Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 420 Memilih Masa Depan


__ADS_3

Parvati saat ini juga tidak bisa memahami perasaannya sendiri. Teman masa kecilnya, datang ke kamarnya malam-malam, dan sejak tadi berbicara yang tidak diketahui akan berakhir dimana. Untuk memupus perasaan dan pikiran yang berkelebat kemana-mana, cara yang paling baik adalah meminta anak muda itu untuk segera keluar dari dalam kamarnya. Parvati akan berdalih menggunakan ayahnda dan ibundanya sebagai alasan, agar Bhadra Arsyanendra segera keluar dari dalam kamar tersebut.


"Kang Bhadra.. terlalu dini kita berbicara tentang apa yang sejak tadi kakang ungkapkan. Saat ini, usia Parvati baru akan mendekati lima belas warsa, belum bisa mencerna dengan baik apa yang kakang tadi sampaikan kepadaku. Jika kang Bhadra akan menjaga nama baikku, nama keluarga Wisanggeni dan bunda Rengganis, Nimas hanya bisa menyarankan. Pergilah dari kamar ini kakang, meskipun hal ini terdengar lancang. Seorang tamu, mengusir yang punya rumah.." Parvati tersenyum, dengan gugup gadis itu mencoba meminta laki-laki itu untuk segera keluar dari dalam kamarnya.


Bhadra Arsyanendra terdiam sebentar, tetapi sepertinya anak muda itu dapat memahami apa yang diucapkan oleh gadis itu. Beberapa saat kemudian, anak muda itu sudah berdiri dan masih menatap Parvati. Seakan ada keengganan untuk pergi keluar kamar meninggalkan gadis itu, teman di saat masa kecilnya. Padahal ketika mereka masih berusia kecil, sudah menjadi hal yang biasa terkadang mereka tertidur bersama. Mereka sering menghabiskan waktu berdua, terutama mereka berada dalam tempat pengungsian. Namun.. bertambahnya usia mereka, ternyata menjadi penghalang mereka untuk kembali menghabiskan waktu bersama.


"Apa lagi yang kakang tunggu..?" dengan suara lirih, Parvati kembali mengingatkan anak muda itu. Anak muda itu melihat ke arah gadis itu, dan tampak kecemasan di  wajah cantik Parvati.


"Baiklah aku akan keluar dari dalam kamarmu Nimas.. ingatlah perkataan yang aku ucapkan tadi. Mau tidak mau.. aku sudah memberikan batasan untukmu." Bhadra Arsyanendra menatap netra Parvati, Setelah mengucapkan kalimat terakhir, anak muda itu mulai melangkahkan kaki menuju ke arah pintu. Ada rasa enggan untuk laki-laki itu, tangannya berhenti sejenak, tidak segera membuka pintu keluar.


"Kang.." ucap Parvati singkat, gadis itu melihat punggung Bhadra Arsyanendra yang berdiri memunggunginya.


Anak muda itu tersenyum kecut, ada rasa enggan untuk keluar. Namun mendengar kembali peringatan dari gadis muda itu, Bhadra Arsyanendra segera membuka pintu kamar, kemudian laki-laki itu melangkah keluar dari dalam kamar. Melihat laki-laki itu sudah tidak ada lagi di dalam kamarnya, Parvati segera beranjak turun dari atas dipan. Gadis itu bergegas untuk menutup pintu kamar, dan memasang pengait kayu kembali untuk mencegah jika anak muda itu akan masuk kembali ke dalam kamarnya,


"Ada apa dengan kedatangan dan kata-kata dari kang Bhadra tadi. Apakah anak muda itu tidak menyadari, berapa usia kita saat ini. Belum ada kepantasan untuk berbicara hal-hal yang membingungkan seperti tadi." kembali gadis itu berpikir. Meskipun hati kecilnya Parvati dapat merasakannya, namun gadis itu segera menghapus pikirannya.

__ADS_1


"Kukuruyuk... kukuruyuk.." tiba-tiba terdengar ayam jago aduan yang dipelihara di dalam taman kerajaan.


"Aku harus kembali tidur, karena sebentar lagi hari akan menjelang pagi." Parvati bergumam, dan gadis itu kembali berusaha untuk menutup matanya kembali. Tidur.. adalah satu-satunya yang menjadi tujuannya malam ini.


******


Di Luar Kamar


Bhadra Arsyanendra terkejut melihat ada sosok laki-laki yang berdiri menatapnya dengan pandangan tajam. Muncul rasa marah dalam hatinya melihat ada orang yang berani menatapnya dengan demikian. Namun tiba-tiba anak muda itu merasa khawatir, setelah menajamkan penglihatannya. Terlihat ayahnda Parvati, yaitu Wisanggeni seakan telah menunggu kedatangannya, dan keluar dari dalam kamar putrinya.


Wisanggeni tersenyum, tetapi senyuman itu  seperti seringai dilihatnya oleh anak muda itu. Laki-laki itu melambaikan tangan seakan mengajak Bhadra Arsyanendra kemudian keluar dari dalam ruangan tersebut. Bhadra Arsyanendra mengambil nafas panjang, tetapi untuk mengurai kesalah pahaman, anak muda itu mengikuti langkah laki-laki dewasa itu. Setelah beberapa saat mereka berjalan, Wisanggeni mengajak raja kerajaan logandheng itu untuk berhenti dan memintanya duduk di kursi panjang yang ada di tengah taman.


"Duduklah Kanjeng Sinuhun.." suara Wisanggeni terasa sakit seakan memberikan sindiran pada anak muda itu.


Bhadra Arsyanendra sedikit terhenyak, namun kemudian mengikuti permintaan dari laki-laki itu. Anak muda itu seakan sudah siap untuk mendapatkan hukuman atau teguran dari ayahnda gadis yang baru saja dikunjunginya itu. Memang secara adat istiadat, tidak sopan dan bertentangan dengan norma masyarakat ketika mendatangi kamar seorang gadis. Anak muda itu siap untuk menerima teguran dari Wisanggeni,

__ADS_1


"Saya siap untuk mendengarkan amarah dari paman Wisanggeni, tapi jangan panggil saya dengan panggilan keramat itu." ucap Bhadra Arsyanendra sambil memberanikan diri menatap mata laki-laki itu.


Wisanggeni menatap balik anak muda itu, kemudian laki-laki itu duduk di samping Bhadra Arsyanendra. Beberapa saat mereka duduk, tidak ada pembicaraan apapun di antara mereka, dan membuat anak muda serba salah.


"Paman.. ampuni kelancangan saya, karena telah berani mengunjungi kamar nimas Parvati di tengah malam ini. Semua saya lakukan, karena Bhadra tidak mampu lagi menahan kata untuk segera disampaikan pada Nimas Parvati. Percayalah paman.. tidak terjadi apa-apa antara Bhadra dengan putri paman.." Bhadra Arsyanendra memberanikan diri mengakui kesalahan pada laki-laki itu.


"Aku akui sifat jantanmu Raden Bhadra.. apa yang terjadi di dalam kamar putriku, apakah kamu berpikir aku tidak mengetahuinya. Mungkin saat ini, aku sudah mengamuk dan akan meluapkan amarah kepadamu, jika kamu berani bertindak kurang ajar terhadap putriku. Untuk itu.. aku memilih untuk menunggumu di luar kamar tempat beristirahat Parvati." dengan tegas, Wisanggeni menanggapi perkataan anak muda itu.


Mendengar ucapan tegas laki-laki itu, Bhadra Arsyanendra menurunkan wajahnya ke bawah. Anak muda itu mengambil tangan Wisanggeni, kemudian menciumnya dengan maksud agar laki-laki itu memberinya ampun,


"Ampuni kebodohan anak muda ini paman Wisang.., karena sudah melakukan perbuatan bodoh, dan juga menghasilkan rasa amarah dari Nimas Parvati. Namun.. ampuni Bhadra paman, sampai kapanpun Bhadra akan menantikan Nimas Parvati untuk bersedia menerima anak muda ini." mendengar keberanian anak muda itu menyampaikan kata-kata, Wisanggeni menjadi terkejut. Tidak diduganya, anak muda yang masih memiliki usia di bawah putranya Chakra Ashanka, ternyata bisa bertindak sebagai seorang laki-laki dewasa.


"Baiklah Raden.. aku dapat menerima sikap jantanmu ini. Tapi perlakukan dan hormatilah seorang perempuan, siapapun itu, karena mereka layak dan memang harus dijaga dan dihormati. Namun.. ke depan, aku tidak akan pernah memaksakan kehendak pada putra dan putriku. Mereka sudah layak untuk menentukan akan di bawa kemana masa depan mereka." Bhadra Arsyanendra terkejut, ternyata paman Wisanggeni tidak marah, malah menyampaikan pesan yang akan selalu diingatnya.


***********

__ADS_1


__ADS_2