Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 102 Pergerakan


__ADS_3

Cokro Negoro mengumpulkan para sesepuh dan anak muda di halaman pesanggrahan. Setelah mendapatkan informasi dari Sutrisno, jika gerombolan Alap-alap sudah melakukan pergerakan, Guru Wisanggeni itu tidak mau menyia-nyiakan waktu. Bersama dengan sesepuh lainnya, Cokro Negoro menyusun strategi untuk menghalang masukknya gerombolan tersebut, dan melumpuhkan kekuatannya.


"Terima kasih semuanya, kalian sudah menyediakan waktu dan kesempatan untuk berkumpul secara bersama-sama di halaman pesanggrahan ini. Ada informasi dan hal penting yang akan aku sampaikan pada kalian semua." Cokro Negoro mengawali sambutan yang dia berikan pada semua yang hadir.


Semua yang berada di halaman langsung diam, mereka memperhatikan Cokro Negoro bicara. Saat yang mereka tunggu-tunggu untuk menguji kekuatan mereka akhirnya tiba.


"Penjaga tapal batas, sudah memberikan laporan jika gerombolan Alap-alap sudah bergerak untuk mengunjungi dan mengajak beberapa perguruan untuk bergabung dalam kelompok mereka. Perguruan yang sepakat dengan mereka akan aman, tetapi yang menolak akan dihancurkan. Hal itu menjadi tidak ada pilihan lain dari para pemimpin perguruan, akhirnya mereka memutuskan untuk bergabung dengan kelompok aliran hitam tersebut." lanjut Cokro Negoro.


"Kami para sesepuh sudah melakukan pembicaraan bersama, dan didapatkan satu kesepakatan bersama. Wisang.., kamu sampaikan hasil pembicaraan para sesepuh pada semua yang ada disini." Cokro Negoro memerintahkan muridnya Wisanggeni untuk menyampaikan strategi yang disusun oleh para sesepuh.


"Baik Guru.." sambil mengacungkan genggaman tangan di depan dadanya, Wisanggeni berdiri di samping Gurunya. Cokro Negoro menepuk punggung laki-laki muda itu tiga kali, kemudian laki-laki tua itu duduk bergabung dengan para sesepuh yang lain.


"Saudaraku semuanya.., semoga kita semua selalu dalam perlindungan Hyang Widhi. Para sesepuh memutuskan, kita yang ada disini akan dibagi dalam tujuh kelompok. Makna diambilnya angka tujuh, didasarkan pada filosofi Jawa yaitu dari bahasa pitu, merupakan kata pendek dari Pitulungann atau pertolongan. Semoga dengan pembagian menjadi tujuh kelompok ini.., kita akan benar-benar mendapatkan pertolongan dari Hyang Widhi." Wisanggeni menyampaikan apa yang diminta gurunya.


"Tujuh kelompok akan diketua oleh Sudiro.., Atmojo, Nimas Niken Kinanthi, Maharani, kakang Lindhu aji, kakang WIjanarko, dan aku sendiri Wisanggeni. Para sesepuh akan membagi diri mereka, dan akan memantau kita. Mereka akan dengan cepat mengirim pertolongan, pada saat-saat jika kita terdesak. Tujuh kelompok akan kita bagi ke dalam empat penjuru, dan tiga penjuru akan membagi dirinya untuk menjadi benteng pertahanan kita." lanjut Wisanggeni.


"Pembagian kelompok akan dilakukan pengundian, dan Nimas Niken dibantu Maharani akan berkeliling untuk melakukan pengundian. Jangan kecewa ketika mendapatkan pemimpin kelompok yang tidak sesuai dengan keinginan hati kalian. Tujuan kita semua adalah satu dan sama, yaitu kita akan memberantas kesewenang-wenangan dan penindasan di muka bumi ini. Demikian berita yang bisa aku bagikan pada kalian semua." Wisanggeni mengakhiri penyampaian pengumumannya.


Begitu Wisanggeni mundur, Niken Kinanthi, Maharani, Rengganis, dan beberapa kaum muda melakukan pengundian. Mereka langsung bergabung dengan para murid yang berada di halaman pesanggrahan.

__ADS_1


***********


"Kenapa Anis tidak boleh ikut dengan Akang di medan pertempuran?" Rengganis merajuk pada Wisanggeni, karena gadis itu tidak diijinkan untuk ikut keluar dari perbukitan Gunung Jambu.


"Nimas.., apakah kamu pikir tugas yang kamu emban itu mudah?? Di saat aku dan semua orang berada diluar perbukitan ini, akan banyak potensi orang-orang akan melakukan penyerangan kesini. Tugasmu akan menjadi berat. karena kamu juga melihat jika Larasati saat ini sedang dalam keadaan hamil besar, dia tidak akan memiliki ruang gerak yang bebas sepertimu. Demikian juga dengan Kinara, istri dari kang Janar itu kurang begitu memiliki ilmu kanuragan." Wisanggeni mencoba memberi pengertian pada istrinya.


"Tapi Kang.., rengganis tidak mau Akang tinggalkan untuk waktu yang lama." Rengganis masih mencoba mempengaruhi suaminya.


Wisanggeni berjalan mendekat pada istrinya, tangan kanannya mengusap perut gadis itu.


"Nimas.., ingatlah. Generasi selanjutnya dari Klan Bhirawa akan ada di dalam perut ini. Tugasmu tidak hanya mengamankan pesanggrahan ini, tetapi juga memastikan generasi penerus yang ada di rahim Larasati juga akan aman. Untuk kali ini, jangan bantah perkataanku Nimas." Wisanggeni kembali menegaskan pentingnya tugas yang diemban oleh istrinya.


Mendengar perkataan suaminya, Rengganis hanya bisa menghela nafas. Dia tidak berani untuk membantah suaminya.


Pagi hari tatkala matahari belum muncul, orang-orang di Pesanggrahan meninggalkan tempat. Para murid gabungan dari berbagai perguruan mengikuti ketua kelompok masing-masing. Dari depan pondok, Rengganis mengantarkan suaminya Wisanggeni dengan tetesan air mata kesedihan. Berbagai perasaan yang tidak dapat dilukiskan, memenuhi rongga dada gadis itu.


"Nimas.., hentikan tangismu, antarkan kepergian Rayi Wisanggeni dengan senyuman dan do.a." Kinara mendatangi Rengganis, dia berusaha menenangkan gadis itu.


"Iya mbakyu..., tapi aku tidak dapat menghentikan air mata ini. Sudah terlalu sering kang Wisang meninggalkan aku, tapi kali ini ada kegundahan yang besar atas kepergiannya." dengan air mata mengalir, Rengganis mengungkapkan rasa kepedihannya pada Kinara. Istri Wijanarko itu memeluk Rengganis.

__ADS_1


"Nimas.., kita harus saling menjaga dan tidak boleh lengah. Tanggung jawab besar kita untuk mempertahankan Pesanggrahan ini. Mari kita tata, dan atur semuanya!" Larasati tiba-tiba ikut menenangkan Rengganis.


Mendengar ucapan Larasati, kemudian matanya melihat perut besar istri dari kakak suaminya. Hal itu menjadikan Rengganis malu.


"Iya Laras.., aku jadi malu melihatmu. Harusnya kita saling menguatkan dan saling menjaga, tapi aku malah menjadi lemah begini." ucap Rengganis lirih.


"Baiklah.., mari kita berjaga-jaga dan kembali ke posisi kita masing-masing." sahut Larasati sambil tersenyum.


"Kalian berdua, berjaga-jagalah disini! Aku akan ke depan di tapal batas perbukitan ini." Rengganis menjadi bersemangat. Gadis itu langsung bersiap untuk keluar dari Pesanggrahan, sedangkan Larasati dan Kinara berjaga di bagian dalam.


********


"Bagaimana penjagaan di luar paman?" Rengganis bertanya pada petugas jaga di perbatasan.


"Untuk saat ini aman Nimas..., semoga tidak ada yang mencoba untuk menyusup kemari. Tabir pelindung bukit yang dipasang para sesepuh, sepertinya tidak sembarang orang bisa menembusnya. Jadi Nimas.., tidak perlu terlalu khawatir." petugas jaga mencoba menenangkan Rengganis. Laki-laki paruh baya itu, belum tahu kekuatan sebenarnya yang dimiliki gadis itu.


"Semoga saja kenyataan yang terjadi sesuai dengan yang kita harapkan paman. Tapi meski demikian, kita harus tetap waspada, jangan sampai kita lengah dan terlolos dari penjagaan." Rengganis memberikan arahan tanpa bermaksud untuk menggurui.


"Benar yang Nimas katakan! Paman akan melakukan patroli ke sudut-sudut perbukitan." penjaga tersebut menanggapi.

__ADS_1


"Baik paman.., berjaga-jagalah disini! Aku akan berkeliling ke sekitar perbukitan dulu." Rengganis berpamitan. Tidak lama kemudian, gadis itu sudah menggunakan selendangnya untuk berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain.


*********


__ADS_2