Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 240 Jagadklana


__ADS_3

Tidak menunggu antrian lama, Wisanggeni bersama istri dan putranya berhasil mendapatkan tempat di dalam perahu untuk menyeberangi danau. Perlahan Wisanggeni berjalan di belakang putra dan istrinya menuju ke tempat yang sudah disiapkan untuk mereka. Melihat kedatangan Rengganis, pemilik perahu langsung mengenalinya sebagai putri Ketua Trah Jagadklana, sehingga langsung memperlakukannya dengan sangat baik.


"Duduklah dulu Nimas..., Ashan. AKu yakin tidak lama lagi, perahu ini akan segera berangkat. Dan sepertinya perjalanan kita akan aman sampai di Jagadklana, karena langit terlihat cerah." Wisanggeni segera meminta Rengganis dan Chakra Ashanka untuk menempati tempat duduknya. Tanpa menjawab kedua orang itu segera menuruti perintah dari Wisanggeni.


Tidak lama kemudian, orang-orang segera menjalankan perahu tersebut dengan menggunakan kekuatan mereka. Dengan irama serentak, delapan orang mengayuhkan dayung dengan gerakan yang sama, dan satu orang bertindak mengarahkan arah perahu. Wisanggeni tersenyum, tiba-tiba hatinya merasa senang dapat melihat kesatu paduan orang-orang tersebut dalam mengarahkan perahu ke arah tujuan mereka. Laki-laki itu mengarahkan pandangannya jauh ke depan, di kejauhan terlihat daratan Jagadklana sudah ada di depan mata.


"Ayah.., apakah jauh di depan sana itu tempat tinggal kakek?" tiba-tiba Chakra Ashanka sudah berada di belakang Wisanggeni. Laki-laki itu menoleh dan tersenyum menatap wajah putranya.


"Benar Ashan.., tidak lama lagi perahu ini akan mengantarkan kita ke daratan di seberang sana. Tidak jauh dari pemberhentian perahu, kita bisa jalan kaki menuju tempat tinggal kakek dan nenekmu, Nanti kita akan melihat sebuah kota kecil, yang jauh lebih ramai dari tempat tinggal kita." Wisanggeni menjelaskan pada putranya.


Sambil menganggukkan kepala, laki-laki kecil itu mendengarkan perkataan ayahndanya. Mata Chakra Ashanka menatap ke sekeliling perahu, matahari yang panas menyengat menjadikan pemandangan terlihat dengan jelas. Langit yang biru, dengan burung-burung beterbangan menambah keindahan pemandangan yang tersaji di depan mata mereka. Beberapa saat perjalanan, pengemudi perahu sudah merapatkan perahu di pinggiran danau.


Mata Chakra Ashanka terlihat berbinar cerah, melihat pemandangan yang terlihat di depan mata mereka. Seperti yang dikatakan ayahndanya, terlihat hiruk pikuk keramaian di depan matanya. Banyak orang berlalu lalang melintas di pinggir jalan yang terlihat jelas dari tempat pemberhentian tersebut.


"Mari putraku.., kita harus segera turun dari perahu ini! Banyak orang yang akan antri di belakang kita." tiba-tiba Rengganis mengajak Chakra Ashanka untuk segera turun dair perahu. Di belakangnya, terlihat Wisanggeni tersenyum melihatnya.


"Baik Bunda.." dengan cepat, Chakra Ashanka segera melompat turun dari atas perahu, dan di belakangnya menyusul Wisanggeni dan Rengganis.

__ADS_1


***********


Mendengar kabar datangnya Rengganis bersama dengan Chakra Ashanka dan Wisanggeni, Ki Sasmita bersama dengan istrinya segera bergegas menuju ke bagian depan pondhok yang digunakan sebagai tempat tinggalnya, Dengan cepat, beberapa orang yang bertugas di garis depan Jagadklana, mengirimkan kabar bahagia ini kepada Ki Sasmita, sehingga sebelum putrinya Rengganis sampai ke tempatnya, mereka sudah menunggunya di depan pondhok.


"Ibunda..." sambil menggandeng tangan Chakra Ashanka, Rengganis langsung berlari mendatangi ibundanya. Tanpa bicara, Rengganis langsung memeluk perempuan paruh baya itu dengan penuh haru, Chakra Ashanka yang masih merasa bingung, berusaha memahami keadaan. Laki-laki kecil itu kemudian bergeser mendatangi Ki Sasmita, dan mencium punggung tangan laki-laki tua itu.


"Chakra Ashanka..., cucu kakek." dengan suara tercekat penuh rasa haru, Ki Sasmita memeluk tubuh laki-laki kecil itu. Tampak kebahagiaan mengaliri wajah tua laki-laki itu.


"Kakek.., ijin cucunda menghaturkan sungkem untuk kakek dan nenek." dengan sopan, Chakra Ashanka menyampaikan salam pada laki-laki tua tersebut,


"Putra ayahnda menghaturkan sungkem ayah. Mohon dimaafkan dan mohon pengampunan, baru memiliki waktu untuk berkunjung kembali ke Jagadklana." Wisanggeni mencium punggung tangan laki-laki tua tersebut, dan Ki Sasmita memeluk erat putra menantunya itu,


"Kita segera masuk ke pendhopo saja, banyak orang melihat pada kita." menyadari jika mereka menjadi tontonan orang-orang yang sedang melakukan perjalanan, Ki Sasmita mengajak putri dan menantu serta cucunya untuk segera masuk ke dalam pendhopo.


***********


Di pendhopo

__ADS_1


Berbagai makanan khas Jagadklana disajikan di atas tikar yang digelar di tengah pendhopo. Mata Rengganis terlihat sangat berbinar, dapat bertemu kembali dengan sajian-sajian tersebut yang sangat sulit ditemukan di luar Jagadklana. Setelah menuangkan makanan untuk suami dan putranya, Rengganis mulai menuangkan untuk dirinya sendiri.


"Makanlah dulu kalian.., pasti sangat melelahkan menempuh perjalanan darat seperti kalian." dengan penuh pengertian, Ki Sasmita segera meminta mereka untuk segera menikmati hidangan yang sudah disajikan.


"Ibunda selalu mengetahui apa yang menjadi kesukaan Rengganis.., bahkan makanan yang terbuat dari keong kecil ini juga ikut disajikan dalam jamuan ini." Rengganis dengan penuh minat, mulai menyesap daging keong langsung dari cangkangnya. Beberapa kali, Rengganis meminta juru masak di padhepokan Gunung Jambu untuk membuat jenis olahan tersebut, tetapi tetap cita rasanya berbeda dengan yang biasa dia dapatkan di Jagadklana.


"Iya putriku.., kebetulan tadi pagi, banyak anak-anak yang menawarkan keong ini kepada ibunda. Sepertinya anak-anak itu baru saja bermain di areal persawahan. Karena teringat denganmu, tanpa pikir panjang, ibunda langsung menerima tawaran ini. Ternyata nasib baik berpihak kepada ibunda, keberadaan keong ini ternyata bisa menarikmu untuk datang ke Jagadklana." Ibunda Rengganis menyahuti perkataan putrinya.


"Cobalah makanan ini cucuku.., ini ikan yang dihaluskan kemudian dililitkan pada sebuah wilat yang terbuat dari bambu. Rasanya gurih.., cobalah..!" dengan penuh perhatian, Ki Sasmita meletakkan dua buah wilat di tempat makan Chakra Ashanka. Tanpa menunggu pengulangan dari kakeknya, anak laki-laki itu segera mencicipi hidangan tersebut.


Beberapa saat mereka menghabiskan waktu untuk menikmati jamuan makanan khas Jagadklana. Sampai perut mereka penuh, mereka masih terlihat berada di tempat tersebut. Ki Sasmita terlihat sangat puas melihat putra dan cucunya menikmati suguhan yang mereka hidangkan,


"Wisang.., apakah ada hal penting yang akan kalian lakukan di Jagadklana ini atau hanya untuk mengunjungi ayah dan bunda?" tiba-tiba Ki Sasmita menanyakan maksud kedatangan mereka ke tempat ini.


"Ampun ayahnda.., kami tidak membawa maksud apapun ke Trah Jagadklana, kecuali hanya untuk mengenalkan pada Chakra Ashanka tentang pemahaman di dunia luar. Kita ingin, Chakra Ashanka tidak hanya menjadi seorang jago kandang, sehingga kali ini kita membersamainya melakukan perjalanan, Mungkin jika sudah saatnya, kami akan melepas Chakra Ashanka untuk mencari pengalaman sendiri." dengan arif, Wisanggeni menyampaikan maksud perjalanan yang mereka lakukan,


**********

__ADS_1


__ADS_2