
Seorang laki-laki muda dan perempuan muda berdiri di pintu masuk, menatap laki-laki itu dengan tatapan marah. Tampak mereka bersiaga mengirim serangan pada ....
"Wisanggeni putraku..., kamu akhirnya berhasil nak." seulas senyuman muncul di mulut laki-laki tua yang berada di dalam air. Ki Mahesa terlihat sangat bahagia melihat kedatangan putranya. Dia merasa puas melihat penampilan putranya saat ini. Seorang anak laki-laki yang dianggap lemah di padhepokan, saat ini berdiri- dengan gagah di hadapannya.
"Siapa kalian, bagaimana kalian bisa masuk ke padhepokan ini?" Badar berteriak dengan suara keras.
"Tidak penting kamu tahu siapa kami, menyingkirlah!" teriak Wisanggeni.
"Terlalu banyak bicara kamu.., terimalah serangan ku! Bang.." Badar mengirim serangan ke arah Wisanggeni.
"Niken..., selamatkan ayahnda!" Wisanggeni menghindari serangan dari Badar. Niken Kinanthi langsung melompat ke dalam air, tetapi dia tidak bisa melepaskan ikatan rantai besi yang membelit Ki Mahesa.
"Pergilah Nimas, rantai ini mengandung mantra. Tidak semua orang akan bisa dengan mudah untuk melepaskannya." Ki Mahesa meminta Niken Kinanthi untuk pergi meninggalkannya.
"Tidak paman.., biarkan Niken mencobanya dulu."
"Pang.." Niken Kinanthi mengeluarkan kekuatannya, tetapi saat serangannya terkena rantai besi itu, Ki Mahesa terlihat semakin kesakitan.
"Akh.. sss...sh.." Mahesa mendesis kesakitan. Ternyata besi yang digunakan untuk melilit Mahesa mengalirkan serangan Niken Kinanthi ke tubuhnya.
Niken Kinanthi menghentikan gerakannya, dia melihat ke arah Ki Mahesa.
"Aku masih bisa menahannya.., pergilah nak! Mereka tidak akan bisa membunuhku, percayalah!" Mahesa terus meminta Niken Kinanthi untuk pergi meninggalkannya.
Gadis itu tetap berdiri di tempatnya, dan selang beberapa saat banyak orang berlari ke tempat itu. Ternyata pertarungan Wisanggeni dengan Badar, menimbulkan suara-suara yang memancing teman-teman Badar menuju kesitu.
"Bang..." Niken Kinanthi melompat ke samping menghindari serangan beberapa orang yang baru datang.
"Ciattt..., jleb." Wisanggeni melompat agak menjauh dari lokasi ditemukannya Ki Mahesa. Dia khawatir serangan-serangan itu akan melukai ayahndanya.
Badar mengejar Wisanggeni, dan semakin banyak orang-orang Tumbak Seto yang menuju ke lokasi pertarungan.
"Sretttt..." tiba-tiba selendang warna hijau berkibar menyambar kepala orang-orang Badar yang baru datang.
Wisanggeni tersenyum melihatnya, dia merasa lebih tenang saat tahu Rengganis selaku pemilik selendang sudah sampai ke lokasinya.
"Brakkk.." tidak menunggu lama, anak buah Badar terlempar membentur tumpukan kayu yang ada disitu.
__ADS_1
Pertarungan itu berlangsung semakin sengit, karena semakin banyak orang-orang dari padhepokan itu yang datang membantu Badar. Sudiro dan Atmojo juga terlibat dalam pertempuran mereka sendiri.
"Nimas..., bantu Niken menyelamatkan ayahnda!" seru Wisanggeni pada Rengganis.
"Terlalu banyak bicara kamu... Tulang Sungsang..." teriak Badar mengeluarkan kekuatannya.
Wisanggeni tiba-tiba melihat dari arah Badar, ribuan tulang seperti menyerang ke arahnya. Laki-laki muda itu menggeser tubuhnya ke kanan, tetapi dengan cepat susunan tulang-tulang itu mengejarnya. Dia mencoba langkah itu dengan berkali-kali, tetapi kembali' dia dikejar oleh susunan tulang.
Tangan Wisanggeni segera membentuk simpul, dan dengan cepat..,
"Kekuatan Pasopati.., bang.." saat keluar kalimat dari mulut Wisanggeni, tenaga kuat menghantam dan berbenturan dengan susunan tulang yang dikeluarkan Badar.
"Brak..." susunan tulang yang teratur seketika berhamburan.
Tanpa menunggu waktu, Wisanggeni melempar pisau belati ke dada Badar.
"Jleb.., " sekali lempar, pisau itu langsung menghujam di dada laki-laki tua itu. Seketika tubuh Badar langsung limbung dan ambruk ke belakang.
"Siutttt.." begitu Wisanggeni melambaikan tangan, pisau belati kembali meluncur ke tangannya.
Rengganis dan Niken Kinanthi sudah berhasil melepaskan rantai besi yang membelenggu Ki Mahesa. Mereka bermaksud untuk langsung membawa laki-laki tua itu melarikan diri. Tetapi Ki Mahesa menolak untuk dibawa pergi, dia ingin bertemu dengan putranya dulu.
"Ayah..." Wisanggeni dengan pakaian yang tinggal separo karena bertarung dengan Badar memanggil Ki Mahesa.
Mata kaki muda itu berkaca-kaca melihat keadaan ayahndanya. Dia merogoh kotak penyimpanan, kemudian mengambil pil untuk memulihkan energi dan langsung memasukkan ke mulut ayahndanya. Setelah beberapa saat, khasiat pil itu sudah dirasakan oleh Ki Mahesa.
"Kita harus segera pergi dari sini, aku khawatir orang-orang ini sudah mengirim berita ke markas Alap-alap yang lain." Mahesa mengajak mereka untuk segera meninggalkan tempat itu.
"Iya ayah..., Wisang akan menggendong ayahnda." ucap Wisanggeni, dia melihat bagaimana ayahnya masih tampak kelelahan dan kehabisan tenaganya.
"Ayah masih bisa berjalan sendiri Wisang, simpanlah tenaganya!" ucap Mahesa.
Akhirnya Wisanggeni segera memapah Ki Mahesa, mereka bergegas keluar dari rumah itu. Tetapi baru saja mereka mencapai halaman rumah,
"Ha..., ha..., ha... inikah putramu yang selalu kamu banggakan Mahesa?" Tumbak Seto berdiri di halaman menyambut kedatangan mereka.
"Simpan energi ayah, tidak perlu dijawab orang itu!" Wisanggeni berbisik pada ayahndanya. Kemudian dia memberi kode pada Rengganis, dan gadis itu langsung bergeser mendampingi Ki Mahesa. Melihat Rengganis akan membawa pergi Ki Mahesa, orang-orang Tumbak Seto mendekat ke arah mereka. Sudiro dan Atmojo langsung bergerak menghadang mereka.
__ADS_1
"Pergilah.., biar mereka aku yang akan hadapi!" seru Sudiro.
Dengan sigap, tangan Wisanggeni mengambil Singa Ulung dan langsung menepuk kakinya. Rengganis menyambar Ki Mahesa dan memberi kode pada Niken Kinanthi untuk melompat ke punggung Singa Ulung.
"Hadang dan tangkap binatang itu!" teriak Tumbak Seto.
Baru saja orang-orang itu akan mendekat pada Singa Ulung, kaki kanan binatang itu menyepak mereka, dan langsung terbang ke atas membawa Ki Mahesa dengan ditemani Niken Kinanthi dan Rengganis.
"Bang**sat kamu.., anak muda!" melihat binatang itu membawa pergi Mahesa, Tumbak Seto naik pitam.
"Habisi mereka.., jangan kasih ampun!" teriak Tumbak Seto lagi.
"Sudiro.., Atmojo.., tinggalkan aku! Pergilah setelah kamu habisi orang-orang itu!" Wisanggeni berbicara pada kerabat Niken Kinanthi.
Dengan muka merah padam, Tumbak Seto mengarahkan tangannya pada Wisanggeni, dan tampak bara api keluar dari genggaman tangannya.
"Hati-hati Wisang..., tapak api Ki Tumbak Seto belum ada tandingannya sampai sekarang." Sudiro dengan hati-hati mengingatkan Wisanggeni.
"Jangan pikirkan aku kakang, pikirkan cara agar kalian bisa keluar dari tempat ini!" bisik Wisanggeni. Tangannya dengan cepat membentuk simbol, dia berpikir kilat untuk menggabungkan Kekuatan Pasupati dengan pisau belati dan Mustika Nabau.
Mata merah Tumbak Seto seperti menguliti Wisanggeni. Dengan menggeram, laki-laki itu semakin dekat kepadanya.
"Bang.."
"Pang."
Benturan keras antara tembakan dari tangan Tumbak Seto beradu keras dengan kekuatan Wisanggeni. Laki-laki muda itu merasakan tubuhnya bergetar, dia merasakan panas merasuk ke setiap inci dari kulitnya. Tetapi dia tidak gentar sedikitpun, dia malah maju menghadang Tumbak Seto.
"Tapak Api...." terdengar teriakan dari mulut Tumbak Seto.
"Kekuatan Pasopati...," dengan menggabungkan kekuatan mustika Nabau, Wisanggeni menggunakan pisau belati yang ada dalam genggamannya untuk dia tusukkan ke dada Tumbak Seto.
"Bang .." muncul ledakan yang sangat besar, dan muncul api yang membubung tinggi.
Tumbak Seto terpental jauh ke belakang, sedangkan Wisanggeni terkurung di tengah-tengah api.
********
__ADS_1