
Pangeran Abhiseka terkesiap melihat kemajuan pesat Pangeran Prakosa, dimana dalam waktu yang cepat sudah bisa menguasai ajian yang baru saja dia lepaskan. Menggunakan tenaga Ombak Bayu, kedua tangan Pangeran Abhiseka bergerak-gerak dan angin menderu dengan cepat mempermainkan api yang ada di ujung tombak ghaib yang muncul di tangan Pangeran Prakosa.
"Clap..., bluarr.." kelima mata tombak mengejar arah Pangeran Abhiseka bergerak, dan mencari peluang untuk mengirim serangan pada laki-laki tersebut. Dengan cepat, Pangeran ABhiseka melompat mundur ke belakang, kemudian tangannya di angkat ke atas. Tiba-tiba datang suatu bunyi dari langit seperti angin kencang yang menderu dan memenuhi tempat mereka melakukan pertarungan.
Pangeran Prakosa menggunakan mata tombak untuk menghalau serangan angin yang terus membuatnya terangkat dari atas tanah, dan Abhiseka terus maju mendesak laki-laki tersebut. Kedua putra Raja Achala beda ibu tersebut saling mengadu tenaga dan kekuatannya. Sesekali Pangeran Abhiseka membuat gerakan untuk mengacaukan pertahanan kaki Pangeran Prakosa, tetapi rupanya pangeran tersebut saat ini bukan pangeran teman bermainnya ketika masih kecil. Perguruan Tapak Geni memberi pengalaman tanding bagi putra selir kerajaan itu.
"Masamu sudah berakhir Abhiseka.., serahkan kerajaan ini padaku..! Sudah saatnya, kamu turun dari keistimewaan yang diberikan oleh romo prabu.." dengan tatapan sinis, Pangeran Prakosa memancing emosi dan kemarahan Pangeran Abhiseka.
"Hmmm..., apakah kamu berpikir jika aku memiliki niat untuk menggantikan romo prabu .. Prakosa..? Jika kamu membicarakan baik-baik denganku, maka aku akan memberikan takhta kerajaan untukmu adikku.. Tetapi karena kamu sudah membuat luka di hati romo prabu, dan bahkan berani memenjarakan ibunda ratu dan romo prabu, maka aku cabut keinginanku. Tempatmu bukan lagi disini Prakosa.., pergilah.., tinggalkan segera kerajaan Laksa.." dari awal, memang Pangeran Abhiseka tidak mau menerima tampuk kekuasaan dari kerajaan Laksa. Laki-laki itu sudah mendapatkan kenyamanan dan arti hidup dengan melakukan petualangan ke seluruh penjuru. Tetapi rupanya, Pangeran Prakosa terlalu dimabuk kekuasaan, dan pengaruh buruk dari selir kerajaan.
"Ha..., ha..., ha..., terlalu banyak bicara kamu Abhiseka. Ajian Punjul Antakusuma..., keluarlah...!" tidak diduga oleh Pangeran Abhiseka, tiba-tiba Prakosa berteriak keras memanggil ajian andalannya. Kembali tombak ghoib dengan lima mata api muncul di tangannya, dan lidah-lidah api tersebut menjulur keluar menyerang Pangeran Abhiseka.
Pangeran Abhiseka berlari menghindar ke belakang untuk mengeluarkan jurus andalannya, tetapi rupanya laki-laki itu kalah cepat dengan Prakosa. Baru saja kedua kaki Pangeran Abhiseka akan menginjak tanah, sambaran kaki Prakosa yang dialirkan tenaga dalam meruntuhkan pertahanannya.
__ADS_1
"Dukk..., brukkk.." tiba-tiba Pangeran Abhiseka kehilangan keseimbangan. Angin menderu yang diciptakannya, perlahan berputar-putar kehilangan kendali. Untuk mencegah dampak merugikan dari serangannya, dengan cepat Pangeran Abhiseka menarik kembali serangannya, tetapi naasnya gerakan itu dibaca oleh Pangeran Prakosa.
Tidak diduga, Pangeran Prakosa merubah pola serangannya. Dengan tersenyum sinis, laki-laki itu membalikkan tubuhnya dan tidak diduga, tombak gaib dengan lima mata api itu dengan cepat terbang melesat menuju ke arah Pangeran Abhiseka yang masih terbaring. Putra mahkota kerajaan Laksa tidak dapat menghalau serangan itu, matanya dengan tajam menatap lima bilah tombak dengan mata api yang mengarah dengan deras ke arahnya. Mata laki-laki muda itu terpejam, tampaknya Pangeran Abhiseka sudah pasrah akan tombak api yang akan menembus dadanya. Tetapi tiba-tiba...
"Clang..., bluarrrr..." tiba-tiba terjadi benturan keras dengan suara pedang. Tombak ghaib dengan lima bilah mata api itu, tiba-tiba kehilangan kekuatannya dan raib. Mata Pangeran Prakosa terbelalak, melihat seorang gadis yang sangat cantik berdiri di samping Pangeran Abhiseka dan menatapnya dengan tatapan marah.. Ternyata gadis muda tersebut Niken Kinanthi, yang datang di saat yang tepat.
Tanpa memberi kesempatan pada Pangeran Prakosa.., Niken Kinanthi menghunus pedang dan mengarahkan serangannya ke arah laki-laki tersebut. Pangeran Abhiseka segera melompat dan berdiri di samping gadis itu. Kedua orang itu dengan mata menyala menatap tajam pada Pangeran Prakosa,
"Siapa kamu.., berani-beraninya kamu mengirimkan serangan kepadaku?" dengan nada tinggi, Pangeran Prakosa bertanya pada Niken Kinanthi.
"Pangeran Prakosa..., gadis muda ini adalah calon pendampingku, dan dengan bangga aku akan mengenalkannya padamu. Aku tawarkan kepadamu..., bertobatlah, dan tarik kembali semua pasukanmu untuk meninggalkan kerajaan Laksa. Aku akan memintakan pengampunan kepada romo prabu untukmu. Tetapi jika kamu tetap bersikeras untuk menggulingkan kekuasaan romo prabu, maka aku yang akan memberi hukuman kepadamu.." dengan tegas, Pangeran Abhiseka membuat penawaran pada Pangeran Prakosa.
"Ha.., ha.., ha.., dalam mimpimu Abhiseka.. Lebih baik kita mati bersama-sama Abhiseka..." tiba-tiba Prakosa berteriak, dan dari tangan kanannya terhunus sebuah pedang. Tetapi baru saja laki-laki itu mengangkat tangan untuk mengirimkan serangan pada Pangeran Abhiseka..
__ADS_1
"Trang.." tiba-tiba pedang itu terlepas dari tangannya, dan pedang yang dipegang Niken Kinanthi tiba-tiba sudah bersarang di dada laki-laki itu.
"Ka.., kamu... aakh.." untuk mencegah, Pangeran Prakosa mengirimkan serangan balasan pada Niken Kinanthi, Abhiseka mengirimkan ajian ombak bayu ke dada laki-laki itu. Dengan cepat, Niken Kinanthi melompat dan membenamkan pedang lebih dalam ke dada Prakosa, kemudian mencabutnya kembali.
**********
Di Trah Bhirawa
Lindhu Aji dan Widjanarko membaringkan dengan hati-hati tubuh Wisanggeni di sebuah kamar yang ada di Trah Bhirawa. Untungnya kedua orang itu tepat waktu datang ke lokasi pertarungan, dan ketika melihat adik bungsu mereka berhadapan dan bertarung dengan pemimpin perguruan Tapak Geni Ki Panjalu, keduanya langsung berlari mendatanginya. Untungnya ketika Wisanggeni berbenturan kekuatan dengan Ki Panjalu, keduanya langsung membawa lari tubuh adiknya itu.
"Bagaimana Kang Janar kira-kira keadaan rayi Wisanggeni..?" dengan penuh rasa khawatir, Lindhu AJi menanyakan keadaan Wisanggeni.
Widjanarko melihat ke arah Lindhu Aji kemudian menelan ludah, dengan tatapan khawatir laki-laki itu mengangkat kedua bahunya ke atas. Keduanya akhirnya duduk di samping tubuh Wisanggeni yang masih terbaring pingsan, perlahan mereka mengusap tanah yang banyak berada di tubuh adiknya itu.
__ADS_1
"Semoga tidak butuh waktu lama Rayi.., semoga rayi Wisang segera bangun, dan kembali berkumpul dengan keluarga kita." ucap Widjanarko lirih. Tatapan kesedihan terlihat jelas di mata laki-laki itu, dia merasa jika sejak kecil Wisanggeni selalu menghadapi setiap kesulitan sendiri. Terlepas dengan kesaktian dan keberhasilan yang berhasil dikuasainya, Widjanarko tetap melihatnya sebagai seorang anak kecil.
***********