Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 259 Tidak Pantas Kamu Kembali


__ADS_3

Semua orang yang berada di sekitar goa, terkejut melihat pemandangan yang mereka lihat di depannya. Keempat teman Kandar memundurkan tubuh mereka ke belakang, mereka sendiri merasa ngeri dengan tatapan Kandar yang terlihat tidak mengenali mereka. Sayogyo, Prastowo dan Tarjono kembali berkumpul menjadi satu. Dengan memegang tubuh Tarjono, Prastowo membantu memegang cemeti Amarasuli di tangannya.


"Beraninya kamu memegang dan mengambil barang-barang senjataku tanpa ijin... Ha..., ha.., ha..., sekumpulan pencuri tanpa kanuragan." tiba-tiba Kandar dengan tatapan bengis, menunjuk ketiga anak muda itu dengan jarinya. Sayogyo maju ke depan, dia mencoba untuk melindungi kedua temannya. Laki-laki itu menatap balik ke mata Kandar.


"Lempar dan kembalikan barang-barang yang sudah kamu ambil, dan jadilah budakku. Maka aku akan mengampunimu. Serahkan kembali semuanya padaku..!" dengan marah, Kandar kembali berteriak dan melangkah menghampiri Sayogyo.


"Dalam mimpimu..., kami yang menemukan cemeti ini tergeletak tidak ada yang merawat di dalam goa. Bahkan jika kami mau, masih terdapat banyak barang yang belum kami ambil dan manfaatkan." dengan berani, Sayogyo menjawab perkataan Kandar. Tangannya memberi isyarat pada Prastowo agar mengamankan cemeti yang sudah dia pegang itu.


Melihat perhatian Kandar yang sudah tidak mereka kenali lagi terarah pada ketiga anak muda itu, keempat teman Kandar berdiri di belakang laki-laki itu. Sepertinya mereka mulai menyadari, jika saat ini yang mereka lihat sebagai Kandar teman mereka, bukan lagi Kandar, melainkan roh yang menyusup ke raga laki-laki itu.


Kandar masih menatap Sayogyo dan kedua rekannya dengan tatapan kemarahan. Laki-laki itu berjalan semakin mendekati Sayogyo, tangannya terangkat ke atas, dan muncul bulatan seperti bola yang berisi asap hitam di tangannya. Ketika tangan itu diayunkan untuk memukul Sayogyo, dengan sekuat tenaga, Prastowo mengayunkan cemeti dan akhirnya menyambar tangan Kandar.

__ADS_1


"Kurang ajar.., berani-beraninya kamu menyerangku dengan menggunakan senjataku sendiri." laki-laki yang berada dalam tubuh Kandar semakin marah, dengan cepat sabetan cemeti itu menghancurkan bulatan asap hitam yang sudah terbentuk di tangannya. Tangan Kandar mencoba meraih ayunan cemeti itu, tetapi dengan cepat Prastowo kembali menariknya ke belakang.


Pada saat Prastowo menarik cemeti ke belakang, ternyata tubuhnya tidak bisa mengimbangi kekuatan yang ada dalam cemeti itu. Bersama dengan   kedua anak muda lainnya, Prastowo terlempar jauh ke belakang.


"Hoeks..." ketiga anak muda itu muntah, darah segar mengalir keluar dari dalam mulutnya.


"Hanya begini saja kemampuan kalian, ha.., ha..., ha... Melihat keberanian kalian, kalian memang pantas untuk menjadi budak atau anak buahku. Ha.., ha..., ha..., menyerahlah. Lepaskan cemeti Amarasuli dari tanganmu. Aku akan mengampunimu." dengan tertawa terbahak-bahak, Kandar yang sudah disusupi oleh aura gelap berjalan maju dan semakin mendekat ke pada ketiga anak muda itu. Wajah ketiga anak muda itu sudah tidak dapat dikenali, darah berlumuran dimana-mana.


"Beraninya kamu mengganggu orang-orang yang datnag bersamaku ke tempat ini... Blamm..., blamm..." tiba-tiba sebuah serangan mengenai tangan Kandar yang akan merebut cemeti.Terlihat dengan tatapan marah, Chakra Ashanka dengan gagahnya berdiri di belakang Kandar. Di bawah kakinya, tergeletak ayam hutan dan kelinci yang sudah dalam keadaan mati. Juga beberapa jenis buah-buahan yang diambil dari hutan ini. Rupanya kepergian Chakra Ashanka tidak bermaksud untuk meninggalkan ketiga temannya di tempat ini, melainkan mencari makanan untuk makan malam.


Tanpa bicara, Chakra Ashanka mengambil cemeti yang ada di tangan Prastowo, dan ketiga anak muda itu menyingkir dari tempat mereka berada. Tatapan Chakra Ashanka Memindai laki-laki yang berdiri di depannya. Meskipun tubuh laki-laki itu masih terlihat muda, tetapi Cakhra Ashanka merasa mengenal aura yang dimiliki laki-laki itu.

__ADS_1


"Ha..., ha..., ha... ada lagi yang akan menjadi penyelamat disini. Jangan berani bertindak sombong di depan orang tua ini aka muda... Apakah kamu ingin memiliki nasib seperti mereka?' Kandar menunjuk orang-orang yang tergeletak di tanah yang terlihat ketakutan.


"Keluarlah dari tubuh laki-laki itu. Tempatmu ada di tanah, bukan menyusup ke anak laki-laki itu. Kamu bisa membohongi orang lain.., tetapi tidak akan bisa berbogong di bawah keturunan dari Bhirawa dan Jagadklana." dengan tenang, Chakra Ashanka menjawab perkataan roh yang berada di tubuh Kandar.


Mendengar ucapan laki-laki muda itu, laki-laki yang bernama Kandar itu sedikit terkejut, tetapi dengan cepat menyesuaikan dirinya kembali. Matanya kembali dengan tajam menatap Chakra Ashanka.


"Masih anak bau kencur sudah berani bicara tidak baik pada orang yang lebih tua kamu anak muda. Begitukan Trah Jagadklana  dan Bhirawa yang terkenal itu mengajarimu" laki-laki itu bicara sarkasme pada Chakra Ashanka sambil tersenyum meremehkan. Tiba-tiba dari tangan laki-laki tua itu keluar sebuah sinar berwarna merah.., dan Chakra Ashanka merasakan nafasnya tiba-tiba sesak. Seperti ada kekuatan yang tidak terlihat yang  menyerap tenaganya saat ini. Menyadari kekeuatan besar dan berbahaya mengintai keselamatannya, Chakra Ashanka mengeluarkan energi dan seluruh tubuhnya dilapisi aura batin yang deras melindungi tubuhnya. Mata anak muda itu melirik pada ketiga anak muda lainnya, mencoba memberi mereka isyarat untuk menjauh dari situ. Untungnya Sayogyo menangkap isyarat yang disampaikan Chakra Ashanka, laki-laki itu segera beranjak bangun dan menarik kedua rekannya untuk meninggalkan tempat itu.


Sebelum pergi, Prastowo memberikan cemeti Amarasuli pada anak muda itu, dan dengan cepat laki-laki muda itu menangkap cemeti dan menggenggam dengan tangan kirinya. Dalam genggamannya, terasa jika cemetio itu ingin melarikan diri dan kembali pada laki-laki yang berdiri di depannya itu.


"Apa kamu pikir.., mudah untuk mengendalikan cemeti Amarasuli punyaku. Ha.., ha..., ha... menggunakan darah dan kekuatanku untuk menundukkan cemeti itu anak muda. Saat ini bisa-bisanya kamu bertindak sombong di depannku, pura-pura bisa mengendalikan cemeti itu." dengan meremehkan, Kandar kembali merendahkan kekuatan Chakra Ashanka.

__ADS_1


Tanpa banyak bicara, Chakra Ashanka mengeluarkan energi inti dari dalam tubuhnya, kemudian mengalirkan energi itu pada cemeti yang ada di tangan kirinya. Tidak diduga, cemeti yang semula bergolak itu, tiba-tiba terdiam lemas. Dapat dilihat dengan pandangan mata telanjang, gumpalan asap hitam, keluar dari dalam cemeti itu. Melihat hal tersebut, tatapan mata Kandar terlihat marah menatap Chakra Ashanka dengan tatapan nanar.


__ADS_2