Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 128 Bagaimana keadaan Ibunda?


__ADS_3

Rengganis menatap terowongan jiwa yang sudah menghilang di depannya. Perempuan itu segera meletakkan telapak tangannya di dada Wisanggeni, kemudian menyalurkan energi murni ke dada laki-laki itu. Sesekali tangan kirinya mengusap keringat yang masih mengalir di wajah suaminya yang tampak pucat pasi. Hal itu dilakukan Rengganis untuk beberapa saat, sampai setitik kesadaran muncul pada suaminya itu. Kedua binatang peliharaan meraka, turut berjalan menghampiri mereka berdua.


"Nimas.., ada dimana kita..?" pertanyaan lembut Wisanggeni mengagetkan Rengganis, yang masih mengalirkan energi murninya sambil memejamkan mata.


"Akang sudah sadar..?" dengan mata mengerjap penuh kebahagiaan, Rengganis balik bertanya pada Wisanggeni.


Laki-laki mencoba untuk mengangkat badannya untuk berganti posisi duduk, dan Rengganis memeganginya sambil membersihkan tanah yang menempel di punggung Wisanggeni.


"Ternyata kita masih berada di tempat yang sama." gumam Wisanggeni.


"Iya Akang.., tapi syukurlah.., terowongan jiwa sudah menghilang. Sekarang kita harus memulihkan energi dan aura batin Akang yang terserap habis untuk menghancurkan terowongan jiwa itu. Para sesepuh dan saudara kita sudah berjalan jauh meninggalkan kita." Rengganis tersenyum, perlahan perempuan itu menjatuhkan kepalanya di bahu Wisanggeni. Sudah terasa lama, mereka tidak berinteraksi sedekat itu.


"Baiklah.., kita harus mencari tempat istirahat yang layak dulu Nimas. Aura batinku sedikit terkoyak.., Akang harus memulihkannya dulu." kata Wisanggeni. Perlahan tangannya menepuk paha Singa Ulung, dan kucing putih imut itu segera berubah menjadi seekor singa yang besar.


"Singa Resti.., kali ini aku akan memangkumu di atas punggung Singa Ulung. Aku akan menemani Kang Wisang, kita semua akan dibawa oleh Singa Ulung." dengan lembut, Rengganis berbicara dengan Singa Resti. Binatang yang berubah menjadi seekor kucing yang sangat manis itu, hanya mengibaskan telinganya. Sambil tersenyum, Rengganis mengusap lembut kepala binatang itu.


************


Perlahan-lahan, Wisanggeni dan Rengganis menikmati hidangan yang disajikan oleh pelayan kedai tempatnya memesan makanan. Kedua kucing imut ikut duduk di samping mereka, dan menikmati menu makannya sendiri.


"Nimas.., makanlah hati ayam ini. Menurut kitab yang aku baca, hati ayam banyak mengandung manfaat untuk bayi yang sedang Nimas kandung. Menurut perkiraan Akang.., bulan depan bayi kita akan segera lahir Nimas. Kira-kira dimanakah Nimas akan melahirkan bayi kita?" sambil tersenyum, Wisanggeni kembali memberi usapan di perut istrinya dengan menggunakan tangan kirinya.

__ADS_1


"Dimanapun asal Akang yang menemani, tidak akan menjadi masalah bagi Nimas.. Akang." dengan manja, Rengganis menyandarkan kepalanya di bahu laki-laki itu.


Tiba-tiba mata Wisanggeni berkilat, saat dia melihat ada empat orang yang masuk tergesa-gesa ke dalam kedai. Penampilan empat orang itu sangat kotor, dan mengganggu kenyamanan orang-orang yang sedang menikmati hidangan di kedai itu. Melihat penampilannya, pelayan kedai segera mendatangi keempat orang itu, kemudian mengusirnya untuk meninggalkan kedai makan itu.


"He pergilah.., kedai ini tidak melayani pengemis seperti kalian. Pergilah..!" pelayan kedai itu menghardik keempat orang yang baru datang itu.


"Kami ingin makan disini, dan kami juga akan membayarnya. Jangan kalian pikir, hanya dengan melihat pakaian kami, kalian memiliki hak untuk mengusir kami. Perlakukan kami seperti mereka!" salah satu orang yang diusir itu berbicara dengan nada tinggi.


Rengganis melihat ke wajah Wisanggeni, dan laki-laki itu tanggap dengan yang diinginkan istrinya. Laki-laki itu segera bangkit dari duduknya, kemudian perlahan menghampiri pelayan yang mengusir keempat orang tadi.


"Ki Sanak.., apa yang disampaikan keempat orang ini adalah benar adanya. Ki sanak tidak bisa hanya melihat sebuah kitab dari sampulnya saja. Layani mereka.., jika mereka tidak memiliki coin untuk membayar, gabungkan belanja mereka dengan punyaku." sambil menepuk punggung pelayan itu, Wisanggeni berbicara padanya.


"Baik Kangmas.., aku akan segera melayani mereka." melihat kesungguhan Wisanggeni, pelayan itu kemudian masuk ke dalam untuk melayani keempat orang itu.


***********


Keempat orang itu saling berpandangan, dan salah satu dari mereka kemudian menganggukkan kepala.


"Kami berempat melarikan diri dari Jagadklana Ki Sanak. Ketua Trah kami yang baru.., mereka berlaku sewenang-wenang. Mereka juga tidak segan-segan menghabisi orang-orang yang berseberangan dengan mereka." dengan bersemangat salah satu dari mereka menceritakan apa yang terjadi di Jagadklana. Dengan tatapan terkejut, Wisanggeni mengerutkan dahinya.


"Sebentar Ki Sanak. Jelaskan perkataanmu barusan! Bukannya saat ini yang memimpin Trah Jagadklana adakan Nyai Ageng, istri dari Ki Sasmita? Bagaimana bisa Nyai Ageng berlaku sewenang-wenang seperti itu. Dapat pengaruh darimana beliau?" dengan penuh pertanyaan, Wisanggeni bertanya pada keempat orang itu.

__ADS_1


Keempat orang itu terdiam, mereka tidak berani menjelaskan yang sebenarnya terjadi di Jagadklana saat ini.


"Ki Sanak.., lihatlah dengan jelas perempuan yang sedang mengandung itu? Apakah kalian mengenalnya?" melihat keempat orang itu tidak dengan jelas mau menyampaikan apa yang terjadi di Jagadklana, Wisanggeni menunjuk Rengganis.


Keempat orang itu memandang ke arah yang ditunjukkan oleh Wisanggeni. Mata mereka terbelalak, tidak mempercayai apa yang mereka lihat di depannya.


"Rara Ayu Rengganis..?" salah satu dari mereka segera menyapa Rengganis. Melihat ada orang yang memanggilnya, Rengganis berdiri dan berjalan mendekat padanya.


"Siapa kalian, darimana kalian mengenaliku?" dengan tatapan selidik, Rengganis bertanya pada mereka. Hanya orang-orang dari Trah Jagadklana yang selama ini memanggilnya dengan sebutan Rara Ayu.


"Mereka ini melarikan diri dari Jagadklana Nimas. Katanya pemimpin Klan yang baru bertindak sewenang-wenang pada semua warga masyarakat. Bukannya ibunda yang saat ini memimpin Trah untuk sementara, karena ayahnda dan orang-orang pilihan kemarin ikut mengejar Gerombolan Alap-alap?" Wisanggeni menceritakan apa yang barusan dia dengar dari keempat orang itu.


"Maafkan kami Rara Ayu.., kami tidak bisa mengenali keberadaan Rara Ayu dan suami. Ampuni kam1!" keempat orang itu memohon ampun pada Wisanggeni.


"Tidak apa-apa.., ceritakan pada kami apa yang saat ini terjadi di Jagadklana. Selama ini tidak ada orang yang memiliki penampilan seperti kalian, keluar dari Jagadklana untuk mengunjungi kota-kota lainnya." Rengganis meminta mereka untuk menceritakan kejadian yang terjadi di Jagadklana.


"Nyai Ageng diturunkan dengan paksa oleh Laksita dan orang-orangnya. Mereka menggunakan alasan bahwa selama berdirinya Trah Jagadklana, belum pernah dalam sejarah dipimpin oleh seorang perempuan. Hal itu digunakan oleh Laksito sebagai senjata untuk mempengaruhi orang-orang." dengan muka merah menahan marah, salah satu dari empat orang itu menceritakan.


"Terus dimana ibundaku saat ini.., apakah mereka menahannya?" dengan badan gemetar, Rengganis menanyakan keadaan Nyai Ageng. Tangan Wisanggeni memegangi istrinya yang tampak menahan emosinya.


"Tenangkan hatimu Nimas.., Akang yakin ibunda akan baik-baik saja. Hyang Widhi akan menjaga ibunda."

__ADS_1


**************


__ADS_2