Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 131 Puncak Pilar


__ADS_3

Wisanggeni memberi kode untuk memanggil orang-orang yang berada di tempat persembunyian. Setelah berhasil melemahkan orang-orang yang berada di lantai satu, Wisanggeni segera naik ke lantai dua. Hembusan energi yang lebih berat sedikitpun tidak menimbulkan efek apappun bagi Wisanggeni, karena laki-laki itu bahkan sudah menembus energi yang ada di puncak candi saat terlempar ke alam lain. Begitu juga dengan Sentono dan orang-orang yang berada di belakangnya. Sebelum Akademi jatuh di tangan orang-orang kejam ini, mereka sudah berhasil melakukan meditasi dan berlatih di lantai empat. Tinggal tiga tangga lagi, mereka akan berhasil melampaui tujuh lantai.


"Cetarr.., buuakkkk.." tidak mau membuang-buang energi, dan karena tahu jika orang-orang yang berlatih di pilar kekuatan adalah orang-orang yang haus akan duniawi, Wisanggeni dan Sentono langsung mengirimkan serangan. Orang-orang Sentono hanya menyelesaikan beberapa lawan yang masih mampu untuk bertahan.


"Berhenti kalian.., mana token untuk dapat berlatih di lantai tiga..!" tiba-tiba seorang laki-laki bertubuh gempal menghalangi langkah Wisanggeni untuk dapat masuk ke lantai tiga. Wisanggeni menyipitkan matanya, dia mengedarkan pandangan ke bilik-bilik yang ada di lantai tersebut. Jumlah orang yang berlatih di lantai tiga ini, sedikit lebih banyak dari mereka yang berlatih di lantai dua.


"Anggap saja kehadiranku dan teman-temanku kesini, untuk menghantarkan kalian menuju alammu yang sebenarnya." dengan sinis, Wisanggeni tetap memaksa masuk ke lantai tiga. Begitu tubuh laki-laki bertubuh gempal, tangan kiri Wisanggeni mendarat di dada laki-laki tersebut, dan..


"Grubyakkk.., aaakh.." tubuh laki-laki gempal itu terbanting ke belakang dengan keras. Beberapa orang yang sedang bermeditasi, mengakhiri meditasi mereka, dan langsung berlari mengepung Wisanggeni dan Sentono, serta orang-orang yang mereka bawa.


"Hhhh.." satu sudut bibir Wisanggeni naik ke atas, kemudian melirik pada Sentono. mengukur jika orang-orang Wisanggeni masih mampu untuk menghadapi orang-orang yang berada di lantai tiga, Wisanggeni terus mengajak Sentono untuk segera mengikutinya ke lantai empat. Sebelum naik ke tangga berikutnya.., Wisanggeni menyalurkan energinya ke orang-orang Sentono.


**************


Setelah menghabisi orang-orang yang menolak untuk menentang Laksito, dan mengampuni mereka yang mau bertobat, Wisanggeni mengajak Sentono sendiri. Sebenarnya Sentono menolak, karena laki-laki itu mengukur kemampuannya belum dapat naik ke lantai yang lebih atas. Tetapi Wisanggeni menyalurkan aura dan energinya pada laki-laki itu, sehingga Sentono menjadi bisa menahan desakan aura yang ada di lantai paling tinggi yaitu lantai ketujuh.


"Wuuushh..., trang.." sebuah serangan dengan tenaga dalam yang kuat, menghantam mereka saat mereka baru menginjak satu langkah pada lantai ke tujuh. Sentono reflek menggeser langkahnya, dan bersembunyi di belakang Wisanggeni.

__ADS_1


"Jlebbbb... ufttt.." tangan kiri Wisanggeni dengan cepat menangkis serangan itu, beberapa senjata tajam yang dikirimkan lawan terpental.


Wisanggeni tersenyum sambil kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Hanya ada tiga orang yang sedang bermeditasi disitu. Semakin tinggi lantai yang mereka naiki, ternyata menunjukkan semakin sedikit orang-orang yang mampu untuk mencapainya.


"Hmmm.., ternyata hanya segini kemampuan orang-orang yang berani menindas sesama murid di Akademi ini." Wisanggeni berbicara pada tiga orang yang sudah menghadang mereka.


"Jangan banyak bicara.. Siapa kamu, dan untuk apa kamu memasuki tempat berlatih di pilar kekuatan ini?" dengan tatapan berkilat, salah satu dari tiga orang itu bertanya pada Wisanggeni.


Wisanggeni tersenyum.., kemudian berjalan lebih mendekat pada mereka.


"Kamu bertanya siapa aku?? Sebagai murid dari Akademi ini yang masih baru, hendaknya kalian memberi hormat pada kami yang lebih senior. Bukan malah mengirimkan senjata tajam untuk menyambut kami." ucap Wisanggeni.


"Jangan banyak bicara kamu.. Apakah kalian tidak tahu siapa kami?? Sudah puluhan purnama berlalu, kami tidak pernah melihat kemunculanmu di Pilar Kekuatan ini. Berani-beraninya kamu mengaku, bahwa kamu adalah murid dari Akademi ini." melihat orang yang memiliki kepercayaan diri tanpa mengukur kemampuannya, Wisanggeni tidak dapat menahan diri untuk tersenyum. Dia hanya berdiri tidak melakukan apapun, Wisanggeni menunggu apa yang akan dilakukan oleh tiga orang itu dalam menghadapinya. Dari segi kekuatan.., mereka jelas tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kekuatan Wisanggeni.


"Bagaimana Wisang.., apakah tidak lebih baik jika mereka langsung saja kamu habisi?" dari belakang, Sentono bertanya pada Wisanggeni.


"Aku ingin melihat, hal apa yang akan bisa dilakukan oleh ketiga orang itu Sentono. Jangan sampai berlaku pepatah.., hanya bisa berbicara, tanpa bisa berbuat." dengan tersenyum sinis, Wisanggeni menanggapi perkataan Sentono.

__ADS_1


Melihat ketenangan yang ditunjukkan Wisanggeni, ketiga orang itu menjadi sedikit gemetar. Mereka berharap, akan ada orang yang menolongnya untuk membebaskan diri mereka dari kedua orang yang berdiri di hadapannya itu. Baru saja salah satu dari mereka mengacungkan tangan untuk membuat segel, dan mengirimkan serangan pada Wisanggeni, tangan Wisanggeni sudah maju dan memutar tangan orang tersebut. Orang tersebut berusaha untuk menarik tangannya, tetapi kecepatan tangan Wisanggeni jauh lebih cepat.


"Aku hancurkan segel kekuatanmu.., atau kalian menyerah pada kami sekarang juga. Kalian bertiga dari mana?? Murid asli dari Akademi ini, atau orang-orang dari Trah Jagadklana??" dengan cepat, Wisanggeni bertanya pada mereka.


"Ha.., ha.., ha... apa kalian pikir kami bertiga takut padamu?? Matipun kami tidak akan takut Ki Sanak.." sahut salah satu dari mereka. Tiba-tiba..,


"Krekkk.., aaawww.., hentikan!" tulang-tulang di tangan orang yang tangannya dipegang Wisanggeni, tiba-tiba terdengar bergeser dari sendinya.


"Aku akan menghancurkan segel-segelmu, bahkan kekuatan dalam tubuhmu akan aku keluarkan." ucap Wisanggeni.


Tiba-tiba satu dari tiga orang itu berhasil membuat segel, dan asap tiba-tiba menyelimuti tempat itu. Sentono langsung menutup hidungnya, karena asap itu membuat nafasnya menjadi sesak. Tetapi.., Wisanggeni bisa merasakan saat ada kekuatan yang mendorong ke dadanya, dan berusaha melepaskan orang yang dia pegang di tangannya. Wisanggeni mengambil nafas panjang, kemudian menghembuskannya ke depan.


"Tipuan murahan.., tidak akan berlaku padaku." ucap Wisanggeni sambil tersenyum sinis.


Ketiga orang itu terlihat pucat, mereka merasa sudah memiliki energi dan aura yang kuat karena berhasil bertahan untuk berlatih di lantai tujuh. Ternyata dibandingkan dengan laki-laki muda yang ada di depannya itu, kekuatannya bukan apa-apa.


"Perlu kalian ingat, hanya menggunakan aura dan energi tanpa diimbangi dengan kanuragan yang mumpuni, kalian bukan apa-apa. Bertobatlah kalian.., aku akan mengampuni kalian! Jika tidak.. aku akan mengirim jasad kalian ke Jagadklana."

__ADS_1


***************


__ADS_2