Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 56 Bepergian Bertiga


__ADS_3

Saat orang-orang di Klan Suroloyo masih beristirahat dalam peraduannya, Rengganis dan Wisanggeni sudah bersiap untuk pergi. Mereka sengaja tidak melakukan pamitan secara resmi pada warga disitu, karena mereka tidak mau ada banyak orang yang malah akan menghambat perjalanan mereka. Meskipun masih sedikit kesal dengan apa yang sudah dilakukan kekasih hatinya itu dengan Niken, tetapi Rengganis mencoba menghibur hatinya sendiri. Dia berjanji untuk terus menjaga  dan tidak akan melepaskan Wisanggeni dengan perempuan manapun.


"Singa Ulung.., kamu sudah siap untuk mengantarkan kami?" Wisanggeni mengelus bulu lembut di kepala kucing berwarna putih itu.


Singa putih itu menggesek-gesekkan kepalanya di perut Wisanggeni sebagai jawaban jika kucing itu menyetujuinya. Rengganis tersenyum melihat interaksi keduanya. Mereka berjalan sampai di pinggir desa, dan saat Wisanggeni menepuk kaki kanan Singa Ulung, binatang itu langsung berubah bentuk menjadi seekor singa besar dengan  sayap di kanan dan kirinya.


"Kang Wisang..., Nimas Rengganis.." baru saja mereka akan naik ke atas punggung Singa Ulung, terdengar Niken memanggil mereka dan saat ini bergegas menuju ke arah mereka. Rengganis dan Wisanggeni saling berpandangan, dan laki-laki muda itu hanya mengangkat kedua bahunya ke atas.


Mereka berdua menunggu kedatangan Niken sampai di depan mereka.


"Ada apa Nimas Niken, kenapa pagi-pagi seperti ini kamu sudah berada di tempat ini?" Wisanggeni bertanya pada perempuan itu.


"Aku akan mengikuti perjalanan kang Wisang ke Gunung Baturetno. Aku akan ikut membebaskan paman Mahesa, untuk menebus kesalahan yang telah sangat melukai hati beliau. Ijinkan aku kang Wisang!" Niken memohon untuk mengikuti mereka berdua.


Di satu sisi, Wisanggeni membutuhkan tambahan orang untuk menyelamatkan ayahndanya. Tetapi di sisi lain, kehadiran Niken disini, pasti akan menyakiti perasaan Rengganis. Dia juga khawatir jika, perempuan itu akan menggodanya lagi. Laki-laki muda itu diam, dia hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatal. Sedangkan Rengganis juga ikutan diam, dan mukanya sedikit menunjukkan ekspresi kurang senang.


"Kalaupun kang Wisang dan Nimas Rengganis keberatan untuk menerima Niken bersama dengan kalian dalam perjalanan ini, Niken akan melakukan perjalanan ke Gunung Baturetno sendiri dan janji tidak akan mengganggu kalian berdua." melihat keheningan yang terjadi di depannya, Niken berusaha menetralisir keadaan.


Wisanggeni masih diam tidak bicara, dia hanya memandang ke mata Rengganis yang masih menunjukkan ekpresi kurang senangan. Kejadian dengan Niken di atas bukit saja, berdampak pada didiamkannya Wisanggeni oleh Rengganis, apalagi jika Niken saat ini bergabung dengan mereka.


"Baiklah.., mari kita lakukan perjalanan bertiga! Lumayan ada yang akan membantuku berpikir, akan makan apa nanti di jalanan." Rengganis tiba-tiba berseru, dia mengijinkan Niken bergabung dengan mereka.


Wisanggeni menatap Rengganis dengan heran, dia sampai mengerenyitkan keningnya karena kekasihnya itu tidak memberikan penjelasan padanya. Dia malah berjalan meninggalkan Wisanggeni yang masih berdiri melihatnya.

__ADS_1


"Anis..., kenapa kamu meninggalkan aku?" Wisanggeni memegang tangan Rengganis, dia sengaja menahan gadis itu meninggalkannya. Rengganis berhembus, tetapi dia tidak membalikan badannya.


Wisanggeni langsung menarik tangan Rengganis, kemudian membalikkan badannya. Laki-laki muda itu tidak menghiraukan keberadaan Niken disitu, dia langsung memeluk Rengganis dan memberikan ciuman di bibir gadis itu. Muka Rengganis menjadi merah padam, dia merasa malu mendapatkan perlakuan intim di depan Niken.


"Kamu harus memberikan aku penjelasan Nimas, apa maksudmu dengan mengijinkan Nimas Niken untuk bersama dengan kita?" bisik laki-laki muda itu di telinga Rengganis.


Melihat keintiman itu, Niken merasa malu sendiri. Dia menolehkan kepalanya, dia tidak untuk melihatnya. Kemarin dia memaksakan ciuman pada laki-laki muda itu, tetapi kemudian menolaknya, saat ini dengan tatapan iri dia melihat itu di depan matanya.


"Akan lebih mudah bagiku untuk mengawasi jika kalian berdua ada di depanku. Daripada kucing-kucingan kalian melakukannya di belakangku." sahut Rengganis.


Wisanggeni hanya tersenyum kecut, kemudian dia melepaskan Rengganis. Kemudian dia kembali mendatangi Niken.


"Nimas..., ikutlah bersama kami. Rengganis mengijinkan." Wisanggeni berbicara dengan Niken.


*********


Niken yang baru kali ini merasakan terbang tinggi di angkasa, sangat takjub melihat pemandangan yang ada di depan matanya. Tetapi karena kedua orang yang di belakang tidak mengajaknya bicara, dia hanya menelan sendiri rasa kekaguman itu.


"Tujuan kita kemana dulu Kang Wisang?" tanya Rengganis pada Wisanggeni.


"Akang juga belum tahu Nimas, kita ikut Singa Ulung saja. Akan diturunkannya dimana kita nantinya?" karena belum memahami wilayah yang akan mereka datangi, Wisanggeni menjawabnya tidak tahu.


"Menurut Niken.., kita bisa beristirahat dulu di wilayah Somapura Akang. Disana tempat yang paling tepat untuk mempersiapkan diri naik ke atas Gunung Baturetno." tiba-tiba Niken mengusulkan pendapat.

__ADS_1


"Apakah kamu sudah pernah berada di wilayah itu Nimas?" Wisanggeni langsung menanggapi perkataan Niken.


"Untuk tepatnya awal pendakian belum Akang, apalagi sampai naik ke atas. Karena setahu Niken, Alap-alap memasang portal yang menghalangi orang asing untuk dapat menembusnya. Tetapi untuk wilayah Somapura, sudah dua kali Niken pernah diajak oleh ayahnda dan perguruan Kilat Merah." Niken membantu memberikan penjelasan.


"Tapi sepertinya kita membutuhkan istirahat dulu Akang, Rengganis ingin meluruskan dulu punggung diatas ranjang." sahut Rengganis dengan nada kekanak-kanakan.


"Baik Nimas Anis..., nanti menjelang siang, Singa Ulung biar mencari pedesaan atau perkotaan terdekat. Kita bisa sekaligus mencari kedai untuk makan siang." tidak mau membuat gadis itu tambah marah, Wisanggeni mengiyakan keinginan dari Rengganis.


Niken menggigit bibirnya, dia merasa jika gadis yang saat ini duduk di belakangnya itu sedang memancing rasa cemburunya. Dia tersenyum kecut, tidak menanggapi perkataan Rengganis.


"Singa Ulung..., kamu dengar ucapan Nimas Rengganis kan? Cari desa atau kota untuk tempat kita melepaskan kepenatan pada siang hari nanti." Wisanggeni berbicara pada Singa Ulung.


"Auuummm." binatang itu mengaum panjang, sebagai isyarat jika dia memahami perkataan Wisanggeni.


"Rengganis pegal kang Wisang, akang bantu pijat punggung Anis ya kang!" dengan suara manja, di atas punggung Singa Ulung Rengganis merajuk pada Wisanggeni. Gadis itu betul-betul tidak menganggap jika ada Niken disitu.


Tanpa membantah, tangan Wisanggeni dengan sigap langsung memberikan pijatan lembut di punggung Rengganis.


"Aaakhh enak kang.., agak ke depan sedikit bisa kang!" dengan nada dibuat-buat, Rengganis mendes...ah untuk memanas-manasi Niken. Wisanggeni hanya garuk-garuk kepala melihat kenekatan Rengganis.


"Aku harus bertahan, aku harus menahannya. Lihat saja, apa yang akan aku lakukan jika kita sudah sampai di dalam penginapan." dengan tersenyum sinis, Niken berbicara pada dirinya sendiri.


**********

__ADS_1


__ADS_2