Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 404 Babak Kehidupan


__ADS_3

Rengganis berdiri untuk memesan minuman dan kudapan untuk diantarkan ke meja mereka. Perempuan itu juga memberi ruang agar Sudiro bercerita pada suaminya, tanpa merasa rikuh karena ada perempuan disitu. Parvati juga diajak untuk menemani dirinya.


"Bunda.. siapa paman tadi. Sepertinya paman juga kenal dengan ibunda Maharani.." Parvati bertanya pada Rengganis. Gadis muda itu ternyata mendengarkan perkataan yang diucapkan oleh Sudiro di saat mereka berada di tengah pintu masuk penginapan.


"Paman itu namanya paman Sudiro Nimas.. kamu bisa menyebutnya paman Diro. Paman itu sahabat ibunda Maharani dan juga ibunda Rengganis, serta ayahndamu Wisanggeni. Pada masa muda kami, bersama dengan paman Diro.. kami pernah menempuh perjalanan untuk bertarung melawan tokoh kejahatan yang sangat ditakuti pada masa itu. Banyak korban berjatuhan, dan untungnya kami semua bisa selamat.." Rengganis menceritakan pertarungan mereka dengan Gerombolan Alap-alap beberapa warsa yang lalu pada putrinya Parvati.


"Sepertinya kehidupan ibunda dan ayahnda di masa lalu sangat menyenangkan bunda.. Parvati juga ingin merasakannya, pergi sendiri bertemu orang-orang baru untuk mencari pengalaman baru pula. Selama ini, Parvati hanya diijinkan pergi jika bersama dengan anggota keluarga. Tapi ayahnda dan ibunda, belum pernah memberikan ijin pada Parvati untuk melakukan petualangan sendiri." perkataan Parvati sangat menohok hati Rengganis.


Memang semenjak kepergian Maharani dari sisi gadis muda itu, dirinya dan juga ayahnda Wisanggeni sangat berhati-hati terhadap putrinya. Tidak seperti terhadap Chakra Ashanka.. mereka seperti sangat keberatan jika Parvati pergi sendiri meninggalkan mereka. Rengganis baru paham, ternyata putrinya merasakan perbedaan itu, dan perkataannya hari ini seperti menyadarkan Rengganis.


"Baik putriku.. kapan-kapan ibunda akan bicara dengan ayahnda. Sesekali untuk memberikanmu ijin, untuk menempa pengalaman hidupmu sendiri." ucap Rengganis.


Melihat pelayan penginapan sudah membawa nampan untuk mengantarkan pesanan mereka, Rengganis menggandeng tangan Parvati untuk kembali ke tempat duduk mereka. Wisanggeni tersenyum melihat istri dan putrinya kembali ke kursi yang ditempatinya tadi.


"Nimas Rengganis.. maafkan aku tadi karena mengabaikan pertanyaanmu. Aku sudah menceritakan pada suamimu Wisanggeni. Benar yang kamu katakan Nimas.. bocah ini adalah putraku dengan Nimas Savitri. Karena sesuatu hal, aku dan Nimas Savitri sedang dalam kesalah pahaman, dan saat ini istriku pergi meninggalkanku. Kepergianku sampai di kota ini, karena sedang berusaha untuk mencari keberadaan istriku." terdengar suara Sudiro menceritakan tentang kehidupan pribadinya.

__ADS_1


Rengganis tersenyum, perempuan itu tidak memotong perkataan laki-laki itu. Rengganis menunggu sampai laki-laki itu menyelesaikan ceritanya dengan lengkap. Baru jika Sudiro memerlukan tanggapan, maka perempuan itu akan memberikan pendapatnya.


"Istriku pergi karena mencurigaiku Nimas.. Ada keluarga sepupu perempuan yang datang dan menginap di tempat kami. Aku juga tidak mengetahui apa tujuannya, tetapi perempuan itu memang selalu mencoba menarik perhatianku, dan itu diketahui oleh istriku.." Sudiro menundukkan wajahnya ke bawah. Laki-laki itu terdiam untuk beberapa saat.


"Semua tergantung pada diri kang Diro.. Jika kang Diro berusaha untuk meyakinkan Nimas Savitri, dan memang kang Diro juga tidak melakukan hal yang tidak diperbolehkan, aku yakin jika istri kang Diro akan pulang dengan sendirinya. Saat ini.. keluarga kang Diro sedang mendapatkan ujian. Jika kakang sanggup dan sabar untuk menjalaninya, akan ada hadiah yang sangat besar untuk keluarga.." Rengganis memberikan tanggapan tentang apa yang dialami laki-laki itu.


"Iya Nimas.. aku juga menganggapnya demikian. Ini semua ujian untuk keluargaku.." Sudiro mengucap lirih.


Tiba-tiba bocah kecil itu bergerak, dan Sudiro segera menepuk-nepuk anak itu. Melihat kepiawaian laki-laki itu dalam menenangkan putranya, sepertinya sudah beberapa saat istrinya pergi meninggalkan Sudiro sendiri.


"Oh ya Sudiro.., akan ke kota mana tujuanmu selanjutnya. Jika kami.. akan pergi ke kerajaan Logandheng, kami ada sedikit urusan di kota itu." tiba-tiba Wisanggeni menanyakan tujuan perjalanan Sudiro.


"Wisang.. Nimas Rengganis. Sudah diatur oleh Hyang Widhi.. ternyata tujuan kita kali ini adalah sama. Aku juga akan datang ke kerajaan itu, karena istriku terakhir kali aku mendengar kabar jika berada di kerajaan tersebut. Menurut berita terakhir, istriku menenangkan dirinya di padhepokan khusus untuk perempuan." dengan menatap ke depan, Sudiro menjawab pertanyaan Wisanggeni.


********

__ADS_1


Setelah menginap semalam, akhirnya Sudiro dan rombongan Wisanggeni menempuh perjalanan bersama. Karena lima orang dalam perjalanan, Wisanggeni tidak sampai hati untuk meminta Singa Ulung mengangkut mereka secara bersama-sama. Mereka akhirnya menyewa kereta dengan empat kuda, dengan kereta besar sehingga mereka berlima bisa masuk dalam satu kereta.


"Siapa nama putramu Kang Diro..?" Rengganis mengusap kepala anak laki-laki itu. Tidak diduga, bocah laki-laki itu merasa akrab dengan Rengganis. Tanpa diminta, bocah itu menyandarkan kepalanya di pangkuan perempuan itu. Seperti seorang anak yang tidur di pangkuan ibundanya, tanpa sungkan bocah itu bersikap pada Rengganis. Parvati tersenyum melihat tingkah polah bocah kecil itu.


"Nama putraku Giandra Nimas.. terima kasih menggantikan peran ibundanya saat ini. Terkadang putraku menanyakan padaku, kemana ibundanya pergi meninggalkannya. Dia juga menanyakan, apakah dia membuat kerepotan sehingga ibundanya pergi." Sudiro tersenyum pahit, membayangkan putranya yang selalu bertanya  dan merindukan ibundanya.


"Sepertinya kita tidak perlu membicarakan tentang istrimu di depan putramu Kang Diro. Aku khawatir, jika akan membuat hati Giandra semakin bertanya-tanya dimana ibundanya. Di kerajaan Logandheng, kami akan membantumu untuk menemukan tempat padhepokan dimana istrimu berada. Chakra Ashanka juga akan bisa membantumu.." Wisanggeni memotong pembicaraan Sudiro dan istrinya.


Rengganis tersenyum, perempuan itu menundukkan wajahnya melihat Giandra yang ada di pangkuannya saat ini. Bocah laki-laki itu tersenyum pulas, dengan usapan tangan Rengganis yang sejak tadi mengusapnya perlan. Parvati menyandarkan kepalanya di bahu ayahndanya Wisanggeni, dan Sudiro tersenyum melihat bagaimana kedekatan keluarga sahabatnya itu. Melihat hubungan yang menyejukkan itu, membuat hati Sudiro tenang.


"Terima kasih Wisang dan Nimas Rengganis.. Bertemu dengan kalian berdua tanpa sengaja dalam perjalanan ini, jelas membawa keuntungan untuk keluargaku." Sudiro mengucapkan terima kasih pada pasangan suami istri itu.


"Itulah gunanya memiliki  saudara Sudiro. Semua sudah tergaris, kita dipertemukan saat ini. Bersama-sama kita akan menjalani satu babak takdir yang sudah digariskan untuk kita. Tugas kita hanya memberikan pengawalan, nanti Nimas Rengganis yang akan membantumu untuk membujuk dan membukakan hati Nimas Savitri.." Wisanggeni menanggapi perkataan Sudiro.


"Iya Kang Diro.. kita akan menghadapi istrimu bersama-sama. Kang Diro juga belum mengenalkan Nimas Savitri kepada kami bukan.. semoga dengan kami nanti berkenalan, semua akan menjadi lancar urusannya." Rengganis menambahkan..

__ADS_1


Mendengar perkataan kedua sahabatnya itu, hati Sudiro terasa dingin dan tenteram. Memang akhir-akhir ini karena mengurus Giandra sendirian, Sudiro melupakan untuk bersilaturahmi dengan keluarga dan teman-temannya. Bertemu dengan Wisanggeni dan Rengganis, menyadarkan laki-laki itu tentang pentingnya bagaimana mereka akan mempererat tali silaturahmi.


**********


__ADS_2