Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 92 Kekacauan


__ADS_3

Lindhuaji sedang memeriksa hasil perdagangan yang dilakukan oleh orang-orang Klan Bhirawa. Dibawah kepemimpinannya, Klan Bhirawa sudah berkembang pesat, dan bahkan banyak orang-orang baru yang bergabung menjadi anggota baru dari klan tersebut. Perdagangan, jasa pengantaran, keamanan, dikuasai oleh Klan ini yang berada di kota Laksa.


"Istirahatlah dulu Akang..., ini Laras bawakan minuman  dan kudapan untuk teman istirahat." Larasati datang membawa nampan berisi satu cangkir besar minuman panas, dan piring berisi kudapan.


Lindhuaji menghentikan kegiatannya, perlahan dia meletakkan pena yang ada di tangannya, kemudian sambil tersenyum menerima nampan yang dibawa oleh istrinya. Larasati kemudian berjalan di belakang Lindhuaji, kemudian memberi pijatan lembut di punggung laki-laki itu.


"Hentikan jika kamu lelah Nimas.., jangan paksakan dirimu untuk memijat punggungku!" ucap Lindhuaji sambil memegang telapak tangan Larasati, kemudian menciumnya dengan lembut.


Larasati menghentikan pijatannya, karena Lindhuaji sudah menariknya dan mendudukkan Larasati diatas pangkuannya. Perlakuan mesra selalu Lindhuaji lakukan pada istrinya tanpa memandang tempat, sehingga hal tersebut bisa menyadarkan Larasati, yang diawal pernikahannya masih selalu memikirkan Wisanggeni. Akhirnya perlahan, perempuan itu saat ini sudah dapat menerima Lindhuaji sebagai suami kesayangannya.


"Akang selalu seperti ini, apa kang Aji tidak malu jika dilihat oleh warga padhepokan ini?" Larasati berusaha menjauhkan diri dari pelukan suaminya, tetapi dengan erat Lindhuaji memegangi dan memeluknya.


"Untuk apa malu Nimas.., kita ini pasangan yang sudah mendapatkan ikatan resmi. Justru akang akan tunjukkan pada para warga lainnya, agar mereka menirukan apa yang sudah lakukan pada istri tercinta Akang." Wisanggeni memberi kecupan di pipi Larasati.


Mendapat perlakuan intim dari suaminya menjadikan Larasati menjadi lebih berani. Perempuan itu membalas perlakuan Lindhuaji dengan duduk mengangkang di atas pangkuan suaminya, dan tangan Larasati berkalung di leher laki-laki itu. Tidak lama kemudian, bibir pasangan suami istri sudah menjadi satu, dan nafas mereka sudah menjadi terburu.


"Ehmm.., uhukk.." tiba-tiba terdengar suara deheman dan batuk yang mengagetkan mereka berdua. Larasati langsung melepaskan bibirnya dan langsung mengangkat kaki dan duduk di samping Lindhuaji. Dengan muka merah menghitam menahan hasrat yang tertunda, Lindhuaji menoleh ke arah suara, dan melihat Hapsoro pengasuh Wisanggeni tampak berdiri di depannya.


"Maafkan saya Nak Aji dan Nimas Laras..., ada hal penting yang akan paman sampaikan pada kalian berdua." Hapsoro menyampaikan maksud kedatangannya.


"Naiklah kesini paman.., tidak apa-apa. Ini barusan melepas rindu pada Nimas Laras.., karena dari pagi sudah aku tinggal sendiri," ucap Lindhuaji tanpa ada yang dia sembunyikan. Larasati dengan  muka memerah memelototi suaminya. Lindhuaji hanya tersenyum, dan merangkul perempuan itu di pundaknya.

__ADS_1


"Bagus sekali nak Aji.., bisa memberikan contoh pada para laki-laki agar mereka memperlakukan istrinya dengan mesra. Itu akan membuat kehidupan rumah tangga mereka semakin bahagia  dan aman." Hapsoro ikut menanggapi.


Laki-laki tua itu kemudian duduk di depan Lindhuaji. Larasati diam ikut mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh Hapsoro.


"Begini nak Aji.., paman mau menyampaikan sedikit kabar keributan. Sepertinya gerombolan Alap-alap sudah mengendus keberadaan Klan Bhirowo kembali. Beberapa anak buah kita pernah melakukan pertempuran di pinggiran kota Laksa, jadi menurutku kita harus segera mempersiapkan kekuatan kita nak." Hapsoro menyampaikan cerita penting.


Lindhuaji mengambil nafas, dia terlihat marah mendengar gerombolan Alap-alap yang selalu mengganggu keberadaan Klan-klan kecil di beberapa wilayah.


"Baiklah.., segera siapkan semuanya paman. Aku akan segera mengirimkan kabar ke ayahnda dan Kang Janar, agar mereka juga bersiap-siap untuk menggabungkan kekuatan. Kita harus mengantisipasi jika serangan akan terjadi." Lindhuaji langsung membuat pengaturan.


************


"Akang bukannya itu lambang dari Klan Bhirawa.., dengan siapa mereka bertarung?" Rengganis tiba-tiba berteriak saat melihat di pinggiran hutan beberapa orang sedang bertarung.


Wisanggeni dan ketiga lainnya berdiri melihat pertarungan itu. Saat salah satu anggota dari Klan Bhirawa melihat adanya pemimpin mereka, dia menjadi lebih bersemangat dan memberi tahu teman-temannya.


"Bang.., bang.., bang.." serangan dari lawan meningkat tajam. Wisanggeni menyipitkan matanya, terlihat dengan jelas jika lawan dari orang-orang Klan Bhirawa itu adalah gerombolan Alap-alap. Laki-laki muda itu tidak akan lupa dengan trik-trik serangan yang dilancarkan oleh mereka.


"Jleb..," sebuah tombak bersarang di dada salah satu anggota gerombolan Alap-alap. Hal itu ternyata menyulut kemarahan mereka, yang dengan semakin marah mereka merangsek dan mengirimkan serangan pada anggota Klan Bhirawa.


Wisanggeni mengangkat tangannya keatas dengan membentuk satu simbol. Tidak lama kemudian, gulungan angin berputar tampak muncul di tangannya. Dengan segera sambil menyipitkan matanya, tangannya diarahkan pada orang-orang yang menjadi lawan dari anggota Klan Bhirawa.

__ADS_1


"Bang.., bang.., bang,." begitu serangan dilemparkan, beberapa orang terbang terbawa angin, dan akhirnya jatuh berdebum diatas tanah. Darah tampak keluar dari mulutnya, dan akhirnya mereka pingsan tidak sadarkan diri.


Tidak menunggu  waktu lama, kekuatan gerombolan itu sudah hancur lebur di tangan Wisanggeni. Para anggota Klan Bhirawa langsung mendatangi Wisanggeni dan rombongannya.


"Den Wisang.., terima kasih atas bantuannya, kami tidak tahu jika tidak mendapatkan pertolongan dari Aden. Syukur yang tidak terhingga, kita disini bisa bertemu kembali dengan Aden dan rombongan." beberapa anggota Klan Bhirawa memberi salam pada Wisanggeni.


"Bagaimana kalian bisa bertemu dengan Gerombolan Alap-alap disini?" tanya Wisanggeni.


"Kami memang ditugaskan oleh Ki Hapsoro untuk mengawal di perbatasan. Beberapa orang di klan sudah mendengar banyaknya kekacauan yang sudah ditimbulkan oleh Gerombolan Alap-alap tersebut. Dan tadi kami kebetulan bertemu dengan mereka, dan terjadilah pertempuran itu." salah seorang anggota menjelaskan asal mula mereka bisa terjebak kekacauan.


Wisanggeni berbalik menghadap pada rombongannya.


"Bagaimana Kang Wisang..,apa yang akan kita lakukan? Apakah kita akan menunda perjalanan kita, atau tetap melanjutkan?" tanya Rengganis.


"Tidak baik jika kita akan menunda pperjalanan terus Nimas. Akang akan meminta bantuan pada ular atau naga yang ada di sekitar sini, untuk ikut memberikan bantuan jika Gerombolan Alap-alap datang untuk mengganggu." Wisanggeni berbicara dengan Rengganis.


Mendengar perkataan yang diucapkan Wisanggeni, Wulang mengerenyitkan dahinya. Tetapi dia tidak bertanya, menunggu Wisanggeni menceritakan sendiri. Tidak berapa lama, Wisanggeni memejamkan mata seakan mengucapkan mantra.


"Ssshhh.., sshhh.., sshhh.." tiba-tiba dari berbagai arah muncul kedatangan ular dan naga yang semuanya saat ini mengelilingi mereka. Wisanggeni melarang Wulan dan anggota klan Bhirawa untuk bereaksi.


"Rakyatku semuanya.., bantulah anggota keluargaku. Selamatkan mereka dari ancaman Gerombolan Alap-alap, dimanapun berada." sambil mengangkat telapak tangannya, Wisanggeni mengajak berbicara pada ular-ular itu. Rengganis tersenyum pada Wulan yang penuh tanda tanya.

__ADS_1


***************


__ADS_2