
Sekar Ratih membuka makanan yang sengaja dibelinya di hadapan semua yang duduk di pendhopo kecil itu. Tanpa minta ijin karena sudah disajikan, semua yang duduk segera tanpa ada rasa sungkan segera mengambil dan ikut menikmati makanan yang dibawa gadis muda itu.. Ayodya Putri terdiam, dalam hati kecilnya, gadis itu mengakui selalu merasa kalah dengan apa yang sudah dilakukan oleh Sekar Ratih. Perlahan-lahan meskipun sulit, gadis muda itu mencoba menghilangkan rasa iri tersebut.
"Kakang dan Nimas Parvati tadi juga membeli beberapa makanan juga, ada dimana Parvati makanan yang tadi kita beli.." tidak melihat makanan yang tadi mereka beli, Chakra Ashanka menanyakan pada adik perempuannya itu.
"Nimas letakkan di meja dalam kamar ayahnda dan ibunda kakang.. apakah perlu Nimas ambil kembali dan dibawa kesini kang..:" tidak berpikir jika makanan yang dibelinya untuk disajikan pada teman-temannya, ternyata Parvati meletakkan makanan di meja dalam kamar kedua orang tuanya.
"Sudah biarkan saja disana Nimas... ini sudah cukup banyak makanan yang aku bawa." Sekar Ratih melarang Parvati untuk mengambil makanan.
Lima orang anak muda itu kemudian melanjutkan menikmati makanan dan minuman hangat yang ada di depan mereka, dan terlihat ARya dan Dananjaya masih berada di depan kedua orang tua Chakra Ashanka dan Parvati. Melihat keseriusan mereka berbincang, anak-anak muda itu tidak ingin menguping atau mencari tahu apa yang mereka bicarakan di pendhopo samping tempat mereka duduk.
"Apa rencana kita hari ini kang Ashan.. apakah kita masih akan menghabiskan waktu di tempat ini..?" tiba-tiba Bhadra Arsyanendra menanyakan rencana hari ini. Chakra Ashanka mengambil cangkir kayu, kemudian meneguk minuman beberapa teguk, kemudian kembali meletakkan cangkir itu ke atas meja di depannya.
"Aku akan bertanya dulu dengan ayahnda dan ibunda Raden.. Jika ayahnda dan ibunda masih merasakan kelelahan, maka melanjutkan beristirahat di tempat ini adalah pilihanku. Tetapi jika ayahnda dan ibunda sudah merasa cukup, dan kekuatannya sudah kembali, sudah menjadi tugasku dan Parvati sebagai putra dan putri mereka, untuk membantu mewujudkan keinginan mereka." sahut Chakra Ashanka menanggapi perkataan Bhadra Arsyanendra.
"Maksudnya bagaimana kang, tanggung jawab putra dan putri..?" merasa bingung dengan apa yang dibicarakan anak muda itu, Bhadra Arsyanender meminta penjelasan,
Terlihat Chakra Ashanka tersenyum, kemudian memandang empat orang yang berada di sekitarnya itu.
__ADS_1
"Raden.. tujuan ayahnda dan ibunda hingga sampai dan datang di tempat ini, karena ingin melunaskan janji yang telah diucapkannya pada Ki bawono. Tanggung jawabku dan Parvati untuk membawa mereka berdua untuk menuju ke sana.." sambil tersenyum, anak muda itu menjelaskan.
Mendengar penuturan dari anak muda itu, ke empat orang itu ikut tersenyum dan menganggukkan kepala. Mereka membenarkan apa yang harus mereka lakukan. Menjadi kewajiban dan tanggung jawab anak keturunannya, untuk dapat mewujudkan keinginan dari kedua orang tua mereka. Mereka betul-betul bisa dijadikan sebagai suri tauladan dalam membahagiakan orang tua mereka.
"Apakah kang Ashan sudah mengetahui dimana keberadaan padhepokan Ki Bawono..?" Bhadra Arsyanendra melanjutkan pertanyaan.
"Belum Raden.. tetapi aku bisa mencari tahu dimana letak pasti dari padhepokan itu. Aku tidak memaksa Raden untuk tetap bersama denganku Raden. kembalilah ke kerajaan, jalankan pemerintahan dengan bantuan perangkat kerajaan yang lain." Chakra Ashanka dengan tegas menjawab pertanyaan raja dari kerajaan Logandheng itu.
"Aku akan melihat-lihat dulu untuk beberapa saat kang Ashan. Bagaimanapun paman Wisanggeni dan Bibi Rengganis, juga menjadi tanggung jawab saya, masih ingat bagaimana mereka berdua berjuang untuk membantuku, dan memberiku ijin untuk tinggal di padhepokan. Jangan melarangku kang Ashan.. untuk menunaikan tanggung jawabku juga.." sambil menundukkan kepala, Bhadra Arsyanendra menjawab.
Semua yang berada di tempat itu terdiam, mereka membenarkan apa yang ingin dilakukan oleh Bhadra Arsyanendra. Namun perkataan Chakra Ashanka juga tidak salah, karena tanggung jawab besar yang harus dipikul oleh Bhadra Arsyanendra sebagai pemimpin sebuah kerajaan,
*******
Ternyata Wisanggeni dan Rengganis masih memutuskan untuk menambah istirahat mereka di penginapan itu. Pasangan suami istri itu menghabiskan waktu istirahat bukan untuk berjalan-jalan berkeliling tempat mereka berada, tetapi lebih banyak berada di dalam kamar, melakukan semedi untuk mengambil kekuatan alam agar kekuatan dan energi mereka segera kembali.
Di depan kamar tempat mereka beristirahat. Arya dan Dananjaya terlihat mendatangi Parvati yang akan masuk ke dalam kamarnya. Gadis muda itu baru saja mendatangi kamar tempat beristirahat Chakra Ashanka.
__ADS_1
"Nimas Parvati.. dari mana kamu. Bolehkah kita berbincang sejenak..?" Dananjaya mengajak bicara Parvati, dan kakangnya Arya tersenyum mendengarnya. Kedua anak muda itu segera mendatangi gadis muda itu.
"Baik kang.. kita akan berbincang dimana. Jika di depan kamar ini, tidak ada lincak untuk tempat kita duduk berbicara.." melihat tidak ada fasilitas tempat duduk di depan kamar yang mereka tempati, Parvati terlihat bingung.
"Jika tidak mengganggu kesibukan Nimas.. mungkin kita bisa berjalan keluar dari penginapan sebentar saja Nimas. Sepertinya aku melihat ada kedai yang menjual minuman dan kudapan, dan terlihat juga beberapa orang banyak duduk-duduk dan berbincang disana.." Arya mengusulkan tempat untuk mereka berbincang.
Parvati terdiam sejenak, namun setelah mempertimbangkan jika tidak ada tanggung jawab penting yang harus diselesaikannya kali ini, akhirnya gadis itu perlahan menganggukkan kepala. Arya dan Dananjaya tersenyum melihat persetujuan dari gadis itu.
"Mari segera berangkat Nimas.. setelah selesai nanti, agar Nimas biar cepat untuk kembali beristirahat.." Dananjaya segera mengajak mereka untuk berangkat.
:Baiklah kakang.. kebetulan aku juga sedang tidak ada urusan. Tapi ijin untuk mengancing terlebih dahulu pintu kamarku.." Parvati kemudian memasang pengancing pintu, dan setelah memastikan jika tidak akan ada orang yang bisa memaksa masuk, akhirnya gadis muda itu segera berjalan menghampiri kedua anak muda itu.
Ketiga anak muda yang terdiri dari dua anak laki-laki, dan satu anak perempuan itu segera bergegas melangkahkan kaki mereka untuk menuju ke arah luar dari penginapan. Tanpa bicara dan juga tanpa berpamitan, ketiganya keluar dari dalam penginapan sambil berbicara.
Di belakang mereka bertiga, dengan pandangan mata terkejut Bhadra Arsyanendra melihat ketiga anak muda itu berjalan meninggalkannya. Namun.. bibir anak muda itu merasa kelu, maksud hati ingin mencegah perginya Parvati, namun ada keraguan yang tidak mengijinkannya.
"Apa yang terjadi Raden Bhadra.., apakah hatimu sakit melihat Nimas Parvati pergi bersama dengan kedua anak muda itu..?" tiba-tiba Bhadra Arsyanendra menoleh, ternyata terlihat Ayodya Putri sedang berdiri di belakangnya.
__ADS_1
Anak muda itu hanya tersenyum kecut tidak menanggapi perkataan Ayodya putri. Benar yang ada dalam pikiran gadis muda itu, meskipun Bhadra Arsyanendra memiliki keinginan untuk mendekatkan hubungannya dengan Parvati, namun dirinya tidak memiliki keberanian sebesar dua anak muda yang saat ini sedang pergi, bersama dengan Parvati.
*********