangpun di tempat itu, bahkan Parvati juga belum terlihat, mereka saling berpandangan. Namun karena Arya juga tidak mengetahui, laki-laki itu hanya mengangkat kedua bahunya ke atas, kemudian menyandarkan punggungnya di kursi yang terbuat dari anyaman rotan,
"Sabarlah Rayi.. kita akan segera tahu jika mereka sudah datang kemari. Tidak mungkin paman Wisanggeni dan Bibi Rengganis mengundang kita, tetapi tidak ada yang akan disampaikannya kepada kita." Arya menenangkan Dananjaya. Sebagai seorang kakang, laki-laki itu memang selalu berpikiran matang dan bersikap lebih dewasa jika dibandingkan dengan Dananjaya.
"Mmmm... niatmu datang kesini untuk bertemu paman dan bibi, ataukah untuk menemui gadis muda itu Rayi.. Kakang yakin, paman dan bibi akan datang kesini dengan membawa Nimas Parvati. Bersabarlah.. seperti tidak berjumpa dengan gadis itu berwarsa-warsa saja.." Arya mengolok-olok adiknya.
Dananjaya tersenyum malu, tiba-tiba laki-laki itu melihat kedatangan calon kakak iparnya Chakra Ashanka yang berjalan bersamaan dengan Sekar Ratih. Arya menyenggol bahu rayinya, untuk menyapa kedatangan anak muda itu.
"Kang Ashan.. mbakyu Ratih.." memposisikan jika Sekar Ratih tidak akan lama lagi akan bersanding juga dengan Chakra Ashanka, Dananjaya memanggil dengan sebutan mbakyu.
__ADS_1
Mendengar sebutan panggillan untuknya seperti itu, Sekar Ratih menjadi tidak bisa berbicara apa-apa. Seketika senyuman malu keluar dari bibirnya yang mungil. Rupanya Chakra Ashanka mengerti kegundahan Sekar Ratih, anak muda itu meletakkan tangannya di bahu gadis itu kemudian membawanya mendekat ke arah dua anak muda yang sudah duduk di kursi.
"Sudah menunggu lama Rayi Danan.., kang Arya.." sambil tersenyum, Chakra Ashanka menyapa Dananjaya dan Arya.
"Baru beberapa saat kang.., dimana Nimas Parvati.. Danan pikir datang bersama kang Ashan, rupanya tidak ada." tidak melihat keberadaan gadis yang dirindukannya, tanpa merasa malu Dananjaya menanyakan tentang Parvati.
"Tunggulah beberapa saat lagi rayi.. adikku sangat dekat dengan bunda Rengganis. Aku yakin, saat ini Parvati menunggu ayah dan bunda untuk bersama-sama datang kesini. Kita tunggu saja dulu.." setelah menunjuk kursi untuk duduk Sekar Ratih, Chakra Ashanka kemudian ikut duduk di samping gadis itu.
Mendengar jawaban Chakra Ashanka, Arya tersenyum kemudian menepuk tiga kali punggung rayinya itu.
"Maafkan sikap rayiku yang kang Ashan.. ya bisa dimaklumi lah. Masih hangat perasaannya untuk Nimas Parvati, jadi belum bisa sehari saja tidak melihatnya.." Arya menanggapi perkataan antara Dananjaya dan Chakra Ashanka.
"Tidak perlu dipikirkan kang Arya.. sudah biasa. Karena tanpa sadar akupun juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan rayi Dananjaya. Iya tidak Nimas Ratih.. terkadang malah Nimas Ratih yang merasa risih jika aku terus mencari atau mendatanginya." sambil tersenyum, Chakra Ashanka melihat ke arah Sekar Ratih.
"Ada apa sih kang.. seperti itu saja diceritakan. Malu sama mereka berdua.." dengan muka yang kembali bersemburat merah, gadis muda itu memukul paha Chakra Ashanka.
"Ha.. ha.. ha.., tambah cantik jika wajahmu bersemu merah seperti itu Nimas.. Kakang jadi gemas untuk mencubitnya.." kelakar Chakra Ashanka sambil tertawa.
__ADS_1
********