Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 209 Aku akan Mempertimbangkan


__ADS_3

Hari-hari di padhepokan perbukitan Gunung Jambu, kembali berjalan seperti hari-hari biasanya. Ketenangan dan kedamaian mengalun di padhepokan tersebut, dan dengan banyaknya para ahli yang mengabdikan hidup disitu, suasana perguruan menjadi lebih tertata. Bahkan murid-murid baru terus berdatangan. Pangeran Abhiseka yang semula hanya berniat untuk mampir dan berjumpa dengan Wisanggeni, akhirnya malah membantu perguruan di situ. Kehadiran Niken Kinanthi di tempat itu, juga menjadi alasan tersendiri bagi Pangeran Abhiseka untuk memutuskan menetap di padhepokan ini.


"Nimas Niken..., bolehkah aku tahu, bagaimana perasaanmu terhadap Pangeran Abhiseka..?? Sepertinya pewaris kerajaan Laksa itu tampak mengagumimu, dan menunggu untuk mendengar jawaban darimu." tiba-tiba Rengganis menanyakan tentang perasaan Niken Kinanthi terhadap Pangeran Abhiseka.


"Aku sendiri belum yakin dengan perasaanku Nimas.., tetapi sepertinya suatu saat aku akan memberi kesempatan pada laki-laki itu. Hanya saja, untuk saat ini aku belum bisa menerimanya." merasa terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba dari Rengganis, Niken Kinanthi sedikit menjadi gelagapan. Akhirnya tidak ada pilihan lain untuk perempuan muda itu, dia menjawab pertanyaan itu.


"Semoga saja Sang Hyang Widhi segera membuka perasaanmu Nimas. Dan semoga bukan karena kang Wisang di hati Nimas, yang menghalangimu untuk memilih Pangeran Abhiseka." kalimat terakhir yang diucapkan Rengganis, seperti memukul telak perasaan Niken Kinanthi. Gadis muda itu tidak menyangka, jika dengan mudah perasaan dan pikirannya dibaca oleh orang lain. Semula Pangeran Abhiseka pernah dengan telak mengatakannya, dan saat ini dia mendengarnya sendiri dari istri laki-laki yang diharapkannya untuk dimiliki.


"Kenapa Nimas Rengganis berpikiran seperti itu padaku. Apakah selama ini ada sikap dan perlakuanku yang menyinggung perasaan Nimas atau kang Wisanggeni?" dengan tergagap, Niken Kinanthi balik bertanya pada Rengganis. Istri dari Wisanggeni itu tersenyum lembut, kemudian meraih tangan Niken Kinanthi dan menggenggamnya.


"Tidak ada yang salah dengan sikap dan perbuatanmu pada suamiku Nimas. Hanya saja, aku seperti bisa membaca hati dan rasamu. Harapanku, semoga saja perasaanmu pada kang Wisang hanya sebagai alat atau cara untuk menghilangkan rasa bersalahmu pada suamiku, bukan sebuah rasa untuk memiliki seutuhnya. Maukah kamu berjanji padaku Nimas?" dengan suara bergetar, Rengganis meminta janji dari Niken Kinanthi.


Sesaat Niken Kinanthi terdiam, begitu juga dengan Rengganis. Berbagai rasa bercampur aduk di hati perempuan muda dari Trah Suroloyo itu. Namun, jika dia tidak mengucapkan janji itu, akan menyakiti hati istri dari Wisanggeni. Akhirnya dengan berat hati, Niken Kinanthi menganggukkan kepala. Gadis muda itu menyetujui apa yang dikatakan oleh Rengganis.

__ADS_1


"Akankah kamu menerima perasaan yang ditawarkan Pangeran Abhiseka?? Maafkan aku yang terlalu mendiktemu Nimas.. Aku juga ingin melihatmu bersanding dengan laki-laki pilihan hatimu, dan segera memiliki momongan seperti Chakra Ashanka." kembali Rengganis mengejar jawaban dan penjelasan dari Niken Kinanthi.


"Aku akan mempertimbangkannya Nimas. Dalam waktu yang tidak begitu lama, aku akan mengatakan jawabanku pada Pangeran Abhiseka. Tetapi aku masih butuh untuk memantapkan hati dan perasaanku. Terima kasih Nimas, untuk semuanya." kalimat yang dikatakan Niken Kinanthi melegakan hati Rengganis. Perempuan muda ibunda Chakra Ashanka itu menarik tubuh Niken Kinanthi, dan mereka berpelukan erat. Tanpa sadar, aliran air mata menetes dari sudut mata Niken Kinanthi dan mulai mengalir ke pipinya.


Dari jarak yang tidak bergitu jauh, terlihat Wisanggeni dan Pangeran Abhiseka melihat interaksi kedua perempuan itu sambil tersenyum penuh makna.


************


Malam hari saat orang-orang di padhepokan terlelap tidur, Andhika  dan Jatmiko mengendap-endap berada di depan pintu kamar yang digunakan Pangeran Abhiseka istirahat. Seperti ada keraguan, Andhika memberanikan diri mengetuk pintu kamar tersebut. Ternyata Pangeran Abhiseka belum tidur, laki-laki itu masih melakukan meditasi di atas ranjang kayu yang ada di kamarnya. Dengan segera laki-laki itu membuka pintu, dan menatap Andhika dan Jatmiko dengan perasaan ingin tahu.


"Ampuni kami Pangeran, ada hal penting yang harus segera kami beri tahukan pada Pangeran. Barusan merpati koleksi Pangeran membawa kabar tentang suasana yang ada di kerajaan Laksa Pangeran. Setelah melihat dan membacanya sekilas, kami berdua segera bergegas datang untuk memberi tahukan kabar ini kepada Pangeran." dengan wajah ketakutan, Andhika menyampaikan informasi.


"Merpati koleksiku...?? Cepat ceritakan Andhika.., hanya ayahnda yang bisa dan dipercaya oleh merpatiku untuk dapat memerintahnya." denga tidak sabar, Pangeran Abhiseka segera bertanya pada Andhika.

__ADS_1


"Terjadi pemberontakan di kerajaan Pangeran. Saat ini raja dan permaisuri ditahan di penjara bawah tanah oleh putra dari ibunda selir kerajaan. Sepertinya Prakosa tahu, jika saat ini Pangeran tidak ada di tempat, sehingga laki-laki itu berani untuk menyerang istana kerajaan." dengan berat hati, Andhika menyampaikan kabar buruk itu.


Mendengar cerita yang disampaikan pengawalnya itu, Pangeran Abhiseka menjadi terhenyak. Laki-laki itu kembali terduduk di atas ranjang, tampak penyesalan tergambar di wajahnya. Setelah terdiam beberapa saat..,


"Aku akan memberi tahu masalah ini pada Wisanggeni Andhika. Hanya laki-laki itu saat ini yang menjadi keluargaku. aku akan minta pamit malam ini juga untuk meninggalkan padhepokan ini. Semoga saja laki-laki itu berkenan untuk aku bangunkan malam ini, dan juga berkenan untuk mnedengarkan kegundahanku." dengan segera, Pangeran ABhiseka beranjak dari tempat duduknya. Laki-laki itu segera keluar dari dalam kamar. Andhika dan Jatmiko mengikuti Pangeran Abhiseka menuju pondhok yang ditempati Wisanggeni untuk beristirahat.


Tidak lama beberapa saat kemudian, mereka bertiga sudah berada di halaman pondhok Wisanggeni. Tetapi baru saja mereka akan masuk ke pondhok yang tidak dikunci, terlihat Tunggul Seto dan Baskoro berjalan menghadang mereka. Kedua orang itu memang memiliki giliran berjaga malam ini. Melihat ada orang yang ingin memasuki pondhok pemilik perguruan, kedua orang itu dengan cepat melakukan penjagaan.


"Ada perlu apa Pangeran.., malam-malam begini Pangeran berada di pondhok Den Wisanggeni. Bahkan sepertinya terlihat akan memasuki pondhok tanpa ijin." dengan nada sarkasme, Tunggu Seto menanyai Pangeran Abhiseka.


"Jika tidak ada kepentingan yang sangat penting, kami tidak akan berada disini malam ini Seto. Pangeran bersama kami berada disini, karena ingin bertemu dan sekaligus berpamitan kepada Wisanggeni. Jika tidak, kami tidak akan berani untuk menginjak halaman pondhok ini di malam hari." dengan cepat, Andhika menanggapi pertanyaan Tunggul Seto.


"Kalau begitu, tunggulah sejenak. Biar kami berdua yang akan membangunkan Den Wisang, bukan kalian bertiga." dengan cepat Tunggul Seto memotong perkataan Andhika.

__ADS_1


"Krettt.." tiba-tiba tanpa mereka sadari, pintu pondhok Wisanggeni terbuka dari dalam. Laki-laki bertubuh tegap itu tiba-tiba sudah berdiri di pintu.


**************


__ADS_2