
DI dalam Bangunan Candi
Setelah melalui upaya yang tidak pernah berhenti, akhirnya Chakra Ashanka sudah berada di lantai ke enam. Tinggal satu tangga lagi yang harus dinaiki oleh anak muda itu, agar dapat berlatih di lantai ke tujuh. Banyak luka lebam yang muncul di sekujur tubuh anak muda itu, tetapi tekad Chakra Ashanka tidak pantang menyerah. Merasa sudah masuk ke dalam kubangan, maka dia berpikir untuk mendapatkan manfaat dari kubangan tersebut. Dari lantai bawah, kelompok Pangeran Abhiseka, dan juga kedua teman yang ditemukan dalam perjalanan naik tangga, memandang Chakra Ashanka dengan penuh rasa khawatir. Tetapi suara mereka sama sekali tidak didengar oleh anak laki-laki itu.
"Bagaimana Pangeran.., apakah kita akan terus berteriak meminta Ashan untuk turun kembali?" dengan nada cemas, Niken Kinanthi bertanya pada Pangeran Abhiseka.
Laki-laki itu terdiam dan tidak mengalihkan pandangannya ke atas. Tetapi tidak lama kemudian, Pangeran Abhiseka menggelengkan kepala, dan terlihat kekecewaan di wajah Niken Kinanthi. Widayat juga merasa prihatin dengan pemandangan yang hanya bisa lihat dari jauh. Darah sudah hampir terlihat ada di seluruh bagian tubuh Chakra Ashanka karena kerasnya latihan di ruangan-ruangan pada tangga yang lebih atas. Mereka semua hanya mamou bertahan di lantai empat saja, itu juga dengan luka-luka yang banyak menghiasi tubuh mereka.
"Tekad anak muda itu sangat besar sekali. Jangan halangi niatnya, kami yang baru saja berkenalan dengannya, sangat mengagumi keteguhan hatinya. Ditambah, kami juga melihat ada energi murni yang sangat kaya, terlihat membanjir di tubuh anak muda itu." tiba-tiba dari belakang, terdengar suara Aditya.
Pangeran Abhiseka, Niken Kinanthi, dan Widayat menoleh ke arah sumber suara itu. Terlihat Aditya dan Aditama yang tadi berada lumayan jauh dari mereka, saat ini sudah berdiri di belakang mereka.
"Benar apa katamu anak muda.., aku yang belum lama mengenal Chakra Ashanka juga mengangkat tangan untuknya. Anak itu memiliki kekuatan yang tidak kita duga, bahkan kami kaum yang lebih tua, mengakui kekuatannya. Dengan arif dan bijaksana, anak muda seusia itu sudah dapat menutupi kekuatannya dengan sangat rapi. Betul-betul calon pemimpin di masa depan yang akan bisa diandalkan." dengan tulus, Widayat turut berkomentar tentang Chakra Ashanka.
Bahkan beberapa orang yang sempat bersitegang dengan Chakra Ashanka sejak dari luar bangunan candi, maupun di dalam candi, juga mengangguk hormat pada anak muda itu. Akhirnya mereka mengucap syukur, mereka tidak jadi beradu kekuatan dengan Chakra Ashanka.
__ADS_1
Melihat bagaimana orang-orang terkagum dengan upaya yang dilakukan Chakra Ashanka, akhirnya sedikit membuat hati Niken Kinanthi menjadi tenang. Melihat anak muda itu, memang mengingatkan perempuan itu pada ayahndanya Wisanggeni. Laki-laki yang tanpa sepengetahuan mereka, sudah dijodohkan dengannya sejak mereka masih kecil. Karena ambisi masa mudanya, tanpa sengaja Niken Kinanthi membatalkan pertunangan itu secara sepihak. Akhirnya hanya penyesalan yang kini dirasakannya, dan Niken Kinanthi tersenyum kecut.
"Ada apa Nimas.., apa yang kamu pikirkan?" tanpa gadis itu ketahui, ternyata Pangeran ABhiseka menangkap perubahan pada raut wajah Niken Kinanthi.
"Bukan apa-apa Pangeran.., hanya saja aku mencoba menekan rasa khawatirmu pada anak muda itu." dengan gugup, Niken Kinanthi menjawab pertanyaan Pangeran Abhiseka. Laki-laki itu tersenyum, kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke tempat Chakra Ashanka berada,
********
Chakra Ashanka menatap tangga untuk menuju ke puncak bangunan candi dengan pandangan tajam. Naga terbang dan Singa Ulung hanya bertahan sampai ke ruangan yang ada di lantai ke lima. Kedua binatang itu memilih untuk menyerah karena tidak mau menambah beban Chakra Ashanka, Anak muda itu mengambil nafas panjang, kemudian menghembuskannya lagi secara perlahan. Ketika Chakra Ashanka mencoba untuk mengangkat salah satu kakinya ke anak tangga yang paling bawah, seperti ada batu yang denga erat bersangga padanya. Anak muda itu tidak mampu mengangkat anak kakinya, dan kembali menurunkan kakinya ke bawah.
Perlahan Chakra Ashanka memejamkan mata, kemudian menggerakkan aura dan energi dalam tubuhnya serta mengumpulkan di perut bagian dalam. Melalui gerakan tangannya, Chakra Ashanka mencoba mengendalikan energi yang sudah dikumpulkannya itu. Perlahan telapak tangan anak muda itu bergerak seperti mengarahkan energi ke arah mulutnya.
"Pufft..., aku ha..rus.. bisa..." dengan mengerahkan semua energinya, Chakra Ashanka mengangkat kaki kanannya ke atas. Sebuah terpaan angin dengan kekuatan memukul menghantam tubuh anak muda itu, dan tidak diduga tubuh Chakra Ashanka kembali terperosot ke bawah, Anak muda itu tersenyum kecut..
"Para leluhur Trah Bhirawa..., Trah Jagadklana.. restui cucumu ini. Berikan aku energi kalian, agar aku bisa naik ke puncak ke tujuh pada bangunan candi ini." Chakra Ashanka bergumam, dalam hatinya anak muda ini mengarahkan fokus pikirannya pada leluhur dari kedua orang tuanya.
__ADS_1
Tiba-tiba dari arah belakang, Chakra Ashanka merasa ada kekuatan yang menyokong dari arah punggungnya. Anak muda itu tersenyum, kemudian mencoba menaiki lagi anak tangga itu. Hal itu terjadi untuk beberapa kali, dan akhirnya anak muda itu berhasil menginjakkan kaki ke anak tangga ke tiga dari bawah.
Chakra Ashanka beristirahat, dan ketika mengarahkan pandangannya kembali ke atas, anak muda itu hanya tersenyum kecut. Masih banyak anak tangga yang akan dilaluinya, dan semakin ke atas, terpaan angin dan serangan semakin gencar terarah untuknya.
"Aku akan mencobanya lagi, tidak peduli apapun hasilnya.." gumam anak muda itu. Dengan semangat baru, anak muda itu kembali menaiki anak tangga.
Sebuah tekanan seperti sebuah lempeng besi yang berat seakan menghimpit dada dan punggungnya. Darah sudah merembes keluar, tetapi anak muda itu hanya mengabaikannya. Tatapan matanya berkilat, dan melihat ke arah puncak dengan penuh minat yang besar. Orang-orang yang ada di bawah melihat penderitaan yang dialami anak muda itu dengan pandangan prihatin. Tetapi tidak ada yang bisa mereka lakukan.
"Hmmm..., aku bisa.., aku bisa.." anak tangga demi anak tangga sudah berhasil dilewati oleh Chakra Ashanka. Darah yang mengalir, dan bahkan baju yang sudah mulai robek sama sekali tidak diperhatikan olehnya. Semua energi yang ada di dalam tubuhnya sudah anak muda itu keluarkan.
"Ashan... menyerahlah. Turunlah...!" teriakan khawatir dari teman-teman terdengar di telinga anak muda itu. Tetapi sedikitpun anak muda itu tidak menggubrisnya.
"Tinggal satu anak tangga lagi.." gumam Chakra Ashanka dengan pandangan mata yang sudah kabur, dan dengan perasaan berat, anak muda itu akhirnya terjatuh pingsan tepat di anak tangga terakhir.
***********
__ADS_1