
Seperti yang telah diduga oleh Wisanggeni, menjelang senja akhirnya rakit yang dibawa oleh laki-laki itu akhirnya menepi. Setelah mendengarkan kata-kata Wisanggeni dalam perjalanan, laki-laki itu menuruti apa yang dikatakan oleh suami dari Rengganis itu. Keberadaan naga dan ular yang mengiringi sepanjang perjalanan mereka, tidak lagi mengganggu dan menakutkan perasaan laki-laki itu. Bahkan ketika rakit yang dibawanya, melewati jeram dan air terjun yang tajam, beberapa naga besar membantu mengangkat rakit mereka, kemudian menempatkan kembali ke arus yang sudah aman. Laki-laki itu menahan diri, seakan takjub dengan apa yang dialaminya hari ini. namun melihat kediaman dari dua orang yang dibawanya, laki-laki itu tidak berani banyak bertanya pada mereka.
"Ki Sanak.. kami belum melihat keberadaan ada bangunan pemukiman warga di tempat ini.. Apakah masih jauh keberadaan tempat kalian bermukim.." melihat tidak ada tanda-tanda bangunan rumah di sekitar tempat itu, Wisanggeni menanyakan pada laki-laki itu.
"Ampun Ki Sanak.. saya hanya diminta untuk membawa kalian berdua ke tempat ini. Sebelum pada saatnya pemimpin kami Ki Sancoko akan menyambut kedatangan kalian berdua secara resmi. Ampuni saya, yang hanya sebagai penyambung lidah dari kelompok kami.." dengan penuh rasa takut, laki-laki itu menjawab pertanyaan Wisanggeni.
"Tenanglah Ki Sanak.. janganlah begitu takut. Siapakah namamu,.. agar kami bisa memanggilmu lebih leluasa. Namaku Wisanggeni, dan ini adalah istriku Rengganis.. kenalkan siapa dirimu.." Wisanggeni menanyakan nama laki-laki itu.
"Orang-orang dalam kelompok kami biasa menyebutku dengan nama Gendhon Den bagus.. sedangkan nama yang diberikan orang tua saya adalah Sukendro. Kami serahkan pada Den Bagus Wisanggeni dan Den Ayu Rengganis, panggilan mana yang lebih sesuai untuk saya sandang.." dengan senyum malu, laki-laki itu mengenalkan dirinya.
Wisanggeni dan Rengganis tersenyuu menyadari kepolosan laki-laki di depannya itu. Pasangan suami istri itu kemudian mendekat pada laki-laki itu, kemudian berdiri di sampingnya.
"Nama yang sesuai untukmu ya nama yang diberikan oleh kedua orang tuamu. Kami akan memanggilmu dengan panggilan Kendro.. apakah kamu merasa keberatan." Wisanggeni menyebutkan nama panggilan laki-laki itu.
"Tentu saja tidak Den Bagus.. nama panggilan ini terlalu menghormati dan menghargai kedua orang tua saya. Sangat senang saya mendengarnya Den bagus.., den ayu.." rona kebahagiaan terlihat di wajah Sukendro, Mungkin karena sudah lama tidak mendengar orang memanggilnya dengan sebutan itu, sehingga begitu disebut, laki-laki itu merasa terharu.
"Baiklah.. mari segera kita lanjutkan perjalanan kita. Katamu tadi akan menunjukkan sesuatu pada kami, sesuai dengan perintah dari pemimpinmu yang bernama Ki Sancoko." Wisanggeni segera mengajak Sukendro untuk meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Sukendro kemudian memimpin di depan, mereka berjalan melintasi pematang yang ditumbuhi rumput, dengan semak belukar yang banyak terlihat di tempat itu. Tidak lama kemudian mereka memasuki sebuah padang rumput yang sangat luas dengan banyak bangunan seperti goa yang banyak terdapat di tempat itu. begitu mereka akan memasuki padang rumput tersebut, Wisanggeni menghentikan langkahnya, dan menahan istrinya Rengganis untuk berhenti terlebih dulu.
"Ada apa kakang.. apakah kakang juga merasakan adanya aura energi negatif yang sangat pekat di tempat ini.." Rengganis tiba-tiba bertanya pada suaminya.
"Benar Nimas.. seperti ada kekuatan kuno yang sangat jahat yang mengungkung tempat ini. Lapisi tubuhmu dengan kekuatan energi untuk mencegah masuknya energi negatif pada tubuh kita Nimas.." Wisanggeni memberikan saran pada Rengganis.
"Den Bagus.. hanya sampai disini saya bisa mengantarkan Den bagus, karena saya pasti tidak kuat ketika memasuki kawasan padang rumput itu.." tiba-tiba Sukendro meminta ijin untuk meninggalkan pasangan suami istri itu.
Wisanggeni terdiam, kemudian sambil tersenyum tangan Wisanggeni ditepukkan di pundak laki-laki itu.
"Ampun.. ampun Den Bagus.. saya tidak berani. beberapa kali, saya dan teman-teman mencoba untuk menyelamatkan keluarga kami yang ditawan di dalam goa-goa yang ada di padang rumput ini. Tetapi belum sampai, kami berhasil menuju ke tujuan utama, kami sudah jatuh pingsan Den Bagus.." dengan penuh ketakutan, Sukendro akhirnya menceritakan apa yang telah terjadi di padang rumput itu.
"Tenanglah Kednro.. kamu akan masuk ke padamg rumput itu bersamaku. Yakinlah.. jika tidak akan terjadi apa-apa denganmu, sekaligus kamu bisa melihat bagaimana keadaan leluhurmu.." Wisanggeni tersenyum memberi tanggapan atas perkataan laki-laki itu.
Wisanggeni mengangkat kedua tangannya dan mengalirkan energi pada kedua tangannya. Setelah gumpalan energi terbentuk, laki-laki itu menggerakkan tangannya menyelubungi tubuh Sukendro dengan menggunakan energi itu. Sukendro merasa aneh, terasa ada aura hangat menempel di pori-pori kulitnya.
"Mari Kendro.. berjalanlah di depan kami. Tunjukkan dimana keberadaan goa-goa yang kamu ceritakan tadi.." Wisanggeni meminta Sukendro untuk memimpin jalan. di depan mereka.
__ADS_1
Wisanggeni dan Rengganis berjalan berdampingan, dan semakin mereka jauh ke dalam padang rumput, energi negatif semakin pekat. Namun hal itu tidak berarti bagi mereka, ketiga orang itu tetap berjalan ke depan tanpa halangan apapun.
"Tolong.. tolonglah kami.. Jangan siksa kami.. bebaskan.." tiba-tiba Wisanggeni dan Rengganis mendengar suara rintihan banyak orang di dekat mereka. Pasangan suami istri itu saling berpandangan, mereka berusaha mencari tahu, dari mana asal suara-suara rintihan itu.
"Itulah Den Bagus... Den Ayu.. keadaan penyiksaan yang dialami oleh para leluhur kami. Untuk matipun mereka tidak bisa, setiap hari mereka harus merasakan penyiksaan seperti itu.." dengan mata berlinang, Sukendro bercerita pada pasangan suami istri itu.
Wisanggeni dan Rengganis mengerutkan keningnya berusaha mencerna perkataan yang diucapkan oleh laki-laki di depannya. Menggunakan mata batinnya, kedua orang itu melihat banyak orang yang dirantai kedua tangan serta kakinya di dalam goa tersebut. Rantai yang digunakan untuk mengikat mereka, bukanlah sembarang rantai.. Tampak kekuatan ghaib yang sangat pekat aura negatifnya, menyelimuti rantai-rantai tersebut.
"Jangan terlalu banyak berpikir Sukendro.. biarkan kami mengenali dulu apa sebenarnya yang terjadi di tempat ini." sahut Wisanggeni.
Baru saja kedua orang itu akan melangkahkan kaki menuju ke arah goa-goa itu, tiba-tiba tidak jauh dari mereka terlihat seorang laki-laki tua berjenggot sedang berjalan ke arah mereka.
"Ki Sancoko.. saya sudah menjalankan perintah kelompok yang sudah ditugaskan kepada saya.." melihat kedatangan laki-laki tua itu, Sukendro memberikan penghormatan atas kedatangannya.
"Terima kasih Gendhon.. kamu memang bisa diandalkan untuk membawa pasangan suami istri pilih tanding ini ke tempat pemakaman saudara-saudara dan leluhur kita.." laki-laki yang bernama Ki Sancoko itu menanggapi perkataan Sukendro.
**********
__ADS_1