
Tidak membutuhkan waktu lama, ternyata Wisanggeni dapat meluluhkan hati naga terbang. Tanpa diminta, naga terbang itu mengikuti kemana arah Wisanggeni dan Chakra Ashanka. Kelompok yang bergabung dengan laki-laki itu, merasa takjub dengan kemampuan putra bungsu dari Trah Bhirawa itu, dalam menundukkan lawan tanpa pertarungan. Akhirnya Wisanggeni memutuskan untuk membawa naga terbang itu pergi bersamanya, dan dengan keinginannya sendiri naga terbang itu berjalan di samping Chakra Ashanka.
"Wisang..., lihatlah di sisi sebelah kanan. Rupanya orang-orang itu mengelabui kita. Di saat kamu menundukkan naga terbang itu, mereka berusaha untuk memasuki hutan dengan mengambil jalan di sebelah sana. Bagaimana.., apakah akan kita ganggu atau kita biarkan mereka?" Widayat menunjuk ke sebelah barat dari tempat mereka berada saat ini.
"Biarkan saja Widayat.. Semua warisan keajaiban kuno, aku yakin tidak akan salah mengenali siapa yang pantas untuk dia akui sebagai majikannya yang baru. Tenanglah.., kita akan memiliki takdir masing-masing. yang penting kita tidak akan saling mengganggu. Kecuali mereka yang membuat ulah kepada kita.." dengan arif, Wisanggeni menjawab pertanyaan yang diajukan Widayat. Teman-teman yang dibawa Widayat terpukau dengan pembawaan tenang dari Wisanggeni. Mereka merasa baru kali ini bertemu dengan seseorang yang memiliki pengendalian diri yang kuat.
"Baiklah Wisanggeni.., karena kami yang memutuskan untuk bergabung dengan kelompokmu, maka kami semua akan mengikuti arahanmu. Sekarang apa yang akan kita lakukan..?" akhirnya Widayat bertanya pada Wisanggeni. Laki-laki itu tersenyum, kemudian membalikkan badan melihat kepada semua anggota kelompoknya.
"Bagaimana pendapat kalian semua, jika aku memiliki rencana untuk memasuki hutan tersebut. Mungkin kita bisa beristirahat sebentar di dalam, atau langsung berjalan masuk ke tengah hutan. Tetapi pada dasarnya, ini merupakan keputusan bersama, bukan merupakan sesuatu yang mutlak." Wisanggeni menyerahkan langkah selanjutnya kepada semua anggota kelompoknya.
Orang-orang itu saling berpandangan, tetapi tidak ada satupun yang menyampaikan pendapatnya. Setelah beberapa saat tidak ada yang berbicara, perempuan dari kelompok Widayat akhirnya turut berbicara.
"Sepertinya kita langsung masuk ke dalam hutan itu saja. Orang-orang dari kelompok lain juga sudah masuk. Kita akan segera mengetahui, apa yang akan kita temukan di dalam hutan nantinya." akhirnya Wisanggeni segera mengajak orang-orang dalam kelompoknya untuk masuk ke dalam hutan. Tidak ada yang membantah, semua orang segera mengarahkan langkah menuju hutan.
Baru beberapa saat mereka berjalan, tiba-tiba ada sekelompok orang yang sepertinya sengaja untuk mencegat mereka. Wisanggeni memberi isyarat pada orang-orangnya untuk mengabaikan hal tersebut. Semua terdiam dan terus berjalan seperti tidak melihat pada orang-orang itu.
"Heh... kalian beraninya melewati kami tanpa menyapa kami?" salah satu dari mereka bertanya pada Wisanggeni dan kelompoknya.
__ADS_1
Wisanggeni berhenti dan pura-pura tidak menyadari apa yang terjadi. Laki-laki itu menatap orang tersebut dan kelompoknya kemudian menunjuk dirinya sendiri.
"Apakah kalian tidak punya suara, masih pura-pura bodoh. Beri salam dan hormat kepada kami!" tiba-tiba seseorang dari mereka berteriak membentak Wisanggeni dan kelompoknya.
Wisanggeni hanya tersenyum dan terdiam, tetapi tidak disangka Saloka menatap mereka dengan mata melotot. Demikian pula Sampana, laki-laki itu menghunus pedang yang ada di pinggangnya.
"Ha..., ha..., ha... ternyata punya nyali juga kalian. Dan kamu anak kecil.., serahkan naga terbang kepada kami. Maka kami akan mengampuni kalian semuanya." dengan sombong, orang tersebut berbicara dengan suara keras.
"Bang...., bang... duarr." tiba-tiba Saloka mengirim serangan kepada orang yang banyak bersuara itu.
Orang-orang dari kelompok lain, memilih jalan menghindar. Mereka sudah mengetahui kekuatan yang dimiliki Wisanggeni, sehingga memilih untuk mencari jalan aman untuk menyelamatkan diri. Ketenangan yang ditunjukkan oleh Wisanggeni, mencerminkan kedalaman ilmu yang dimiliki laki-laki itu.
"Bluarr.., bluarr..." serangan yang dikirimkan pihak lawan dengan cepat dihalau oleh Chakra Ashanka. Laki-laki yang mengirimkan serangan itu menjadi terkejut, tidak mengira anak muda yang mereka pandang remeh, ternyata memiliki kekuasaan yang menakutkan.
Satu persatu dari orang yang bertarung itu sudah memiliki lawan. Wisanggeni mengajak orang-orangnya yang tidak bertarung, untuk mundur ke belakang mengamati jalannya pertarungan. Meski hanya melihat dan tidak ikut bertarung, tetapi indera ke tujuh mereka dengan peka ikut mengamati jalannya pertarungan itu.
"Clap.... Trang..." sebuah bumerang meluncur deras ke arah mereka, dan dengan pedangnya Saloka memantulkan kembali serangan tersebut.
__ADS_1
Beberapa saat pertarungan terjadi, belum terlihat pihak mana yang lebih unggul. Merasa jengah dengan apa yang terjadi, tiba-tiba aliran deras energi mengalir keluar dari tubuh Chakra Ashanka. Tekanan yang sangat kuat terhadap kekuatan lawan tiba-tiba muncul dan membanjir. Seketika beberapa dari mereka menghentikan pertarungan, dan segera mengeluarkan aura perlindungan.
"Anak muda itu ternyata tidak bisa di pandang sebelah mata. Energi yang dimilikinya sangat besar, dengan dasar kekuatan batin yang sangat kokoh. Aku yakin..., suatu saat anak muda itu akan menguasai dunia persilatan." Widayat bergumam, sambil tersenyum matanya tidak beralih menatap setiap gerakan yang dilakukan Chakra Ashanka.
"Kita jangan berani meremehkannya, sebagai putra laki-laki Wisanggeni dan Rengganis, garis keturunannya pasti sudah membekali dan menyiapkan pondasinya." berdiri di sebelahnya, Pangeran Abhiseka menanggapi gumaman yang dilakukan Widayat.
"Jangan terlalu tinggi untuk memuji putraku Ki Sanak. Jika dia gagal, kamu akan menjadi ikut kecewa." dari samping, Wisanggeni ikut menanggapi perkataan dua orang yang ada di sampingnya.
Kedua laki-laki itu menoleh, mereka tidak menyangka dari jarak yang relatif jauh, Wisanggeni bisa mendeteksi apa yang mereka bicarakan.
"Aku terlalu bosan dengan pertarungan ini. Terlalu banyak membuang waktu dan energi. Pyiaarrr...., jeglarr..." sebuah gelombang energi yang sangat besar tiba-tiba mengalir dari tubuh Chakra Ashanka, kemudian menyebar dan menggulung orang-orang itu.
Tanpa merasa bersalah, melihat ke empat orang itu dalam keadaan jungkir balik, Chakra Ashanka membalikkan badan kemudian berjalan meninggalkan mereka. Saloka, Sampana dan Widayati tertegun melihat kekuatan yang dimiliki anak muda itu.
Wisanggeni tersenyum melihat kedatangan putranya, dan naga terbang langsung menubruk anak muda itu. Mulut binatang itu terbuka dan mengeluarkan ludah, kemudian menjilati anak muda itu. Orang-orang yang melihatnya melihat hal itu dengan pandangan iri.
Suasana yang tadi ramai mendadak menjadi hening. Mereka terkejut dan menatap Chakra Ashanka tanpa berkedip. Orang-orang yang melakukan penyerangan tadi, terkapar di tanah dengan kesakitan.
__ADS_1
********