Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 326 Serangan di Tapal batas


__ADS_3

Rengganis mempercepat lompatannya, dengan menggelar selandang berwarna hijau. Kepanikan membayang di wajahnya, melihat suar berwarna merah api melayang di udara. Tanpa melihat ke belakang, bahkan rencana untuk mampir ke padhepokan dengan segera perempuan itu batalkan. Dalam pikiran perempuan itu, hanya bagaimana mengamankan para murid yang berada di tapal batas.


"Srettt... jleb...." lambaian selendang berwarna hijau terbentang, dan menghalau serangan dari pasukan kerajaan Logandheng. Tanpa sedikitpun senyum di wajahnya, Rengganis melompat ke depan murid-muridnya. Mata perempuan itu menyipit, melihat beberapa muridnya menjadi korban. Darah segar berceceran kemana-mana. tetapi perempuan itu tidak memiliki waktu untuk memperhatikannya,.


"Trang..., trang... brukkk..." puluhan pedang terhambur ke tanah di babat habis oleh selendang berwarna hijau tersebut. Tetapi rupanya, pasukan kerajaan Logandheng seperti tidak ada habisnya. Dari depan, puluhan orang kembali menyerbu masuk ke dalam gerbang kayu perguruan Gunung Jambu, menggantikan pasukan yang sudah terpukul mundur.


"Keselamatan diri kalian menjadi yang utama..." Rengganis berbagi fokus serangan.dengan menatap para murid yang terjatuh dan terluka, tetapi di satu sisi, perempuan itu juga harus menghalau serangan yang bertubi.


"Den Ayu,.. bagaimana dengan Den Ayu jika kami mundur menyelamatkan diri..?" terdengar teriakan murid mengkhawatirkan keadaan Rengganis.


"Mundur dan bersembunyilah.. jangan pedulikan aku. Aku akan bisa menjaga diriku sendiri." Rengganis berteriak, mencoba untuk menyadarkan para murid. Beberapa murid diam terpaku, ada yang ingin mengundurkan diri, tetapi bagaimana melihat Rengganis menghalau musuh untuk tidak masuk terlalu dalam ke wilayah perguruan, menjadikan mereka menjadi ragu-ragu.


Sambil berteriak, kedua tangan Rengganis membentuk sebuah pola serangan, sebuah kanuragan dari Trah Jagadklana yang belum pernah dia gunakan selama berada di perguruan Gunung Jambu, Raut wajah Rengganis yang semula terlihat lembut, tiba-tiba berubah menjadi ke arah merah. Tiba-tiba saja, tubuh perempuan itu melompat ke atas, dan terbang menggunakan alat apapun.


"Jagad bayu samudro.... seranglah..." terdengar teriakan dari Rengganis, kedua tangannya diayunkan dari arah kiri menuju ke arah kanan. Dengan gerakan lembut memutar, angin kencang keluar dari ayunan tangan tersebut. Angin itu menyerbu dan menyapu keras ke arah pasukan yang berlari masuk ke dalam gerbang perguruan Gunung Jambu.


"Aakhhh.... aaaaw...." teriak kesakitan muncul dari pasukan kerajaan Logandheng. Tetapi tidak diduga, gelombang pasukan kembali datang menyerbu masuk ke dalam.

__ADS_1


"Yooo... yoooo.... serbu perguruan Gunung Jambu...." suara gemuruh masuk ke dalam perguruan tersebut. Dari belakang pasukan tersebut, tampak senyum sinis seorang laki-laki yang memberi perintah pasukan itu untuk memberi serangan. Laki-laki itu adalah Senopati Wiroyudho, putra sulung dari Patih Wirosobo, kakak laki-laki dari Anggoro.


Hanya berdiri sendiri menghadapi lonjakan pasukan yang sepertinya bertambah banyak, menjadikan pikiran perempuan itu menjadi bercabang. Di satu sisi, perempuan itu ingin menyerang pasukan itu, tetapi kondisinya merasa sendirian. Sedangkan disisi lain, para murid perguruan sudah banyak yang terluka, tetapi terlihat mereka belum mau untuk mengundurkan dirinya. Mereka sepertinya ingin terus bersama dengan Rengganis, guru mereka melawan pasukan dari kerajaan Logandheng.


"Mundur..., selamatkan diri kalian...!" kembali Rengganis berteriak, tangan kirinya melempar selendang untuk melindungi murid-muridnya agar berlari untuk menyelamatkan diri,


"Pusatkan serangan ke arah perempuan itu,,," terdengar teriakan dari salah satu pasukan kerajaan. Tanpa diduga, beberapa pasukan melemparkan senjata mereka ke atas, mencoba untuk menyerang Rengganis. Gegap gempita suara pasukan kerajaan, menjadikan fokus Rengganis menjadi pecah. Bagaimanapun saktinya perempuan itu, tetapi hanya seorang diri melawan puluhan orang tidak ada hentinya, akhirnya membuat perempuan itu kewalahan. Energinya terbagi-bagi untuk menghalau serangan ke arah para murid, juga harus menghalau serangan yang mengarah kepada dirinya.


*********


Beberapa saat kemudian,


"Jueglar... booommmm....." terdengar suara ledakan keras di area pondhok penginapan tersebut.


"Aaaaawww..., tolong..., tolong.." terdengar jerit kesakitan meminta pertolongan dari sebagian murid, maupun sebagian warga desa perempuan yang bersembunyi di pondhok tersebut.


Rengganis langsung melompat turun, perempuan itu akan menuju ke tempat terjadinya ledakan. Tetapi tiba-tiba. sekelebat bayangan berhenti di depan perempuan itu, kemudian menatap Rengganis dengan senyum dan tatapan tajam.

__ADS_1


"Mau kemana kamu Den Ayu Rengganis.., istri dari Guru Wisanggeni.. Sesakti apapun dirimu, kita akan lihat, sampai kapan dan sampai dimana kamu bisa bertahan untuk melawan pasukanku. Ha.., ha..., ha..." laki-laki yang menghadang langkah Rengganis, berbicara sambil tertawa terbahak.


"Jueglarr..., bluamm...." tanpa menjawab, Rengganis mengirimkan serangan ke arah laki-laki itu, tetapi dengan cepat laki-laki itu berkelit menghindari serangan. Tampak kekhawatiran dan kepanikan membayang diĀ  wajah perempuan itu.


Rengganis menatap wajah laki-laki di depannya itu dengan tatapan menyipit. Melihat ekspresi menjijikkan yang diperlihatkan laki-laki itu, menjadikan perempuan itu menjadi muak.


"Menyingkirlah dari hadapanku..., atau akan aku jadikan tubuhmu menjadi daging panggang di perguruanku.." Rengganis berteriak memberi ancaman pada laki-laki itu. Tangan kanan perempuan itu sudah dilapisi dengan kekuatan dan aura kuat, dan Rengganis memutar-mutarkan tangannya itu, mencoba menunjukkan pada laki-laki itu, bagaimana kesaktian yang dimilikinya.


"Den Ayu Rengganis..., tolong kami Den Ayu..." tiba-tiba terdengar teriakan dariĀ  warga masyarakat kerajaan Logandheng, yang bersembunyi di perguruan itu, meminta pertolongan pada perempuan itu. Tidak mau menghabiskan waktu, Rengganis melemparkan serangan, dan menyerempet lengan bagian atas dari laki-laki yang menghadangnya itu.


"Kurang ajar.., perempuan tidak tahu diuntung..." teriakan kemarahan diarahkan laki-laki itu pada Rengganis. Tetapi perempuan itu sudah melompat dan berlari untuk memberikan pertolongan pada warga desa. Laki-laki itu berlari mengejar keberadaan Rengganis....


"Srett... bluamm..." angin kencang menghalau pasukan kerajaan yang akan mendekat dan memberi serangan kepada warga masyarakat yang mengungsi ke situ.


"Trap.., trap... bluar.." tiba-tiba sebuah serangan menghantam ke punggung Rengganis. Dengan mata berkilat, Rengganis berusaha menahan serangan itu, dengan cepat perempuan itu membalikkan badan menatap laki-laki itu dengan pandangan tajam. Tangan kiri Rengganis dengan cepat menyelinap masuk, dan mengeluarkan sebuah pisau bermata tiga. Dengan tersenyum sinis.., Rengganis melemparkan pisau tersebut ke arah laki-laki itu.


"Clap..., clap..., kurang ajar.. aakhh..." lemparan Rengganis ternyata tepat, dengan cepat pisau bermata tiga itu menancap di dada laki-laki itu. Tidak berhenti sampai disitu, kedua tangan Rengganis membuat sebuah gerakan, seperti sedang menarik sesuatu. Tidak diduga, dengan cepat, pisau bermata tiga tertarik keluar dari tubuh laki-laki, itu dengan daging dan darah segar terbawa di mata pisau tersebut,

__ADS_1


***********


__ADS_2