
Sekar Ratih terengah-engah, begitu sampai di dalam ruangannya, gadis muda itu segera jatuh terduduk di kursi yang ada dalam ruangan itu. Melihat ada cangkir berisi air putih di depannya, dengan segera Sekar Ratih mengambil kemudian meminum isinya sampai habis tandas. Rasa segar air dingin mulai membasahi kerongkongannya, dan terasa mengalir ke bawah. Pikiran gadis muda itu segera kembali tenang.
"Apa yang sedang kamu alami Nimas... kenapa kamu berlarian seperti sedang dikejar oleh hantu.." Sekar Ratih terperanjat, karena gadis muda itu sama sekali tidak menyadari keberadaan Ayodya Putri yang ternyata duduk di kursi dalam ruangan yang sama.
"Nimas Putri... sejak kapan kamu berada disini. Kamu mengejutkanku Nimas..." Sekar Ratih bertanya dengan reaksi terkejut.
Gadis muda yang duduk di depannya itu tersenyum, kemudian menatap Sekar Ratih dengan pandangan datar.
"Beberapa saat yang lalu Nimas.. karena aku terbangun karena mendengar air bergemericik di dalam jeding. Kemudian aku berniat untuk mengajakmu berbincang, ternyata Nimas tidak ada di dalam kamar. Jadilah aku menunggumu disini Nimas." Ayodya Putri menjawab pertanyaan gadis muda itu sambil mengangkat satu sudut bibirnya ke atas. Tidak jelas ekspresi yang ditunjukkannya, apakah sedang bersedih, cemas, ataukah bahagia.
"Iya Nimas Putri... aku baru saja berjalan-jalan di luar ruangan. Namun.. terdengar suara orang sedang berlatih memukul samsak dari halaman wisma kang Ashan. merasa khawatir jika ada orang-orang yang akan mencelakakan kang Ashan. akhirnya Nimas memberanikan diri untuk mendatanginya. Ternyata benar dugaanku Nimas Putri.., hanya saja bukan orang jahat yang melakukan itu, melainkan kang Ashan sendiri." akhirnya Sekar Ratih menjawab jujur apa yang baru saja dilakukannya.
"Kang Ashan melakukan hal itu di tengah malam begini.. apa ada yang sedang mengganjal atau mengganggu pikiran anak muda itu Nimas Ratih.. Sepertinya hal seperti tidak akan mungkin dilakukan oleh kang Ashan.." dengan penuh minat, Ayodya Putri menyampaikan kebingungannya.
"Itulah yang membuatku bingung Nimas Putri. Akhirnya aku memberanikan diri bertanya pada Kang Ashan, ternyata mimpi buruk dan tindhihan yang menyebabkan kang Ashan menjadi gundah gulana." Sekar Ratih menceritakan mimpi buruk yang dialami oleh Chakra Ashanka, kemudian apa yang dilakukannya di dalam ruangan anak muda itu. Namun, untuk mengurangi rasa malunya, gadis muda itu tidak menceritakan ciuman di keningnya yang diberikan oleh anak muda itu.
Ayodya Putri terdiam, gadis itu mencerna apa yang diceritakan oleh Sekar Ratih. Sebetulnya ada ganjalan dalam pikiran gadis itu, jika memang yang diceritakan oleh gadis muda itu memang benar adanya, seharusnya kegundahan hanya terjadi pada Chakra Ashanka. Namun, Ayodya Putri meragukan karena jelas reaksi yang ditunjukkan oleh Sekar Ratih ketika gadis itu kembali masuk ke wisma, sepertinya ada sesuatu yang mengejutkan dan tidak masuk akal pada dirinya.
"Hmmm... apakah Nimas Ratih tidak semuanya dikatakan kepadaku, ada sesuatu yang disembunyikan oleh gadis itu padaku. Tetapi.. dari pada hal itu membuatku sakit hati, lebih baik Nimas Ratih tidak menceritakannya padaku." batin Ayodya Putri.
__ADS_1
"Nimas Ratih.. mungkin ada baiknya kita kembali ke kamar untuk beristirahat. Besok pagi, kita akan mencari cara dan membicarakan kembali masalah ini dengan kang Ashan. Aku juga sependapat padamu, untuk membawa masalah ini pada Kanjeng SInuhun Bahdra Arsyanendra, karena bagaimanapun, kang Ashan mendampinginya sebagai seorang Patih di kerajaan ini." akhirnya Ayodya Putri mengajak Sekar Ratih untuk kembali beristirahat.
Sekar Ratih langsung menyetujuinya, akhirnya kedua gadis muda itu segera kembali ke kamar masing-masing untuk melanjutkan istirahatnya.
********
Keesokan Paginya
Sekar Ratih dengan ditemani Ayodya Putri, keduanya mendatangi kamar di wisma yang digunakan Chakra Ashanka bertempat tinggal. Kedua gadis itu untung tidak menunggu lama, karena ternyata Chakra Ashanka sudah siap, dan sudah menunggu kedatangan mereka sejak pagi buta.
"Apakah kalian berdua sudah sarapan pagi Nimas Ratih dan Nimas Putri.." tidak terlupakan selalu memperhatikan orang-orang dekatnya, anak muda itu bertanya pada kedua gadis muda itu.
"Baiklah jika begitu., mari kita segera berangkat, kita segera tinggalkan wisma ini.." mendengar kedua gadis muda itu sudah siap untuk pergi menemaninya, anak muda itu segera berdiri.
Sekar Ratih dan Ayodya Putri segera mengikuti anak muda itu untuk berdiri. ketiga orang itu segera bergegas keluar dari dalam wisma Chakra Ashanka untuk menuju ke Kraton kilen. Begitu mereka keluar dari dalam wisma, terlihat para abdi dalem sedang membersihkan suasana di dalam wisma mereka. beberapa di antaranya membawa pakaian kotor untuk dibersihkan dengan membawanya ke jedhing.
"Selamat pagi Kanjeng Patih.." para abdi dalem memberikan sapaan pada Chakra Ashanka dan kedua gadis yang berjalan bersamanya.
"Pagi.. lanjutkan perjalananmu.." sahut Chakra Ashanka singkat, dan meminta orang-orang itu kembali melanjutkan tugas mereka.
__ADS_1
Setelah mereka memasuki gapuro besar yang terbuat dari bata merah, ketiga anak muda itu melihat keberadaan regol dengan ukiran kayu jati yang sudah terbuka. Hal itu menandakan jika Raja Bhadra Arsyanendra sudah bangun, dan sudah melakukan sarapan pagi. Chakra Ashanka segera mengajak kedua gadis bersamanya, untuk segera masuk ke dalam regol tersebut.
"Kanjeng Patih.. apa ada hal yang penting.., hingga sepagi ini kalian bertiga sudah menunjukkan diri di Kraton Kilen.." tampak sesepuh kerajaan mencegat kedatangan mereka.
Chakra Ashanka tersenyum, kedua tangannya menghentikan Sekar Ratih dan Ayodya Putri yang akan terus berjalan memasuki Kraton Kilen.
"Paman.. kami akan menemui Kanjeng Sinuhun, karena ada sesuatu yang harus kita bicarakan dengan beliau. Apakah paman tidak akan mengijinkan kami berdua untuk masuk ke dalam." masih dengan senyuman, Chakra Ashanka dengan sopan menjawab pertanyaan dari sesepuh kerajaan itu.
"Sebenarnya tidak diperbolehkan untuk berkunjung ke kraton Kilen pagi-pagi begini Kanjeng Patih, Karena seharusnya semua bisa diselesaikan di pagelaran kraton." laki-laki tua itu berhenti sejenak. Kemudian beberapa saat kemudian, laki-laki itu menghela nafas.
"Tetapi mengingat dan mempertimbangkan hubungan kedekatan Kanjeng Sinuhun dan Kanjeng Patih serta dengan ketiga gadis ini, saya tidak memiliki kuasa untuk menolak kedatangan kalian bertiga." laki-laki itu melanjutkan perkataannya.
"Terima kasih paman.. memang hal yang akan kami bicarakan pada Kanjeng SInuhun, bukan merupakan pembicaraan di tingkat kerajaan. Kami akan membicarakan masalah pribadi tentang keluarga kami.." untuk tidak menimbulkan kesalah pahaman, Chakra Ashanka segera menambahi perkataan laki-laki tua itu.
"Baiklah kalau begitu... kanjeng SInuhun sedang berada di tempat pemijahan burung kesukaan Kanjeng Sinuhun. Kanjeng Patih bisa menjumpai beliau disana." sesepuh kerajaan itu menunjukkan keberadaan dari raja kerajaan Logandheng.
Tidak banyak membuang waktu, Chakra Ashanka segera mengajak kedua gadis muda itu bersamanya, untuk masuk ke dalam.
**********
__ADS_1