
Wisanggeni menggandeng tangan Maharani keluar dari dalam ruang makan. Mereka mengetahui jika laki-laki misterius yang mereka lihat di dalam tadi sudah keluar lebih dulu. Dengan tetap waspada, mereka segera keluar melalui pintu depan. Tiba-tiba mereka berpandangan, karena tiba-tiba terdengar suara seruling yang mendayu dan menyayat hati. Tetapi kedua orang itu tahu dan mengerti jika alunan suara seruling itu membawa sebuah kekuatasn besar yang bisa membunuh orang yang tidak memiliki kekuatan.
"Akang..., orang-orang yang tidak memiliki landasan kekuatan bisa mati mendengar alunan seruling ini." bisik Maharani ke telinga suaminya. Wisanggeni tersenyum sinis...,
"Seruling Kesedihan.., hmm. Hanya pendekar dari tlatah kulon yang biasa menggunakan senjata ini. Ada maksud apa, orang itu menunjukkan kesaktiannya di depan umum," Wisanggeni menggumam.
"Apakah Akang tidak berniat memberikan perlindungan pada orang-orang yang tidak bersalah?? Lihat sekeliling Akang.., tidak lama lagi mereka akan bisa muntah darah." Maharani terlihat mengkhawatirkan keadaan banyak orang di sekeliling mereka. Wisanggeni mengedarkan pandangannya, dan benar apa yang baru saja dikatakan oleh Maharani. Beberapa orang sudah mulai menutup telinga mereka menggunakan jari tangan mereka, dan beberapa menggunakan kain untuk menyumbat telinga.
Dengan cepat, Wisanggeni membuat simbol menggunakan jari tangannya, kemudian mengangkat tangan dan membuat gerakan memutar. Tidak lama kemudian, terlihat samar-samar sebuah tirai yang bisa dilihat dengan mata telanjang menutup orang-orang yang mulai merasa kesakitan karena suara dari seruling itu. Dengan tatapan tajam, Wisanggeni menatap orang yang meniup seruling itu.
"Berikan obat herbal ini pada mereka Nimas.. Utamakan mereka yang sudah mengeluarkan darah, agar tidak beresiko merusak pendengaran atau saluran pernafasan mereka." Wisanggeni mengeluarkan bungkusan porselin dari kepis dan memberikannya pada Maharani. Perempuan muda itu menerimanya, kemudian bergegas meninggalkan Wisanggeni untuk mendatangi orang-orang yang terluka.
Tidak mau memancing kemarahan yang berimbas pada keributan, Wisanggeni mendatangi orang yang sedang meniup seruling itu. Sebelum melakukan tindakan, karena tidak mau memiliki urusan dengan orang itu, Wisanggeni mengajak laki-laki itu bicara terlebih dulu.
"Ki Sanak..., jika aku boleh meminta. Bisakah Ki Sanak hentikan tiupan seruling itu? Lihatlah .. banyak orang yang tidak bersalah, mereka terluka karena tiupan seruling Ki Sanak." dengan nada halus dan sopan, Wisanggeni menegur laki-laki itu dengan halus.
"Apakah kamu memang memiliki kesenangan untuk merusak kesenangan orang lain?" laki-laki itu melepaskan seruling dari bibirnya, dengan senyum sirik, menanggapi perkataan Wisanggeni.
__ADS_1
"Aku hanya ingin menghibur hatiku.., karena hatiku sedang merasa susah. Kedua saudaraku terluka parah, dan jika tidak segera diselamatkan oleh tabib, kedua saudaraku tidak akan tertolong. Apakah aku salah jika sedikit saja waktuku aku gunakan untuk menghibur hatiku??" sambil berjalan mendekati Wisanggeni, laki-laki itu berbicara dengan nada menyindir.
Wisanggeni tersenyum, dia tetap berdiri di tempatnya. Sedikitpun dia tidak membuat pergerakan, dia menunggu kedatangan laki-laki itu. Setelah mereka berhadap-hadapan...
"Turut prihatin dengan keadaan naas yang menimpa saudara Ki Sanak. Tetapi mereka disini juga tidak untuk menanggung kesalahan ini. Apakah sudah ditanyakan pada kedua saudara Ki Sanak.., siapakah yang menyebabkan mereka menjadi terluka?" dengan sopan, Wisanggeni masih berusaha mengajak laki-laki itu bicara.
Tanpa diketahui Wisanggeni, laki-laki itu memutar tangannya yang di belakang tubuhnya. Sebuah jarum berwarna perak, melesat maju ke tubuh Wisanggeni, tetapi tiba-tiba jarum itu membelokkan arahnya dan menancap di punggung tangan laki-laki itu. Maharani tersenyum sambil bersedekap melihat laki-laki itu menjerit kesakitan.
**********
"Kurang ajar kamu perempuan ******.., beraninya mencampuri urusanku." dengan nada tinggi, laki-laki itu mengeluarkan kata-kata kasar yang ditujukan untuk Maharani. Mendengar kata umpatan itu, muka Wisanggeni mendadak menjadi merah, dan tiba-tiba...
"Plakk..., berani kamu mengeluarkan kata hinaan untuk istriku." tiba-tiba tanpa diduga, telapak tangan Wisanggeni yang dilambari dengan tenaga dalam, memberi tamparan di pipi laki-laki itu. Warna merah berbentuk telapak tangan, tercetak jelas di pipi dan rahang laki-laki itu.
Laki-laki itu memundurkan kakinya tiga langkah ke belakang, dengan nanar tatapan matanya menghujam Wisanggeni. Dengan penuh kemarahan, karena merasa terhina dengan ditampar di muka umum, laki-laki itu langsung kembali mengirimkan serangan ke Wisanggeni.
"Bang..., bang.., bang.." sinar menyilaukan keluar dari tangan laki-laki itu. Wisanggeni tersenyum, kemudian menggeser tubuhnya ke kiri. Dia tidak membalas serangan itu, tetapi hanya menghindar ke samping. Sudut matanya mengamati gerakan laki-laki yang menyerangnya itu.
__ADS_1
"Jangan berlagak sombong kamu anak muda. Bang... bang.." bertubi-tubi serangan di kirimkan laki-laki itu, dan ketika serangan terakhir itu menyambar pundak Wisanggeni. Rasa panas serasa membakar pundak sampai tulang di dalamnya. Mata Wisanggeni menyipit, ternyata laki-laki itu tidak bisa untuk diajak bicara baik-baik.
"Kekuatan Pasopati..., bluarr....," sekali serangan itu dikirimkan Wisanggeni, laki-laki itu langsung mundur ke belakang, dan masih bisa berdiri tegak.
Melihat hal itu Wisanggeni tersenyum sinis, dia tidak berniat untuk memberi ampun pada laki-laki itu, dan dia kembali mengirimkan serangan selanjutnya.
"Bluarr... bluarr..." ledakan dengan suara keras melemparkan laki-laki itu ke belakang. Sambil memegang dadanya, laki-laki memuntahkan darah dari mulutnya.
Malas berurusan dengan laki-laki yang sombong itu, Maharani menghalau orang-orang untuk segera pergi dari tempat itu. Setelah memastikan orang-orang itu pergi dari situ, Maharani segera menghampiri Wisanggeni. Dengan pandangan prihatin, Maharani menatap lekat wajah suaminya. Tangan lembutnya mengusap lembut pundak Wisanggeni yang terluka, dan tanpa diminta perempuan itu menjilat luka bakar itu menggunakan lidahnya. Rasa dingin seketika mengalir di luka tersebut.
"Ayo kita segera kembali ke dalam.. Aku akan mengobatinya dengan menggunakan salep racikanku sendiri." Wisanggeni menenangkan Maharani, kemudian mengajak perempuan itu untuk kembali ke dalam kamar.
"Ingatlah.. aku akan membalasmu. Jangan kamu pernah berpikir, seenaknya kamu mempermainkan keluarga kami." masih dengan menahan sakit, laki-laki yang menyerang Wisanggeni tadi, berteriak dengan suara keras.
Tetapi melihatnya terluka, dan tidak akan mampu lagi mengirimkan serangan keras, Wisanggeni hanya tersenyum melihatnya. Dia sama sekali tidak tertarik untuk meladeni laki-laki yang tidak dikenalnya. Hanya akan menambah permusuhan yang bisa menghambat perjalanannya.
***************
__ADS_1