
Parvati mengikuti langkah Nini SInto Rini, dan perempuan tua itu membawa Parvati ke sebuah padang rumput yang luas. Tidak ada satu orangpun disitu, tetapi padang rumput itu tampak bersih dan luas. Tidak ada yang mengira, jika di dalam pagar batuan hitam itu ternyata sangat luas. Apalagi Nini Sinto Rini mengajak Parvati memasuki gua batu kecil, dan ternyata di belakang terdapat pintu untuk menuju ke tempat itu.
"Lihatlah Parvati cucuku.. padang rumput ini sangat luas. Untuk beberapa waktu ini, kamu harus mengamati pergerakan burung-burung kecil itu. Setelah beberapa waktu berlalu, Nini akan menanyakan apa yang bisa kamu ambil dari pergerakan burung-burung itu. Nini ingin mengetahui, ada dimana bakat keahlian yang kamu miliki cucuku.." sambil tersenyum, Sinto Rini memberi penjelasan pada gadis muda itu.
Parvati mengikuti arah jari telunjuk perempuan tua itu mengarah, dan sekawanan burung-burung kecil itu tiba-tiba terbang menghampiri mereka berdua di pinggir padang rumput itu. Tanpa diduga, burung-burung itu dengan beraninya hinggap di pundak Parvati, seakan mengajak gadis muda itu untuk bermain-main.
"Burung-burung ini lucu Nini.. mereka tidak liar dan juga tidak ganas. Dengan mudahnya mereka hinggap di pundak Parvati, tanpa ada kekhawatiran pada mereka jika Parvati akan mencelakakan mereka semua." Parvati mengangkat satu burung dengan tangan kanannya. Telapak tangan gadis muda itu, mengusap bulu-bulu hitam di punggung burung-burung itu.
"Burung-burung itu selalu berprasangka baik dengan orang-orang Parvati.. Hanya saja, terkadang manusia malah bertindak yang sebaliknya,. Tanpa melihat jika burung-burung ini juga memiliki keluarga, dengan mudahnya manusia sering menjadikan burung-burung ini sebagai mangsa mereka, sebagai musuh mereka." ucap Nini Sinto Rini dengan pandangan kelam.
"Aku harap.. dengan beberapa hari kamu bermain dengan burung-burung ini, kamu dapat mengambil nilai lebih dari burung ini, dan menerapkannya pada dirimu sendiri. Kita bersahabat dan kembali berteman dengan alam, darinya kita belajar dan menggunakannya sebagai sumber belajar untuk memperbaharui keahlian maupun ketrampilan kita." Sinto Rini terus menyampaikan petuah pada gadis itu.
Parvati terdiam, gadis muda itu berusaha untuk mencerna perkataan yang keluar dari bibir perempuan tua itu. Beberapa saat kemudian, pandangan Parvati kembali tertuju pada burung-burung kecil yang masih mengerubunginya. Tetapi tiba-tiba..
"Byurr..." burung-burung kecil itu tiba-tiba terbang menjauh dari tubuh gadis muda itu. Parvati memandang kepergian burung-burung itu dengan perasaan bingung. Dalam sekejap, tanpa diundang, burung-burung itu mendatangi kemudian mengelilinginya. Namun dalam sekejap pula, burung-burung itu kembali terbang meninggalkannya. Gadis muda itu berpikir dengan menggunakan akal sehatnya, namun belum juga ditemukan jawabannya atas tindakan dari burung-burung itu.
__ADS_1
"Apa yang membuatmu heran Parvati.." melihat kebingungan melanda gadis muda itu, SInto Rini bertanya sambil tersenyum.
Parvati menatap wajah perempuan tua itu, kemudian jari tangannya menunjuk ke arah burung-burung yang sudah kembali terbang dan bertengger di dahan dan ranting-ranting pohon yang mengelilingi padang rumput itu. Nini Sinto Rini tersenyum melihatnya, dan segera perempuan tua itu memahami kebingungan yang dirasakan oleh gadis muda itu.
"Nimas... burung-burung ini memiliki kepekaan indera perasa yang sangat peka. Dari jarak beberapa kilometer, burung-burung ini bisa merasakan jika akan ada bahaya yang mengancam dirinya. Nini harap... kamu bisa belajar banyak dari kawanan burung ini, bagaimana harus merasakan kedatangan musuh, dan membuat pertahanan untuk berlindung dari keganasan mereka." SInto Rini kembali memberikan petuah untuk gadis muda itu.
Gadis muda itu mengangguk-anggukkan kepala, tanda jika dia memahami apa yang diucapkan oleh perempuan tua itu. Tidak berapa lama kemudian, Nini Sinto Rini membiarkan Parvati berada sendiri di padang rumput itu.
*********
Parvati merasa bingung, karena beberapa saat berlalu Nini Sinto Rini sudah tidak terlihat keberadaannya di tempat itu. Bahkan jalan kecil untuk menuju ke arah goa, sudah tidak terlihat lagi dan Parvati tidak dapat menemukan jalan untuk kembali. Padahal hari sudah menjelang sore, dan sedikit rasa takut berada di alam liar kembali merambat di hati gadis muda itu.
"Apa yang harus aku lakukan.. Nini Sinto Rini sepertinya sengaja meninggalkanku sendiri di padang rumput ini. Padahal aku belum mengenali keberadaan hutan ini, sehingga aku tidak tahu hal apa yang akan aku lakukan selanjutnya.." Parvati berbicara pada dirinya sendiri.
Hari sudah mulai berganti senja, dan sinar matahari perlahan redup dan kembali ke peraduan. Namun.. Parvati masih tetap berdiri di atas padang rumput, dan belum tahu apa yang akan dilakukannya kemudian.
__ADS_1
"Dimana aku harus berteduh, dan menghabiskan malam. Tidak mungkin aku akan tetap berada di tengah padang rumput ini. Karena jika aku mendasarkan pada larinya burung-burung yang sudah pergi terbang meninggalkanku, maka aku harus segera mencari tempat untuk berlindung menyelamatkan diri." Parvati teringat dengan perkataan Nini Sinto Rini sebelum pergi meninggalkannya sendiri.
Gadis itu kembali mengedarkan pandangannya ke sekitar tempat itu, dan melihat pohon-pohon besar tempat burung-burung itu membuat sarang. Tanpa disadarinya, kaki Parvati melangkah menuju ke gugusan pohon-pohon itu. Di bawah pohon besar, Parvati menengadahkan wajahnya ke atas..
"Aku harus naik ke atas pohon itu, dan menggunakan dahannya untuk beristirahat. Di bawah pohon, aku tidak akan dapat mengetahui jika ada bahaya yang mengintaiku dari tempat lain." kembali Parvati berbicara sendiri.
Gadis itu segera bersiap, kemudian menggunakan kekuatannya, dengan sigap Parvati sudah berlari dan berada di atas pohon dengan segera.
"Guk.. guk.. guk..." tiba-tiba gadis itu terbelalak. Matanya melihat kawanan sekumpulan anjing hutan berlari ke tengah padang rumput, seakan sedang mencari mangsa.
"Apakah binatang-binatang itu yang dikhawatirkan oleh kawanan burung itu. Untung saja aku sudah menemukan tempat persembunyianku, jadi untuk sementara aku bisa terbebas dari kawanan anjing liar itu." Parvati menggumam. Matanya terus mengamati gerak-gerik binatang yang ada di padang rumput itu.
Parvati mencoba naik ke tempat yang lebih atas, dan ternyata pohon yang dia naiki itu sedang berbuah. Tangan gadis itu mengambil buah apel yang banyak menggantung di ranting pohon. Merasa perutnya lapar belum berisi makanan sejak ditinggalkan Nini SInto Rini, Parvati menggunakan buah apel untuk mengganjal perutnya. beberapa saat, sambil menikmati buah apel, Parvati kembali mengamati pergerakan anjing-anjing. Mereka saling berlari ke segala arah dengan lincahnya, dan ketika melihat ada seekor kelinci melintas, dengan sigap anjing-anjing itu melakukan upaya pengejaran.
Otak Parvati dengan cepat memproses kejadian-kejadian alam di sekitarnya itu. Ternyata dari binatang-binatang di sekitarnya, gadis itu bisa belajar tentang kecepatan, daya tangkap, mencium keberadaan musuh dan masih banyak lagi hal lainnya. Perlahan gadis muda itu tersenyum, hanya dalam waktu singkat Parvati sudah melakukan belajar tentang banyak hal.
__ADS_1
*********