Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 358 Berjalan-jalan


__ADS_3

Di penginapan


Setelah beristirahat tadi malam di tempat tidur, Rengganis sudah merasakan tubuhnya kembali segar. Perempuan itu melihat Sekar ratih yang juga sudah membersihkan tubuhnya, dan Rengganis tersenyum melihat gadis itu yang berjalan mendekat ke padanya.


"Ratih.., ayo kita sarapan dulu. Setelah itu, temani Bibi jalan-jalan ke pasar. Bibi akan mencari sedikit barang untuk oleh-oleh Eyangnya Ashan, dan juga untuk adik-adiknya Ashan juga." Rengganis mengajak Sekar ratih.


"Baik Bibi.., mari kita keluar. Bagaimana dengan kang Ashan, kita akan mengajak atau meninggalkannya di penginapan?" Sekar ratih segera beranjak dari tempat duduknya. Kedua perempuan itu segera melangkah keluar dari dalam kamar.


"Ashan mungkin sudah menunggu di tempat makan. Kita bisa menawarkannya nanti, apakah mau ikut menemani kita atau mau istirahat  saja di penginapan ini." sambil berjalan keluar, Rengganis menanggapi perkataan Sekar ratih.


Setelah berjalan beberapa saat menuju tempat makan, mereka melihat Chakra Ashanka yang ternyata sudah menunggu mereka. Keduanya langsung mendekati anak muda itu, yang sudah menyiapkan dia kursi kosong untuk ibunda dan Sekar Ratih.


"Ibunda dan Ratih duduklah dulu, Ashan akan mengambilkan minuman untuk kalian." setelah kedua orang yang ditunggunya duduk, Chakra Ashanka kemudian berdiri dan meninggalkan mereka.


"Putra ibunda itu memang selalu perhatian sejak dari dulu." sambil tersenyum melihat punggung anak muda itu, Rengganis memuji putranya. Sekar ratih hanya tersenyum mendengarnya, memang gadis kecil itu juga mengakui, jika Chakra Ashanka memang sangat sopan dan sangat memperhatikan perempuan.


"Ini minuman jahe hangat untuk ibunda dan Ratih. Ashan juga sudah memesankan makanan beserta lauk untuk kalian berdua, Minumlah dulu, untuk menghangatkan badan." Chakra Ashanka meletakkan dua cangkir berisi minuman jahe hangat di depan Rengganis dan Sekar ratih. tanpa menjawab, kedua perempuan itu mengambil cangkir kemudian menyesap minuman secara perlahan,


"Ibunda dan ratih sepertinya sudah bersiap. Ada rencana untuk jalan kemana setelah sarapan pagi." melihat penampilan kedua perempuan di depannya, Chakra Ashanka tidak sabar bertanya pada keduanya,


"Mau ke pasar, seperti yang kemarin kita bicarakan. Ibunda akan mencari sekedar buah tangan untuk eyang dan keluarga kedua pamanmu. Bagaimana kamu sendiri Ashan.., apakah akan menemani kami atau memiliki acara sendiri?" sambil meneguk teh beberapa kali, Rengganis bertanya pada putranya,

__ADS_1


"Tidak perlulah ditanyakan ibunda, ya pasti Ashan akan menemani ibunda dan Ratih jalan-jalan. Masak Ashan membiarkan dua perempuan cantik ini jalan-jalan sendiri. Ashan akan memastikan jika tidak akan ada orang yang berani untuk mengganggu kalian berdua." sambil bercanda, Ashan menjawab perkataan Rengganis.


"Baiklah.., jika begitu kita akan berjalan bertiga. Untunglah makanannya cepat datang, ayo kita segera isi perut kita. Keburu siang, nanti mulai panas.." melihat ada pelayan yang mengantarkan makanan pesanan mereka, ketiga orang itu segera bersiap.


********


Chakra Ashanka berjalan di belakang kedua perempuan itu. Banyak mata yang melihat ke arah ibunda Rengganis dan Sekar ratih, tetapi begitu melihat ada laki-laki yang mengawal di belakangnya, akhirnya mereka mengalihkan pandangan. Tiba-tiba mata Rengganis mengerjap melihat sudut kios yang menawarkan pakaian wanita.


"Ratih.. ayo temani bibi. Kita ke kios yang ada di sudut itu, disana terlihat sepi sehingga kita akan lebih leluasa untuk melihat-lihat." Rengganis langsung menarik tangan Sekar ratih untuk mendatangi kios yang menjual pakaian perempuan dan berbagai pernik-pernik di dalamnya.


Chakra Ashanka hanya tersenyum melihatnya, anak muda itu dengan patuh mengikuti kedua perempuan itu menuju kios yang mereka datangi. Terlihat ibunda dan Sekar ratih sudah melihat beberapa pakaian.


"Ratih coba bantu bibi ya.., cobalah pakaian ini!" tiba-tiba Rengganis meminta Sekar Ratih untuk mencobanya. Chakra Ashanka tersenyum melihatnya, dan dapat memahami apa yang dilakukan ibundanya, Tanpa menjawab, Sekar ratih menuruti apa yang diminta oleh Rengganis.


Beberapa saat kemudian, Sekar ratih keluar mengenakan pakaian yang diminta Rengganis untuk mencobanya. Melihatnya, tatapan Chakra Ashanka tidak mau berpindah darinya. Anak muda itu terkesima dengan penampilan Sekar ratih yang terlihat lebih cerah dengan pakaian itu. Warna bajunya sangat menyatu dengan kulit Sekar ratih yang putih bersih.


"Bagaimana Ashan menurutmu.., bukannya pakaian itu cocok untuk dikenakan Sekar ratih?" tiba-tiba tidak diduga, Rengganis menyenggol lengan atas anak muda itu, Chakra Ashanka tergagap dan melihat ibundanya dengan sedikit malu.


"Iya ibunda.., pakaian itu cocok dikenakan Ratih. Ibunda akan membelikan untuk siapa pakaian itu, jika untuk Nimas Parvati, sepertinya baju itu akan kebesaran jika dikenakannya." anak muda itu pura-pura bertanya pada ibundanya.


"Menurutmu..?" tanya Rengganis sambil mengedipkan mata.

__ADS_1


Setelah melihat pakaian seukuran itu tampak pas dikenakan oleh Sekar parvati, Rengganis meminta paman penjual untuk membungkuskan lima pasang untukknya. Selain itu, Rengganis juga meminta beberapa ukuran di bawahnya, kemungkinan dimaksudkan untuk Parvati.


Di tempat yang agak lebih ke sudut, mata Chakra Ashanka menatap beberapa peralatan unik. Anak muda itu berjalan menghampirinya, tanpa berpamitan pada ibundanya. Tangan Chakra Ashanka mengambil sebuah batang pipa yang terlihat unik, dan anak muda itu teringat dengan Ki Mahesa eyangnya yang sering menyulut lintingan irisan tembakau dengan kulit jagung.


"Sepertinya pipa ini bisa digunakan Eyang untuk meletakkan lintingan klobotnya." sambil mengamati pipa itu, Chakra Ashanka berbicara sendiri,


"Apakah kamu tertarik dengan pipa ini Ki Sanak?" tiba-tiba seorang paman mendekatinya.


"Iya paman.., bungkuskan aku satu buah saja." Chakra Ashanka meminta paman itu untuk membungkusnya. Tanpa berbicara lagi, paman itu segera membungkuskan pesanan anak muda itu. Setelah memberikan beberapa koin untuk paman itu, anak muda itu bergegas menghampiri Rengganis dan Sekar ratih,


"Apakah ibunda sudah selesai..?" anak muda itu bertanya pada ibundanya,


"Sudah nak.., kita berpindah dulu ke kios sebelah sana. Aku ingin mencari beberapa barang untuk keponakan, dan juga untuk Bibi-bibimu Ahsan.." Rengganis mengajak Chakra Ashanka dan Sekar ratih untuk berpindah tempat.


Mereka bertiga segera meninggalkan kios yang ada di sudut itu. Tetapi baru saja mereka berjalan beberapa langkah, tiba-tiba muncul beberapa pengawal yang dengan arogannya menyingkirkan orang-orang yang menurut mereka menghalanginya. Belum saja mereka bereaksi untuk menyingkir, tiba-tiba mata Chakra Ashanka melihat seorang perempuan tua yang sedang menggendong bakul tampak diusir paksa oleh para pengawal itu. Dengan reflek, Chakra Ashanka langsung melompat untuk memegangi perempuan tua itu agar tidak terjatuh.


"Bisa kah anda bertingkah lebih sopan pada pihak yang lebih tua,.'?" anak muda itu berteriak memberi peringatan pada para pengawal itu.


"Siapa kamu, berani sekali kamu berteriak padaku? Apakah kamu tidak melihat, siapa yang akan melewati jalan ini." dengan suara keras, pengawal itu memberikan gertakan balikan pada Chakra Ashanka. Beberapa pengawal mengitari anak muda itu, sambil tertawa melecehkan, Sekar ratih ingin berlari mendekati Rengganis, tetapi ibunda anak muda itu melarangnya.


********

__ADS_1


__ADS_2