Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 311 Pemandangan Baru


__ADS_3

Ketiga orang itu akhirnya memutuskan untuk membantu penjaga kedai untuk mengantarkan menu makanan pesanan Chakra Ashanka. Tanpa curiga dan prasangka sedikitpun, salah satu membawakan minuman dan yang satunya membawakan makanan. Satu orang berjalan mengikuti di belakang. Karena ramainya kedai makan tersebut, tidak ada yang menaruh kecurigaan dengan niat baik ketiga laki-laki itu.


"Untung anak muda itu tidur sambil membalikkan badannya, punggungnya saat ini sedang membelakangi kita.." bisik salah satu dari orang tersebut.


"Iya.., kepis di pinggangnya itu memiliki ukuran yang cukup besar. Melihat dari kulitnya yang bersih terawat, anak muda itu pasti anak dari orang kaya. Apalagi kualitas kepis yang dipakainya, sudah jelas orang sembarangan tidak akan dapat memilikinya." sambil berjalan satu orang yang lain menyahuti perkataan temannya. Mereka membicarakan tentang Chakra Ashanka.


Orang-orang itu berjalan sambil menutupi satu dengan yang lainnya, kemudian salah satu dari orang itu sudah sampai, dan duduk di belakang Chakra Ashanka beristirrahat. Kedua orang meletakkan baki berisi makanan, dan minuman, kemudian mereka mengedarkan pandangan ke sekitar kedai. Tampak orang-orang yang sedang menikmati makanan, mereka terlihat asyik menikmati makanannya, dan sebagian sedang fokus berbicara dengan teman duduk sebangkunya.


Ketiga orang itu tersenyum dan menganggukkan kepala, salah satu dari orang tersebut tiba-tiba mengarahkan tangannya ke kepis yang ada di pinggang Chakra Ashanka. Tanpa sadar, karena mengagumi kulit yang tampak bersinar pada kepis tersebut, laki-laki itu mengusapkan tangannya pada kepis tersebut,


"Kulit untuk bahan pembuatan kepis ini sangat halus, aku yakin harganya sangat mahal. Dan lihatlah tidak terkunci, anak ini terlalu sembrono. Tidak menyadari jika dimanapun akan ada bahaya yang mengintainya, kepis sebagus ini tidak diberinya kunci untuk mencegah orang lain memanfaatkan kelemahannya." orang tersebut mengatakan tentang kelemahan dari kepis tersebut.


"Cepatlah.., jangan bermain-main, cepat buka pengaitnya dan masukkan tanganmu ke dalamnya!" salah satu dari mereka terlihat sudah tidak sabar ingin mengetahui isi yang ada di dalam kepis tersebut.


Kembali setelah menganggukkan kepala, tangan laki-laki itu terarah menuju kaitan untuk membuka kepis tersebut, Tetapi baru saja tangannya berada di atas kait pembuka, tiba-tiba ada rasa dingin terasa di pergelangan tangan laki-laki tersebut. Sontak, laki-laki itu mengarahkan pandangannya ke arah pergelangan tangan tersebut, dan terlihat tangan Chakra Ashanka berada di atas tangannya memegangi pergelangan tangan laki-laki itu,


Menyadari keadaan tersebut, laki-laki itu segera perlahan melepaskan pegangan tangan Chakra Ashanka dengan hati-hati, karena mata anak muda itu masih terpejam. Kedua temannya langsung memasang kuda-kuda untuk bersiap melakukan serangan, jika anak muda itu terbangun. Setelah menunggu lama tidak ada pergerakan dari anak muda itu, laki-laki itu menarik kait pengunci kepis tersebut. Tiba-tiba terlihat senyuman di bibir anak muda itu, dan perlahan mata Chakra Ashanka terbuka lebar.

__ADS_1


"Apa yang kalian lakukan kepada kepisku ini pelayan..? Apakah ada aturan di kedai makanan ini, jika seorang pelayan bisa mengantarkan makanan dan juga bisa memeriksa kepis yang dibawa oleh pembelinya?" selain tersenyum, anak muda itu juga berbicara pada ketiga orang yang menyamar sebagai pelayan itu. Perlahan Chakra Ashanka mengangkat tubuhnya, kemudian anak muda itu duduk. Sambil tetap tersenyum, pandangan anak muda itu tidak bergeming dari ketiga laki-laki yang saat ini terlihat pucat di depannya,


"Jangan salah paham kepada kami anak muda.., sebenarnya kami bukan pelayan. Kami hanya sedang membantu penjual yang sedang repot melayani pembeli yang lain. Dan jujur saja.., melihat kepis unik di pinggangmu, kami tertarik untuk mengamatinya, tidak ada niatan yang lain." merasa ketahuan, dan berada di keramaian, salah satu dari mereka bertiga mengalihkan perhatian anak muda itu.


"Hmmm..., begitu ya. Baiklah.., aku juga tidak penting untuk mencari masalah kok. Ayo kita makan bersama..." Chakra Ashanka mengabaikan masalah yang ada di depannya, anak muda itu malah menawarkan mereka untuk makan bersama.


Setelah mereka bertiga berpandangan, akhirnya mereka menyetujui untuk makan bersama dengan Chakra Ashanka dalam satu lincak.


**********


Beberapa saat kemudian


"Gubuk kami ada di depan situ Ashan.., tepat di pinggir tebing.." Ratno menunjuk sebuah bangunan dari bambu, yang tidak layak untuk disebut sebagai sebuah rumah.


"Hmm.. ya. Berapa orang yang ikut tinggal disitu?" memperhatikan ukuran gubug, sedangkan mereka bertiga ditambah dengan kedua orang tuanya, sepertinya gubug itu sangat terlalu sempit untuk mereka.


"Berenam Ashan..., masih ada satu adik perempuanku. Tapi kami bertiga lebih sering berada di luar, karena yah.. mungkin kamu tahu sendiri alasannya." Ratijo kakak Ratno menanggapi perkataan Chakra Ashanka dengan sedikit malu.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, itulah indahnya kebersamaan. Jika di dalam masih sempit, masih banyak tersedia halaman luas dan hutan untuk kita tempati." tanpa berniat merendahkan, Chakra Ashanka malah menyanjung keadaan mereka.


Akhirnya mereka sudah sampai di depan pintu gubug yang sudah banyak bolong karena dimakan rayap. Chakra Ashanka berhenti sebentar, menunggu ketiga temannya mempersilakan masuk.


"Ssshhh..., sakit ..." terdengar suara rintihan dari dalam gubug.


"Sabar mbok..., ketiga kakangmas sudah pergi untuk berikhtiar. Aku akan menyiapkan air panas dulu untuk menyeka perut simbok.." terdengar suara perempuan kecil yang juga lemah.


Ratijo segera mendorong pintu, dan sebuah ruangan tanpa perabotan terlihat di depan Chakra Ashanka. Dua orang tengah terbaring di atas lantai tanah, hanya beralaskan kayu. Sedangkan di depannya tampak perempuan kecil yang juga tidak terurus. Melihat apa yang ada di depannya, hati Chakra Ashanka merasa terpukul.


"Kakang..., simbok lihatlah. Kakangmas sudah datang ke rumah, membawa seorang teman." keceriaan tampak di wajah perempuan kecil itu. Untungnya tadi, Chakra Ashanka membungkus beberapa makanan untuk digunakan sebagai oleh-oleh.


"Iya Ratih .., kami sudah pulang. Makanlah dulu..., dan juga suapi simbok sama Romo." Ratijo meletakkan bungkusan, dan dengan sigap perempuan kecil bernama Ratih segera menyiapkan makanan tersebut.


Dengan telaten, perempuan kecil itu memberi suapan pada kedua orangtuanya secara bergantian. Baru setelah memastikan mereka kenyang, Ratih baru memasukkan makanan beberapa siapa ke dalam mulutnya.


Ashan memasukkan tangan ke dalam kepis di pinggangnya, anak muda itu mengeluarkan beberapa bungkus makanan kering kemudian meletakkan di depan perempuan kecil itu.

__ADS_1


"Adik kecil..., ini ada beberapa makanan kering. Bisa digunakan untuk berjaga-jaga jika tidak sempat untuk keluar mencari makanan." perkataan Chakra Ashanka mengejutkan semua yang berada di dalam gubuk itu.


********


__ADS_2