
Bhadra Arsyanendra dengan tidak sabar segera datang ke pendhopo tempat beristirahat Chakra Ashanka. Pengawal laki-lakinya sudah memberi kabar kepadanya, tentang kedatangan putra dari pemilik perguruan Gunung Jambu. Tidak mau menunggu lagi, laki-laki muda itu segera bergegas menuju ke senthong Chakra Ashanka. Namun.. untung saja Bhadra Arsyanendra belum sampai di pintu senthong, karena tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara Chakra Ashanka.
"Raden Bhadra.. mau kemanakah dirimu pagi-pagi buta seperti ini. Apakah kamu sudah terlalu merindukan Sekar Ratih, sehingga langsung mendatangi senthong tempatnya istirahat?" suara Chakra Ashanka terdengar mengolok-olok anak muda itu.
Dengan cepat, anak muda itu menoleh ke arah sumber suara, dan senyuman tersungging di bibirnya ketika melihat Chakra Ashanka sedang duduk di pendhopo sambil menatapnya. Di depan Chakra Ashanka sudah tersaji minuman dan kudapan.
"Kamu curang kang Ashan.. sengaja merahasiakan kedatanganmu kembali padaku.." Bhadra Arsyanendra mengangkat telapak tangannya, dan kedua anak muda itu saling menepukkan telapak tangannya ke atas.
"Ha.. ha.. ha.. jika aku curang Raden.. Kamu pasti belum tahu tentang kedatanganku saat ini, buktinya pagi-pagi buta kamu sudah berkunjung ke pendhopoku." Chakra Ashanka memberi tanggapan atas perkataan protes yang dialamatkan kepadanya.
"Ha.. ha.. ha.. benar.., benar kakang.. Bagaimana kabar paman dan Bibi serta Nimas Parvati kang Ashan. Aku juga merindukan mereka semua. Sudah beberapa purnama, aku belum pernah lagi bertemu dengan mereka." Bhadra Arsyanendra berbasa basi menanyakan kabar keluarga anak muda di depannya itu.
"Mereka tentu saja baik-baik saja Raden.. Jika ada sesuatu yang buruk pada mereka, bukankah aku belum akan sampai kembali ke perguruan Gunung Jambu." dengan cepat, tanggapan keluar dari mulut Chakra Ashanka.
Bhadra Arsyanendra hanya tersenyum mendengar jawaban dari anak muda itu. Tiba-tiba kedua anak muda itu terdiam.., masing-masing tenggelam dalam pikirannya. Namun.. karena sudah beberapa hari putra mahkota kerajaan Logandheng itu ingin mendengarkan jawaban dari Chakra Ashanka, akhirnya anak muda itu memulai pembicaraan ke arah itu.
"Kakang.. apakah kang Ashan sudah bisa menjawab permintaanku saat ini?" tiba-tiba dengan wajah serius, Bhadra Arsyanendra mengarahkan pandangannya pada anak muda di depannya itu.
__ADS_1
Namun belum sampai Chakra Ashanka memberikan tanggapan atas pertanyaan anak muda itu, tiba-tiba Sekar Ratih dan Ayodya Putri berjalan keluar dari dalam senthong Chakra Ashanka. Kedua gadis muda itu segera menuju ke tempat kedua anak muda itu berbicara.
"Kalian sudah pada bangun Nimas..?" Chakra Ashanka bertanya pada kedua gadis itu.
"Sudah sejak tadi sebenarnya kakang. namun Nimas Putri masih merasa malas untuk aku ajak keluar dari dalam senthong. Akhirnya baru sekarang kita keluar.." Sekar ratih dengan cepat menanggapi pertanyaan Chakra Ashanka. Pandangan gadis muda itu terarah pada Bhadra Arsyanendra,
"Ternyata Raden Bahdra masih kerasan di perguruan Gunung Jambu ya. Aku pikir, raden sudah kembali ke karajaan Logandheng beberapa waktu lalu." melihat ada Bhadra Arsyanendra disitu, tidak lupa Sekar ratih menyapa pada anak muda itu.
"Iya Nimas.. sesuai janjiku. Aku tidak akan kembali ke kerajaan Logandheng jika tidak ditemani oleh kang Ashan. Apakah kamu sudah melupakan janjiku saat itu?" Bhadra Arsyanendra mengajukan pertanyaan pada Sekar Ratih.
Gadis muda itu kembali mengingat perkataan anak muda itu, tetapi sejak dulu gadis itu tidak pernah menganggap serius perkataan itu. namun ternyata anak muda itu masih mengingatnya, dan menjadikan perkataan di waktu dulu itu menjadi sesuatu yang serius.
Setelah para anak muda itu kembali berdiskusi, akhirnya diperoleh kesepakatan jika mereka akan segera menuju kerajaan Logandheng. Pengawal Bhadra Arsyanendra segera mengirimkan nawala pada pihak kerajaan, untuk mengirimkan pernjemputan menuju perguruan Gunung Jambu. Rasa sedih menghinggapi perasaan para murid, karena mereka akan kembali ditinggalkan oleh anak muda itu. Namun setelah mereka menelaah dan berpikir panjang tentang keputusan itu, akhirnya mereka menyetujui kepergian anak muda itu dari perguruan.
"Paman.. apakah sudah dikondisikan mengenai kepulangan kita ke kerajaan Logandheng?" Bhadra Arsyanendra bertanya pada paman pengasuhnya.
"Semuanya sudah disiapkan Raden. dari pihak kerajaan akan mengirimkan dua kereta kencana dan pasukan berkuda, untuk memberikan pengawalan keberangkatan Raden Bhadra dan Den bagus Ashan menuju kerajaan. Kita tinggal menunggu esok lusa, mereka pasti sudah akan tiba dan menunggu di tapal batas," pengawal laki-laki memberikan laporan.
__ADS_1
"Baik.. terima kasih paman. Kang Ashan.. kakang sudah mendengar sendiri laporan dari pengawal pribadiku. Malam ini dan esok, kang Ashan bisa segera bersiap untuk meninggalkan perguruan ini. Mengenai Nimas Ratih dan Nimas Putri, jika kakang Ashan akan mengajaknya, pihak kerajaan sudah menyetujuinya. Mereka berdua akan tinggal bersama dalam satu kediaman dengan kang Ashan. Hanya saja mereka sudah disiapkan Kaputren di lingkup padhepokan untuk kakang." putra mahkota itu melanjutkan membuat sebuah pengaturan.
Chakra Ashanka menoleh pada Ayodya Putri dan Sekar Ratih. Sebenarnya meskipun Bhadra Arsyanendra tidak membuat penawaran untuk mereka, anak muda itu tetap akan membawa kedua gadis itu. Dan sejak keputusan yang diambilnya itu, kedua gadis itu sudah memiliki pikiran yang tidak-tidak. Mereka masih memiliki keraguan apakah akan diajak atau ditinggal oleh anak muda itu.
"Nimas Putri.., Nimas Sekar.. kalian berdua sudah mendengarnya sendiri bukan. Tanpa kalian meminta, Raden Bhadra juga sudah memikirkan kalian. Bersiaplah.. esok lusa, kalian berdua akan menemani menempuh perjalanan menuju kerajaan Logandheng." untuk lebih meyakinkan pada kedua gadis itu, Chakra Ashanka mempertegas ajakan pada kedua gadis itu.
"Iya kakang.. Nimas sudah mendengarnya. Sebelum ada keputusan ini, sebenarnya Nimas sudah berputus asa, dan akan kembali ke kota asal Nimas.. Tapi mendengar kalian berdua tidak melupakanku dan Nimas Sekar.. hanya ribuan terima kasih terhatur untuk kalian berdua.." Ayodya Putri menanggapi perkataan Chakra Ashanka dan Bhadra Arsyanendra.
Sekar Ratih tidak berbicara, perempuan itu mengangkat kedua tangan dan membuat gerakan seperti menyembah pada kedua anak muda itu. Gadis itu sangat terharu dengan kesempatan yang dapat dirasakannya, setelah Chakra Ashanka membawanya dari lereng pegunungan.
"Semuanya sudah jelas dan sudah terinformasikan. Pasukan kerajaan Logandheng juga sudah akan menjemput kita, dan esok lusa kita semua akan menempuh perjalanan kembali ke kerajaan. Mungkin cukup untuk saat ini kakang Ashan kita membuat pengaturan. Aku akan kembali ke senthongku untuk berbicara hal penting dan rahasia dengan kedua pengawalku." Bhadra Arsyanendra berpamitan, karena merasa urusan mereka sudah selesai.
"Pergilah Raden.." Chakra Ashanka berkata singkat. Anak muda itu kemudian menatap pada kedua gadis yang selalu bersamanya itu. Kedua gadis itu kebingungan mendapatkan tatapan dari Chakra Ashanka.
"Ada apa kang.., kenapa melihat kami dengan tatapan seperti itu?" Sekar ratih memberanikan diri bertanya pada anak muda itu.
"Hmm.. hanya ingin menikmati wajah kalian saja selagi masih banyak waktu. Jika sudah menjalankan ayahan dan tanggung jawab di kerajaan Logandheng, aku khawatir jika kebersamaan kita akan berkurang." sahut Chakra Ashanka.
__ADS_1
********