
Melihat apa yang dialami kedua orang tua itu, selain memberikan makanan kering untuk bertahan, Chakra Ashanka juga mengeluarkan beberapa pil herbal buatan Wisanggeni untuk diberikan kepada keluarga itu. Semua yang berada di dalam gubug, menatap anak muda itu dengan pandangan tidak percaya. Hanya orang-orang kaya dan para tuan tanah, yang selama ini memiliki dan mampu mendapatkan pil herbal. Tetapi saat ini di depan mata mereka, banyak terdapat pil herbal, dan anak muda itu memberikan kepada mereka secara percuma.
"Ki Sanak.., apa maksudnya semua ini..?? Kami tidak memiliki apapun untuk dapat dipertukarkan dengan pil herbal ini. Merupakan keniscayaan bagi kami, bahkan hanya untuk menghirup aromanya." dengan tersengal-lengal, laki-laki paruh baya itu berkata pada Chakra Ashanka.
Anak muda itu tersenyum, kemudian mendekat ke arah pasangan suami istri itu. Ketiga anak laki-laki dan perempuan kecil, menatap anak muda itu dengan pandangan takjub, dan sekaligus rasa malu. Mereka semula memiliki niat untuk berbuat baik kepada anak muda itu, tetapi saat ini malah anak muda itu memberi pertolongan pada keluarganya.
"Terimalah paman..., bibi.. semua ini tidak perlu membayarnya. Kebetulan ayahnda saya juga seorang peracik ramuan herbal, jadi jika pil herbal di tempat saya habis, ayahnda akan menyediakannya lagi." Chakra Ashanka memaksakan pasangan suami istri itu untuk menerimanya. Beberapa saat tidak ada pergerakan dari mereka, tanpa bicara Chakra Ashanka meraih tengkuk laki-laki paruh baya, kemudian memasukkan pil herbal ke dalam mulutnya. Begitu juga, anak muda itu juga memperlakukan hal yang sama kepada perempuan paruh baya itu.
Tidak lama kemudian, pasangan suami istri itu merasakan ada aliran hangat mengalir melewati kerongkongan, kemudian menurun dan masuk ke peredaran darahnya.
"Uhukk..., uhukk..." tiba-tiba pasangan suami istri itu terbatuk. Chakra Ashanka melihat kepada perempuan kecil itu untuk menyiapkan tempat, agar suami istri itu bisa muntah. Tidak berapa lama, kedua orang itu akhirnya memuntahkan semua isi yang ada di perutnya. Setelah Ratijo memberikan minuman hangat, kedua orang itu bisa kembali bernafas dengan lega. Tampak di wajah keduanya, rona merah yang menandakan jika tubuh keduanya sudah mulai terlihat segar.
"Bagaimana paman.., bibi.., apakah dada paman dan bibi masih terasa sakit..?" Chakra Ashanka kembali bertanya pada pasangan suami istri itu. Tangan anak muda itu menekan nadi di pergelangan tangan perempuan paruh baya itu.
__ADS_1
"Tidak Ki Sanak.., pil yang kamu berikan, betul-betul menyembuhkan penyakit kami, tanpa memerlukan waktu jeda. Hanya ucapan terima kasih yang bisa kami berikan kepada Ki Sanak, kami tidak akan bisa membalas apapun." air mata haru menetes di sudut mata pasangan suami istri itu.
"Paman.., bibi..., ayahnda dan ibunda Ashan selalu mengajarkan, agar kita selalu berbuat baik pada sesama manusia, dan bahkan kepada binatang dan tumbuhan. Suatu saat kita pasti akan selalu saling membutuhkan, jadi kepada siapapun, kita harus berbagi. Paman dan bibi tidak perlu risau, dan berpikir untuk membalas apa yang sudah saya lakukan untuk keluarga ini. Semua sudah dijodohkan dan digariskan oleh Hyang Widhi paman.., bibi." sambil tersenyum, Chakra Ashanka menanggapi perkataan kedua orang itu,
"Kang Ashan..., aku ingin mengabdi pada kang Ashan, sebagai balas budi atas kebaikan kang Ashan pada keluargaku." tiba-tiba perempuan kecil bernama Ratih ikut menyela pembicaraan.
Ketiga kakak laki-laki Ratih terkejut dan saling berpandangan. Mereka sama sekali tidak mengira, jika adik perempuannya memiliki keberanian untuk berbicara.
"Ratih.., jaga perkataanmu. Apakah kamu tidak berpikir dulu sebelum bicara..?" Ratno langsung memberi teguran kepada anak perempuan kecil itu.
Chakra Ashanka tersenyum, kemudian anak muda itu mengingat Parvati, putri dari ibunda Maharani. Tiba-tiba muncul keinginan di hati kecilnya, ingin menjadikan Ratih sebagai pendamping untuk Parvati adik perempuannya.
"Apakah benar apa yang kamu katakan Ratih...? Perjalananku bukan perkara yang mudah, aku akan melewati banyak gunung, bukit untuk menuju ke tempat tinggal keluargaku. Apakah kamu memiliki keberanian untuk menempuh perjalanan itu denganku..?" Chakra Ashanka mencoba menguji keteguhan hati perempuan kecil itu. Tidak diduga, dengan mantap Ratih menganggukkan kepalanya ke bawah, anak perempuan itu menyanggupi tawaran yang diberikan Chakra Ashanka.
__ADS_1
"Baiklah jika begitu Ratih. Aku tidak memiliki waktu untuk beristirahat di tempat ini. Jika kamu mampu dan sanggup, segera bereskan perlengkapanmu, kita akan segera berangkat." anak muda itu segera mengajak Ratih untuk bersiap.
"Aku sudah siap Kang Ashan.., aku tidak memiliki barang apapun. Bahkan untuk pakaian yang aku kenakan, aku berganti dan bertukar pakaian dengan simbok. Hanya peralatan ini yang aku miliki .." Ratih menundukkan wajahnya, gadis kecil itu malu ketika menjawab pertanyaan yang diberikan Chakra Ashanka.
Anak muda itu melirik sebuah pisau kecil yang ada di tangan Ratih, sebuah pisau dengan gagang terbuat dari kayu yang diukir kasar. Tetapi meskipun pisau kecil itu sangat sederhana, Chakra Ashanka seperti melihat ada kekuatan yang tersembunyi di dalam pisau kecil itu,
"Paman.., bibi... Ratih yang sudah memutuskan untuk mengikuti saya, dan bukan saya yang menawarkannya untuk ikut serta. Semua saya kembalikan kepada paman danĀ bibi.., juga diijinkan saya akan membawa pergi Ratih. Kebetulan saya juga memiliki satu adik perempuan bernama Parvati, Ratih bisa menemani dan menjaga adik saya. Namun.., jika paman dan bibi tidak mengijinkan, maka saya akan menolak Ratih untuk turut serta." dengan sopan, karena melihat masih ada kedua orang tua gadis kecil itu, Chakra Ashanka meminta ijin pada keduanya.
"Bawalah nak..., aku titipkan Sekar Ratih kepadamu.. Latihlah dengan tata krama, dan etika.. agar putriku juga mengerti tentang kehidupan di dunia luar. Kami memberimu ijin untuk membawa putriku nak Ashan.." suara bergetar ayahnda Ratih menjawab perkataan Chakra Ashanka.
Ketiga kakak laki-laki Ratih, langsung mendekat kepada adik perempuannya, kemudian mereka bertiga memeluk adik bungsunya itu dengan erat. Chakra Ashanka tersenyum kecut melihat pemandangan itu,
Beberapa saat kemudian, setelah selesai bersiap akhirnya Chakra Ashanka berpamitan kepada keluarga itu. Kelima orang itu menghantarkan kepergian Chakra Ashanka dan Sekar Ratih sampai di depan gubuk tempat tinggal mereka. Tidak mau banyak membuang waktu, Chakra Ashanka menggandeng tangan Ratih kemudian pergi melompat, dan dalam sekejap mata mereka sudah tidak terlihat di hadapan kelima orang itu. Kedua tubuh anak itu, sudah hilang ditelan pepohonan besar di pinggir hutan tersebut.
__ADS_1
**********