Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 129 Keanehan


__ADS_3

Dengan alasan untuk melindungi bayi yang saat ini sedang dikandung Rengganis, Wisanggeni menunda kepergiannya ke Trah Jagadklana untuk menyelamatkan ibundanya. Tetapi niat baiknya itu kurang disambut baik oleh Rengganis.


"Nimas.., bukan maksud Akang tidak segera membebaskan ibunda dari cengkeraman Laksito  dan anak buahnya. Tetapi kondisi kita yang belum memungkinkan, tidak akan sampai satu purnama, putra kita akan segera lahir. Akang tidak tega untuk meninggalkanmu sendiri Nimas." Wisanggeni mencoba menenangkan hati Rengganis, karena apa yang Akang sampaikan adalah benar adanya.


Rengganis diam tidak menanggapi ucapan Wisanggeni, sebenarnya hatinya juga membenarkan apa yang sudah disampaikan oleh suaminya. Tetapi kekhawatiran akan nasib ibundanya, membuatnya kehilangan akal sehat.


"Tapi Nimas sangat khawatir dengan keselamatan Ibunda Akang. Rengganis sangat merindukannya." ucap Rengganis lirih, air mata mulai mengalir dari sudut matanya. Wisanggeni mendekati istrinya, jari tangannya menghapus air mata yang mengalir tersebut.


"Akang juga mengkhawatirkan dirimu Nimas. Apakah Nimas mau Akang tinggalkan sendiri, jika Nimas mau..., Akang akan meninggalkan Nimas di pesanggrahan pada perbukitan Gunung Jambu. Akang akan membawamu kembali, dan mengajak beberapa orang untuk menemani Akang menuju Trah Jagadklana." akhirnya setelah menghela nafas, Wisanggeni mencoba mengusulkan jalan keluar.


Sebenarnya Rengganis ingin mengikuti Wisanggeni, dia sudah tidak mau ditinggal pergi suaminya sendiri. Tetapi mengingat perjalanan yang panjang, dan tidak mengetahui bagaimana keadaan di Jagadklana saat ini, akhirnya dengan terpaksa Rengganis menuruti usulan dari Wisanggeni.


"Mungkin sebaiknya kita berpisah disini Akang, agar perjalanan Kang Wisang tidak terhambat. Rengganis bisa kembali ke pesanggrahan dengan Singa Resti. Akang bisa membawa Singa Ulung untk mengantarkan Akang ke Jagadklana." ucap Rengganis tiba-tiba. Wisanggeni terkejut dengan perkataan yang diucapkan istrinya.


"Apakah Nimas sadar dengan apa yang baru saja dikatakan?? Akang akan mengantarmu terlebih dulu ke perbukitan Gunung Jambu, dan akan membawa beberapa orang untuk ikat serta. Akang juga yakin Nimas, ayahnda dan Jagasetra sudah dalam perjalanan menuju Jagadklana. Kamu jangan terlalu mengkhawatirkan keselamatan Ibunda." Wisanggeni mematahkan usulan Rengganis. Akhirnya dengan menundukkan kepala, Rengganis menerima usulan dari suaminya tersebut.


"Terserah Akang saja, apa yang menurut Akang yang paling baik." dengan lirih, Rengganis mengikuti ucapan Wisanggeni.

__ADS_1


"Sekarang.., marilah kita istirahat dulu Nimas. Besok pagi.., kita akan kembali melanjutkan perjalanan kita yang masih panjang." sambil merangkul pundak Rengganis, Wisanggeni membawa istrinya untuk membaringkan tubuhnya di ranjang.


**************


Dua binatang singa akhirnya kembali terbang di angkasa sambil membawa pasangan suami istri, yaitu Wisanggeni dan Rengganis. Saat fajar menyingsing, mereka sudah meninggalkan penginapan untuk kembali menuju ke pesanggrahan. Tetapi dalam perjalanannya, terlihat dari atas ada sebuah keanehan di sebuah akademi tempat Wisanggeni beberapa hari tinggal disana. Disulut oleh rasa penasarannya, Singa Ulung memberi kode pada Singa Ulung untuk melihat-lihat keadaan.


"Turunkan kami sebentar Ulung.., aku ingin melihat ada hal apa dibawah sana? Akademi tempat awal aku berniat menuntut ilmu, seperti terlihat ada keanehan disitu." Wisanggeni meminta Singa Ulung untuk menurunkannya, meskipun hanya sebentar Wisanggeni merasakan kehidupan sebagai murid di akademi itu, tetapi laki-laki itu tiba-tiba tertarik untuk melihat kondisinya. Danau dan hutan kecil yang biasanya ditempati beberapa penjaga dan senior, dan beberapa binatang yang memiliki kekuatan magic biasa berseliweran, saat ini seperti tidak terlihat lagi.


Singa Ulung menukik turun, dan diiikuti Rengganis yang turut merasa penasaran dengan apa yang akan dilihat suaminya. Tanpa banyak bicara, Rengganis menepuk Singa Resti untuk membawanya turun mengikuti Wisanggeni.


"Clap..., pang.." dengan cepat, tangan Rengganis bereaksi, saat melihat sebuah serangan dikirim pada mereka. Wisanggeni menyipitkan matanya, memberi kode pada Rengganis untuk tidak mengejar pelakunya. Mereka kemudian berjalan beriringan, dan tiba-tiba Wisanggeni melompat..


"Jangan berlari Ki Sanak.., aku dulu murid di Akademi ini. Namaku Wisang.." untuk mencegah, orang yang baru saja dia tangkap melarikan diri, Wisanggeni memberi tahu identitasnya. Orang itu mengangkat wajah, dan melihat ke wajah Wisanggeni.


Melihat tatapan itu, Wisanggeni tersenyum kemudian menganggukkan kepala.


"Jangan takut.., aku hanya ingin mencari tahu. Apa yang terjadi di tempat ini.., kenapa aku melihat seperti ada yang aneh di perguruan ini?" ucap Wisanggeni meyakinkan orang itu. Dengan gemetar, tiba-tiba laki-laki itu menunjuk ke arah pilar kekuatan. Tempat berlatih para murid yang menuntut ilmu disitu, dengan melewati tangga dan tahapan demi tahapan.

__ADS_1


"Apa yang terjadi di dalam pilar kekuatan itu?" tanya Wisanggeni segera, dan orang yang barusan dia tangkap itu tiba-tiba gemetar ketakutan. Dari arah belakang, tiba-tiba Rengganis menotok satu syaraf di bawah tulang lehernya.


"Tempat ituuu... sekarang bukan menjadi milik Akademi lagi. Seseorang sudah merebutnya..." ternyata syaraf laki-laki itu dibuat agar dia tidak bisa bicara. Terlihat kebahagiaan nampak jelas di wajahnya, saat dia bisa mendengar suaranya kembali. Rengganis tersenyum, demikian juga Wisanggeni.


"Jika kami diperbolehkan tahu, siapa yang merebut Pilar Kekuatan itu? Dan digunakan untuk apa di dalamnya?" Wisanggeni kembali bertanya. Laki-laki itu melihat ke sekelilingnya.


"Jangan khawatir.., kami akan melindungimu." seperti mengetahui ketakutan orang tersebut, Rengganis dengan cepat berbicara padanya.


"Pilar Kekuatan itu dikuasai oleh orang-orang dari Trah Jagadklana. Hal itu terjadi, saat pemimpin Trah yang baru mengirimkan banyak anak mudanya untuk belajar disini. Mengingat nama Ki Sasmita pemimpin dari trah itu, Guru langsung menerimanya. Tetapi seperti yang saat ini Ki Sanak lihat.., guru sudah diasingkan oleh orang-orang itu, dengan paksa murid-murid diminta kembali ke asal wilayah masing-masing." laki-laki itu menceritakan semua.


Mendengar cerita tersebut, raut wajah Rengganis berubah menjadi merah menahan marah, menyadari itu, Wisanggeni menggenggam tangan istrinya. Laki-laki muda itu mengingat keberadaan saudaranya dari Klan Mahesa, yaitu Gayatri, Niluh dan Sentono. Selain mereka, Wisnuadji juga ikut menyusul untuk menimba ilmu di perguruan itu. Klan Mahesa sudah pindah karena dihancurkan oleh Gerombolan Alap-alap dan saat ini berada di kota Laksa.


"Ada apa Kang.., apakah ada yang mengganggu pikiran Akang?" melihat perubahan ekspresi Wisanggeni, dengan cemas Rengganis bertanya pada suaminya.


"Bukan apa-apa Nimas.., Akang hanya teringat dengan saudara-saudara kita saat di Klan Mahesa dulu. Gayatri, Niluh dan Sentono, serta Wisnuadji dulu juga menimba ilmu di perguruan ini. Ada dimana mereka.." ucap Wisanggeni lirih.


***************

__ADS_1


__ADS_2