Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 293 Perjuangan


__ADS_3

Beberapa saat berlatih di lantai empat, pikiran Chakra Ashanka selalu berada pada lantai-lantai yang ada di atasnya. Kekuatan energi dan aura di lantai itu sudah berhasil dia kuasai dan kendalikan hanya dalam waktu satu malam. Bahkan energi itu juga meningkatkan kemampuan Singa Ulung dan naga terbang. Kedua binatang itu, turut mendapatkan manfaat dari kekayaan energi dan aura di lantai tersebut. LAnak muda itu melirik ke arah tangga naik, terlihat beberapa pesohor terperosot kembali ke bawah saat mencoba untuk mendaki ke lantai di atasnya. Dalam hati, muncul rasa penasaran di hati anak muda itu.


Aditya yang sedang terbangun dari semedinya melihat ke arah Chakra Ashanka. Laki-laki ini bisa melihat keinginan besar anak muda itu untuk dapat naik ke lantai yang lebih atas.


"Ashan..., pergilah, tinggalkan kami disini. Aku tahu, di lantai ini tidak begitu banyak menjadi penyumbang kemampuanmu teman. Energimu masih banyak tersisa di lantai ini, tidak seperti energi kami berdua. Pergilah.., kami akan menunggumu sampai kamu turun kembali." suara Aditya mengagetkan anak muda itu. Sambil tersenyum malu, Chakra Ashanka menoleh ke arah Aditya berada.


"Jangan salah sangka terhadapku teman.., bukannya aku berlaku sombong. Banyak tugas berat yang menantiku di depan, sehingga kemampuanku saat ini tidak akan berarti apa-apa." Chakra Ashanka menanggapi perkataan Aditya.


"Tidak perlu malu dan sungkan kepada kami Ashan.., aku memahami posisimu. Hanya saja ada pesan yang perlu aku sampaikan kepadamu. Jangan terlalu memaksa, jika di lantai sesudahnya, kamu merasa tertekan, mundurlah ." Aditya tersenyum, laki-laki itu menyampaikan pesan pada anak muda itu.


"Terima kasih teman ., aku akan selalu mengingat apa yang kamu katakan kepadaku. Aku akan mencobanya, bukan untuk menunjukkan kesombongan pada kalian semua, tetapi memang ini adalah tujuanku datang kesini." dengan suara lirih, anak muda itu menjawab perkataan Aditya.


"Ayolah aku akan mengantarmu di anak tangga yang pertama, hanya sampai disitu aku bisa menemani dan mengantarkanmu." Aditya berdiri, kemudian mengulurkan tangan untuk membantu anak muda itu berdiri.


Tanpa menjawab, Chakra Ashanka menerima uluran tangan itu, kemudian anak muda itu ikut berdiri dan menoleh ke arah Aditya. Dengan merangkul pundak Chakra Ashanka, Aditya mengantarkan anak muda itu sampai di tangga menuju ke lantai di atasnya.


"Ashan..., mau kemana kamu?" tiba-tiba Chakra Ashanka dikejutkan suara yang memanggilnya dari belakang. Anak muda itu menoleh, dan terlihat di belakangnya Pangeran Abhiseka, Widayat dan Niken Kinanti baru saja sampai di ruangan tersebut.

__ADS_1


"Paman..., Bibi sudah sampai disini. Bagaimana dengan teman-teman semua?" dengan mata bersinar, Chakra Ashanka menghampiri ketiga orang itu.


"Mereka sudah cukup puas untuk bertahan di lantai dua Ashan. Tidak masalah, itu hanya untuk mencari pengalaman dan memberikan landasan kekuatan dasar untuk mereka." sambil tersenyum, Widayat menjawab pertanyaan Chakra Ashanka yang ditujukan untuk Pangeran Abhiseka.


"Ashan.., kamu belum menjawab pertanyaan paman..?" Pangeran Abhiseka kembali bertanya pada anak muda itu.


"Ashan akan mencoba naik ke lantai atas paman.., dan akan berusaha untuk sampai ke lantai tujuh." dengan tegas, Chakra Ashanka menjawab pertanyaan tersebut.


Wajah ketiga orang itu menjadi tidak enak dilihat, mereka merasakan sendiri bagaimana untuk dapat naik ke ruangan selanjutnya. Energi mereka terasa cepat habis karena seperti tersedot. Meskipun kekuatan mereka juga cepat bertambah, tetapi mereka merasakan betapa beratnya untuk dapat melanjutkan langkah mereka untuk menuju ke lantai tempat mereka berada saat ini.


"Ukur dan sesuaikan dengan kemampuanmu Ashan..., jangan memaksakan untuk dapat naik ke puncak. Kekuatan dan nyawamu yang akan menjadi taruhannya." Niken Kinanti turut memberikan nasehat pada putra Wisanggeni itu.


Tidak lama kemudian, anak muda itu sudah mulai naik ke anak tangga untuk menuju ke tempat yang lebih tinggi. Tidak banyak orang yang bisa naik ke lantai tersebut. Tetapi berbekal tekad yang kuat, Chakra Ashanka tetap berjuang untuk bisa menaikinya.


"Wushhhh...." angin kencang menderu tiba-tiba menerpa dengan keras, dan sempat mengagetkan anak muda itu. Hampir saja, jika tidak segera mencari pegangan, anak muda itu bisa terjengkang ke belakang. Chakra Ashanka terdiam sebentar, kemudian mengalirkan kembali energinya ke arah kedua tangannya, agar lebih kuat berpegangan untuk menahan terpaan angin.


"Ternyata sangat besar kekuatan angin yang baru saja berhembus. Selanjutnya jika aku tidak berhati-hati, aku akan terbang terkena terpaanya." Chakra Ashanka berbicara dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


Setelah membekali kekuatan diri, anak muda itu kembali melanjutkan perjalanan mendaki ke puncak. Semakin mendekati lantai atas, angin tidak berhenti berhembus tetapi malah semakin kencang. Bahkan beberapa batuan runcing ikut terbang dan menyerang pada anak muda itu.


"Pletak..." tangan Chakra Ashanka menyibakkan batu yang akan mengancam tubuhnya, dan batu itu melesat dan terjatuh membentur dinding.


"Aku harus menundukkannya...,. aku tidak boleh menyerah.." meski dengan nafas terengah-engah, Chakra Ashanka terus berjuang untuk bisa bertahan di anak tangga. Anak muda itu merasa sedang bertempur dengan seseorang, dan ingin berusaha menundukkan lawannya.


Akhirnya setelah bersusah payah untuk berusaha naik, anak muda itu sudah berada di anak tangga paling akhir. Baru saja ada rasa bahagia menyusup di dadanya, tiba-tiba...


"Aaaaaww.." kaki Chakra Ashanka yang hampir menginjak anak tangga atas sendiri, tiba-tiba seperti ada yang menarik kakinya. Tubuh anak muda itu terlepas dan terjengkang kembali ke belakang. Dalam keadaan seperti itu, tidak ada yang bisa dilakukan oleh anak muda itu.


"Uuupss... tap.. tap..." untungnya ekor naga terbang dengan gesit menyambar tangan Chakra Ashanka kemudian melemparnya kembali ke atas.


Dari lantai bawah, Pangeran Abhiseka dan ketiga orang lainnya melihat perjuangan anak muda itu dengan penuh perasaan cemas. Tetapi mereka juga tidak bisa melakukan apapun untuk anak muda itu.


"Bagaimana kita akan menyampaikan pada Wisanggeni jika terjadi apa-apa dengan Chakra Ashanka?" Niken Kinanti bergumam pelan sambil melirik ke arah Pangeran Abhiseka.


"Tenanglah Nimas.., hilangkan rasa takutmu! Aku yakin, tidak akan terjadi apa-apa dengan Chakra Ashanka. Anak itu memiliki pendirian dan dasar kekuatan yang kuat. Dan juga, jangan kamu lupakan garis leluhur yang dimilikinya. Keturunan Trah Jagadklana dan Bhirawa sudah melebur menjadi satu dalam tubuhnya." Pangeran Abhiseka menenangkan Niken Kinanti.

__ADS_1


Dari samping mendengar apa yang diucapkan Pangeran Abhiseka, Aditya yang belum begitu mengenal anak muda itu, terkesima dengan latar belakang Chakra Ashanka.


*******


__ADS_2