
Semua orang yang berada di dalam kedai pakaian menoleh ke arah pintu masuk kedai. Terlihat anak laki-laki muda tampan dan bertubuh gagah sedang berdiri, dan menatap mereka dengan mata tajam. Tidak ada keramah tamahan sedikitpun, dalam tatapan mata itu. Melihat kedatangan Chakra Ashanka, Sekar Ratih melepaskan pegangannya pada pelayan kedai, kemudian berlari menubruk anak laki-laki muda itu. Mata Sukma terbelalak melihat ketampanan Chakra Ashanka, perempuan muda itu segera merubah ekspresi di wajahnya.
"Kang Ashan..., mari kita pergi dari sini! Ratih tidak memerlukan pakaian-pakaian itu. Sudah cukup satu saja, yang saat ini sudah Ratih kenakan.." melihat tatapan kemarahan Chakra Ashanka, Ratih berusaha menenangkan laki-laki muda tersebut,
Tetapi Chakra Ashanka malah menyingkirkan tubuh Sekar Ratih sedikit ke kiri. Anak muda itu langsung masuk dan berdiri dengan menatap tiga pengawal Sukma, dengan tatapan membunuh. Melihat hal itu, Sukma segera merubah ekspresinya. Perempuan muda itu meletakkan pakaian yang sejak tadi sudah dipeganginya, kemudian berjalan mendekati anak muda itu.
"Hanya kesalah pahaman saja kangmas.., jangan menatapku seperti ini. Gadis kecil itu salah paham.., aku hanya berniat untuk menolongnya, memilihkan warna yang cocok untuknya. Tetapi rupanya gadis kecil itu sudah ketakutan, dan malah berlari bersembunyi di belakang pelayan kedai. Bukankan demikian pelayan kedai..?" perempuan muda bernama Sekar itu, memutar balikkan kenyataan yang sebenarnya. Ketiga pengawalnya mengangguk-anggukkan kepala, berusaha memberi dukungan pada juragannya,
Tetapi tatapan tidak suka ditunjukkan oleh pelayan kedai. Perempuan itu sedikitpun tidak memberikan reaksi apapun, dia hanya menatap perempuan bernama Sukma itu dengan tatapan jijik. Perempuan itu tidak menyangka, ada seorang perempuan yang dengan mudah berubah sifatnya menjadi seperti ular berkepala dua.
"Pelayan.., bungkus semua pakaian. Aku akan membayarnya, dan jika ada yang akan menghalangi transaksi ini, maka orang itu akan berurusan denganku," suara Chakra Ashanka kembali membahana ke seluruh ruangan itu. Tanpa ragu, pelayan segera maju dan berjalan untuk membungkus semua pakaian itu.
"Mbakyu..., cukup satu lagi saja mbakyu. Semua sudah cukup untukku, jangan terlalu banyak.." terdengar suara Sekar ratih meminta pelayan hanya menyiapkan baju dua potong untuknya.
"Kamu sudah berani membantahku Ratih.., siapa yang memberi hak bicara padamu..!" suara besar kembali memotong perkataan Ratih. Gadis kecil itu kembali tertunduk, tidak berani membantah semua perkataan anak muda itu.
__ADS_1
Sukma menatap tidak suka kepada Sekar Ratih, tetapi begitu menatap Chakra Ashanka, mata perempuan itu menjadi lebih bercahaya. Perlahan, perempuan muda itu bergerak dan bergeser untuk mendekati anak muda itu. Ketiga pengawalnya tidak berani bersuara, mereka hanya memperhatikan tingkah laku yang ditunjukkan oleh juragannya itu.
Tidak lama kemudian, pelayan kedai memberikan bungkusan berisi pakaian Sekar ratih, dan Chakra Ashanka menyerahkan beberapa keping uang kepada pelayan itu.
"Sebentar kakang.., saya siapkan dulu kembaliannya.." dengan sopan, pelayan akan berjalan untuk mengambilkan keping kembalian.
"Ambil saja itu sebagai bonus keberanianmu untuk membela adikku." Chakra Ashanka langsung menanggapi perkataan pelayan. Ketika anak muda itu akan berjalan keluar, tiba-tiba Sukma menjatuhkan tubuhnya ke arah anak muda itu. Tetapi yang terjadi, dengan cepat anak muda itu berkelit dan menarik tubuh salah satu pengawalnya. Yang terjadi saat ini, tubuh Sukma tepat berada di pelukan pengawalnya. Tanpa melihat ke belakang, dengan cepat Chakra Ashanka menggandeng tangan Sekar Ratih, kemudian berjalan keluar dari dalam kedai pakaian itu,
************
Di tengah Jalan..
"Apakah kamu sudah lelah dan lapar Ratih.., sepertinya kamu sudah terlihat lelah..?" Chakra Ashanka bertanya pada gadis kecil itu.
"Mmmm... sedikit kang Ashan. Maklumlah.. Ratih tidak pernah melakukan perjalanan jauh, karena selalu mendapatkan larangan dari ketiga kakak laki-laki Ratih. Kata mereka, tugas Ratih adalah menjaga dan merawat simbok sama Romo." ucap Ratih polos, dan Chakra Ashanka tersenyum mendengarnya.
__ADS_1
"Baiklah jika begitu.., kita akan istirahat dulu di gubuk pinggir desa itu." tangan Chakra Ashanka menunjuk sebuah gubuk di depannya. Gadis kecil itu menganggukkan kepalanya, kemudian mereka berjalan melangkah ke arah gubuk tersebut,
Beberapa saat kedua anak muda itu duduk di dalam gubug, dan Chakra Ashanka mengeluarkan minuman dan beberapa makanan kering. Anak muda itu memberikan sebagian pada gadis kecil itu, dan dengan malu-malu Sekar Ratih menerimanya. Kemudian kedua anak muda itu mulai menikmati makanan dan minuman sembari beristirahat di tempat tersebut.
Tiba-tiba dari arah sebelah kanan, Chakra Ashanka melihat ada lima orang laki-laki bertubuh kekar berjalan ke arahnya. Merasa tidak mengenalnya, anak muda itu mengabaikan apa yang dia lihat di depannya itu. Tetapi, ternyata kelima laki-laki itu berjalan mendekat pada anak muda itu, Dan ternyata, salah satu dari mereka adalah pengawal Sukma yang bertemu dengan mereka di kedai pakaian tadi.
"Itu mereka orang-orang tadi yang mencari masalah dengan Den Ayu Sukma.." tiba-tiba pengawal yang bertemu di kedai pakaian, menunjuk pada Chakra Ashanka dan Sekar Ratih. Anak muda itu diam saja, tidak memberi respon apapun, hanya melihat pada orang-orang tersebut.
"Kita serang saja langsung pada mereka, kita ingatkan agar mereka tidak bertingkah dan membuat ulah di wilayah kita." seseorang dari mereka berteriak, kemudian berlari dengan mengacungkan pedang di tangan mereka.
Chakra Ashanka tersenyum melihat kedatangan orang-orang itu, sedangkan Sekar Ratih menggigil ketakutan. Gadis kecil itu memundurkan tubuhnya, dan menutup kedua matanya. Tetapi tiba-tiba..
"Prang.., clap.." pedang-pedang yang terhunus di tangan kelima orang itu terjatuh ke atas tanah. Dengan menggerakkan tangannya memutar, Chakra Ashanka menggunakan kekuatan angin untuk mengendalikan pedang-pedang itu. Mata kelima orang itu terbelalak, mereka merasakan tekanan tajam terhadap kekuatan mereka. Mereka saling berpandangan, dan mendekatkan tubuh mereka dengan yang lain.
"Apakah kalian berlima hendak berbincang denganku.., kemarilah Ki Sanak.. kita bisa duduk-duduk sambil berbicara di tempa ini." tidak disangka, Chakra Ashanka malah mengajak mereka untuk berbincang. Memang ada saatnya kita perlu menahan dan mengendalikan kekuatan kita. Tetapi pada saat tertentu, sah jika kita ingin menunjukkan jika kita memiliki kemampuan, agar orang tidak mudah untuk menindas kepada kita.
__ADS_1
"Mmm.. tidak Ki Sanak.. kami hanya kebetulan saja lewat di tempat ini. Kami akan mencari seseorang di depan sana, Selamat beristirahat." memahami jika kekuatan mereka tidak akan mampu kekuatan Chakra Ashanka, kelima orang itu akhirnya berjalan meninggalkan Chakra Ashanka dan Sekar Ratih.
***********