Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 458 Masih Berusaha


__ADS_3

Setelah meninggalkan uang untuk pembayaran penginapan pada pelayan, dini hari Chakra Ashanka mengajak ketiga temannya untuk meninggalkan tempat tersebut. Karena mereka tidak mau untuk mengisi perut mereka terlebih dahulu, akhirnya pelayan memberikan bekal makanan siap santap kepada mereka, selama di perjalanan. Pelayan sudah dipesan dari pemilik penginapan untuk memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya pada ke empat anak muda itu.


"Kang Ashan.. kita akan berjalan kaki, atau menggunakan kedua binatang itu untuk menuju arah yang ditunjukkan oleh pemilik penginapan." Sekar Ratih bertanya pada anak muda itu.


"Kita keluar dulu dari tempat ini, setelah berada di pinggiran kota, kita akan gunakan Singa Resti dan naga terbang untuk menemani kita. Berada di tempat asing, dan kita dikejar waktu untuk segera menyelamatkan ayahnda dan ibunda, tidak bisa membuatku untuk berpikir jernih Nimas.." Wisanggeni menanggapi pertanyaan Sekar Ratih.


"Iya kakang.. aku memahami pilihanmu. Mari kita segera berangkat, mumpung jalanan sudah sepi, sehingga kepergian kita berempat tidak menimbulkan pertanyaan dari orang banyak.." sahut Sekar Ratih tidak memperpanjang pertanyaannya.


Ke empat anak muda itu segera mengikuti jalan, dengan mengambil arah ke pinggiran kota. Semula, mereka berencana untuk beristirahat di penginapan barang dua hari. Tetapi perasaan tidak enak yang menghantui pikiran Chakra Ashanka, memaksa mereka untuk merubah rencana. Untungnya ke tiga anak muda yang berjalan bersamanya, hanya mengikuti dan tidak menghalangi perubahan rencana itu.


Ketika mereka sudah sampai di pinggir kota, Chakra Ashanka mengajak ketiga temannya untuk berhenti. Anak muda itu kemudian mengeluarkan dua binatang peliharaannya, dan tidak lama kemudian kedua binatang itu sudah berubah menjadi binatang besar, dan siap untuk mengantarkan mereka pergi.


"Kita pergi dengan posisi seperti semula.. dan kita tidak akan memiliki waktu untuk beristirahat. Jika kalian merasa lapar, makanlah bekal yang tadi dibawakan oleh pelayan penginapan, ketika kalian berada di atas punggung binatang yang akan membawa kita. Manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Karena sesuai dengan yang pada awal aku sampaikan, jika perjalanan kita ini akan berbahaya. tetapi kalian bertiga tetap memutuskan untuk mengikutiku." ucap Chakra Ashanka perlahan,


"Baik kakang Ashan.. kita sudah menyiapkan hati dan rasa kita. Kami bertiga akan menuruti apa yang sudah kamu katakan. Tenanglah.. keberadaan kami bertiga tidak akan mempersulit atau memberatkanmu.." ucap Bhadra Arsyanendra akhirnya. Kedua gadis muda itu turut menganggukkan kepala, menyetujui ucapan raja kerajaan Logandheng itu.

__ADS_1


Chakra Ashanka tidak menanggapi perkataan dari teman-temannya itu. Anak muda itu segera melompat ke punggung Singa Resti, kemudian diikuti oleh Bhadra Arsyanendra. Melihat kedua teman laki-lakinya sudah berada di atas punggung SInga Resti, Ayodya Putri dan Sekar Ratih segera mengikutinya. Tidak lama kemudian, kedua gadis muda itu sudah berada di atas punggung Naga terbang. Beberapa saat, kedua binatang itu sudah membubung tinggi membelah malam yang masih tampak gelap,


*********


Di dalam Goa


Wisanggeni dan Rengganis merasa kewalahan mengendalikan energi dan kekuatan hitam dari goa kedua yang didatanginya. Meskipun berdasarkan arahan mereka, kabut hitam beracun sudah berhasil dibersihkan, tetapi mereka saat ini masih berurusan dengan energi dan kekuatan yang mengikat dua orang leluhur Alas Kedhaton yang ada di depannya. Tiga leluhur yang sudah berhasil bebas, berjalan dan berdiri di samping Wisanggeni dan Rengganis.


"Ijinkan aku membantu kalian berdua, cucu buyut.." salah satu dari leluhur mengangkat tangannya ke atas. Tampak energi yang meluap keluar dari dalam telapak tangannya, kemudian bercampur dengan energi yang keluar dari tangan Wisanggeni dan Rengganis.


"Sepertinya leluhur kita tidak mau tinggal diam, lihatlah dari tangan leluhur. Energinya yang perlahan mengalir keluar, ternyata bisa diterima dan bergabung dengan energi kedua penolong kita itu." dari luar goa, Ki Sancoko mengamati. Laki-laki itu berbicara pada sesepuh Alas Kedhaton yang juga berada di tempat tersebut.


Mereka semua akhirnya terdiam, dan ikut mengawasi pertarungan energi yang ada di dalam goa. Terlihat Wisanggeni sudah kewalahan menghadapi gempuran energi yang terus menerus membanjir keluar. Dengan sigap, Rengganis menari selendang kecil kemudian mengibaskan dan berusaha melindungi suaminya. Ketiga leluhur tidak mau ketinggalan. Ketiganya bahu membahu saling menutup celah kekurangan dari masing-masing mereka.


"Anak muda.. apakah kamu masuh sanggup untuk menghadapi kekuatan ini. Kami bertiga tidak akan dapat membantumu.. karena dengan energi kekuatan hitam ini, kami bertiga dulu berhasil ditawan oleh Gerombolan Alap-alap." ketiga leluhur terlihat meragukan kemampuan mereka.

__ADS_1


"Kita akan terus berusaha Eyang.. sudah sampai sejauh ini. Tidak akan ada manfaatnya, jika kita mundur kembali. Dengan mundurnya kita, aku yakin kekuatan ini akan semakin menguat, dan berusaha merasuki ke jasad orang-orang yang memiliki kekuatan. Aku kahwatir, hal ini akan menjadi kebangkitan baru dari Gerombolan Alap-alap." sambil menahan sakit, Wisanggeni menjawab tegas ucapan dari ketiga leluhur Alas Kedhaton itu.


"Nimas.. ikat energi yang sebentar lagi akan terlontar menggunakan ujung selendangmu.." Wisanggeni memberi aba-aba pada istrinya.


"Baik kakang..." sahut Rengganis cepat.


Wisanggeni mengangkat tangannya ke atas, dengan cepat pisau belati dengan gagang berwarna ungu kembali dilemparnya ke rantai energi yang mengikat dua leluhur di depannya.


"Clap jueglar... woosh..." terdengar ledakan yang keras dari tempat tersebut. Atap goa dimana mereka berada, sampai terlempar ke atas karena besarnya serangan itu. Tiba-tiba terlihat gumpalan kabut warna hitam pekat yang berusaha lari dari tempat itu.


"Hmm... mau kemana kamu... Crash... clap..." dengan gesit, rengganis melempar ujung selendang, dan dengan kekuatan tenaga dalamnya yang masih tersisa, Rengganis mengikat kabut hitam itu dengan menggunakan selendangnya.


"Tahan Nimas.. aku akan mencoba untuk menjinakkan kabut yang masih menyelimuti tempat ini. Eyang.. tolong bantu aku, dengan kekuatan eyang yang masih ada, bantu aku untuk mengendalikan aliran kabut ini. Akan sangat berbahaya jika kabut ini berhasil keluar, apalagi para sesepuh Alas Kedhaton masih menunggui kita di depan goa ini." Wisanggeni segera membuat arahan.


Ke empat orang itu terlihat mengeluarkan semua energi dan kekuatan yang masih ada di dalam tubuh mereka. Wisanggeni menggunakan kekuatan Pasopati yang sudah bertambah besar kekuatannya, untuk menghancurkan rantai api, kemudian menyedotnya dengan kekuatannya yang lain.

__ADS_1


"Swuuft,,... bluarr..." kembali banyak gumpalan kabut hitam yang akan melarikan diri dari tempat itu. Dengan sekuat tenaga, Wisanggeni menahan dan berusaha memerangkapnya. Hal itu berlangsung untuk beberapa saat, dan sampai kelima orang itu tidak mengetahui apa-apa lagi. Kelima-limanya jatuh pingsan di tempat tersebut.


**********


__ADS_2